Pendekar Naga Merah

Pendekar Naga Merah
Sehelai Daun Yang Liu Di Pertengahan Musim Gugur.


Istana Perdana Menteri Kekaisaran Naga Merah di Ibukota Kekaisaran Naga Merah tampaklah seorang wanita muda yang sedang duduk di atas bangku taman bunga persik memandangi seberkas cahaya rembulan yang jatuh ke dalam air danau buatan yang bening.


"Nyonya selir Song, Anda harus segera mencari seseorang untuk meneruskan garis keturunan dari Perdana Menteri Liu yang sampai sekarang masih belum mempunyai keturunan seorang anak laki-laki untuk Beliau. Lihatlah para pria- pria bangsawan lain telah mempunyai banyak anak laki-laki di usia mereka yang sudah berusia dua puluh lima tahun lebih. " kata dayang istana Zhuo yang selalu memberikan laporan mengenai hal-hal yang berhubungan dengan Kekaisaran Naga Merah kepada Selir Song Wi Na.


"Dayang istana Zhuo, aku masih berusia delapan belas tahun dan tubuhku masih sehat untuk aku bisa memberikan keturunan kepada Perdana Menteri Liu Tong, " kata Selir Song Wi Na dengan percaya diri.


"Jika kamu memiliki kepercayaan diri untuk kau bisa segera mengandung dan melahirkan anak laki-laki , maka Aku takkan pernah merasa resah gelisah seperti ini setiap hari melihat senyuman di bibir Perdana Menteri Liu Tong menghilang di saat ia harus memaksakan diri untuk melihat sahabat dan teman-teman yang semuanya telah mempunyai seorang anak laki-laki baik di istana maupun di luar istana. " kata seorang gadis yang mendatangi Selir Song Wi Na di taman tersebut.


"Putri Adipati Lan,sekarang ini sudah malam hari lalu apa tujuan mu untuk datang ke istana kami? " tanya Selir Song Wi Na menatap gadis cantik di hadapannya itu.


"Memberitahumu mengenai rencana Ayahku dan Ibu Suri Kekaisaran Naga Merah yang ingin aku menikah dengan Perdana Menteri Liu Tong agar aku bisa menempati posisi sebagai Permaisuri Perdana Menteri Liu Tong yang masih kosong di istana ini. " jawab Putri Adipati Lan yang senyum cerah menatap wanita muda yang merupakan satu-satunya istri yang dimiliki oleh Perdana Menteri Liu Tong pada saat itu.


"Oh, baiklah, aku mengerti apa arti dari Kata-kata mu barusan kepada ku, Putri Adipati Lan. Kau ini ingin memberikan peringatan kepadaku untuk ku berhati-hati kepada mu. " kata Selir Song Wi Na yang menyadari bahwa posisinya sebagai istri dari Perdana Menteri Liu Tong akan ada saingan di dalam memperebutkan kekuasaan dan hati Perdana Menteri Liu Tong dalam waktu dekat ini.


"Benar sekali, Selir Song. Anda sungguh seorang wanita muda yang cerdas dan bijak. Baiklah, Aku harus segera mempersiapkan diri ku secepatnya di istana ayahku untuk mempelajari tata cara dan nilai-nilai kebajikan sebagai seorang wanita terhormat sebelum hari H tiba. " kata Putri Adipati Lan yang melayang ke atas genteng lalu menghilang dari pandangan mata Song Wi Na di tengah cahaya rembulan pada malam hari itu.


Belum lama Putri Adipati Lan meninggalkan Selir Song Wi Na di istana Perdana Menteri Liu Tong datanglah Sang Perdana Menteri Liu Tong yang tersenyum bahagia menghampiri Selirnya lalu di raihnya jemari tangan Song Wi Na dengan sikap yang lembut dan menghargai wanitanya.


"Wi Na, aku baru saja mendapatkan kiriman obat yang mujarab untuk kesuburan pria ku untuk aku bisa membahagiakanmu dan memiliki seorang anak laki-laki dan perempuan darimu, Sayang. " Kata Liu Tong menunjukkan bungkusan ramuan herbal kepada Selir Song Wi Na.


