Kultivasi Cahaya

Kultivasi Cahaya
Eps. 99 — Pengejaran


Di titik jauh tempat kelompok yang dipimpin Tangan Besi di kepung, Tangan Besi dan pasukannya bisa mengalahkan pengepungan pendekar klan Jian bahkan membunuh sebagian dari mereka.


Dari kepungan pendekar klan Jian tidak ada yang berada di Alam Bumi sehingga mereka sulit untuk bertahan atau menyibukkannya, apalagi kelompok Tangan Besi berjumlah paling banyak yaitu sekitar 800 orang.


Dengan ilmu tangan kosong yang tinggi, Tangan Besi melumpuhkan pedekar-pendekar klan Jian hingga akhirnya hanya satu yang tersisa.


Tangan Besi tidak membunuhnya melainkan menginterogasinya, tidak membutuhkan lama pertanyaan-pertanyaan seputar klan Jian terjawab terutama tentang dimana letak mereka menyembunyikan penduduknya.


Pendekar yang diintrogasi terlalu takut untuk diam apalagi setelah melihat rekan-rekannya mati terbunuh cukup mengenaskan sehingga dia menjawab semua pertanyaan Tangan Besi dan berharap dia dibiarkan hidup.


Sayangnya Tangan Besi sudah membaca pikirannya, dia justru di bunuh paling menyakitkan di banding dengan pendekar lain.


Tangan Besi tak bisa menahan kebenciannya pada klan Jian karena telah menjebak pasukannya. dia yakin dengan jebakan tersebut sebagian pasukannya pasti sudah terbunuh sekarang.


“Akan kupastikan rakyat klan Jian merasakan bagaimana akibatnya berurusan dengan organisasi Merpati Merah! Akan kubalas mereka!” Tangan Besi kemudian memimpin pasukannya untuk bergerak ke arah belakang gunung klan Jian.


***


Jian Chen berhasil menghancurkan tiga kelompok lainnya sehingga tersisa 3 lagi, dengan teknik naga emasnya dia berhasil menghancurkan ratusan kelompok dalam kurun singkat.


Para pendekar yang di bantu oleh Jian Chen perlahan mulai mengikuti langkah Jian Chen, sehingga di belakang Jian Chen sekarang ada ratusan pendekar yang ikut.


Para pendekar asosiasi maupun klan Chu tak bisa henti-hentinya terpana melihat aksi sang naga emas membunuh musuhnya.


Meski mereka menyadari itu sebuah teknik dari pria bertopeng putih tetapi tetap saja melihat naga secara langsung terkesan menakjubkan.


Jian Chen terus menghancurkan kelompok-kelompok lainnya hingga di kelompok 6 yang hendak di hadapi, tubuhnya tiba-tiba merasakan sakit yang hebat membuat gerakannya terhenti.


Jian Chen tengah berada di tengah pertarungan, melihat Jian Chen tiba-tiba bertekuk lutut serta naga emasnya langsung menghilang menjadi butiran cahaya, pasukan organisasi musuh menganggap bahwa ini kesempatan untuk membunuh Jian Chen.


“Jangan biarkan mereka mendekati pemimpin kita!” seru pendekar yang mengikuti Jian Chen agar semuanya melindunginya.


Pendekar klan Jian langsung bergerak mengelilingi Jian Chen, tak membiarkan pasukan musuhnya mendekatinya.


Jian Chen saat ini sedang merasakan rasa sakit yang hebat akibat penggunaan teknik naga cahayanya, sebenarnya rasa sakit itu sudah terasa dari awal namun rasa sakit kali ini membuat tubuhnya benar-benar tak dapat digerakkan.


Jian Chen menelan pil untuk meredakan rasa sakit tersebut, ia tak bisa menunggu pendekar pihak klan Jian terus-terusan melindunginya.


Membutuhkan waktu satu menit Jian Chen mencerna pil tersebut di tubuhnya hingga rasa sakit itu mereda. Jian Chen sepertinya harus berhenti menggunakan teknik naga cahayanya sementara waktu sehingga ia mencabut pedang taring putih.


Melihat sang pendekar bertopeng telah bangkit kembali, pasukan pendekar klan Jian jadi leluasa dan memfokuskan untuk menyerang.


Jian Chen ikut membantu pengepungan itu dengan pedangnya, dalam waktu beberapa menit saja mereka semua sudah terbunuh oleh para pendekar klan Jian.


Jian Chen ingin pergi ke kelompok lain saat tiba-tiba seorang wanita dan dua pengawalnya menghampiri rombongannya.


