
Setelah rombongan yang dipimpin oleh seorang gadis remaja yang baru saja datang ke kedai teh sekonyong-konyong pihak pemilik kedai teh dan sejumlah pelayan kedai teh mendatangi gadis itu di kursi meja bagian pojok kanan dari kedai teh.
"Nona Muda Lin, rupanya anda yang datang ke kedai teh saya yang sederhana ini? "sapa pria tua pemilik kedai teh dengan sikap hormat dan sopan kepada gadis cantik jelita itu.
" Iya, Paman Hong, aku ingin menikmati minum teh buatan tanganmu yang sangat aku sukai dan aku ingin melakukan pekerjaan ku sebagai wakil ayahku untuk memantau keadaan di luar kota kecil Lin kami di tengah malam hari."jawab gadis cantik ini dengan senyuman manis dan ramah kepada pemilik kedai teh.
"Wah, baiklah. Tunggu sebentar ya, Nona Lin. Saya akan segera menyiapkan seteko teh paling kamu sukai dari kedai teh saya ini dari dapur kecil Saya.." kata pemilik kedai teh segera pergi ke dapurnya dengan diikuti oleh para pelayannya di belakangnya.
Zhang Xiao Long tetap bersikap acuh tak acuh seakan-akan ia tidak memperhatikan setiap orang di kedai teh dengan berkonsentrasi pada pandangan matanya yang sedang memandangi sebuah daerah di balik pintu gerbang besi yang masih terkunci rapat sekali dengan dijaga ketat oleh sejumlah pengawal yang menjaga pintu itu.
"Daerah ini sangat ketat sekali pengawasannya namun bagus untuk melindungi rakyat di dalam kota dari orang-orang atau kelompok yang ingin melakukan kejahatan terhadap rakyat di dalam kota tersebut. " pikir Zhang Xiao Long.
"Kak Long, apa yang sedang kamu pikirkan saat ini? " tanya Tan Tan Ling Ming istrinya dengan lembut di kursi sampingnya.
"Aku ingin tahu darimana asal minuman teh enak yang sedang aku minum dari cangkir ini. " jawab Zhang Xiao Long mengalihkan perhatiannya ke istrinya yang tersenyum manis kepadanya.
"Oh, begitukah? " tanya Tan Tan Ling Ming yang menyentuh hidungnya dengan jemari telunjuk dan sikap istrinya itu begitu menyenangkannya.
"Iya, istriku. Cobalah untuk kamu mencicipi teh di cangkir ku ini. " jawab Zhang Xiao Long dengan lembut mengambil cangkir tehnya dari meja dan diberikan kepada istrinya itu.
"Oh, baiklah. " kata Tan Tan Ling Ming menerima cangkir tehnya lalu mencicipi teh itu secara perlahan-lahan dengan nikmat sekali.
"Bagaimana menurutmu tentang teh ini? " tanya Zhang Xiao Long lembut sambil berdiri di atas lantai untuk membantu istrinya berdiri lalu ia mengajak istrinya meninggalkan kedai teh usai Ia membayar biaya minum teh mereka di kedai teh itu kepada pemilik kedai teh itu di meja kasir depan pintu keluar dari kedai teh itu.
"Menyegarkan tenggorokanku yang kering." jawab Tan Tan Ling Ming yang berjalan di dekat Zhang Xiao Long.
"Ya, itu berarti kamu menyukai teh itu, istriku.." kata Zhang Xiao Long pelan kepada Tan Tan Ling Ming yang langsung mengerti akan isyarat dari Kaisar Naga Merah yang mengajak wanita muda itu berjalan ke arah hutan di sebelah timur dari kedai teh itu.
Dan, hutan itu adalah tempat pertemuan seorang tokoh paling berpengaruh di daerah tersebut dan seorang pria yang membawa alat musik kecapi di punggung pria itu. Keduanya terlihat akan mengadu ilmu kepandaian masing-masing di dalam hutan itu di tengah malam hari itu.
"Raja Lin Mo Lang apa maumu menantang pibu atau ilmu kepandaian denganku di hutan bambu Lin? " tanya pria yang membawa alat musik kecapi di punggung dengan sikap tegas kepada pria tampan yang berdiri di hadapannya dengan membawa pedang di genggaman tangan pria itu yang menatapnya dengan sikap gagah perkasa.
"Pendeta Jing, aku ingin mengetahui kepandaian yang kamu miliki agar aku bisa mengangkatmu sebagai kepala pimpinan misi ekspedisi ke utara yang akan datang pada hari ke lima bulan ketiga tahun ini. " jawab Raja Lin Mo Lang dengan sikap gagah perkasa kepada Pendeta Jin.
