Kultivasi Cahaya

Kultivasi Cahaya
Eps. 95 — Penyerangan Malam


Pengumuman tentang klan Jian yang akan di serang sudah tersebar keseluruh klan dengan cepat, Jian Fengxa lah yang menyebarkan itu secara langsung pada rakyatnya.


Hal tersebut langsung membuat ricuh orang-orang yang berkumpul, Jian Fengxa membutuhkan waktu untuk meredam kericuhan tersebut sekaligus menangkan semuanya bahwa mereka akan baik-baik saja.


Meski begitu tetap saja rasa cemas masih ada di hati mereka, penduduk klan Jian di sisi lain tidak mau pergi dari desa sedangkan tetap tinggal disini bukanlah keputusan bijak.


Jian Fengxa hanya menyuruh penduduknya untuk sementara waktu mengosongkan seluruh desa dan bersembunyi di tempat yang di sediakan klan.


Tempat tersebut ada di belakang gunung klan Jian, mereka akan bersembunyi di tempat rahasia tersebut dalam beberapa waktu sampai situasinya kembali aman.


Maka esoknya, banyak orang berbondong-bondong membawa barang-barang mereka untuk mengungsi, sebagian penduduk membawa perhiasan yang berharga, beberapa ada yang menggunakan gerobak sedangkan sebagian kecilnya hanya membawa kantong kulit secukupnya.


“Suamiku, apakah kita akan baik-baik saja, bagaimana Chen’er disana?”


Jian Ran tak punya pilihan selain ikut bersama yang lain. Kini keduanya tengah bergerak ke belakang bukit tersebut sementara dirinya tengah menggendong bayi.


Jian Wu tersenyum mencoba menenangkan istrinya, “Chen’er akan baik-baik saja, di ibu kota, dia jauh lebih aman daripada disini…”


“Tapi aku takut pemerintah klan gagal dalam penyerangan ini lalu mereka menemukan kita..” Jian Ran memandang bayi yang ada di gendongannya, merasa khawatir, “Aku takut Rou’er dalam bahaya.”


“Berdoa lah, semoga saja Ketua klan serta para tetua yang lain bisa menangani mereka…” Jian Wu mengecup kening istrinya.


Walau Jian Wu terlihat tenang kenyataanya dia di penuhi banyak pikiran terutama keselamatan Jian Ran, kalau kondisi buruk terjadi, ia akan melindungi istrinya walau itu harus mengorbankan nyawa.


Jian Wu dan Jian Ran serta penduduk lainnya akhirnya tiba di tempat persembunyian yang di maksud.


Di belakang gunung tersebut sudah ada gua besar buatan, penduduk klan Jian akan masuk ke dalamnya.


Meski di dalam, gua itu tidak terlihat gelap karena sebelumnya sudah di beri penerangan, gua tersebut juga memiliki ukuran yang sangat luas. Untuk memberi kenyamanan, sudah ada makanan yang disediakan untuk para pengungsi beserta tampat tidur.


Jian Ya beserta beberapa pengawalnya berdiri di mulut gua untuk menjaga sekitarnya, dia tidak ikut perang karena ayahnya menugaskan Jian Ya untuk bersama para pengungsi agar penduduk yang lain merasa aman.


***


“Malam yang begitu indah, bukan? Langit bahkan memberi izin untuk kita menyerang mereka?” Hong Gao berdiri di dahan pohon tertinggi sambil menatap tembok klan Jian dari kejauhan.


“Ketua, kenapa anda menyetujui kesepakatan tiga ketua itu, seharusnya kita lah yang mendapatkan saham emas terbanyak! Kitalah yang menemukannya jauh sebelum klan Jian menemukan tambang emas itu…”


Tangan Besi tidak menjawab basa-basi Ketua organisasinya melainkan mempertanyakan keputusan Hong Gao di pertemuan sebelumnya.


“Kau masih membahas hal tersebut?” tanya Hong Gao mengerutkan dahi.


“Maap Ketua, aku hanya masih tidak terima, seharusnya mereka bersyukur mendapatkan 20% saja bukan minta lebih!”


“Aku mengerti kekesalanmu tetapi tujuanku bukan tambang emas saja. Aku ingin organisasi kita memimpin organisasi jahat lainnya dalam menguasai provinsi ini.”


Hong Gao hanya ingin organisasinya mendapatkan reputasi besar setelah penyerangan ini, dengan begitu organisasi Merpati Merah akan disegani dan ditakuti.


Impiannya adalah membawa organisasi Merpati Merah menjadi penguasa di Provinsi Naga Petir.


Tangan Besi ingin mengatakan sesuatu lagi saat tiba-tiba ada seseorang yang menghampiri keduanya.


“Ketua, Tetua, mohon maap menganggu percakapan kalian. Aku hanya ingin menyampaikan pasukan aliansi kita sudah tiba...” ucap orang itu melaporkan keadaannya.


“Hm, cepat sekali...” Hong Gao mengelus janggutnya sebelum mengangguk, dia dan Tangan Besi sebelumnya memang terlebih dahulu kesini. “Baik aku akan kesana...”