"Iya, Kak Tong, aku akan segera pergi ke dapur untuk membuatkan ramuan yang kamu inginkan sekarang juga. " Kata Selir Song Wi Na yang ingin membahagiakan suaminya itu mengambil bungkusan ramuan tersebut dari tangan Liu Tong.


"Wi Na, aku tunggu kamu di kamar kita, ya? "Liu Tong melambaikan tangannya kepada Selir Song Wi Na yang berjalan ke arah dapur.


Selagi Liu Tong sedang menunggu istrinya yang cantik itu di kamar mereka.Pemuda tampan itu menerima sehelai daun Yang Liu yang jatuh dari seekor burung parkit warna merah putih di meja bundar di tengah-tengah kamar.


" Dari Bu Song? Hmm, Ada apa dia mengirimkan pesan kepada ku? " tanya Liu Tong sambil buka suratnya dan membacanya dengan cepat.


"Liu Tong, aku meminta maaf karena aku sudah mengganggu mu dengan mengirimkan pesan ku kepada mu melalui burung parkit warna merah putih milik Yin Yin, karena aku ingin meminta tolong kamu untuk mengunjungi sekte awan langit di daerah pinggiran sungai Huang Ho." baca Liu Tong.


"Yin Yin siapa dia? Kenapa dia mau membantu Bu Song mengirimkan pesan Bu Song kepadaku di istana ku ini? " tanya Liu Tong sambil sibuk memikirkan Kaisar Naga Merah yang merantau ke pegunungan Himalaya seorang diri saja.


Pintu kamar terbuka untuk Selir Song Wi Na yang telah datang ke kamar membawakan nampan berisi semangkuk ramuan kepada Liu Tong yang segera mengambil mangkuk ramuan herbal itu dan meminumnya sampai habis.


"Kak Tong, ini cangkir air putih untuk mu. " kata Selir Song Wi Na menyodorkan cangkir air putih kepada Liu Tong yang menyerahkan mangkuk yang sudah kosong kepadanya.


"Wi Na, bisakah kau siapkan perbekalanku pada malam ini untuk aku bisa menyusul Kaisar Naga Merah ke pegunungan Himalaya secepatnya? " pinta Liu Tong sambil merangkul istrinya yang menganggukan kepala memahaminya.


"Iya, Bisa. " jawab Selir Song Wi Na yang cepat melaksanakan perintah suaminya. Wanita muda ini merapikan barang keperluan Liu Tong dengan cekatan sekali.


"Wi Na,kau harus sabar untuk menerima hidup di sisiku yang bukanlah seorang pria yang baik dan belum bisa untuk membahagiakanmu namun aku akan selalu berusaha untuk mrmbuat kamu nyaman hidup bersamaku dengan caraku sendiri tentunya." kata Liu Tong yang memeluk istrinya dari belakang punggung istrinya.


"Iya, Kak Tong.. Aku sudah tahu takdir ku.. " kata Selir Song Wi Na yang merasakan sentuhan yang lembut pada bibirnya dari Liu Tong.


Liu Tong membaringkan istrinya di tempat tidur lalu melakukan hubungan suami-istri terhadap istrinya yang sangat manis dan menyenangkan hatinya itu sampai istrinya tertidur pulas dengan seulas senyuman bahagia menghiasi bibir manis istrinya itu.


"Wi Na, aku harus pergi dari istana untuk waktu yang cukup lama untuk aku bisa membantu Sri Baginda Kaisar Naga Merah di misinya di daerah pegunungan Himalaya yang sangat penting bagi kebahagiaan seluruh rakyat di Kekaisaran Naga Merah kita tercinta. " kata Liu Tong pada pagi harinya sebelum meninggalkan istri kesayangan nya di tempat tidur.


