
Jian Ya tidak menceritakan lebih banyak tentang keunikan darahnya pada Jian Chen sementara Jian Chen sendiri tidak mempertanyakan lebih jauh apalagi melihat Jian Ya yang tidak ingin menjelaskannya.
Keduanya langsung pergi setelah itu menuju gua tempat penduduk klan Jian berada, peperangan disana ternyata masih berlangsung.
Menurut Jian Ya yang menjelaskan pada Jian Chen, kondisi peperangan antara pasukan organisasi dan para pendekar klan Jian sudah berada di puncaknya.
Jian Ya langsung pergi ke tempat Jian Chen karena ada bantuan yang menyusul di pihak klan Jian sehingga para pendekar di pihak klan Jian sempat mengungguli peperangan.
Ternyata keputusan Jian Ya langsung menyusul Jian Chen adalah keputusan yang tepat, andai beberapa detik saja ia terlambat maka nyawa Jian Chen sudah tak tertolong hari ini.
Keduanya melanjutkan berlari melewati dahan-dahan pohon, Jian Chen kemudian mengeluarkan sebuah topeng dari cincin ruangnya lalu memakainya kembali.
“Chen’er, kenapa kau menyembunyikan identitasmu jika ingin menolong klan Jian?”
Jian Ya, meski masih agak canggung dengan Jian Chen namun ia kini mulai mencoba lebih akrab dengan pemuda di sampingnya.
Jian Chen menatap Jian Ya sambil tersenyum tipis. “Aku hanya ingin mereka tidak mengetahui namaku, diusiaku yang sekarang tidak sepantasnya aku memiliki kekuatan seperti ini.”
Meski Jian Ya merupakan jenius termuda yang bisa mencapai Alam Bumi di usia 21 tahun tetapi menurutnya hal itu masih dalam jangka wajar oleh dunia persilatan.
Kekuatan Jian Chen yang sekarang sudah di luar akal manusia, tidak ada dalam sejarah sekalipun seseorang telah mencapai Alam Bumi di usia 15 tahun seperti Jian Chen.
Jian Ya tidak bertanya lebih jauh dan langsung mengerti maksud Jan Chen, bagi Jian Ya sekalipun yang melihatnya secara langsung, ia masih sulit menerima kalau Jian Chen memiliki kekuatan di atasnya apalagi Jian Ya melihat bagaimana Jian Chen waktu kecil dulu di saat-saat dia masih belum membuka gerbang kultivasi.
Hampir tiga tahun terlewati dan Jian Chen sudah mencapai tingkatan diatasnya, cerita dongeng saja tidak akan berlebihan seperti ini.
“Ketua Ya sepertinya aku tidak harus menyembunyikan kekuatanku lagi di depanmu.” Jian Chen mengulurkan tangannya, meminta Jian Ya untuk memegang tangannya.
Jian Ya tidak mengerti tetapi reflek menurut menggengam tangan Jian Chen dengan sedikit tersipu. “Chen’er apa yang kamu laku~”
Belum sempat Jian Ya meneruskan kalimatnya, dia tiba-tiba sudah berpindah tempat dalam satu kedipan mata dengan jarak cukup jauh dari posisi awal.
“Chen’er, kau benar-benar bisa berteleportasi?!”
Jian Ya terkejut dan mulai teringat aksi pria bertopeng putih sebelumnya yang bisa menghilang dan muncul di dekat musuhnya.
“Mereka bilang demikian meski aku sering kali menyebutnya bergerak dengan kecepatan cahaya,” Jian Chen menjelaskan kebingungan Jian Ya bahwa ini adalah tekniknya yang menggunakan elemen cahaya.
“Jadi kau sudah mengetahui bagaimana menggunakan elemenmu?”
Jian Chen tersenyum tipis sebelum mengangguk pelan, ia tak mungkin menjelaskan bahwa dirinya mendapatkan teknik ini dari gurunya di kehidupan pertama.
Di Kekaisaran Naga tidak ada sebuah buku yang mengajari cara menggunakan elemen cahaya karena memang di kekaisaran ini tidak ada pendekar yang memiliki elemen tersebut.
Bahkan tidak berlebihan kalau Jian Chen adalah satu-satunya pendekar yang mempunyai elemen cahaya di Kekaisaran Naga ini jika mengecualikan gurunya.
Keduanya terus melanjutkan langkah sambil berteleportasi, dengan kecepatan Jian Chen tidak membutuhkan waktu lama hingga keduanya sampai di peperangan yang ada dekat gua.
Jian Chen dan Jian Ya mendarat di dahan pohon paling tinggi untuk mengetahui situasi peperangan lebih lanjut.
Dari sekilas saja klan Jian lebih unggul di banding pasukan organisasi yang mulai terpojok, Jian Chen menilai andai dirinya tidak ikut serta pun para pendekar klan Jian pasti menang apalagi di tengah-tengah peperangan tersebut ia menemukan ada rombongan Miou Lin di dalamnya.
