
" Ayah , siapa dia ?"
Sastro tak harus mengatakannya pada sila tentang apa yang baru saja di katakan oleh jack.
" Oh ,,, dia adik sepupu ayah. Sudah lah sila , ayo kita pergi dari sini !"
Sastro yang semula mempunyai sebuah rencana , memilih mengajak sila pergi dari tempat itu .
Sastro khawatir sifat ugal ugalan sila akan menghancurkan segala rencananya bahkan bisa jadi membuatnya malu jika terus berada di sana .
Kemuncukan jack ternyata memberi penharuh terhadap sastro .
" Tapi ayah ,,, sila belum menjalankan rencana kita ."
" Tidak sila , lain kali saja dan semua akan di urus tuan adinata."
" Hah,,, baik lah . Sila ikut pulang."
Sila sebenarnya merasa curiga dengan sikap ayahnya yang berubah setelah bertemu orang yang baru saja ia temui .
" Ada apa dengan ayah ? Kenapa ia terlihat gugup setelah bertemu adik sepupunya ?"
Gumam sila dalam hatinya.
Sila tak mau ambil pusing meskipun ia masih ingin bertemu dengan rian yang ia kira zain namun jika ayahnya sudah membuat keputusan maka ia pun harus menuruti perintahnya.
Ditempat lain rian yang telah menunjukkan sisi buruk dari para sahabat tuan rusdi berniat undur diri setelah menunggu beberapa saat leny datang dari arah yang berlawanan .
" Tuan rusdi , kami undur diri . Saya mewakili tuan muda zain berterima kasih atas undangannya."
" Baiklah , saya juga berterima kasih atas hadiahnya dan juga atas bantuan nya."
" Sama sama, tuan ."
Mereka berdua akhirnya undur diri dari pesta tersebut namun tak berapa jauh seseorang dengan sengaja menyenggol rian .
" Maaf kan atas kecerobohan saya, tuan ."
Ucap orang tersebut membungkukkan badannya lalu pergi begitu saja .
" Sudah lah, ayo !"
Leny seperti mencium aroma yang tidak asing namun enggan berkata pada rian melainkan hanya tersenyum .
Mereka berdua pergi meninggalkan pesta yang di adakan tuan adinata dan juga tuan rusdi untuk merayakan aniversary pernikahan tuan rusdi .
Perjalanan hotel sampai ke rumah memakan waktu hampir empat puluh lima menit , rian melajukan mobil nya dengan kecepatan tinggi seperti biasa nya.
Sementara itu tuan rusdi masih menyapa para tamu undangan dan juga kolega bisnis nya .
Terlihat adinata yang tampak sendirian meneguk minuman yang entah apa di dalam pikiran nya ,terlihat seperti sedang melamun .
" Adinata , apa kau merasa kelelahan ? Jika memang benar , pergilah beristirahat !"
Ucap rusdi yang memang sengaja menghampiri nya.
" Tidak rusdi , aku akan menemani mu sampai acara selesai . Tidak mungkin aku pergi meninggalkan mu menyambut tamu undangan sendiri di hari baik mu ini ."
Jawaban adinata mengukir sebuah senyuman di wajah rusdi .
" Kau ingat , aku merindukan beberapa teman kita dulu . Lihat lah photo ini ! Coba tebak siapa mereka ?"
Sebuah photo empat orang pemuda sewaktu masih bersekolah menengah berdiri betjajar saling merangkul bahu mereka satu sama lain .
" Aku tidak mengenali mereka sama sekali ."
Deg,,,
Rusdi menatap heran pada adinata yang reenyata tidak mengenal diri nya sendiri .
" Coba lihat dulu dengan teliti ! Kau pasti mengenal nya ."
" Tidak , aku tidak mengenal mereka."
Adinata merasa tidak mengenal photo yamg di berikan oleh rusdi kemudian memberikan nya kembali pada rusdi .
" Bagaimana mungkin dia tidak mengenal diri nya sendiri ? Jadi benar yang di katakan anak muda itu , jika ia bukan adinata . Lalu siapa dia ?"
Gumam rusdi dalam hati nya ketika ia menerima kembali photo yang di berikan oleh adinata.
" Tuan rusdi , kami mengucapkan selamat merayakan anniversary ."
