
" Apaaaaaa,,,,." Teriakan zain membuat rian menghela nafas kasar nya.
" Bahkan tuan besar tidak membawa bodyguard sama sekali tuan . Tetapi anak buah kita telah siaga mengawal mereka ."
" Tuan dan nyonya mengendarai mobil nya sendiri tanpa seorang sopir pun yang menemani ."
Ucapan rian membuat zain menghela nafas kasar nya .
" Papa sangat ceroboh sekali ." Gumam zain .
" Bagaimana dengan anak buah mu ? Apa mereka sudah siap ?" Zain memang telah menunggu saat saat ini .
" Iya tuan muda, sejauh ini masih dalam kendali . Tinggal menunggu perintah anda tuan ." Ucap rian membungkukkan badan nya .
" Bagus , kita ikuti permainan wanita itu ." Ucap Zain berjalan ke lantai bawah ingin bertemu dengan kakek nya .
"Baik tuan , saya permisi dulu ." Ucap rian undur diri seraya membungkukkan badan nya .
Sementara zain meneruskan langkah nya ke lantai satu menemui kakek wijaya yang masih bersama dengan kakek ari .
" Apa ayris sudah tidur ? Kau meninggalkan nya sendiri. " Ucap nenek jaya yang melihat kedatangan cucu nya itu .
" Belum nek , ayris sedang menonton drakor kesukaan nya . Ia sedang berbaik hati mengijinkan ku berbincang bincang dengan kakek dan nenek ." Ucap zain dengan senyum menunjukkan gigi nya .
" Hahahaha ,,,,,,, kau sudah menjadi bucin ." Nenek jaya tertawa meledek cucu nya .
" Wijaya , kapan rencana kau ingin mengatakan nya pada ayris ." Ucap kakek jaya .
" Jangan dulu kek , Biarkan ayris kandungan ayris pada usia teimester kedua ." Zain yang menyela atas ucapan kakek nya .
" Ada apa zain ? Kau tidak sedang menyembunyikan sesuatu ?" Kakek arijaya dan kakek wijaya memandang zain dengan seksama .
" Tidak kek , tapi,,,,,." Belum sempat zain melanjutkan perkataan nya nenek jaya tertawa mengejek zain .
" Hahahaha,,,,, tapi serigala betina nya akan sangat buas saat sedang mengamuk ." Ucapan nenek nya membuat zain tersenyum menggaruk kepala nya meskipun tidak gatal .
" Hahahaha,,,,,. "
" Hahahaha,,,,, ."
Kakek wijaya dan kakek arijaya tertawa secara bersamaan mendengar penjelesan nenek jaya dan juga melihat reaksi cucu nya .
" Benar kah ? Haaahh,,, ia tumbuh seperti mama nya . Tapi sayang , aku telah membuat nya meninggalkan ku selama nya karena keegoisan ku ." Mendengar ucapan sahabat nya kakek dan nenek arijaya merasa prihatin .
" Sudah lah wijaya , semua sudah suratan takdir . Yang terpenting kau sudah menemukan ayris cucu kandung mu ." Ucap kakek arijaya menenangkan kegelisahan sahabat nya .
" Kau benar ari , aku hanya bisa menjaga cucu ku sebagai penebus dosa ku pada mama dan papa nya ."
" Andai saja dulu aku tidak mengirim papa ayris bertugas di desa itu mungkin mama nya tidak menyusul nya ke sana hingga kecelakaan maut itu terjadi ." Ucap kakek wijaya menitikkan airmata nya di sudut pipi nya .
" Sudah lah wijaya , yang terpenting ayris sudah ketemu dan kalian bisa berkumpul kembali ." Nenek jaya juga ikut menguatkan hati kakek wijaya.
"Ehhh,,, tapi bagaimana kau mengetahui jika ayris itu cucu mu ? dan bagaimana kau bisa mengenal zain ?" Nenek jaya agak bingung dengan kejadian ini .
" Semua berawal dari cucu mu zain yang mencari tahu tentang ayris di panti asuhan tempat di titipkan nya ayris ."
" Saat itu zain yang mengetahui nya terlebih dahulu dan mendatangi kediaman ku . Menanyakan perihal mama dan papa nya , aku hanya mengingat benda benda yang di bawa oleh zain itu sama persis dengan milik ayris ."
" Mama ayris memang memakaikan kalung liontin simbol nama mereka pada ayris . Ia juga memiliki tanda lahir di bahu nya ."
" Zain meminta ku untuk mencari rambut milik mama nya yang mungkin masih tertinggal . Benar saja , masih ada beberapa helai rambut di sisir mama nya . Kemudian zain melakukan tes DNA dan hasil nya cocok ."
"Kenapa kau tidak mengatakan jati diri ayris sebenar nya waktu kau mengetahui jika ayris cucu mu ?" Ucap nenek jaya.
" Aku belum siap mengatakan nya jaya , Aku takut ia membenci ku . Maka dari itu aku menyuruh zain menjaga nya sampai aku siap. "
"Tapi ternyata cucu mu itu memberitahu ku jika ia telah mempersunting cucu ku sebagai istri nya ."