Jian Chen lalu turun dari pohon dan mendarat di tanah, kedua tangannya sudah bercahaya kemudian ia melakukan tarian dari kilasan cahaya tersebut yang membentuk seekor naga.
Jian Chen kemudian menoleh ke arah gadis itu. “Ketua Ya, aku akan maju terlebih dahulu…”
Tanpa menunggu jawaban Jian Ya, Jian Chen bergerak cepat seperti berteleportasi dan muncul di tengah-tengah pasukan musuh. Seekor naga emas mengejutkan bagi yang melihatnya, entah itu kawan ataupun lawan.
Jian Chen menggerakan tangannya membuat naga itu bergerak menyerang musuh di sekitarnya, terkamannya membuat musuhnya langsung mati dalam sekali lahap sedangkan kibasan tubuhnya membuat yang mengenainya bisa terluka parah.
‘Chen’er, mungkinkah dirimu bukan berasal dari klan Jian…’ Jian Ya tak henti-hentinya untuk penasaran identitas Jian Chen yang sebenarnya walaupun ia tahu sebaiknya ia tidak mencari lebih dalam tentang ini.
***
Berbeda dengan peperangan yang berlangsung di dalam klan, di luar tembok kondisi pihak klan Jian tidak dalam menguntungkan atau setidaknya itulah yang terlihat sekarang.
Para pendekar klan Jian terus di pukul mundur oleh lima ribu pasukan organisasi hingga mendekati tembok pembatas klan.
Jika kondisi ini terus berlanjut maka ada kemungkinan akan banyak pasukan organisasi musuh yang menyelinap dan bisa masuk ke daerah penduduk klan Jian.
“Apa hanya segini kekuatan klanmu, bukankah ini terlalu mudah, Heh?” Dong Xu tertawa mengejek melihat pasukannya lebih mendominasi.
“Kita tidak akan tahu sampai akhir, dalam peperangan hasil adalah penentu akhirnya…” Jian Mo mengayunkan pedangnya membuat dada Dong Xu terkena goresan kecil.
Dong Xu mengumpat keras, ia harus akui kemampuan lawannya memang di atasnya tetapi dirinya tidak takut sekalipun karena alasan melawan Jian Mo adalah karena memang demikian.
Dong Xu melompat ke belakang untuk menghentikan pendarahan dengan tenaga dalam sedangkan Jian Mo mengambil kesempatan itu untuk mengambil nafas.
Meski Jian Mo terlihat lebih unggul tetapi dalam pertarungan berlangsung ia sering kali kewalahan karena kecepatan kilat Dong Xu. Luka gores memenuhi sekitar tubuh Jian Mo akibat pedang pendek lawannya.
“Kau benar-benar lawan yang tangguh, tidak heran kau adalah Ketua klan Jian sebelumnya?” Dong Xu tersenyum lebar.
Jian Mo mendengus, “Sebaiknya kau pergi sekarang, atau aku akan membunuhmu bersama pasukanmu?”
Dong Xu tertawa mendengar ancaman tersebut, “Tua Bangka, kau tidak bisa menilai situasi peperangan ini atau kau sudah rabun, lihatlah sekeliling, bahkan puteramu itu mulai kewalahan dengan tiga lawannya.”
Meski dari jauh, keduanya bisa melihat Jian Fengxa terus disudutkan oleh tiga pendekar Alam Bumi hingga Jian Fengxa tidak ada pilihan lain selain bergerak mundur.
Jian Mo kini tersenyum sinis melihat kepercayaan diri Dong Xu membuat pria itu mengerutkan dahinya dan pirasatnya memburuk.
“Menurutku, kau lah yang rabun sejak tadi. Bukankah kau sudah heran kenapa pasukanku bisa dengan mudah terpukul mundur, seharusnya mereka bisa melakukan perlawanan walau akan kalah sekalipun.”
Dong Xu menatap tajam Jian Mo, melihat gerak-gerik ekpresi lawannya, sejak awal ia sedikit curiga apalagi melihat 3000 pasukannya bisa dengan mudah menerobos ke klan tanpa ada yang menghalangi.
Jian Mo kemudian mengeluarkan sesuatu dari cincin ruangnya, sebuah tabung yang panjang.
Tabung itu di arahkan ke langit dan seketika mengeluarkan bola-bola cahaya yang menembak. Ketika sudah berada di ketinggian yang cukup bola itu meledak dan berubah warna menjadi merah.
“Kembang Api! Kau! Kau menjebakku!” Dong Xu melihat ke atas dengan wajah pucat.
Jian Mo tersenyum mengejek, “Kita lihat siapa yang akan kalah, pihakmu atau pihakku yang akan terbantai?”
******
...*Untuk besok saya tidak bisa menjamin akan rilis karena kalian pasti sudah tahu alasannya. Saya kemungkinan akan menghabiskan waktu bersama keluarga di hari raya idul fitri ini....