Dahi Jian Chen berkerut saat mengetahui bahwa itu adalah Miou Lin, gadis itu datang dengan tergesa-gesa dan nafas yang memburu, sepertinya dia hendak menyampaikan sesuatu yang sangat penting.


“Para pendekar sekalian, cepatlah pergi ke persembunyian klan Jian. Ada satu kelompok yang bergerak kesana dan berniat menghabisi penduduk klan Jian…”


Walaupun Miou Lin berkata pada semua pendekar nyatanya pandangan gadis itu tertuju pada Jian Chen seorang, Miou Lin masih tidak menyadari bahwa orang itu adalah Jian Chen orang yang di kenalnya.


“Dimana tempat mereka?” Tanya Jian Chen.


Miou Lin langsung menjawabnya dan mengatakan ada di belakang gunung klan Jian tepatnya di dalam gua.


Jian Chen ingin sekali langsung pergi takut keluarganya kenapa-napa tetapi ia tidak melupakan prioritasnya. Jian Chen menyuruh sebagian dari rombongannya untuk melawan satu kelompok yang tersisa sedangkan sebagian lainnya ikut Jian Chen ke gua.


Tanpa harus menunggu persetujuan semuanya Jian Chen langsung berlari secepat yang ia bisa menyisakan Miou Lin dan para pendekar asosiasi dan klan Chu.


Miou Lin tersenyum tipis, ia bahkan belum mengenal pendekar bertopeng itu. Pandangan Miou Lin kemudian beralih pada para pendekar.


“Ikuti apa yang dia suruh, sebagian mengikutinya sedangkan sisanya membereskan kelompok organisasi yang tersisa…” Miou Lin mengatakan andai mereka sudah membereskannya, mereka harus menyusul pendekar bertopeng tadi.


Semuanya langsung menuruti perintah Miou Lin, lagi pula mereka sangat mengenal Miou Lin yang selaku tetua klan Miou. Tanpa disuruh dua kali rombongan itu bergerak ke dua arah yang berbeda.


Miou Lin terdiam beberapa saat ketika para pendekar telah pergi.


“Nona apa yang sebaiknya kita lakukan?” Salah satu pengawal Miou Lin bertanya karena atasannya itu tiba-tiba malah mematung.


Miou Lin segera sadar dari lamunannya. “Kita bantu penduduk klan Jian, di sana hanya ada Ketua Ya dan sedikit para pendekar yang berjaga...”


***


Para penduduk klan Jian sedang dalam kericuhan serta rasa cemas ketika mendengar suara kembang api yang menandakan bahwa peperangan sudah dimulai.


Meski ada di tempat gua yang tertutup mereka tetap tidak merasa aman apalagi sampai bisa tertidur di malam ini, mereka takut para pendekar klan Jian kalah dan pasukan musuh bisa menemukan keberadaanya


Adanya Jian Ya yang selaku mantan pemimpin klan Jian tidak menimbulkan perubahan yang berarti, beberapa kali dia bisa menenangkan mereka beberapa kali mereka kembali ricuh.


Apalagi kericuhan kian menjadi ketika mendengar ledakan dari luar.


Jian Ya memijit kepalanya yang sakit, gadis itu sadar bahwa diusianya yang masih muda ada beberapa hal yang ia tak mengerti sebagai pemimpin terutama sifat orang dewasa.


Jian Ya baru hendak berisitirahat saat salah satu penjaga datang kepadanya dengan wajah panik, penjaga itu membisikan sesuatu yang membuat raut wajah cantik Jian Ya memucat.


Belum Jian Ya hendak keluar sudah ada suara teriakan dari luar gua yang menyuruh penduduk klan Jian keluar atau gua tersebut akan di hancurkan.


Sontak semua penduduk klan Jian yang mendengar langsung ketakutan, mereka tidak harus memeriksa bahwa itu adalah suara dari teriakan musuh.


Jian Ya mengigit bibirnya sebelum pergi ke mulut gua, matanya langsung melebar ketika melihat 800 pasukan musuh sudah menghadang persembunyiannya.


“Suamiku, bagaimana ini…”


Jian Ran maupun penduduk yang lainnya sama terkejutnya ketika pintu gua dibuka, mereka bisa melihat ratusan musuhnya sudah menghadang.


Jian Ran memeluk bayinya erat dan mendekapkan pada tubuh suaminya, rasa takut mulai menyelimuti hatinya.


“Ran’er, tenanglah, aku ada disini...” Jian Wu memeluk istrinya erat, dia tidak takut dirinya mati tetapi ia takut istrinya kenapa-napa.