
Zhang Xiao Long memerhatikan gadis pakaian putih yang menggunakan cambuk menghantam hancur sisa para tamu dan anak buah Ouw Yang Lee yang mengeroyok Bi Lian dan Liu Tong serta para anggota Sekte Pengemis Bunga Teratai Putih lainnya.
Tar..!
Tar..!
Hantaman cambuk juga menghabisi para tamu lain yang melakukan pelecehan terhadap putri Ouw Yang Lee yang di jadikan sasaran amarah bagi mereka yang sakit hati terhadap Almarhum Ketua Sekte Naga Langit Hitam.
Pletak..!!
Takk..!!
" Bi Lian..! Apakah kamu merasa baik -baik saja? Adakah dirimu yang terluka?" Tanya Liu Tong dengan nada cemas kepada Bi Lian setelah para musuh sudah tewas di cambuk gadis baju putih yang telah menghilang tanpa jejak bersama si pemuda dusun yang dungu itu.
"Aku tak apa -apa, Kak Tong. Ayo, kita harus bisa mengejar bocah itu yang membawa tusuk konde emas yang kita incar untuk melaksanakan tugas penting yang di perintahkan oleh Ayahku kepada kita semua.." Jawab Bi Lian yang tak melihat si pemuda dusun di dalam markas besar Sekte Naga Langit Hitam kepada Liu Tong dengan nada tergesa-gesa sekali.
Brrr...!!
Liu Tong yang di gandeng tangannya oleh Bi Lian segera memanggil para saudara dan saudari nya untuk segera mengikutinya dalam mencari tahu keberadaan pemuda dusun yang memegang tusuk konde emas yang menjadi incaran bagi seluruh tokoh dunia persilatan.
Brrr..!!
" Kemanakah kita dapat menemukan bocah itu ?" Tanya salah satu saudara seperguruannya itu kepada nya.
" Ke mana saja asalkan kita harus bisa lebih dulu menemukan bocah itu dari semua orang yang tentunya jauh lebih menginginkan tusuk konde emas itu di bandingkan diri bocah dusun itu." Jawab Liu Tong yang mengikuti arah langkah Bi Lian yang memimpin mereka untuk mencari dan menemukan pemuda dusun yang amat aneh di dalam penilaian Liu Tong
Kalau para anggota muda dari Sekte Pengemis Bunga Teratai Putih pergi ke arah selatan dari hutan luar kota Xin An dalam misi mereka yang mencari Zhang Xiao Long.
Sedangkan, Zhang Xiao Long mengikuti langkah gadis baju putih yang membawanya ke arah lain dari hutan luar kota Xin An yakni arah timur laut yang mengarah ke desa gunung Shen.
" Nona..Tanganku sakit..! Aduhh..! " Kata Zhang Xiao Long dengan wajah dungu kepada gadis baju putih yang menuntunnya ke desa gunung Shen.
"Ah..Maafkan aku..Aku terpaksa membawamu ke desa gunung Shen untuk bertemu dengan Guru ku.." Kata gadis baju putih yang menuruti nya dengan melepaskan tangan dari genggaman tangannya di pergelangan tangan Zhang Xiao Long.
"Ahmm..Nona siapakah Gurumu itu dan untuk apa Beliau ingin bertemu denganku?" Tanya Zhang Xiao Long dengan nada ramah kepada gadis baju putih yang berjalan di depannya itu.
"Guru ku itu adalah Ketua Sekte Bidadari Ungu di gunung Xian yang bernama Rong Hua dan apa keinginan Beliau ingin bertemu denganmu di desa gunung Shen..! Aku sama sekali tidak tahu apa -apa..!" Jawab gadis itu dengan jujur dan polos sekali kepada Zhang Xiao Long.
"Lalu nama mu sendiri siapa? " Tanya Zhang Xiao Long.
"Rong Rong.." Jawab gadis baju putih itu sambil meneruskan langkahnya menuju ke desa gunung Shen.
