
" Selamat pagi ."
Chleo disusul dengan max dari belakang yang memang sengaja datang terlebih dahulu untuk menyapa.
Semua orang menoleh ke arah sumber suara yang menyapa mereka .
Kedua orang tua itu membelalakkan mata nya ketika melihat sosok putri yang mereka rindukan ada di depan mereka .
" Waoww,,, ganteng sekali cowok itu."
Gumam jiya dalam hati nya.
" Apa itu cowok yang akan di jodohkan dengan ku ?"
" Jika iya , dengan senang hati aku menerima nya ."
jiya bermonolog sendiri dalam hati nya disertai senyuman penuh arti .
" Nak , kau sudah datang ?"
Mona menghampiri chleo yang berada di tengah tengah pintu masuk ruang makan lalu memeluk nya .
Sang nenek dan papa nya memandang penuh haru atas kedatangan putri ketiga nya .
" Kakek , apa pria itu yang akan dijodohkan dengan jiya ?"
Bisik jiya dalam hati nya .
" Iya jiya , bagaimana ?"
kakek adinata menjawab nya dengan bisikan kembali .
" Ganteng kek , jiya mau di jodohkan dengan nya."
" Baiklah , kakek akan atur semua nya ."
Setelah mona memeluk putri dan putra nya kemudian membawa mereka duduk di meja makan tapi chleo berhenti sejenak menghampiri sang nenek untuk memeluk nenek kesayangan nya.
" Kau sudah menjadi gadis dewasa , sayang . Apa dia merepotkan mu ?"
Ucap sang nenek mengusap pelan perut chleo yang sudah membesar .
" Tidak nek , dia baik baik saja . Tapi merepotkan papa nya ."
Bisik chleo yang disambut tawa oleh nenek nata namun mendapat tatapan tajam dari max.
" Hahahaha,,, ."
Nenek nata hanya tertawa dengan bisikan chleo .
Mereka yang duduk di samping jiya membuat jiya sendiri terbakar cemburu ketika chleo mengambilkan makanan untuk max .
" Nenek , siapa gadis ini ?"
Chle sengaja bertanya pada nenek nya yang sedang menyantap sarapan mereka .
Adinata yang tak menyukai kehadiran banyak orang , sudah pergi meninggalkan meja makan ketika chle dan max ikut bergabung bersama mereka .
" A,,, dia,,,."
Belum sempat nenek mengenalkan jiya pada chleo , gadis itu sudah memotong pembicaraan sang nenek .
" Hai ,kenalkan aku jiya calon istri chleo ."
Max yang mendengar nya menyemburkan makanan yang ia makan dan dengan gerak reflek jiya pun berlari mendekati max membawakan air minum .
Ia bahkan menyuruh chleo bergeser tempat duduk di tengah tengah mereka.
" Ini minum !"
Ketika jiya menyodorkan minuman pada max , chleo menatap tajam pada gadis itu .
" Apa gadis ini sudah gila ? Bagaimana mungkin ia menjadi calon istri ku sedangkan ak seorang perempuan ?"
Gumam chle dalam hati .
Chle pun memandang ke arah nenek beserta kedua orang tua nya menggerakkan dagu nya sebagai isyarat apa yang sedang terjadi .
Namun nenek dan juga mama papa nya menggelengkan kepala nya untuk diam .
" Maaf nona , aku hanya ingin istri ku yang mengambilkan nya untuk ku ."
Ucapan max membuat yang mengambil air minum dari tangan chleo . Pemandangan di deoan mata nya membuat jiya terbakar api amarah .
" Aku adalah calon istri mu . Bagaimana mungkin kau sudah menikah ? Atau kau sudah tidak sabar ingin menikah dengan ku ."
Ucapan jiya semakin membuat max mengernyitkan dahi nya .
" Apa kau sudah gila ? Aku sudah menikah dan orang yang di samping nona itu adalah istri ku . Kenapa kau bilang calon istri ku ?"
Ucap max yang tengah kesal dengan ucapan jiya yang semakin sembarangan berbicara .
" Apaaaa ,,, kau sudah menikah ? Tidak mungkin . Kakek sendiri yang bilang akan menjodohkan ku dengan mu ."
jiya masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar namun kenyataan pahit yang baru saja ia lihat seakan tak menyurutkan semangat nya untuk tetap menikah dengan max yang ia kira chleo .
" Tidak masalah , aku tetap bersedia menjadi istri kedua ."
Max yang semakin geram dengan perkataan jiya harus bertindak lebih cepat sebelum perempuan ini benar benar gila .
Chleo dan nenek yang melihat perdebatan tersebut juga kedua orang tua nya hanya menatap heran dengan kegigihan jiya yang menginginkan pernikahan itu .
" Tapi ,, bukankah nona di jodohkan dengan chleo ? Kenapa anda ingin menikah dengan ku yang sudah mempunyai istri dan tengah hamil besar ?"
" Benar , kata kakek seperti itu dan aku memperjuangkan perjodohan tersebut ."
Jiya dengan bangga berkata demikian membuat semua orang merasa enek dengan perkataan nya .
Deg,,,,
"Rumah sakit jiwa ? Aku di masukkan ke rumah sakit jiwa ."
Ucapan tajam dari max membuat jiya reflek berdiri dan juga diam mendengar kata rumah sakit jiwa .