Ia sudah berpakaian rapi dan melesat keluar dari kamar lalu meninggalkan istananya juga Ibukota Kekaisaran Naga Merah dengan ilmu ginkang rubah emas sakti dan menembus cahaya sinar matahari pagi yang hangat.


Di pintu gerbang keluar dari Ibukota Kekaisaran Naga Merah. Liu Tong berjumpa dengan Liu Kang dan istri dari sahabatnya yang baru saja pulang dari pegunungan awan bunga Naga atas perintah dari Permaisuri Agung Tan Tan Ling Ming untuk menemukan ginseng panca ungu di pegunungan tersebut.


"Liu Tong, kau mau pergi kemana sepagi ini? " tanya Liu Kang ramah kepada Liu Tong di pinggir jalan.


"Ke pegunungan Himalaya. " jawab Liu Tong.


"Oh, apakah kamu ingin membantu Kaisar Naga Merah kita?" tanya Liu Kang sambil memberikan plakat warna tembaga hitam kepada Liu Tong.


"Bagus, kau pergilah ke pegunungan Himalaya dan bantulah Yang Mulia di sana. Kau janganlah khawatir karena aku akan menjaga istana dan Ibukota Kekaisaran Naga Merah dengan nyawa ku. " Kata Liu Kang mendukung keinginan Liu Tong dengan sepenuh hatinya.


"Iya, Liu Kang. Aku pergi dahulu.., sekarang juga dan sampai jumpa.." kata Liu Tong yang sudah melewati pintu gerbang keluar dari ibukota Kekaisaran Naga Merah dengan gerakan yang luar biasa cepatnya.


"Heiiii.. Dia pergi begitu saja tanpa pamit kepada ku calik permaisuri nya. " kata seorang gadis baju putih yang mengejar Liu Tong keluar dari ibukota Kekaisaran Naga Merah sampai Liu Kang menggelengkan kepalanya.


"Putri Adipati Lan memang berbeda kelakuannya yang selalu ingin menang sendiri. " Kata Liu Kang yang cepat mengajak istri barunya ke arah istana Kekaisaran Naga Merah untuk jalankan tugas mereka dengan sangat baik untuk mereka dapat menyelamatkan Pangeran muda Fan Yi Xing.


Brrrr!


Setibanya Liu Kang dan Shen Yue di istana. Liu Kang segera memberikan ginseng panca ungu kepada Permaisuri Agung Tan Tan Ling Ming di istana Pangeran muda Fan Yi Xing.


"Bagus, Liu Kang. Kau jagalah Yi Xing dahulu di sini karena aku harus membuatkan ramuan dari ginseng panca ungu di dapur istana secepatnya. " Kata Tan Tan Ling Ming nada serius kepada Liu Kang.


"Siap, Paduka. " jawab Liu Kang patuh.


Tan Tan Ling Ming merebus ginseng panca ungu di dalam mangkuk di atas bara api yang sangat panas sampai melebur dan di berikan serbuk pil bunga persik musim semi juga akar-akar daun salju di dalam mangkuk itu juga.


Proses memasakkan obat itu selama lima jam barulah obat dituangkan ke mangkuk lainnya lalu di bawa kepada Fan Yi Xing di kamar anak kecil itu sendiri, dan Tan Tan Ling Ming meminumkan obat itu dengan sendok kecil perlahan-lahan ke mulut anak itu hingga mangkuk kosong.


"Baiklah, kita akan menunggunya sadar dan kita bisa melihat perkembangannya untuk anak kecil ini bisa sembuh seperti sediakala dan hati kita pun akan tenang melihatnya kembali tertawa dan berlarian di taman bersama dengan anak- anak lainnya. " kata Tan Tan Ling Ming dengan sabar menunggu anak kecil yang terbaring di tempat tidur.


Liu Kang menemui putranya yang bernama Liu You You di luar kamar Pangeran muda Fan Yi Xing. Ia segera menggendong putranya dan ia perkenalkan kepada Shen Yue selirnya yang baru atau istri barunya yang berdiri di sampingnya.


"Ibu Shen. " sapa Liu You You memeluk ibu tiri yang baru.


