ISTRI RAHASIA CEO MAFiA

ISTRI RAHASIA CEO MAFiA
episode 162.


" Apaaaaaa,,,,,."


Suara teriakan hendra membuat mona terkejut memandang ke arah suami nya itu .


" Ada apa mas ? Apa terjadi sesuatu ?" Mona yang terkejut mencoba bertanya pada hendra .


" Tidak ada sayang , aku akan pergi sebentar ." Ucapan hendra membuat mona curiga kemudian ia meraih tangan hendra .


" Mas, aku mengenal mu lebih dari dua puluh lima tahun . Apa kau tidak ingin membagi nya dengan ku ?" Ucapan mona membuat hendra menghela nafas kasar nya .


" Baiklah ."


" Ada yang mengirim pesan , seseorang menyandra menantu kita .Ia hanya mengatakan untuk datang ke tempat itu bersama mu ."


" Tapi aku tidak ingin membahayakan mu sayang . Sudah cukup aku menyakiti mu selama bertahun tahun atas kesalahan orang tua ku ."


Hendra menundukkan kepala nya menceritakan isi pesan kaleng tersebut .


" Apaaaa,,,,, maksud mu menantu kita ayris ? Tidak ,,,tidak ,,,, aku harus ikut dengan mu untuk menyelamatkan nya ." Mona yang syok memegang tangan suami nya memohon pada nya .


" Tapi mona ,,,,, Aku tidak ingin membuat zain kecewa dengan ku lagi karena melibatkan mu dan tidak melindungi mu ." Hendra merasa bingung dengan situasi yang terjadi .


" Tidak mas , semua demi anak kita . Ayo cepat !! Apa kau ingin kita terlambat menolong nya ? kau tidak melihat putra kita begitu mencintai nya ." Ucapan mona memang ada benar nya tetapi kebimbangan menyelimuti hati nya .


" Mas,,,, Apa lagi yang kamu pikir kan ? Aku rela mengorbankan nyawa ku demi anak kita ." Ucapan mona membuat hendra tersadar dari lamunan nya .


" Baiklah mona . " Hendra dan mona yang tergesa gesa keluar dari kamar nya membuat mama nata curiga pada mereka .


" Kalian mau kemana ? kenapa terburu buru ." Mama nata yang melihat menantu dan anak nya dengan terburu buru membuat nya curiga .


" Kami akan keluar sebentar ma ." Jawaban hendra masih membuat mama nata merasa ganjil .


" Baiklah , hati hati !."


" Iya ma ." Mona menjawab dengan senyuman untuk membuat mama mertua nya itu tenang tidak curiga .


Beberapa saat kemudian hendra dan mona yang mengendarai mobil sendiri berjalan menuju tempat yang di kirimkan oleh si pengirim pesan .


Hendra yang terlalu khawatir bertindak terlalu ceroboh dengan tidak membawa para bodyguard nya . Ia dan mona berangkat sendiri ke tempat itu bahkan tidak dengan sopir sekalipun.


Mereka yang tidak mengetahui pengawalan ketat yang di lakukan anak buah zain yang sengaja zain tempat kan di mansion orang tua nya untuk melindungi mereka dengan segala kemungkinan terjadi .


Para bodyguard yang bertugas segera menghubungi tempat pusat untuk terus memantau keberadaan mereka .


" Mas , cepat sedikit !." Mona terlihat sangat khawatir dengan menantu nya .


" Iya sayang ." Hendra fokus mengemudi mobil nya dengan kecepatan agak tinggi untuk sampai pada tempat yang mereka tuju .


Beberapa saat kemudian mereka yang telah sampai di tempat tujuan sebuah gedung tua memarkir mobil nya dan berjalan dengan sangat waspada memperhatikan ke sekeliling mereka .


" Mas ,kenapa gelap sekali ? Bagaimana jika kita ditipu ?" Mona merasa sedikit gemetar karena hari yang semakin gelap membuat suasana menjadi terasa dingin.


Angin malam yang semilir pun menusuk tulang tulang mereka terasa ngilu di rasakan.


" Entah lah sayang . Kita harus harus hati hati , apa tidak sebaik nya kau menunggu di mobil saja ?" Hendra yang masih mencoba untuk membujuk istri nya agar tidak ikut masuk ke dalam tidak membuahkan hasil . Justru mona semakin kekeh untuk ikut masuk ke dalam .


" Mas ,apa kita tidak sebaik nya menghubungi pihak yang berwajib ? Bagaimna jika mereka itu pembunuh ?" Mona semakin khawatir .


" Tidak ,,, aku takut menantu mu akan terluka jika orang itu mengetahui kita menghubungi pihak yang berwajib.


" Baiklah ,tapi kita harus tetap hati hati ." ucapan mona mendapat anggukan dari hendra .


Sementara mereka terus berjalan menuju gedung tua di tengah hutan tersebut . Kabar itu pun telah sampai ke telinga anton dan antom segera menghubungi rian yang bersama tuan muda mereka .


