ISTRI RAHASIA CEO MAFiA

ISTRI RAHASIA CEO MAFiA
299.


" Aaaaaaaa,,,,."


" Sayang ,,, ada apa ?"


" Sakit sekali kak ,,, seperti nya dedek mau keluar . Aaaaaa,,,,."


Max bingung apa yang harus dilakukan , ia memapah istrinya ke tempat tidur lalu berlari meninggalkan chle sendiri memanggil mama nya .


" Kak,,,, jangan tinggalin chle kak ! Chle takut ."


Wajah memelas sang istri membuatnya tak tega keluar dari kamar hanya berteriak melalui pintu kamar .


" Maaaaa,,,,, mamaaa ,,, Papaa,,,, Nenek,,, kakek,,,."


Bunyi suara teriakan max terdengar sampai ke lantai bawah bahkan nenek jaya ,nenek adinata maupun nenek maya yang baru saja sampai setengah tanda turun berhenti mendengar teriakan max .


" Max ,,,? Ada apa dengan nya ?"


Nenek jaya masih menerka apa yang terjadi dengan cucu nya itu .


" Jangan jangan,,,,,?"


Ucapan nenek nata terhenti , takut tebakan nya benar berbalik ke lantai atas lagi.


" Jangan jangan cucu perempuanmu mau melahirkan ."


Ucap nenek maya.


" Hah,,,,."


Tak banyak berkata apa pun mereka kembali ke lantai atas bahkan dengan setengah berlari .


Mama mona yang berada di kamar diana samar samar mendengar suara max merasa sedikit heran tak biasanya max berteriak histeris seperti itu.


" Ada apa sayang ?"


" Ada apa max ?"


Secara bersamaan mona dan hendra muncul di depan pintu kamar max setelah ia berteriak .


" Ma pa, chle mau melahirkan ."


Dengan sedikit teriakan max menghilang dibalik pintu kamar nya.


" Apaaa,,,, chle mau melahirkan ?"


Mona bergegas ke kamar leo yang masih menunggu diana sadar.


"Leo ,,, ikut mama ! Adikmu mau melahirkan ."


" Hah,,,, tapi ma ,,,."


" Sudah sana , biar ibu yang jaga istrimu. "


" Baiklah , bu."


" Sayang , aku pergi dulu ya ."


Setelah mencium kening diana , leo pergi mengikuti mama nya .


Dikamar chleo.


" Aaaaaaa,,,, sakit kak . Aaaaa,,,,.''


" Sayang , tenanglah ! Mama sebentar lagi datang."


Chleo merasa perutnya mulai bereaksi mencakar tangan max yang berusaha menenangkannya.


Nenek begitu khawatir dengan keadaan chleo dengan terengah engah berjalan cepat ke kamar chleo.


Leo memanggil dokter kandungan rumah sakit arijaya yang merupakan dokter pribadi keluarga mereka.


" Leo ,,, cepat lakukan sesuatu !"


Nenek jaya menggoyang goyangkan lengan leo yang baru saja menutup telepon nya.


" Benar ."


Nenek nata menimpali perkataan nenek jaya.


" Nenek , aku ini dokter umum . Bukan dokter kandungan jadi nenek harus sabar sampai dokter risa datang ."


Ucap leo.


" Kau tega melihat adikmu kesakitan seperti itu ?"


Nenek jaya adalah orang yang kali pertama cerewet ketika melihat cucu cucu nya kesakitan.


" Lalu leo harus apa nek ? Memang ada prosesnya pembukaan jalan keluar baby ."


" Hah,,, kau benar , nenek hampir lupa ."


Hiruk pikuk terjadi di kediaman mansion zain ketika chleo sang adik perempuan bertetisk meringis kesakitan .


" Leo ,,,, cepat sedikit ! Mana dokter nya ?"


Max meringis kesakitan ketika menggenggam tangan chleo berujung sebuah cakaran dari kuku kuku chleo.


" Sabar, sebentar lagi datang ."


" Sabar ,,,sabar ,,,,. Lihatlah tangan ku !"


" Nikmatilah ."


Ucap leo berlenggang pergi meninggalkannya .


" Apaaa ,,,. Awas kau !"


Merasa kesal dengan ejekan leo , max melayangkan sandal rumah yang dikenakan nya pada leo.


" Wekkk,,, nggak kena ,,,."


Bukan menyingkir tapi leo sengaja mengejek max.


" Aduh ,,,,."


Kedua nya menoleh ke arah sumber suara ketika sandal itu jatuh mengenai seseorang .


" Kakek ,,, ."


Max melongo melihat kakek arijaya tiba tiba muncul di depan pintu kamar nya.


" Sandal siapa ini ?"


" Sandal max ,kek ."


Ucap leo merasa menang ,mengedipkan salah satu mata nya pada max.


