
Kebahagiaan serasa menyelimuti sila yang akan menjadi seorang pengantin , menurut nya sebuah impian akan tercapai .
Tapi tidak untuk kebenaran nya , gadis itu telah di manfaatkan untuk keuntungan bisnis semata bahkan tak akan ada yang tahu apa yang terjadi pada nya di masa depan .
Adinata merasa puas dengan rencana nya menghancurkan keluarga besar arijaya maupun keluarga besar adinata yang sesungguhnya.
Seorang yang menyamar sekian tahun tanpa ada yang mengetahui nya , menciptakan huru hara bahkan prahara dalam keluarga adinata maupun perseteruan dengan keluarga arijaya.
Rasa keinginan menghancurkan begitu besar meskipun harus mengorbankan keluarga sendiri.
" Kalian tidak akan bisa berkutik dengan rencanaku . Kali ini tidak akan ada kegagalan lagi bahkan sekali tembak dapat beberapa mangsa ."
" Hahahaha,,,,, . Arijaya , kau akan lihat tangis hancurmu melihat cucu kesayanganmu di ambang kehancuran ."
" Zain tidak mungkin lagi bisa menghindar bahkan tak mungkin mengorbankan keselamatan mama dan nenek nya."
" Hahahaha,,,kau kalah telak kali ini."
Adinata takkan pernah tahu apa yang kini direncanakan nya bisa membunuhnya sendiri bahkan lebih dari itu .
" Ajinata , Bagaimana kau bisa tertawa seperti itu ? Apa kau yakin semua rencana kita berhasil ?"
Sastro tiba tiba muncul dari balik pintu hampir saja mengagetkan ajinata ketika melihat sahabat nya itu tertawa.
" Tenang saja , pasti berhasil . Aku sudah mengirim seseorang untuk menjemput paksa mona dan nata serta hendra."
" Bagaimana jika semua gagal ? keselamatan kita dipertaruhkan untuk semua nya bahkan reputasi kita."
Sastro masih tidak mengerti kenapa ajinata begitu tenang menghadapi semua yang kini di depan mata.
" Kau tidak usah khawatir , aku sudah menyebar undangan baik secara formal maupun informal bahkan telah mengumumkan pernikahan zain dan sila di media umum ."
Ucap ajinata.
" Jadi ,,, tak mungkin dia tidak menghadiri nya . Reputasi nya sudah di pertaruhkan dan sangat sulit untuk di kembalikan apalagi dengan isu yang merebak jika sila telah hamil ."
" Hahahaha,,,,,,."
" Hahahaha,,,,."
Kedua nya tertawa bersamaan dan terlihat begitu bahagia mendengar rencana mereka seratus persen akan berhasil.
" Tak kusangka kau begitu keji , meskipun mereka keluarga mu sendiri."
Ucap sastro menegak segelas kopi .
" Sampai kapan pun aku akan menghancurkan mereka telah mengambil semua dari ku ."
Ajinata telah menyusun semua rencana dengan matang bahkan bertahun tahun .
" Baiklah , mari kita bersulang untuk kemenangan kita !"
Mereka meneguk minuman beralkohol menenangkan jiwa mereka yang mungkin sebentar lagi akan kacau karena ulah sendiri .
Sementara di mansion zain
Ayris mengepalkan tangan nya berasa ingin mencakar wajah perempuan yang telah mengaku hamil dengan suami nya ketika melihat tayangan berita televisi maupun sosial media.
Brakkkk,,,
Kedua tangan ayris reflek menggebrak meja membuat ketiga baby bangun dan juga menangis karena kemarahan mommy nya.
" Sayang , kakek mu benar benar keterlaluan . Jika saja aku sudah pulih akan kucabik cabik wajah nya yang tanpa dosa itu ."
" Berani sekali dia membuat pemberitaan yang tidak benar ."
" Bagaimana mungkin kau menghamili gadis itu ? Sementara dua puluh empat jam bersama ku ."
" Seperti nya ini sesuatu yang menandakan satu jebakan ."
Ayris bermonolog sendiri berjalan kesana kemari meskipun zain ada di depan nya.
" Tepat sekali , untuk alasan ini aku akan pergi berurusan dengan mereka. "
Ucap zain menarik ayris ke dalam pangkuan nya.
