
Beberapa pekerja memberi salam dengan menundukkan kepala mereka ketika ayris melompat dari gendongan zain, berlari ke arah bunga yang selama ini menjadu kesukaannya . Mawar merah itu membuat senyum ayrus merekah bahkan tidak seperti biasa nya .
" Sayang , hati hati ."
Ucap Zain dengan tinggi nya menatap tajam ke arah ayris saat akan menyentuh bunga yang berduri tajam itu.
Saat menoleh ke arah zain yang sedikit berteriak ,sebuah duri menusuk jari tangan nya .
" Aah,,,,."
Darah segar keluar dari jari tersebut membuat zain menatap tajam jari nya lalu menyentuh pelan jari tersebut.
" Cepat ambil kotak obat !"
" Baik ,tuan."
Ayris yang menyadari kesalahan nya saat tatapan mata elang zain menatap tajam pada nya , hanya bisa menundukkan kepala nya. Ia harus memutar otak agar laki laki itu tidak marah bahkan tak berimbas pada sesuatu di sekitar nya .
Bebarapa saat mengobati luka tusukan duri mawar tersebut , reaksi zain masih tetap sama .
" Singkirkan seluruh bunga yang berduri !"
Ucap zain.
" Baik ,tuan."
Ayris tercengang dengan apa yang di dengar nya , tak menyangka bunga pun terkena imbas dari kemarahan nya.
Ayris menarik narik baju zain menatap iba seperti memohon sesuatu ."
" Jangan pindah bunga mawar nya ! Bunga favorite ku ."
Ucap ayris.
" Bunga itu telah melukai mu ."
" Tapi aku yang tak berhati hati . Please !"
Ayris pun memberanikan diri memegang tangan zain bahkan lebih dekat dari biasa nya.
" Aku janji akan berhati hati ."
" Hmm,,, baiklah ."
Entah mengapa zain menyerah saat melihat sikap manja ayris.
Semua pelayan tercengang dengan sikap tuan nya yang berbeda dari sebelum nya .
" Tinggalkan bunga mawar kesukaan nyonya !"
" Baik ,tuan."
Pelayan meninggalkan bunga mawar yang diminta ayris ditemlat semula.
"Terima kasih ,muach."
Zain sedikit tercengang dengan sikap ayris yang tiba tiba berubah manis.
" Apa kau menyukai nya ?"
Zain ikut menunduk tepat disamping ayris yang mencium bunga mawar tersebut.
Ayris hanya menganggukkan kepala nya mengembangkan senyum nya yang membuat zain sedikit luluh pada senyuman itu.
"Senyuman mu itu membuatku semakin mencintaimu . Aku berharap kau mulai membuka hati untuk ku , bukan pria bodoh itu yang menjadikan mu yang kedua."
Zain mengeram kesal .
Ayris berjalan tanpa henti melihat semua tanaman yang ada di ruang kaca tersebut. Hingga ia duduk di sebuah bangku menatap bunga mawar kesukaan nya dan beberapa bunga yang lain nya .
"Andai aku bisa keluar dari sini . aku akan mencarimu mas , akan ku tanyakan kenapa kau menceraikan ku ? Apa salahku padamu?" Gumam Ayris dalam hati yang memejamkan mata nya sejenak.
"*Dan laki laki ini , apa yang kau lakukan hingga bisa menikahiku? aku harus terus berpura pura menurut pada nya untuk mencari jawaban seluruh pertanyaan ku."
"Ya ,aku tidak boleh gegabah . sandiwara ini harus tetap berjalan ."
" Ah tidak , aku harus mulai menerima nya . Bagaimana pun juga zain telah menjadi suamiku meskipun yang kedua . aku harus belajar mencintainya."
" Tidak , enak saja . Jika ia sengaja membuatku berpisah dari mas fai ? aku pun akan membuatmu lebih dari itu."
" Tidak ."
" Iya*."
"Sayang ,,,,."
Zain menatap istri nya yang sedang memejamkan mata nya seakan memikirkan sesuatu.
" Ahh ,,, iya . Ada apa sayang ?"
" Sayang,,, ? Panggilan yang bagus , aku menyukai nya."
Ucap zain .
" Apa kau lelah ?"
Zain mengusap lembut pipi nya kemudian menarik nya ke dalam bahu zain , membuarkan nya bersandar di bahu nya membelai lembut rambut panjang nya.
" Tidak , aku hanya berpikir kehidupan mewah ini tidak pernah ku rasakan sejak kecil."
Ucap Ayris menutupi semua yang ada di benak nya.
"Aku tahu ."
Ucap Zain singkat.
" Bagaimana kau tahu ?"
" Apa sulit nya seorang zain arijaya mengetahui kehidupan istri nya ?"
" Hah, baiklah ."
Ayris sengaja mengalah tak ingin ada yang terkena imbas kemarahan nya.
"*Aku akan membahagiakan mu , tidak akan ku biarkan ada seorang pun yang menyakiti mu." Gumam Zain dalam hati .
" Ia tidak boleh tahu . Aku harus berpura pura mencari jawaban itu, Jika kau yang memang sengaja , kedua tangan ku ini yang akan menghukum mu."
Gumam Ayris*
Ia masih memejamkan kedua mata nya terhanyut dalam belaian zain yang akhirnya pun tertidur pulas.
Zain melihat istrinya tertidur lalu menggendong nya ke kamar mereka.
Zain membaringkan tubuh ayris ke tempat tidur dan menyelimuti nya lalu mengecup kening itu dan berlalu meninggalkan nya sendiri.
Zain pergi ke ruang kerja nya dimana max yang menunggu nya di ruangan tersebut.
Ada beberapa berkas yang harus max selesaikan dan juga beberapa tanda tangan yang harus zain sematkan di atas kertas dokumen dokumen tersebut.
Ceklek.,,,,
Bersambung,,,,,,😊😊😊🙏🙏🙏🙏