" Maaf , kek. Leo terus terusan menggodaku."


" Leo , bagaimana dengan adikmu ? "


Kakek arijaya menatap cemas pada leo.


" Kita harus menunggu dokter risa datang ,kek ."


Kakek arijaya menghela nafas panjang nya mendengar penjelasan cucu nya .


Di rumah sakit .


Beberapa orang lalu lalang yang merupakan anggota pihak yang berwajib mengawasi kamar lisha yang masih dalam kondisi kritis .


Bahkan tak seorang pun di ijinkan menjenguk maupun melihat nya .


Seorang dokter yang akan memeriksa kondisi pasien terhalang dengan sepasang suami istri paruh baya mendatangi dokter tersebut .


" Dokter , bagaimana kondisi putri kami ?"


" Iya benar ,dokter . Apa ada kemajuan ?"


" Maaf , siapa kalian ?"


Dokter tersebut mengerutkan dahinya bertanya pada kedua nya ketika menanyakan kondisi lisha.


" Kami orang tua nya dokter ."


" Oh ,,,begitu . Mari ikut ke ruangan saya untuk lebih lanjut lagi ."


Ucap dokter tersebut .


" Baiklah ,dokter."


Kedua nya mengikuti dokter jaga yang memeriksa kondisi lisha ke ruang praktiknya.


" Silahkan duduk !"


" Terima kasih ,dokter."


" Begini tuan dan nyonya , kondisi nona lucy dalam keadaan kritis. Tembakan peluru tersebut mengenai pembuluh darah jantung membuat keadaan nya kritis."


"Hiks ,,,hiks,,, pa."


Wanita paruh baya itu menangis dalam pelukan sang suami mendengar keadaan lucy .


" Apa tidak bisa diselamatkan dokter ? "


Dokter menggeleng pelan .


" Harapan sembuh hanya nol koma lima persen bahkan kemungkinan buruk bisa terjadi setiap saat bisa terjadi ."


Ucap dokter tersebut


" Lalu bagaimana sebaiknya dokter ?"


" Kita hanya bisa menunggu ."


Kedua nya menghela nafas panjang mendengar penuturan dokter tersebut.


Ketika mereka berdua hendak berpamitan , salah seorang bersalaman tangan nya membius dokter tersebut.


" Pergilah ! Selesaikan dengan cepat !"


Wanita paruh baya hanya menunggu di ruang praktik dokter sedangkan lelaki tersebut pergi menggunakan jas dokter dan tanda pengenal dokter tersebut masuk ke ruangan lusy.


Sebuah suntikan dimasukkan melalui selang infus yang entah apa obat yang disuntikan pada tubuh lusy atau pun lisha.


Beberapa menit kemudian mereka pergi meninggalkan dokter tersebut dalam keadaan tidak sadar bahkan seperti terlihat sedang tidur .


Tak berapa lama suster yang datang akan memeriksa selang infus terkejut melihat layar monitor yang terus melemah memencet tombol darurat pada dokter jaga .


Tet,,,,tet,,,tet,,,,


Dokter yang pingsan tersebut samar samar terkejut mendengar bel bunyi tanda darurat bergegas berlari ke ruangan tersebut .


" Ada apa suster ?"


" Dokter , denyut jantung melemah ."


" Hah,,, lakukan yang terbaik . Siapkan alat cepat !"


" Baik ,dokter."


Kekacauan terjadi di ruang rawat lisha yang mungkin akan membuat gugup para medis .


Beberapa alat medis telah disiapkan , namun bunyi dari layar monitor membuat semua nya tercengang bahkan terlihat sangat cemas ketika detik terakhir menandakan denyut terakhir jantungnya berdetak.


" Hubungi segera keluarga nya ,suster !"


" Baik, dokter."


Semua awak medis melepas peralatan yang terpasang pada tubuh yang telah menghilang nyawanya .


Salah seorang memberitahu pihak yang berwajib dan juga pada keluarga yang bersangkutpautan dengan lucy.


Jack menerima telepon dari bram memberitahu kalau lucy sudah tak bernyawa lagi.


" Ada apa ? Kenapa wajahmu menegang ?"


Liana ternyata muncul dari belakang jack membawakan minuman untuk nya.


" Lucy tak bernyawa."


" Bagus, setidaknya dia tak menggodamu lagi ."


Mendengar perkataan liana , jack mengerutkan keningnya tak percaya istri nya menaruh cemburu pada nya.


" Kau cemburu dengan nya ?"


" Tidak, untuk apa cemburu pada orang yang sudah mati ."


Sekali lagi jack mengerutkan dahinya mengerti istrinya sebenarnya merasa cemburu.


" Sudahlah. Eh,,,, apa yang di berikan ponakanku padamu ?"


Liana yang semula diam seperti memikirkan sesuatu .