Sang pelapor langsung pergi setelah laporannya selesai, Hong Gao ikut setelahnya menyisakan Tangan Besi yang masih berdiri disana.


Tangan Besi khawatir rencana ini berujung sesuatu yang buruk, pria berusia 40 tahunan itu punya firasat tidak enak setiap kali memikirkan penyerangan ini.


Sekitar delapan ribu pasukan yang ada di pihak aliansinya. Dengan jumlah tersebut sudah cukup untuk menghapus bersih klan Jian tanpa sisa sedikitpun.


Belum lagi ada 4 Tetua di Alam Hampa serta belasan di antaranya di Alam Bumi seperti dirinya. Tangan Besi yakin klan Jian tidak mempunyai peluang untuk melawan jumlah mereka yang ribuan tetapi tetap saja anehnya hatinya dipenuhi gundah gulana.


***


“Hm, jadi pemerintah klan Jian sudah mengetahui penyerangan kita?” gumam Gu Bu melihat pasukan klan Jian sudah bersiaga di depan tembok, berbaris untuk menyambut mereka.


“Hmph! Mengetahui ataupun tidak mereka tak bisa berbuat banyak, klan Jian tak akan sanggup melawan 4 organisasi sekaligus. Bahkan klan besar saja akan kewalahan menghadapi kita…”


Yue Xia mendengus, gadis itu tidak terlalu suka dengan klan-klan kecil atau menengah seperti klan Jian, bagi Yue Xia penyerangan ini tidak akan seru dan akan membuang waktunya.


“Nona Xia, sebaiknya kita tidak meremehkan mereka. Dengan mengetahui penyerangan ini boleh jadi mereka sudah melakukan banyak persiapan atau jebakan.” Hong Gao mengingatkan.


“Benar kata Saudara Gao, aku sebenarnya lebih terkejut saat mereka mengetahui penyerangan ini, aku yakin ada mata-mata di organisasi kita.” Dong Xu mengamati lawan-lawannya sebelum matanya tertuju pada seseorang yang memiliki aura kuat. “Biar aku maju terlebih dahulu, kalian bertiga lebih baik melihat situasi peperangan ini…”


Dong Xu sebelumnya melihat pemimpin klan Jian yang berada di Alam Hampa sama sepertinya, Dong Xu merasa tertantang dan ingin berduel dengannya terlebih dahulu.


Kini empat ketua organisasi itu berdiri paling depan sedangkan di belakangnya ada delapan ribu pasukannya yang siap maju jika diberi aba-aba.


Hong Gao memberi isyarat pada Tangan Besi, salah satu tetua organisasinya yang paling di percaya agar menggunakan rencana cadangan jika ada sesuatu di luar perhitungan.


Tangan Besi langsung mengerti isyarat itu dan mengangguk. Hong Gao kemudian memerintahkan salah satu pasukannya memberi aba-aba pada yang lain.


Sebuah tabung kembang api di luncurkan ke atas langit, membuat langit malam terang benderang beberapa saat.


Bersamaan dengan kembang api menyala, pasukan aliansi lansung bergerak menyerbu ke perbatasan klan Jian.


Dong Xu memimpin paling depan di antara delapan ribu pasukannya sementara Hong Gao, Yue Xia, serta Gu Bu tetap berdiam diri untuk mengawasi situasi. Ketiganya akan maju jika sudah pada waktunya.


Di sisi yang sama, Jian Fengxa menahan nafas melihat pasukan musuhnya bergerak maju bagai bak air bendungan yang jebol.


Walau sudah mengetahui jumlah musuhnya, tetap saja melihatnya secara langsung terasa berbeda.


“Tenang saja, Fengxa, kita ikuti strategi yang dibuat.”


Seorang pria sepuh menepuk pundak Jian Fengxa sambil tersenyum lembut. Dia adalah Jian Mo, kakek dari Jian Ya.


“Ayah, aku…” Jian Fengxa tidak bisa menutupi kecemasannya.


Jika dilihat, pasukan yang berbaris bersamanya sekitar lima ribuan berbeda dengan pasukan musuhnya yang lebih banyak.


Jian Mo memahami kecemasan anaknya, dia juga sama tidak menduganya klannya akan diserang mengerikan seperti ini.


Kembang api di luncurkan di pihak pasukan klan Jian, memberi tahu pasukan-pasukannya untuk bergerak maju.


Prajurit klan Jian berseru lantang, meski jumlah musuhnya lebih banyak mereka tidak takut sama sekali, justru kobaran semangat terpancar dari sorot mata mereka.


Pasukan klan Jian lebih baik mati membela tanah kelahirannya dari pada pergi dari klan Jian, sedangkan semangat lainnya karena pasukan musuh sudah dalam skenario rencana pihaknya.


Jian Fengxa menarik pedangnya dan memimpin pasukannya maju sedangkan Jian Mo tertuju pada Dong Xu, dalam sekilas saja dia menyadari kalau lawannya adalah pria itu.