" Nama yang manis sesuai dengan orangnya.." Kata Zhang Xiao Long mengangguk -anggukan kepalanya sendiri.
Rong Rong sendiri merasa bingung dengan diri nya sendiri yang seperti orang yang tak dapat menyembunyikan apa saja kepada pemuda yang amat membingungkannya itu.
"Afung....!" Jawab Zhang Xiao Long asal saja.
" Namamu Afung ? Kau berasal dari desa apa?" Tanya Rong Rong menghadapi Zhang Xiao Long.
"Ya, namaku Afung. Aku berasal dari desa tanpa nama karena Aku tak bisa membaca, Nona." Jawab Zhang Xiao Long cengesan sambil garuk -garuk belakang kepalanya sendiri seperti orang bodoh di pandangan mata Rong Rong.
Rong Rong menghela napas lalu memutuskan tak lagi berbicara kepada Afung yang amatlah menjenuhkannya sampai Ia memilih untuk ingat kembali pemuda tampan yang menjadi saudara seperguruan putri Ketua Sekte Pengemis Bunga Teratai Putih yang amat menarik hatinya itu.
" Hmmm...Gadis yang hanya melihat pria dari luar nya saja.." Batin Zhang Xiao Long sudah menilai karakteristik Rong Rong.
Di tengah perjalanan mereka berdua sama sekali tak mendapatkan rintangan dan halangan yang mengganggu perjalanan mereka menuju ke desa gunung Shen dari alam sekitar tetapi mereka ini mendapatkan rintangan dan halangan dari lima orang berpenampilan perampok yang muncul di hadapan mereka dengan senjata yang sangat mengiris hati siapa saja yang melihat bentuk dari senjata di tangan lima orang garang itu.
" Berhenti kalian..! " Hardik salah satu dari lima orang wajah garang yang memegang golok yang bentuknya bergerigi tajam kepada mereka.
"Kalian mau apa menyuruh kami berhenti ? " Tanya Rong Rong tajam kepada lima orang yang terlihat sadis itu.
"Kami mau kalian serahkan barang -barang yang kalian miliki kepada kami sebagai uang jalan kalian melewati jalan daerah kami ini..!" Jawab salah satu dari lima orang wajah garang kepada Rong Rong.
" Kalau kami tak mau menyerahkan barang -barang yang kami miliki kepada kalian...Lalu kau dan teman -temanmu itu mau apa ?! " Kata Rong Rong dengan nada menantang sekali kepada lima orang wajah garang yang mengacungkan golok bergerigi tajam kepada nya dan Afung.
"Ya..Jangan pernah salahkan kami jika kami ini akan menguliti kalian dengan golok harimau hitam kami..!! " Kata salah satu dari lima orang yang berwajah garang kepada Rong Rong dan Afung.
Serrr..!!
Golok sudah menampilkan ketajamannya yang di gerakkan oleh lima orang itu dengan serentak ke sekitar Rong Rong dan Afung yang memucat pada wajahnya itu yang membuat Rong Rong semakin bosan terhadap jiwa pengecut Afung.
"Hei...Kakak -kakak tolong kalian jangan pernah ganggu kami..! Aku..Aku tak punya barang -barang apa -apa yang bisa kalian ambil dari ku..! " Rengek Afung yang semakin menyebalkan dan memuakkan Rong Rong.
" Kau ini....! " Kata Rong Rong sebal kepada Afung.
Afung terlihat kebingungan dengan Rong Rong yang membentaknya sehingga Afung malah ada niat untuk bersembunyi di belakang Rong Rong sehingga Rong Rong lah yang bertarung sengit melawan lima anggota Sekte Harimau Gunung Luar Shen.
Wutzzz..!!
Trang..!!
Trangg..!
Sertt..!!
Rong Rong mengelak ke arah samping kanan dan tangannya memukul bahu lawannya yang memegang golok bergerigi yang mengancam daun telinga kirinya dengan ilmu meringankan tubuhnya yang lihai.
Bersambung..!!