"Liu Kang, istri mu yang dahulu telah dihukum mati oleh kami karena dia ingin membunuh Li Yun Er, Liu You You dan juga Li Yuan Yuan di ruang belajar putra mu sendiri." lapor Kim Hwee Li yang menggendong putri kedua dari Kaisar Naga Merah di hadapan Liu Kang.


"Iya, Paduka Selir Agung Kim.Hamba juga sudah melihat kejahatan wanita itu yang ingin bunuh aku dan Shen Yue di luar istana di dalam misi kami ke pegunungan awan bunga Naga. HHh, hal ini membuat hati Hamba kecewa dengannya. Hhh, syukurlah sekarang Hamba telah dapatkan yang terbaik untuk hamba. " kata Liu Kang yang memperkenalkan selirnya kepada Selir Agung Kim Hwee Li yang tersenyum ramah dan agung di hadapan Shen Yue.


"Syukurlah, kamu tak membenci kami yang telah menghukum mati istrimu yang dahulu. " kata Kim Hwee Li sungguh-sungguh kepada Liu Kang.


"Yang Mulia, Anda tak perlu merasa bersalah atas hukuman mati yang layak untuk diterima oleh wanita itu, dan hamba sama sekali tidak ada rasa untuk membenci Anda. " kata Liu Kang dengan sikap hormat kepada Kim Hwee Li.


"Iya, Liu Kang terimakasih banyak karena kamu memiliki jiwa yang lapang hati yang sangat aku kagumi sebagai seorang pendekar yang menjadi salah seorang dari pengawal Kaisar Naga Merah kita tercinta. " kata Kim Hwee Li yang menengok ke kamar setelah mendengar suara Fan Yi Xing yang sudah sadar dari komanya.


"Dimana aku? Kalian siapa? Kenapa aku bisa berada disini? " tanya anak kecil itu yang duduk di pangkuan Tan Tan Ling Ming di tempat tidur anak kecil itu sendiri.


"Kamu berada di istana Kekaisaran Naga Merah. Kami ibu asuhmu, sayang. Kamu baru saja sehat kembali dari sakitmu yang meresahkan kami di sini." jawab Tan Tan Ling Ming lembut kepada anak kecil itu.


"Yi Xing.. " panggil Nalan Yan Ran yang segera datang ke istana Fan Yi Xing sesudah mendapat kabar dari pelayannya yang mengatakan bahwa Fan Yi Xing sudah sadarkan diri.


"Apa? Siapa? Bibi memanggilku dengan nama apa barusan? " tanya Fan Yi Xing kebingungan.


"Fan Yi Xing, aku bukanlah Bibi mu melainkan ibu asuhmu juga. " jawab Nalan Yan Ran memeluk anak kecil itu dengan airmata hangat.


"Hhh, namaku bukanlah Fan Yi Xing melainkan Ace dari Ausie? " ucap anak kecil itu yang kini membingungkan Tan Tan Ling Ming, Nalan Yan Ran, Kim Hwee Li, Liu Kang dan anak -anak kecil lainnya di sekitar tempat tidurnya.


"Hmm, kau Fan Yi Xing dari Istana Kekaisaran Naga Merah. Apa itu Ausie?Kau jangan bicara sembarangan, nak. Kamu anak asuh kami yang menyenangkan. " kata Tan Tan Ling Ming tegas sampai anak kecil itu menganggukan kepalanya mematuhinya dengan sikap yang menarik sekali dan ia tertidur pulas kembali di pelukan Tan Tan Ling Ming.


Lalu keesokan harinya anak kecil itu tidak ingat dengan apa yang dia ucapkan pada kemarin malam kepada Tan Tan Ling Ming karena anak itu telah kembali menjadi dirinya sendiri setelah ia bermimpi tentang seorang anak kecil lain di dekatnya. Ia tahu bahwa anak kecil itu adalah teman lainnya di dunia lainnya sehingga ia amat senang memiliki seorang teman yang baik dan semanis Ace.


Bersambung!!