" Terima kasih atas kehadiran tuan tuan semua ."
" Tuan adinata , bagaimana kabar anda ?"
" Seperti yang anda lihat tuan , saya dalam keadaan baik. "
" Kami mendengar anda terlibat dalam kecelakaan ."
" Benar tuan tuan , tapi saya bersyukur bisa selamat ."
Perbincangan antara rekan bisnis mereka melupakan sejenak beberapa pertanyaan rusdi pada adinata .
Suasana pesta semakin marak ketika ada sedikit hiburan dalam pesta tersebut . Meskipun rusdi sudah mulai menyimpan rasa kecurigaan namun ia masih harus tetap hati hati untuk mencari kebenaran yang sesungguh nya.
Sementara rian yang merasakan hawa panas dingin semakin lama semakin membuat nya tersiksa .
Hingga pada akhir nya hampir saja menabrak pembatas jalan .
Leny yang melihat kondisi rian semakin memburuk memegang setir kendali , sesekali melihat rian yang kini berada di jok belakang .
Tak beda dengan rian , leny juga memiliki kemampuan menyetir dengan baik membawa mobil itu kembali ke mansion zain tempat mereka tinggal .
Beberapa menit setelah nya , sampai juga leny membawa nya pulang dengan selamat .
Dengan tergopoh gopoh leny menuntun rian ke paviliun , berteriak memanggil istri nya mira yang kebetulan sudah berada di paviliun setelah aktivitas nya membantu nyonya muda.
" Mira,,,, mira ,,,. Kemana dia ? Duh berat sekali , makan apa sih kamu ?"
Ucap leny merasa beban rian yang semakin berat dan hampir saja terjatuh karena tak mampu menopang nya .
" Aduh,,,,. "
" Untung saja kau cepat datang ."
Ucap leny yang mendapat bantuan dari anton.
" Ada apa dengan nya ?"
" Nanti saja , cepat bantu aku membawa nya ke kamar nya !"
Anton hanya mengikuti perkataan leny , membantu memapah rian sampai ke kamar nya.
Tok,,,tok,,,
" Mira,,, mira ."
Tok ,,, tok,,,
" Mira ,,, mira,,,."
Ceklek,,,
" Lama sekali buka pintu nya ."
Ucap leny merasa sedikit kesal dan mungkin karena merasa lengan nya sakit memapah rian .
" Maaf , aku baru selesai mandi. Ada apa dengan nya ? Kenapa seperti ini ?"
Mira sedikit khawatir dengan kondisi rian yang seperti orang mabuk .
" Dia hanya banyak minum ."
Leny tak menjelaskan apa yang terjadi dengan rian , berpura pura mengatakan jika rian banyak minum .
" Baik lah , terima kasih leny ."
" Hem,,,."
Leny dan anton keluar dari kamar mereka namun leny berjalan ke dapur untuk membuat sesuatu tang hangat.
Sely melihat anton dan leny keluar dari kamar rian menghampiri leny yang ternyata berbelok arah ke dapur .
Dan ternyata anton pun mengikuti nya karena ingin kopi pahit yang akan di bawanya ke kamarnya.
" Eh,, kenapa mengikuti ku ? "
Leny terkejut ketika melihat anton di belakang nya dan juga sely yang kemudian muncul dari arah belakang.
" Aku ingin membuat kopi pahit ."
Jawab anton yang terlihat kesal dengan pertanyaan leny .
" Kenapa tak bilang sayang ? Aku akan membuatkan nya untuk mu ."
Ucap leny yang datang dari belakang nya membuat nya menoleh ke arah istri nya .
" Cieee,,,, sayang . Bagus ,,, ada kemajuan ."
Leny mengedipkan salah satu matanya pada keduanya.
" Ada apa dengan rian ? Kenapa seperti itu ?"
Anton sengaja mengalihkan pembicaraan mereka setelah melihat istrinya sely tersipu malu .
" Seperti nya dia tak banyak minum ."
Anton meneguk segelas air putih saat melihat istrinya membuatkan kopi untuknya.
" Ah ,,, kau ini , seperti anak kecil saja .Jangan bilang tak pernah melihat reaksi seperti itu ?"
" Memang nya ada apa dengan nya ?"
