ISTRI RAHASIA CEO MAFiA

ISTRI RAHASIA CEO MAFiA
episode 134.


Pemilik nama panjang adinata telah berada di mansion tersebut . Mereka duduk diam membisu mencerna perkataan sang cucu yang kian hari tidak menghormati nya .


" Aku merasa sejak menikah dengan anak pungut itu , cucu mu itu tidak lagi menghormati ku ." Ucap sang kakek pada nenek nya .


" Kau benar , lalu kenapa kau menyetujui nya menikah ?" Ucap sang nenek .


Kedua orang itu hanya duduk terpaku di ruang tengah sampai akhir nya para pelayan yang melihat nya terkejut begitu pun orang kepercayaan nya yang kini ikut dengan putra nya yaitu pak har .


" Tuan besar nyonya besar ,,,, kapan anda datang ?" Ucap Pak har yang menyapa .


" Har , apa tuan mu dan nyonya mu baik baik saja ?" Ucap kakek Zain yang tak lain adalah tuan adinata.


" Tentu saja mereka baik baik saja tuan besar ." Ucap Pak Hari menjawab pertanyaan tuan besar yang dulu ia ikuti sebelum akhir nya ia lebih memilih putra pertama dari tuan adinata.


" Bagaimana dengan berita itu ? Apa menantuku baik baik saja ?" Ucap nyonya adinata .


"Haaaaa haaaa ,,,,,. Nyonya besar begitu percaya pada berita itu ? Sedangkan tuan muda dan nyonya muda santai saja ." Ucapan Pak har memang ada benar nya.


" Kau benar Har, aku yang geram dengan berita itu . Huuuhhhhh,,,,." Ucap Tuan adinata menghela nafas kasar nya .


" Tuan Nyonya , saya akan memanggil tuan dan nyonya muda ." Ucap Pak har undur diri membungkukkan badan nya memanggil tuan nya .


" Pergi lah Har , katakan pada nya aku sudah lama menunggu nya ." Ucap Tuan adinata.


Pak har yang berjalan menuju lantai atas menuju kamar sang tuan untuk memberitahu jika tuan besar dan nyonya besar datang ke mansion mereka. Selang beberapa saat Pak telah sampai di depan kamar tuan nya dengam segera mengetuk pintu kamar tersebut .


tok tok tok ,,,,,,


Mama dan papa Zain yang tengah berdiskusi segera membuka pintu setelah terdengar suara ketukan pintu . Papa Zain terkejut dengan kedatangan pak Har yang berada di depan pintu kamar nya pasti akan menyampaikam sebuah berita penting .


" Tuan ,,,, tuan besar sudah ada di ruang tengah menunggu anda ,tuan ." Ucap Pak Har . Papa Zain yang mendengar ucapan Pak Har orang kepercayaan nya terkejut ,kemudian memanggil istri nya .


" Ma,,,,." Mona terkejut mendengar panggilan dari suami nya kemudian berjalan mendekati arah pintu .


" Iya Pa , Ada apa ?" Ucap Mona memandang ke arah suami nya dan juga Hari .


" Papa dan Mama ada di bawah ." Ucap Hendra pada istri nya .


" Apaaaaaa,,,, Papa dan Mama ada di bawah. Bagaimana ini Pa ,,,? Malapetaka akan terjadi lagi ! Mama tidak ingin kisah kita terjadi lagi ." Ucap Mona menghela nafas kasar nya .


" Ma ,,, tenang saja ! Semua itu tidak akan terjadi ." Ucap Hendra memegang tangan mona menenangkan nya .


Setelah beberapa saat mereka berjalan hendak turun ke lantai bawah namun di cegah oleh pak har . Ia segera menunjukkan video dari sergapan wartawan kala berada di bandara .


" Tunggu Tuan , anda harus melihat ini ." Ucap Pak Har memberikan handphone nya pada tuan nya .


Hendra dan Mona terkejut melihat pernyataan kedua orang tua nya , mereka tak mengira jika kakek dan nenek Zain akan berbicara seperti itu .