" Kenapa diam ?"


" Kau ingin melihat nya ?"


" Hem,,."


" Aku akan memakainya , tunggu sebentar ."


Jack hanya mengangguk pelan .


Selang beberapa menit liana keluar dari kamar nya mengenakan hadiah yang diberikan lily pada nya.


" Tat ,,,tatttt,,,,."


Byurrrrr,,,,,


" Uhuk ,,,,,uhuk,,,,."


Jack tersedak batuk menyemburkan kopi yang tengah ia minum ketika melihat liana mengenakan sesuatu yang lain.


" Apa yang kamu pakai ? kau sudah gila ya ?"


" Heh,,,ini namanya lingerie. Model terbaru limited edition."


Ucap liana.


" Ini pemberian lily ."


Liana mengangguk pelan .


" Benar benar ,,,,.Nggak ada akhlak."


" Eh ,,, jangan bilang nggak ada akhlak . Ini bagus buat bulan madu ."


Jack sejenak diam tampak berpikir apa yang dikatakan istrinya.


" Kalau begitu kita bulan madu sekarang."


Jack mengedipkan sebelah mata nya ,lalu menggendong liana .


Sedangkan liana mengerucutkan bibirnya mendengar ide suaminya setelah mendengar penjelasan nya.


Liana menyesal memberitahu perihal kesenangan suami nya.


Sedangkan disisi lain anak buah anton memberitahu kalau misi telah berhasil bahkan dengan sangat cepat .


Anton menyunggingkan senyum ketika menerima kabar tersebut bahkan mencium perut selly berulang kali .


" Aku tak menyangka kalau aku akan mencetak goal secepat ini ."


Ucap anton .


" Karena kau terus meronda setiap malam ."


Ucap selly mengerucutkan bibir nya .


" Kau tidak menyukai kehadiran nya ?"


" Tidak ,bukan seperti itu . Hanya aku harus cuti bekerja ."


" Tidak masalah , tuan muda pasti mengerti . Lagi pula aku bosan selalu disindir nyonya muda kapan goal nya tercetak ."


" Hah,,,, hahaha,,, nyonya muda tak seperti bayangan ku ternyata bisa humor ."


" Kau benar , tapi jika sudah mengeluarkan taring ? Leon saja pergi menyingkir ."


" Pawangnya tuan muda."


" Hihihi,,,."


Kedua nya terkekeh geli membicarakan kedua majikan nya.


Sedangkan anton mengusap pelan perut selly yang masih rata.


Hiruk pikuk kediaman mansion zain masih terjadi meskipun dokter risa sudah datang tapi tapi proses kelahiran masih menunggu beberapa saat lagi hingga pembukaan lengkap.


" Aaaaa,,, sakit kak ."


" Dokter ,,,, dokter ,,, apa tidak ada cara lain menghilangkan rasa sakitnya ?"


Max tidak tega melihat wajah chleo memerah menahan sakit .


" Tenanglah tuan muda ! Tunggu sebentar lagi ."


Ucap dokter risa.


Dokter risa menyuruh suster yang mendampinginya menyiapkan alat medis peralatan melahirkan lain nya .


" Nona , sudah saat nya . Nona harus berusaha mengejan."


" Satu ,,,dua ,,tiga ,,,, ayo nona !"


" Aaaaaaaakkk,,,,."


" Tarik nafas dalam dalam nona , keluarkan ."


Sesuai anjuran dokter chleo mengikuti arahan dokter risa.


" Satu dua ,,tiga ,,,."


" Aaaaaaaaa,,,,,."


" Tarik nafas nona ,keluarkan ! Sekali lagi nona."


" Satu dua tiga ,,,, '


" Aaaaaaaaaaa,,,,,."


" Oek,,,, oek,,,,, oek,,,,."


" Selamat nona muda , bayi nya perempuan ."


Dokter menyuruh salah seorang suster yang lain membersihkan baby . Sementara dokter dan suster lain nya membantu membersihkan chleo .


Max bernafas lega setelah baby keluar duduk dilantai samping tempat tidurnya dengan keringat yang yang mengucur di dahinya.


Max masih mengatur nafas nya setelah mati matian menahan sakit bekas cakaran kuku chleo.


Dengan langkah gontai max berjalan menuju pintu kamar karena semua orang yang menunggu di depan pintu kamar merasa khawatir dengan keadaan chleo .


" Max,,,."


Max yang terlihat lusuh membuat semua orang khawatir masih menunggu jawaban max.


" Bayi nya perempuan ."


" Aaah,,,, bayinya perempuan."


" Ma, cucu kita perempuan."


Mona memegang tangan jaya mama nya .


Semua orang tengah berbahagia dengan kelahiran putri dari chleo dan max hingga melupakan hal penting yang kini tengah terjadi.


Bersambung 😊🙏