" Tidak, kau pasti akan menikahi gadis itu. Aku tidak akan mengijinkanmu pergi ."
Ayris mengalungkan kedua tangan nya memeluk erat suami nya .
"Lalu bagaimana aku menyelesaikan masalah ini ? "
Zain menyentuh pinggang ramping istri nya yang baru saja melahirkan .
Gadis itu ternyata menjaga pola makan serta olahraga ringan untuk mengembalikan badan nya agar tetap sexy meskipun zain tak menyuruhnya namun ayris harus menjaga penampilan dikarenakan banyak nya penggemar suaminya yang terlalu menggila.
" Tapi,,,."
" Akan ada waktu memperkenalkanmu ke dunia luar dan juga ketiga anak kita ."
Ucap zain menyambar lembut bibir cerry kesukaan nya.
" Benarkah ?"
" Tentu saja, aku tidak mau membahayakan nyawamu sekalipun aku harus mati nanti nya."
Ayris meletakkan jari telunjuk nya tepat di bibir zain .
" Jangan berkata seperti itu ! Aku membutuhkanmu mendampingiku sampai ketiga anak anak kita besar dan juga menikah nanti nya."
Ayris memeluk zain dengan sangat erat bahkan hingga menitikkan airmata.
" Heh,,, ada apa dengan nyonya zain arijaya yang garang berubah menjadi lembek seperti ini ? Kau harus sekuat leon demi ketiga anak anak mu dan juga suami mu ini."
Zain merenggangkan pelukan ayris merengkuh bibir cery kesukaan nya menyesapnya dalam dalam .
" Eh' em,,,,. Kalian tak mengindahkan kehadiran mama disini !''
Mona yang tiba tiba muncul dari balik pintu melihat pemandangan pagi yang membuatnya iri .
" Hm,,, mama, kapan mama datang ?"
Ayris malu malu melepas ciuman mesra dengan suami nya .
" Sudah sejak tadi . Kalian harus lihat berita di televisi !"
" Bilang saja mama sedang iri dengan kami . kalau mama mau, zain akan menyuruh papa agar lebih romantis lagi ."
Zain mengedipkan sebelah matanya pada mama nya .
" Kau ini , bukan memikirkan dirimu tapi memikirkan mama . Lihat lah ! Berita apa ini ? Bagaimana mungkin gadis itu hamil sementara kau ada dirumah bersama ayris dua puluh empat jam ?"
" Kakek tua itu benar benar tidak bisa di maafkan . Mama menyesal minta pengampunan dari kakek mu ."
" Dan orang orang itu siapa dia ? Pemegang saham ? Setahu mama kau lah pemegang saham terbesar di antara perusahaan lain nya .Bahkan perusahaan papa mu sendiri kewalahan merebut kembali saham nya dari mu ."
Mona tak berhenti berbicara , berjalan kesana kesini hingga membuat zain dan ayris bingung dengan sikap mama nya .
" Eh,,, mama yang biasa lemah lembut kenapa bisa berubah segalak ini ? Apa ini efek dari kehamilan mama ?"
Ayris berbisik pada suami nya menatap mama mona penuh heran .
" Mungkin . Sayang , aku harus ke ruang kerja sekarang . Semua orang sudah menunggu suami mu ini."
" Baiklah , aku akan atasi mama ."
Ucap ayris yang kembali berbisik pada suami nya yang bergegas ke ruang kerja nya dimana semua anak buah telah menunggu nya.
" Zain, kau tak bisa santai begitu saja . Kakek tua itu harus di beri pelajaran ."
" Aku yakin semua tipu daya berhubungan dengan nya ."
Mama mona yang terus mengoceh tanpa arah dan tersulut emosi meskipun zain telah meninggalkan kamar nya dan juga ayris keluar kamar melakukan sesuatu untuk meredakan amarah sang mama.
" Papaaaaa,,,,,. papaaaaa,,,,,."
Suara lengkingan teriakan ayris dari lantai atas membuat semua otang yang berada di meja makan datang tergopoh gopoh mendatangi arah sumber suara.
" Ayris , ada apa kau berteriak seperti itu ? Membuat semua orang kaget saja ."
Ucap nenek jaya.
" Ada apa mencari papa mu ? "
Kakek arijaya dan kakek wijaya tak kalah terkejut mendengar teriakan cucu kesayangan nya .
