
Tok,, tok,,, tok,,,,
Tok,,tok,,tok,,,
Diana berjalan mendekati pintu untuk melihat siapa yang mengetuk pintu namun sebuah tangan kekar menarik pinggang nya mendekat ke pelukan nya .
" Aaaa,,, kau mengagetkan saja ."
" Sejak kapan kau memanggilku sayang ? Tapi,,, aku menyukai nya. "
" Memang nya kenapa ? Apa aku tidak boleh memanggil suami ku seperti itu ?"
Diana yang sebelum nya menentang pernikahan berubah menerima nya ketika sang ibu menginginkan seorang cucu dari nya yang tak bisa di tolak nya .
" Boleh , sangat boleh nyonya leo arijaya ."
Leo mengedipkan sebelah matanya pada diana dengan panggilan baru padanya .
" Eh'em,,,,."
" Ma,,,,ma,,,."
Diana melepaskan pelukan leo dengan malu malu menundukkan kepala nya .
" Ada apa ma ? Apa ada yang penting ?"
Diana berusaha mencairkan suasana kecanggungan yang ia rasakan ketika mama mertua nya melihat aksi suami nya bermesraan di depan mama nya.
" Ada . Sangat penting sekali .Lihat lah !"
Mona menunjukkan empat buah alat test kehamilan yang menyatakan positif hamil pada leo dan menantu nya .
" Haaa,,,,. Mama hamil ? "
Diana terkejut melihat nya bahkan leo tak mampu berkata apapun selain tertegun melihat nya.
" Maka dari itu ,mama kesini menyuruh suami mu untuk memeriksa mama . Mama tak yakin jika sedang hamil ."
Ucap mona .
Leo beranjak berjalan ke kotak penyimpanan alat medis nya .
" Berbaringlah ma ! Leo akan memastikan sejenak dugaan mama dan kebenaran alat tersebut .
Ucap leo mengeluarkan alat medis nya.
Mona berbaring di sofa mengikuti saran dari putra nya leo .
Dengan harap cemas perasaan yang tak menentu , mona berharap semua alat tersebut tidak benar . Tetapi tidak dengan diana yang tersenyum melihat kepanikan mama mertua nya tersebut .
Beberapa saat setelah berlalu leo menghela nafas panjang nya dan juga menggelengkan kepala nya merasa tak percaya tapi harus percaya dan juga merasa bimbang memberitahu mama nya jika memang benar terjadi kehamilan.
Leo lalu mengambil sampel darah untuk di periksa di laboratorium benar benar memastikan jika mama nya tengah hamil .
" Bagaimana ? Mama tidak hamil kan ? Ini semua ulah para nenek mu .''
Ucap mona yang merasa lega setelah putra nya memeriksa nya.
" Tidak ma ."
" Tapi nenek benar, mama sedang hamil . Untuk lebih jelas lagi, leo mengambil sampel darah ma."
Deg,,,,
Ucapan leo membuatnya merasa disambar petir yang menggelegar dan juga seperti seorang yang tidak mempunyai daya tenaga , hampir saja mama mona jatuh di lantai jika diana tak dengan sigap menopang tubuh mertuanya itu.
" Hah,,, kau tidak salah ? Mana mungkin mama hamil ? Mama rutin minum pil kontrasepsi ."
Mona merasa tak percaya dengan apa yang dikatakan leo namun sebagai seorang dokter , leo tak mungkin berbohong dengan nya.
" Lagi pula usia mama sudah tidak muda lagi ."
" Ma, meskipun usia mama tak muda tapi masih punya kesempatan untuk hamil , ma."
Ucap leo mengerti kegelisahan hati mama nya . lalu meraih kedua tangan mama nya serta menepuk secara perlahan .
" Hah,,, tapi bagaimana mungkin ?"
Mona masih merasa tidak percaya dengan kenyataan yang ada di depan mata nya .
" Ma , kita bisa memeriksakan kandungan mama ke dokter spesialis kandungan hanya ,,,, tidak mungkin kita keluar dari mansion . Kakak melarang kita untuk keluar dari mansion nya."
Ucap leo .
Mona terlihat bingung dan juga tampak sedang melamun memikirkan semua yang terjadi pada nya .
Tak berapa lama hendra yang melihat mona di kamar leo pun menghampiri istri nya yang seperti nya sedang memikirkan sesuatu .
" Ma, ada apa kau datang kemari ? Mengganggu bulan madu mereka saja . Ayo kita turun ! Papa ingin di buatkan mie ramen kesukaan mama ."
Deg,,,,
Suara hendra mengalihkan tatapan kosong nya menatap suami nya yang sekaligus mengembalikan kesadaran nya .
" Apaaa mie ramen ? Kesukaan ku ? bukan kah papa tidak menyukai nya ? kenapa meminta nya ? Apalagi papa punya penyakit lambung tak boleh makan pedas ."
Mona kembali tertegun dengan permintaan suami nya yang meminta mie ramen pedas kesukaan nya.
" Ma,, kenapa bengong ? Mama mengganggu masa bulan madu mereka ."
Ucap hendra sekali lagi membuat nya sangat terkejut .