"Oh, baiklah, aku pun ingin mengetahui apa kamu layak untuk menikahkan putrimu dengan murid utamaku yang telah menjabat sebagai Ketua muda dari Sekte Ayam Jantan Dari Utara dengan julukannya adalah Pendekar Naga Air Utara Luo Huang Ding melalui pertandingan kita sekarang ini di hutan bambu Lin. " kata Pendeta Jin yang telah menaruh alat musik kecapi di pangkuannya usai ia duduk di atas rumput.
"Ya, Pendeta Jin. Marilah kita bertanding dengan adil untuk kita bisa mengetahui seberapa besar kemampuan ilmu kepandaian silat kita masing -masing untuk menentukan masa depan putriku dan muridmu, " kata Raja Lin Mo Lang yang telah menghunuskan pedang ke arah Pendeta Jin di atas rumput.
Pendeta Jin memainkan alat musik kecapi yang mengalunkan lagu yang membuat pedang milik Raja Lin Mo Lang bergetar hebat namun Raja Lin Mo Lang dengan tangkas segera menggerakkan pedang ke segala arah untuk menghadapi tiap lagu yang dimainkan oleh alat musik kecapi milik Pendeta Jin.
Cring!!
Syuttttt!
Tranggg!
Raja Lin Mo Lang berputar-putar dengan pedang bergerak ke sekitar tubuhnya untuk melindungi diri dari serangan-serangan senar -senar alat musik kecapi yang beterbangan ke arah sekitar tubuhnya sehingga ia harus mengeluarkan ilmu pedang Naga Utara yang membuat senar- senar alat musik kecapi itu tidak ada satupun dapat mengenai dirinya.
Wuttzzzz!!
Trang!
Trang!
Senar-senar itu bermacam-macam bentuknya yang selalu berubah sesuai dengan keinginan dari Sang pemiliknya seperti ada yang panjang, ada yang pendek, ada yang lurus menyerang ke depan, ada yang miring menyerang ke arah atas bawah , samping kanan dan kiri dari tubuh Raja Lin Mo Lang.
Wutttz!
Trang!
Trang!
Trang!
Raja Lin Mo Lang meliuk-liuk dengan pedangnya di tangan kanan terus menerus menangkis tiap serangan-serangan dari senar-senar alat musik kecapi yang digunakan oleh Pendeta Jin untuk menghadapi ilmu pedangnya.
Zhang Xiao Long dan Tan Tan Ling Ming dengan sikap tenang memperhatikan pertandingan yang mereka saksikan dari atas pohon rindang yang jaraknya cukup jauh namun tetap bisa melihat jalannya pertandingan antara Pendeta Jin yang selalu duduk di atas rumput sambil memainkan alat musik kecapi melawan Raja Lin Mo Lang yang memainkan pedang dengan sangat hebat.
Mereka melihat telapak tangan kiri Raja Lin Mo Lang telah menyerang ke arah Pendeta Jin yan juga menyambut baik serangan-serangan ilmu sinkang milik Raja Lin Mo Lang dengan telapak tangan yang diangkat ke atas kepalanya dengan sikapnya tetaplah tenang.
Plakkkk!
Plakk!!
Plakkkk!!
Raja Lin Mo Lang bergerak mundur ketika ia bisa merasakan sakit pada dadanya pada saat ia telah mengadu ilmu pukulan dengan Pendeta Jin namun ia bisa melihat Pendeta Jin juga posisi duduk laki-laki itu tidak lagi setenang tadi.
"Pendeta Jin,kau juga tidak akan bisa menang dari ku... " kata Raja Lin Mo Lang nada senang.
"Kata siapa, aku tak pernah bisa menang darimu, Raja Lin Mo Lang. Lihatlah dengan jelas bahwa dahimu telah tergores oleh senar alat musik kecapi ku tanpa kamu sadari.. " Kata Pendeta Jin nada membanggakan kemampuannya.
Raja Lin Mo Lang pun tak bisa tersenyum cerah lagi karena ia merasakan darah yang mengalir dari dahinya telah turun ke bajunya yang saat itu menjadi merah oleh darahnya sendiri.
"Ahhhh! " pekik Raja Lin Mo Lang dengan tangan kanannya telah mengusap dahinya dan melihat darahnya lalu melihat ke arah Pendeta Jin yang tersenyum penuh kemenangan di bibir pria tua itu.
Bersambung!!