Tanpa menjawab pertanyaan kakek dan nenek nya , ayris memandang papa hendra yang sedang bersiul merasa gembira baru saja keluar dari kamar heran melihat semua orang berkumpul memandang ke arah nya .
" Ada apa kalian memandangku ? Ayolah ma ,,,pa . Hendra merasa bahagia akan punya anak lagi ."
Ucap hendra tanpa merasa bersalah sama sekali .
Sementara ayris menatap tajam pada papa hendra, ketiga nenek beserta ibu dina dan juga kedua kakek nya silih berganti menatap mereka .
" Ayo kita pergi ! "
Nenek jaya menarik besan sekaligus sahabat nya pergi meninggalkan tempat itu secara perlahan .
Jaya mengenal ayris dengan baik , tatspan mata harimau nya seakan menerkam mangsa nya sudah di pastikan akan terjadi satu prahara.
" Papa ,,, justru itu , papa harus segera meredakan emosi mama jika tidak adik kecil ku pasti tidak tahan berada dirahim mama . Papa tahu mama tidak boleh stres dan juga harus rileks."
Ucap ayris yang semula tertebak akan marah , berjalan menghampiri papa hendra menggandeng tangan lelaki paruh baya itu menuju kamar nya .
Semua orang yang semula akan meninggalkan tempat itu terkejut mendengar penuturan ayris, lalu mengikuti ayris dan hendra dari belakang seperti seorang penguntit.
" Lihat lah pa ! Mama tak berhenti mengoceh karena pemberitaan di media masa . Papa mau promil papa gagal ? "
Hendra melihat dengan seksama istri nya yang berbicara sendiri berjalan mondar mandir tak tentu arah lalu menggelengkan kepala nya .
" Untuk itu, papa harus cari cara agar mama berhenti berbicara."
Ucap ayris .
" Ayris ke ruang kerja zain dulu ya pa , papa harus ingat wanita hamil sangat sensitif dan bisa segarang harimau ayris. Selamat mencoba !"
Ucap ayris mengedipkan sebelah matanya lalu berjalan ke arah samping ke ruang kerja suami nya .
Sementara mereka penasaran tentang pemberitaan di media berjalan menghampiri televisi yang ada di kamar ayris .
Semua orang tercengang melihat dan mendengar pemberitaan di media lalu keluar satu persatu mengepalkan tangan nya masing masing .
Sedangkan papa hendra masih mencari cara menjinakkan istri nya yang sedang tersulut emosi.
" Sayang , ayo kita ke kamar kita ! Kasihan cucu kita yang sedang tidur ."
Hendra menarik tangan istri nya keluar dari kamar itu namun mona bersikukuh menolak nya merasa belum selesai menumpahkan emosi nya .
" Ma , kau ini bicara dengan siapa ? Anak dan menantu mu sudah tak berada di tempat ."
Mona melihat sekelilingnya dan ternyata benar zain dan ayris pergi meninggalkan nya sendiri dengan baby .
" Dasar anak nakal . Awas saja !!"
Hendra mencoba menarik kembali tangan istri nya namun mendapat hempasan dari mona namun hendra tak menyerah hingga membopong istri nya meskipun terjadi sedikit kecelakaan .
" Aaaa,, papa. Turunkan mama ! Malu di lihat anak anak ."
Mona meronta pada hendra untuk segera menurunkan nya namun hendra tak menggubris sama sekali .
" Tidak."
Ibu dina dan juga mira yang menjaga ketiga baby beserta leon ternganga dengan sikap besan nya yang begitu mesra di depan mereka .
" Aduh ,,, aduh ,,,."
Hendra mengeluh kesakitan di bagian punggung meakipun hanya berpura pura agar emosi mona mereda .
" Tuh ,,kan , papa ndak percaya . Pakai gendong mama segala , ayo ke kamar kita ! Mama akan mengoleskan salep pereda nyeri ."
Meskipun dengan sedikit drama akhirnya berhasil membuat mona meluruh dan juga bersikap lembut seperti biasanya.
Sedangkan di ruangan zain .
Ayris membuka perlahan pintu yang akhirnya membantingnya dengan keras ketika mendengar pembicaraan antara orang orang kepercayaan suami nya .
Derrrrrrr,,,,,,
Bersambung 😊🙏😂