" Tidak pa, mama hanya minta di periksa sebentar."
Mona tersadar dari lamunan nya karena hendra menarik salah satu tangan nya.
" Di periksa ? mama sakit ? Leo , mama mu sakit apa ?"
Hendra kemudian menatap pada leo yang ternyata tertegun mendengar pertanyaan papa nya.
Leo memang memanggil mereka dwngan sebutan mama dan papa setelah kedua orangtua nya meninggal .
" A,,,, tidak pa , mama tidak sakit . Hanya,,,."
Seakan ragu mengatakan jika mama nya sedang hamil dan mona pun paham dengan tatapan putra nya lalu berdiri menatap tajam suami nya.
" Pa, mama hamil . Lihatlah ! "
Ucap mona menunjukkan beberapa testpack di meja pada hendra suami nya.
" Apaa ,,,,mama hamil ? Yang benar ma ? "
" Iya , untuk itu mama mengganggu mereka."
Diana dan leo tersenyum kecil dengan kedua orang tua nya yang terlihat bahagia.
" Aaa ,,,hahahaha,,,, . Tidak sia sia papa berusaha ."
" Jadi papa senang mama hamil ?"
Mona terkejut mendengar pernyataan suami nya yang terlihat bahagia dan berbeda dengan diri nya yang terlihat murung .
" Tentu saja , untuk itu papa mengganti semua pil kontrasepsi mama dengan vitamin penyubur kandungan ."
" Apaaaa,,,, jadi semua ulah papa ?"
Tak sadar dengan ucapan nya , hendra kemudian menarik tangan istri nya untuk segera keluar dari kamar putra nya .
Ia merasa tak enak hati dengan menantu nya jika terjadi pertengkaran dengan istri nya.
" Ma , ayo kita ke kamar ! Papa akan jelaskan semua nya."
Hendra menarik paksa tangan istri nya dan mona pun hanya diam mengikuti ajakan suami nya.
" Leo, papa berterimakasih pada mu ."
Mona yang melihat nya merasa sedikit heran dan curiga jika kedua nya bekerja sama satu sama lain .
" Oh ,, jadi kalian bekerja sama ? Awas ya ! "
Mona sedikit kesal dengan kedua nya lalu memutuskan pergi ke kamar nya dalam keadaan marah meninggalkan hendra .
" Pa, jangan sampai mama stres ! Itu akan mempengaruhi janin nya ."
Leo sedikit berteriak ketika papa hendra akan meninggalkan kamar nya dan menutup pintu kamar nya.
Papa hendra tidak menjawab perkataan leo melainkan menganggukkan kepala nya sebagai tanda mengerti dengan perkataan leo.
Papa hendra meninggalkan kamar leo dan diana dengan senyum bahagia nya kembali ke kamar nya .
" Sayang, kau bekerja sama dengan papa ?"
Diana mulai menunjuk nunjuk dengan jari telunjuk nya dengan aksi nakal nya.
" Tidak, aku sama sekali tidak tahu jika papa akan melakukan semua itu ."
Ucap leo mengajak istri nya untuk duduk disofa tepat di samping nya melihat semua test pack yang tertinggal di kamar nya.
" Maksud nya ?"
" Papa hanya konsultasi tentang kehamilan dan itu pun bersama teman nya . Awal nya aku curiga jika papa akan melakukan program hamil dengan mama tapi teman nya yang meyakinkan jika dia yang akan melakukan semua nya. "
Ucap leo.
" Dan ternyata papa juga ikut melaksanakan program tersebut. Masak aku kalah dengan papa yang akan mempunyai anak lagi ?"
Leo melirik sedikit pada diana meskipun ia sengaja melakukan nya .
" Hah,,,, kalah dengan papa ? Bagaimana kau bisa bilang begitu ? "
Diana menatap wajah nanar suami nya yang terlihat lelah dan juga seperti kecewa dengan yang baru saja terjadi.
" Sayang , kita baru menikah beberapa hari . Bagaimana kau bisa bilang kalah ? Sedangkan papa menikah dengan mama sudah berapa puluh tahun ?"
Diana kemudian beranjak meninggalkan suami nya merasa kesal dengan perkataan suami nya , namun sebuah tangan menarik nya hingga jatuh ke dalam pelukan leo .
" Hei,,, aku hanya bercanda sayang . Kau terlalu serius menanggapi semua nya . Kita bisa mencoba nya berbulan madu ."
Leo melahap lembut bibir diana yang terlihat mengerucut , wajah kesal diana berubah menjadi merona ketika suami nya sengaja berhasil membuat nya tersipu malu .
" Tapi,,,,."
Belum sempat diana melayangkan protes pada suami nya , leo semakin menjadi membuat diana tak berdaya hingga membawa nya ke ranjang tempat tidur .
Sementara di kamar mama mona yang tengah kesal dengan tingkah suami dan anak nya membuat tak habis pikir jika mereka kerja sama membuat nya hamil .
" Sekarang jelaskan ! Kenapa papa mengganti pil kontrasepsi mama dengan vitamin penyubur kandungan ?"