" Max , bagaimana kau tahu ? "
Nenek nata terkejut mendengar perkataan max yang menyatakan bahwa jiya pernah masuk rumah sakit jiwa.
" Ini , bukti dia baru kemarin keluar dari rumah sakit jiwa ."
Max memberikan selembar kertas slip pembayaran biaya rumah sakit jiwa .
" Jadi ,,, apa anda ingin masuk rumah sakit jiwa lagi ?"
Bisik max yang seakan menyayat dalam hati nya , jiya merebut kertas yang tengah di baca oleh nenek nata yang kemudian membuang nya ke lantai .
Jiya meneteskan airmata nya yang kemudian berlari ke arah kamar nya .
Kakek adinata yang melihat jiya menangis dan berlari ke kamar nya mengikuti jiya dari belakang .
" Jiya , ada apa nak ? Kenapa kau menangis ?"
Kakek adinata mengusap pelan kepala jiya yang tertelungkup di bawah bantal.
"Kenapa kakek membohongi ku ? Pantas saja jiya di masukkan ke rumah sakit jiwa ."
Ucapan jiya membuat adinata naik pitam tanpa mendengar penjelasan jiya terlebih dahulu, ia bergegas berjalan ke ruang makan .
" Apa yang kalian katakan pada jiya ?"
Dengan suara tinggi dan amarah yang mendalam ia tak berpikir panjang tindakan nya membuat semua orang curiga .
" Tidak ada , apa dia mengatakan nya pada mu ?"
Nenek nata menjawab santai gertakan adinata yang seperti nya tersulut api amarah yang sangat besar hingga ia berbicara kasar seperti itu .
" Apa kalian tahu jiya lebih penting dari kalian semua ?"
Adinata semakin kalap dan seakan lupa apa yang ia katakan.
" Pa,,,, dia orang lain yang bukan anggota keluarga kita . Begitu besar nya papa membela nya ."
Hendra yang melihat dan mendengar apa yang adinata katakan mulai percaya apa yang di katakan istri nya jika ia bukan papa nya .
" Aku tidak peduli . Dengar ! jika terjadi sesuatu dengan jiya kalian semua harus bertanggung jawab !"
Adinata yang akan meninggalkan tempat itu terhenti ketika nata membuka suara yang mengejutkan untuk nya .
" Apa kau tidak salah bicara ? Seharus nya kau yang bertanggungjawab dengan keluarga ku !! Dimana kau sembunyikan suami ku ?"
Ucapan nata membuat detak jantung adinata tak beraturan bahkan ia sempat khawatir jika penyamaran nya terbongkar .
" Apa maksud mu nata ? Tentu saja aku suami mu ."
Adinata berbalik menatap nata dengan tajam.
" Apaa,,, kau suami ku ? Bagaimana mungkin kau tidak mengenali chleo ? Cucu perempuan kesayangan nya dan bahkan kau ingin menjodohkan nya dengan jiya . Apa kau sudah gila ?"
Adinata terperanjat dengan kenyataan yang ia dengar , bahkan membuat nya salah langkah .
" Apaaa jadi chleo seorang perempuan . Gawat , berarti mereka sudah tahu jika aku bukan adinata . Tidak , aku harus terus berpura pura ."
Gumam adinata dalam hati .
" Adinata mempunyai penyakit yang tidak bisa di sembuhkan karena itu , ia tidak boleh mengendari mobil sendiri . Dan kau ,,,?"
Sekali lagi adinata tercengang mendengar pernyataan nata .
" Gawat , bagaimana aku bisa se ceroboh ini ? Kenapa aku tidak mencari tahu lebih dalam lagi ? Jangan sampai penyamaran ku terbongkar !"
Gumam adinata dalam hati nya .
" Nata , ayo lah jangan seperti itu ! Aku sudah sembuh . Dokter itu berbohong kepada mu ."
Adinata kembali mengelak semua tuduhan nata dan juga menghampiri nata yang duduk di kursi roda .
" Lalu bagaimana dengan ini ?"
Nata melempar botol vitamin yang membuat nya lemah selama ini bahkan secara perlahan bisa membunuh nya .
" Menantu ku cukup cerdik untuk kau kelabuhi hingga ia menyelidiki racun apa yang kau berikan pada ku ?"
Adinata yang semakin terpojok merasa hidup nya sudah di ujung tanduk tapi ia masih mencoba untuk membuat nata petcaya kepada nya.
" Aku hanya memberikan mu vitamin nata bukan obat yang seperti kau bayangkan ."
Ucap adinata yang masih kekeh mengelak semua perbuatan nya .
" Apaaaa,,,, jadi kau ingin membunuh mama ku ? Aku tidak pernah menyangka nya ."
Hendra merasa menyesal tak mempercayai istri nya hingga membahayakan nyawa mama nya .
" Tidak hendra , itu hanya vitamin . Seperti nya istri mu telah membohongi mu ."
Adinata masih mengelak apa yang ia lakukan.
" Apaaa,,, jadi mereka sudah tahu aku memberikan obat itu ? Tidak , aku harus tetap tenang . Aku harus memenangkan hati nata , jika tidak bisa hancur rencana ku ."
Gumam adinata dalam hati nya .
" Apa kehadiran ku mengganggu tuan rudi suryono ?"
Bersambung 😊😊🙏🙏