Zain yang berada di meja makan untuk menyuapi istri nya terkejut melihat Rian yang memperlihatkan isyarat tertentu kepada nya .


Tetapi ayris yang tengah bermanja dengan nya sulit sekali ditinggalkan dan zain yang tidak ingin membuat ayris bersedih akhir nya hanya memberi kedipan mata pada rian .


Kurang nya asupan gizi membuat tubuh ayris lemah dan tekanan darah nya agak menurun .


" Sayang ,,,,, Bagaimana enak bubur nya ?" Nenek jaya yang masih duduk memperhatikan kedua insan itu memadu kasih membuat nya merasa iri .


" Enak nek apalagi jika ditaburi mangga yang di petik zain tadi ." Ucapan ayris membuat semua orang yang mendengar nya menelan ludah kasar nya .


" Baiklah sayang , nenek akan mengupas nya untuk mu . Tunggu sebentar ya cucu kesayangan nenek !." Ucapan nenek nya membuat leo yang tengah memakan apel tersedak .


" Huk,,,, huk,,,. Tidak boleh ! Kakak tidak boleh makan masam karena perut kakak yang tak terisi sejak pagi akan membuat asam lambung nya naik ." Ayris yang mendengar larangan leo merasa sedih .


Sementara zain menatap tajam pada leo seakan berkata untuk tidak melarang bahkan mengatakan sesuatu . Ia sangat takut jika serigala betina nya mengamuk seisi mansion tersebut .


"Emmm hiks ,,hiks,,,hiks,,." Suara ayris yang cengeng seolah akan menangis membuat semua orang menatap tajam pada leo .


Bahkan kakek wijaya dan kakek arijaya memukul leo secara bersamaan .


" Plakkkkk,,,,,."


" Plakkkk,,,,,,."


" Aduhhhhh,,,,,. Kenapa kakek memukul ku ?' Leo yang sempat protes mendapat tatapan tajam dari semua orang .


" Kenapa kalian menatap ku seperti itu ? Ahhhhh,,,, baiklah ,,, baiklah kakak boleh memakan nya. Puas,,,,!!." Ucap leo yang memilih pergi meninggalkan ruang makan . Ia berjalan ke lantai atas menuju kamar nya membaringkan tubuh nya yang terasa lelah .


Sementara nenek jaya yang telah mengupas mangga di dapur tersenyum melihat tingkah lucu cucu menantu nya yang sebentar lagi akan memberikan buyut kepada nya.


Zain yang telaten menyuapi istri nya hanya menghela nafas kasar nya melihat tingkah istri nya .


Mungkin akan banyak lagi aksi aksi ngidam calon anak nya tersebut.


Setelah beberapa saat nenek jaya yang telah membawa mangga kupasan tersebut memberikan pada ayris .


Zain yang berniat menaburkan mangga tersebut ke atas bubur dihentikan oleh ayris .


" Sayang , aku sudah tidak mau lagi . simpan mangga nya nanti aku ingin membuat rujak ." Nenek jaya yang mendengar ucapan tersebut membuat nya membelalakan mata nya begitu pun kakek arijaya dan kakek wijaya yang sedang menikmati kopi diruang tersebut .


" Baiklah ." Jawaban singkat zain pun membuat nenek jaya semakin terkejut melihat perubahan cucu kesayangan nya tersebut .


Nenek jaya yang duduk di sebelah kakek jaya pun berbisik bisik pada suami nya .


"Kau lihat itu ! Cucu kita telah berubah , ia tak lagi terlihat dingin bahkan semakin menurut pada istri nya .


" Iya benar ."


" Wijaya ,,, cucu mu benar benar hebat . Bisa meluluhkan gunung es itu ." Ucap kakek ari pada kakek wijaya.


Ayris yang telah merasa kenyang mulai dengan aksi manja nya .Ia pun merentangkan tangan nya meminta di gendong .


" Sayang ,,,, aku ingin berbaring di kamar . Bolehkah nek kek ?" Ucapan ayris mendapat anggukan kepala dari ketiga orang tersebut yang masih memandang kemesraan mereka .


Zain yang tidak bisa berbuat apa apa hanya bisa pasrah menuruti keinginan istri nya .


Ia lebih memilih menuruti keinginan istri nya mengingat kode etik yang di berikan oleh rian kepada nya .


Setelah sampai di kamar , ayris hanya minta berbaring di sofa kesayangan nya. Semenatra zain yang pamit pada ayris untuk berbincang bincang dengan kakek dan nenek nya itu mendapat anggukan kepala dari ayris .


Zain yang telah keluar kamar berjalan ke sudut ruangan menemui rian yang sedari tadi menunggunya.


" Ada apa rian ?" zain yang tanpa basa basi bertanya pada rian.


" Tuan besar dan nyonya besar masuk dalam perangkap wanita itu tuan muda ." Ucap rian memberitahu majikan nya.


" Apaaaaaaa,,,,."


Bersambung 😊😊🙅🙅🙅