Sely ikut menimpali perkataan suami nya anton .
" Biasa , ada yang sengaja menabrak nya tapi menyemprotkan obat multivitamin padanya ."
" Lalu kenapa kau bilang banyak minum ?"
" Lalu aku harus bilang apa ? mira, suami mu membutuhkan belaian kasih sayang mu sebagai obat penawar begitu ?"
" Huk,, huk,,, byurr."
Anton tersedak ketika mendengar pernyataan leny yang tengah berbincang dengan istri nya .
" Bukan begitu , bagaimana jika mira tidak mengetahui nya ?"
Sely tampak nya benar benar awam tentang obat multivitamin tersebut hingga berkata demikian yang membuat sedikit khawatir.
" Lagi pula mana ada obat penawar belaian kasih sayang ."
Anton dan leny saling berpandangan bahkan tak percaya jika sely memang benar benar tak mengerti apa yang dimaksud oleh leny .
" Hei,,, istri mu benar benar polos."
Bisik leny pada anton membuyarkan lamunan nya tentang konten orang dewasa.
" Tidak , dia hanya belum paham tentang hal itu ."
Bisik anton menjawab pernyataan leny .
" Jangan bilang kau belum membuka rumah nya ?"
''Huk ,,,huk,,,."
Anton tersedak ketika mendengar tentang hal itu yang memang kenyataan nya belum ia lakukan karena kesibukan nya setelah menikah .
" O,,,, aku tahu kau,,,."
Anton membekap mulut leny yang akan berbicara sesuatu mungkin bisa membuat istrinya tertunduk malu , karena ia tak ingin membuat istri nya merasa bersalah belum melaksaknakan kewajiban nya.
" Ada apa dengan kalian ?"
" Huk ,,huk,,,.Kau ingin membuat ku mati ya ? Sudah lah lebih baik aku pergi ke kamar ku , terima kasih coklat panas nya."
Leny berlenggang pergi meninggalkan mereka berdua ke lantai atas karena memang kamar nya di lantai atas.
" Jangan lupa membuka segel !"
Leny yang hanya memperlihatkan kepala nya berteriak pada anton dan sely dengan mengedipkan sebelah mata nya sebelum ia menaiki tangga ke lantai atas .
Sedangkan anton dan sely saling berpandangan menatap satu sama lain namun hanya anton yang mengetahui arti membuka segel sedangkan sely meskipun pandaibela diri tapi tak pernah tersentuh masalah percintaan dengan lawan jenis .
"Apa maksud nya ?"
" Sudah lah , ayo kita tidur ! Aku sangat mengantuk ."
" Em,,,."
Kedua nya pergi meninggalkan dapur setelah selesai membuat minuman permintaan anton dan juga leny .
Sementara mira yang melihat rian mengeluarkan keringat dingin membantu membuka baju nya dan membantu nya ke kamar mandi .
" Ayo mandi dulu ! aku sudah menyiapkan air hangat ."
" Tidak mira , air hangat akan semakin menyiksaku . Bawa aku ke shower saja !"
Menuruti permintaan rian , mira membantu rian ke ruang shower namun mira terkejut ketika rian tiba tiba masuk tanpa melepas baju nya berguyur air dingin.
" Eh ,,eee,,,. Aduh kok nggak di lepas sih baju nya ."
Mira meninggalkan rian yang sedang berguyur air dingin ,pergi mengambil handuk dan baju ganti untuk nya .
Meletakkan nya di samping kamar mandi lalu ia pun kembali dengan rutinitas nya seorang perempuan sebelum tidur .
Merasa ada kejanggalan dengan suami nya ke kamar mandi namun langkah nya terhenti ketika melihat rian yang telah berganti baju lalu menghampiri nya .
Rian memilih untuk segera tidur karena rasa lelah seharian mengurus kantor tuan muda meskipun max dan diana membantu dari mansion tapi tetap saja dia yang harus bertemu dengan client.
Tak berapa lama rian merasa hawa panas bergejolak lagi dalam diri nya apalagi berdekatan dengan seorang wanita semakin membuat nya lebih tersiksa lagi.
Ia pun bergegas ke kamar mandi dan berguyur dengan air dingin.