" Itu tidak akan terjadi Ma . Ayo kita temui mereka ." Ucap Hendra mengembalikan handphone milik Hari orang kepercayaan nya .


Kemudian menggandeng istri nya yang mulai panik dengan kehadiran kedua orang tua nya .


Selang beberapa menit mereka sudah sampai ke ruang tengah dimana kedua orang tua hendra telah ada disana , sementara papa dan mama mona masih berada dalam perjalanan .


" Ma Pa ,,,, kenapa tidak memberitahu jika ingin datang ke sini ?" Ucap Hendra berbasa basi kemudian memeluk sang papa dan juga mama nya begitupun mona .


" Haaaaahhhh ,,, Papa tahu kau sedang merasa gelisah karena berita itu ." Ucap sang papa ,namun di sambut tawa oleh hendra.


" Haaaaa haaaaa ,,,, . Papa dari mana tahu jika saya sedang gusar ? Sedikit pun tak ada rasa itu , Justru papa yang merasakan hal itu ." Ucap Hendra pada papa nya .


Papa nya yang mendengar jawaban hendra seakan memanas emosi nya ,ia tak menyangka jika putra nya tak merasakan gelisah bahkan malu atas kejadian ini .


" Apa aaaa aku ? Untuk apa aku gelisah ,,,, huuuhhhh.'' Ucap Papa nya yang memang menyembunyikan rasa gelisah nya namun ia merasa gengsi untuk mengakui nya .


" Haaaa haaaaa,,,, Lalu kenapa papa datang kesini ?" Hendra sengaja mengejek sang papa , sementara mona dan mama hendra tersenyum dengan saling berpegangan kedua tangan nya .


" Aku,,,,, ." Papa hendra tidak bisa menjawab pertanyaan sang putra hanya berdecak kesal .


" Sudah ,,,sudah ,,, kalian ini jika ketemu hanya bertengkar saja ." Ucap sang mama yang menengahi mereka .


" Hendra ,,, apa yang terjadi dengan Zain ? Kenapa kalian diam saja dengan berita itu ? Jangan bilang ini benar terjadi hendra ?" Ucap Sang mama .


" Haaaaaa ,,,, haaaaaaa . Apa mama yakin jika itu putra ku ? Mama tahu putra ku yang sedingin es itu tak mudah di dekati perempuan ?" Ucap Papa Zain pada sang nenek .


" Mama tahu hen, tapi bagaimana kau menyikapi berita ini hen ? Mama hanya khawatir dengan bisnis kalian , mama dan papa sudah tua hanya ingin hidup tenang menikmati sisa hidup kami ." Ucap Mama hendra yang sedikit khawatir jika nama keluarga adinata maupun arijaya tercoreng dengan ada nya berita ini.


" Ma , Zain punya cara sendiri menyelesaikan masalah ini . Biarkan dia menyelesaikn sendiri Ma ."


" Kau,,,, ingin membuat malu keluarga kita dan juga keluarga besan." Ucap papa hendra dengan penuh penekanan .


" Haaaa haaaa ,,,, Apa papa ingin melakukan hal yang sama dengan ku dulu ?" Jawaban Hendra membuat istri nya menunduk merasakan kesedihan teramat waktu itu .


" Jika itu bisa membuat nama baik kita kembali kenapa tidak ?" Ucap sang papa yang tidak mau mengalah dengan hendra .


" Tidak Pa , aku tidak ingin kisah ku menimpa putra ku . Aku percaya Zain tidak melakukan perbuatan seperti itu ." Ucap Mama Zain yang membela putra nya .


Mona melihat rasa kesal yang terpancar jelas pada papa mertua nya itu , namun ia juga tidak ingin memaksakan kehendak pada putra nya . Mona tak ingin orang lain merasakan hal yang sama dengan nya , Zain yang mempunyai sikap sama dengan papa nya pasti akan bersikap lebih dingin .


Selang beberapa saat mereka terdiam dan tanpa berkata apapun diruang tengah . Seperti tenggelam dalam pikiran masing masing .


Bersambung 🙏🙏😊😊😊