Dengan nada kesal mona terlihat menatap tajam bahkan lebih garang dari biasa nya dan juga terlihat seperti bukan mona yang lemah lembut.
" Ma, sebenar nya waktu itu papa mengantar teman papa konsultasi dengan teman leo, dokter kandungan. Tentang program hamil , dari situ papa mendengarkan penjelasan mereka ?"
" Semula putra mu curiga jika papa akan program hamil . Bagaimana mau curiga ? memang sebenarnya temen papa yang akan program hamil . "
" Dokter menyarankan untuk jalan terbaik pada teman papa dan ternyata saat melihat mama meminum pil kontrasepsi mama , papa teringat perkataan dokter tersebut ."
"Melihat mama yang terlihat kesepian , papa diam diam melakukan apa yang di katakan dokter kandungan tersebut ."
" Dan ternyata membuahkan hasil . Terima kasih sayang ."
Mona tertegun melihat dan mendengar perkataan suami nya . Namun ada rasa kebahagiaan di hati nya ketika melihat suami nya mengelus pelan perut istri nya .
Dan akhir nya mona menyerah dengan kemarahan nya lalu mengusap pelan kepala nya.
" Lagi pula , anak anak sudah besar punya kehidupan masing masing . Hanya kita bertiga tinggal di mansion sebesar itu ."
" Hm,,, mama tak kan mau tinggal dengan salah satu cucu nya , dia memiliki kenangan di mansion itu ."
" Apa salah nya kalau kita punya anak lagi ?"
Ucap hendra menjekaskan nya pada mona, meraih tangan nya lalu menggenggamnya penuh keyakinan .
Mona tertegun dengan penjelasan hendra , mematap nanar wajah suami nya . Merasa tak tega dengan nya jika menyimpan amarah pada nya namun juga membuat nya kesal .
Mona baru saja merasakan kebahagiaan setekah tinggal jauh terpisah dengan zain , putra sulung nya yang sama sekali tak mendapat kasih sayang dari nya .
Dan juga ketiga cucu cucu nya yang memberi rasa kebahagiaan sendiri ketiga menyentuh mereka.
" Tapi pa,,,,, kita sudah tua , malu jika anak anak mengetahui nya kalau mama hamil . Apa kata mereka ? Anak dan mama berlomba punya anak ."
" Tidak , anak anak pasti mengerti . Sudah lah jangan di pikirkan ! kasihan anak kita di dalam sini . Buah cinta kita ketika anak anak menemukan kebahagiaan nya , dia menjadi saksi bukti cinta kita."
Ucap hendra menyentuh pelan perut istri nya dan juga mencium nya .
Melihat aksi hendra yang baru saja ia lakukan , mona tertegun sejenak dan hampir saja menitikkan airmata nya .
Selama ini tak pernah hendra nemperlakukan nya seperti seorang yang sangat di cintai . Apalagi awal kehamilan zain yang penuh prahara dan juga kedua anak nya dave san chleo .
Di tempat lain ,
Rian yang tengah bersantai hari itu setelah pulang dari kantor , sengaja tidak ke ruang bawah tanah melainkan mencari keberadaan mira.
Ceklek,,
" Sayang, kau masih tidur ? Sudah makan ? Apa masih sakit ?"
Rian yang mendapati mira baru saja keluar dari kamar mandi dengan jalan yang tertatih tatih merasa tak tega dengan apa yang di lakukan nya.
Mira tak menjawab pertanyaan rian hanya menganggukkan kepala sebagai isyarat atas pertanyaan rian.
" Maafkan aku ."
Ucap rian tertunduk lesu mendengar kenyataan ternyata masih merasakan sakit.
" Hei,,, jangan seperti itu ! Wajar aku merasakan sakit karena ini pertama bagiku ."
Ucap mira tersenyum meraih tangan rian .
Tak selang berapa lama sebuah bunyi telepon bergetar di celana saku nya.
" Adinata ,,, . Mau apa dia telepon ?"
📞 incoming call '' adinata."
📞 :" Zain,,,.Kau mengangkat telepon kakek juga."
📞 :" Kakek ingin bertemu dengan mu . Ada hal penting yang harus dibicarakan ."
📞 :" Kau tahu zain , kakek menginginkan mu menikah dengan putri sahabat kakek .
📞 :" kakek telah menyiapkan segala nya ,datanglah besuk ke ballroom hotel lila."
📞 :" Kakek tidak mempunyai penolakan atau penawaran dari mu zain ."
📞 :" Undangan telah tersebar jika kau tidak menghadiri nya, aku akan membuat mama mu menderita bahkan nenek mu juga.
📞 :" Klik."
Rian tersenyum ketika lelaki tua itu memutus telepon tanpa mengetahui siapa yang sedang mengangkat telepon .
" Ada apa ,,,?"
Mira terlihat heran dan juga penasaran kenapa rian tersenyum setelah mengangkat telepon .
" Aku akan segera kembali ."
Mira semakin di buat penasaran dengan sikap rian yang tiba tiba keluar meninggalkan nya . Sempat terbesit rasa cemburu pada si penelepon namun ia tepis dalam dalam karena ponsel itu milik tuan muda .
Bersambung 🙏🙏😊😊