Mira yang melihat tingkah aneh suami nya mengambil benda pipih milik nya menghubungi sahabat nya leny.
π Caliing " Leny ."
πincoming call " mira."
π :" Leny ."
π :" Hem,, .''
π :" Apa kau sudah tidur ?"
π :" Belum , ada apa ?''
π :"Ada apa dengan rian ? tidak mungkin di banyak minum . Cepat katakan !''
π :" Memang nya kenapa ? dia memang banyak minum ."
π :" Tapi kenapa dia berguyur dengan air dingin ? "
π:"Hahaha,,, bonus untuk mu ."
π :" Apa maksud mu ?"
π :" Seseorang memberikan aroma multivitamin pada nya ."
π :" Lalu ,,, obat apa yang harus ku berikan ?"
π :" Obat apa ? kenapa harus obat jika kau memberikan penawar nya ?"
π :" Aku,,,."
π :" Aduhh,,, kau itu sama polos nya dengan sely . Maksud ku malam pertama ?"
π :" Apa malam pertama ?"
Deg ,,,
Detak jantung mira tak beraturan ketika mendengar pernyataan leny dan bahkan ia pun belum memberikan hak suami nya karena kesibukan masing masing .
π :" Tidak ada cara lain ?"
π :" Tidak !! jangan mengganggu ku lagi , aku ingin tidur !"
π :" klik."
π :" halo,,, halo,,."
" Kenapa di matiin sih ? Dasar teman nggak ada akhlak , minta bantuan di matiin telepon nya ."
Mira menggerutu kesal .
Namun melihat rian yang ternyata bolak balik ke kamar mandi membuat nya tak tega pada suami nya , lagi pula dia memang suami nya berhak atas diri nya .
Ketika rian ingin kembali ke kamar mandi , mira menarik tangan nya menyuruh nya untuk berhenti ke kamar mandi.
" Ada apa ?"
" Sini ! aku tak akan membiarkan mu kesana lagi ."
" Tidak , aku tak ingin menyakiti mu ."
" Tapi aku istri mu , kau berhak atas diri ku ."
Rian merasa mendapat lampu hijau dari mira tersenyum melihat istri nya yang ternyata siap dengan malam pertama nya meskipun agak menyakitkan karena rian dalam keadaan tidak stabil namun ia merasa bahagia memberikan hak nya pada suami nya .
Pergulatan panas terjadi sepanjang malam hingga membuat mira kewalahan menghadapi rian yang memang ada pengaruh obat lain .
" Sayang , maafkan aku .Membuat mu seperti ini ."
Setelah itu mencium kening istri dan juga menyelimuti tubuh nya yang polos karena ulah nya .
Ada rasa bahagia di hati nya merasa jadi yang pertama untuk istri nya .
Suasana ricuh di pagi hari seperti biasa menghiasi mansion zain apalagi dengan ketiga bayi nya .
Apalagi leon tidak berada di kamar ,membuat nya sedikit kewalahan .
" Sayang , kau daddy yang hebat . Bisa mengendalikan para kurcaci , hihihi,, Aku mencintai mu ."
Muach
Ayris mencium sebelah pipi zain sebagai tanda terima kasih atas bantuan nya.
" Tentu saja . "
" Kemana mira ? kenapa jam segini belum naik ? alat pompa asi ada di bawah ."
Ayris merasa ada yang janggal dengan mira ,yang tak seperti biasa nya terlambat membantu nya.
" Bukan kah dia sudah bersuami ? tentu saja ,mengurus suami nya terlebih dahulu ."
Ucap zain menarik istri nya ke dalam pangkuan nya setelah meletakkan baby di box mereka .
" Mulai sekarang , jangan ketergantungan pada mira ! Bagaimana jika ia sedang hamil ?"
"Kau benar sayang, tapi,,,, ."
Zain terlebih dahulu menyambar bibir cery ayris menyesap nya dalam dalam , menikmati manis nya bibir tersebut .
Ia merasa sudah lama sekali tak memiliki waktu kebersamaan dengan ayris setelah kehadiran ketiga baby yang agak sedikit merepotkan .
Namun kehadiran keluarga membantu mengurus baby membuat mereka merasa bahagia.
" Eh' em,,,,,,."
Bersambung πππ
Part ini dulu ya
Happy reading