" Aku menjadi lega dan kita ber besan arijaya ."
Penjelasan kakek wijaya membuat kakek arijaya mengerucutkan bibir nya karena zain tidak mengatakan nya kepada nya .
Zain memang tidak memberitahu siapa pun tentang pernikahan nya , karena rasa benci nya pada keluarga adinata membuat nya diam membisu .
" Maaf kek , zain tidak ingin membuat ayris dalam bahaya ." Ucapan zain membuat arijaya menatap dengan tajam .
" Hei ,,,bocah nakal ! Aku ini kakek mu bukan orang lain yang akan mencelakai istrimu , cucu menantu ku ." Kakek arijaya tengah kesal pada zain memalingkan wajah nya .
" Iya benar , kau keterlaluan zain . Bahkan dengan kakek nenek mu sendiri kamu tidak ingin memberitahu ." Nenek jaya yang menimpali ucapan suami nya membuat zain semakin terpojok.
"Zain tidak ingin membagi ayris dengan siapa pun ia istri ku hanya milikku ." Ucap Zain dengan ketus yang membuat semua orang tertawa melihat reaksi zain .
" Hahahaha,,,,,." nenek jaya tertawa mendengar ucapan zain .
" Hahahaha,,,, Kau lihat itu arijaya cucu mu sangat posesive ." Ucap kakek wijaya pada kakek arijaya.
" Hahahaha,,,,, iya benar . Ia mirip dengan istri ku sangat posesive ." Kakek arijaya tertawa menjawab pernyataan sahabat nya wijaya.
" Hei,,,, aku tidak posesive . kau yang posesive ,,,, huhhhh." Nenek jaya mendengus kesal pada suami nya .
Sedangkan zain hanya menggaruk kepala nya melihat kakek dan nenek nya saling berdebat .
Tanpa di sadari oleh keempat orang tersebut ada seseorang yang tanpa sengaja menitikkan airmata nya di sudut pipi nya mendengar cerita mereka .
Yah, ia ayris yang sedang mendengarkan pembicaraan mereka merasa pilu didalam hati nya.
Ternyata ia masih punya kakek yang mencari nya selama ini .
Ayris menyeka airmata yang terjatuh di sudut pipi nya kemudian berjalan ke dapur mencari sesuatu yang di inginkan nya .
" Dan kau zain ,bagaimana kau mengenal ayris ?" pertanyaan nenek nya membuat nya tersipu malu .
" Waktu itu zain hanya menginginkan gadis sombong yang beberapa kali menabrak zain nek, tapi saat terakhir ia hampir terjatuh membuat zain menangkap nya detak jantung zain berdetak kencang . " Ucap zain menggaruk kepala nya.
" Hei,,, bocah nakal ! kau sedang mengatakan jika cucu ku itu sombong .Huhhh ,,, bagaimana dengan mu yang dingin itu?" Kakek wijaya merasa tidak terima jika cucu nya di ejek oleh orang lain.
" Tidak kek , aku sangat mencintai nya bahkan lebih dari nyawa ku ." Ucapan zain membuat seseorang yang mendengar nya tersedak.
" Huk,,,,huk,,,,." Suara sedakan itu membuat keempat orang tersebut menoleh secara bersamaan.
Dan betapa terkejut nya mereka yang melihat ke arah suara yang ternyata adalah ayris.
" Sayang ,,,, kau tidak apa apa ?." Zain segera berlari menghampir ayris yang tengah meminum susu .
Setelah beberapa menit ayris tenang ia tersenyum pada zain .
Sementara kakek dan nenek zain serta kakek wijaya merasa khawatir jika ayris mendengar pembicaraan mereka .
Karena pada dasar nya kakek wijaya belum siap mengatakan jika ia kakek nya . Rasa bersalah yang menghantui nya membuat nya sangat terluka.
"Aku baik baik saja sayang."
"Aku hanya tersedak mendengar kau mencintai ku ." Ucap ayris berbisik di telinga zain .
Ayris menahan malu karena suami nya menyatakan rasa cinta nya di hadapan semua orang.
" Sayang kenapa kau turun sendiri mengambil susu ? Kau bisa memencet intercom pada pelayan untuk membawakan nya ke atas ." Ucap nenek jaya merasa khawatir jika ayris kecapekan .
" Tidak apa apa nek , Ayris bisa kok ." Ucap ayris pada nenek jaya.
" Apa kau menginginkan sesuatu sayang ?" nenek jaya mulai menumpahkan kasih sayang nya pada ayris.
" Tidak nek , tapi aku hanya menginginkan nya ." Jawaban ayris yang menunjukkan jari nya oada zain membuat semua orang tertegun memandang pada zain .
Zain yang mengerti ucapan ayris menggendong ayris tanpa aba aba dari nya bahkan ayris masih memegang segelas susu.
Zain menggendong ayris menaiki anak tangga menuju kamar nya .
Sementara kakek nenek arijaya dan kakek wijaya yang berada di sana diam mematung memandang ke arah cucu mereka yang mengumbar kemesraan di hadapan mereka .
" Hahahaha,,,,,,,.'"