
Peperangan masih berlanjut dengan pasukan organisasi yang mendominasi.
Jian Chen langsung terbang ke atas mereka sebelum melepaskan aura kematian serta hawa dingin yang menyiksa.
Jarak sekitar beberapa meter tidak akan bisa bergerak apalagi Alam Kehidupan ke bawah yang dimana tubuh mereka secara bertahap akan membeku.
Pendekar Kekaisaran tampak kebingungan dengan apa yang terjadi dengan lawannya yang tiba-tiba mematung di tempat.
Beberapa dari mereka jadi ragu menyerang sementara lainnya menganggap itu sebuah kesempatan untuk melukai lawannya.
"Tunggu apalagi, bunuh mereka, bukankah pasukan organisasi ingin menyerang kota?!" Jian Chen melayang di atas peperangan sambil tubuhnya terus melepaskan dua aura.
Saat itulah baik pasukan lawan ataupun kawan menyadari keberadaan Jian Chen, melihat pemuda itu memiliki aura kematian yang pekat membuat yang melihatnya ketakutan tetapi tetap saja membunuh orang tak berdaya membuat mereka ragu.
Jian Chen tidak mempermasalahkan itu lebih jauh, ia mendarat ke tanah dan mulai mencabut pedang asura.
Dalam sekali serangan Jian Chen dapat membunuh dua atau tiga lawan yang tak bisa bergerak. Jian Chen terus bergerak cepat dan mengayunkan pedangnya.
Melihat aksi tersebut yang berubah menjadi pembantaian, para pendekar Kekaisaran yang melihatnya jadi gemetar hebat, pemandangan di depannya terlalu mengerikan bahkan untuk pandangan seorang pendekar sekalipun.
Mereka langsung mematuhi perintah Jian Chen sebelumnya, membunuh pasukan organisasi yang berada di hadapan mereka. Para pendekar Kekaisaran itu takut Jian Chen akan membunuhnya jika mereka tidak mematuhi perintahnya.
Butuh beberapa saat untuk membunuh para pendekar organisasi di sekitar itu, merasa tinggal beberapa lagi Jian Chen pergi dan melayang ke wilayah lain.
Jian Chen tidak bisa lebih lama berdiam di satu tempat sementara bagian yang lain pendekar kekaisaran sedang terdesak, ketika tersisa beberapa Pendekar lagi serta kemampuan mereka hanya di Alam Bumi ke bawah, Jian Chen langsung berpindah lokasi.
Lun Zhi yang sudah memulihkan sebagian lukanya dan bersiap untuk bertarung lagi sampai tidak berkata-kata ketika pasukan lawannya sudah hampir tak tersisa oleh Jian Chen.
Lun Zhi hanya terdiam ketika Jian Chen terus membunuh pasukan organisasi di tempat lain, kekuatan yang dikeluarkan pemuda itu terlalu di luar nalar dan Lun Zhi yakin, Yang Mulia Kaisar sebagai jagoan nomor satu Kekaisaran tidak dapat melakukan hal yang demikian.
"Siapa sebenarnya pendekar Jian ini..." Lun Zhi hanya bisa menghela nafas berat, entah kenapa ia bingung apakah harus senang atau sedih saat dibantu Jian Chen.
***
Jian Chen menuju ke arah peperangan yang sedang berlangsung di depan pintu gerbang kota.
Di sana adalah bagian paling parah karena pasukan organisasi mendesak ingin masuk kota sementara para pendekar kekaisaran menahan mereka dengan kewalahan karena jumlah lawannya yang membludak.
Sama seperti sebelumnya Jian Chen melepaskan aura kematian dan hawa dinginnya membuat para pendekar itu tidak di sekitarnya kesulitan bergerak.
Tanpa tahu menahu Jian Chen langsung turun dan menghabisi para pendekar, ia menemukan di beberapa dari mereka ada yang berada di Alam Langit sekitar 3 orang.
Pendekar Alam Langit itu masih bisa bergerak di bawah dua aura Jian Chen, ia sedang melawan Qian Ba.
Kedatangan Jian Chen sangat tepat waktu karena pendekar pengguna kipas itu sudah dalam keadaan terdesak, bahkan satu pedang lawannya udah terarah pada leher Qian Ba.
Qian Ba berpikir Jian Chen adalah salah satu dari pendekar Alam Langit musuh melihat dari jubahnya yang sudah bersimpah darah namun sesaat ia justru melakukan sebaliknya.
Dengan pedangnya Jian Chen bisa mengungguli tiga lawannya dan balik memojokkan mereka, Qian Ba tak tinggal diam, dia melepaskan kipasnya yang bisa digunakan jarak jauh.
Kombinasi keduanya saling mengisi, dalam beberapa pertukaran jurus saja Jian Chen akhirnya bisa membunuh salah satu dari ketiganya. Tidak membutuhkan waktu lama hingga dua sisanya ikut mengikutinya.
Qian Ba ingin mengatakan sesuatu tetapi Jian Chen langsung bergerak menghabisi pasukan organisasi di dekatnya tanpa sepatah kata pun.
Qian Ba memahami bukan saatnya ia berbicara, satu detik saja di peperangan bisa menyelamatkan seseorang. Qian Ba hanya meneguk ludah bersama pendekar kekaisaran yang lain saat Jian Chen melakukan pembantaian.
"Ini akan berakhir lama..."
Jian Chen memperhatikan lawannya yang masih seperti lautan manusia. Meski Jian Chen dapat mudah menghabisi lawannya namun itu masih cukup lambat untuk memenangkan pertarungan ini.
Disisi lain Jian Chen ingin melepaskan elemen api atau cahayanya untuk menghabisi semua lawannya dalam sekejap mata.
Hanya saja ia tidak bisa melakukannya karena di tengah mereka ada beberapa Pendekar kekaisaran. Pada akhirnya Jian Chen hanya bisa menghabisi mereka dengan secepat yang ia bisa.
"Teknik Pedang Gerhana — Cerminan Tetesan Hujan!"
Jian Chen melakukan teknik yang sama saat ia menggunakan Teknik Pedang Rembulan, bedanya setelah ia menyempurnakannya di Teknik Pedang Gerhana, kekuatan teknik itu bertambah beberapa kali lipat.
Tubuh Jian Chen berpecah menjadi 12 tubuh yang dimana hal tersebut terjadi karena kecepatannya. Setiap dari cerminan dirinya langsung berpencar ke berbagai arah dan menghabisi lawan-lawannya.
Semua yang melihatnya membuka mata lebar, tidak percaya dengan apa yang mereka saksikan.
Aksi Jian Chen sekarang sudah menjadi sorot mata yang lain apalagi kekuatan serta tekniknya yang luar biasa.
Berbeda dengan para pendekar Kekaisaran yang cenderung takjub pada kekuatan Jian Chen, pasukan organisasi bereaksi berbeda. Mereka bisa merasakan kengerian yang mendalam.
Beberapa pendekar dari organisasi akhirnya tak bisa lagi menahan ketakutannya sehingga mereka menjatuhkan senjatanya dan berlutut di tanah.
Mereka yang berpikir dari awal akan melakukan pembantaian justru berada di kondisi sebaliknya.
Ketika salah satu dari mereka menyerah maka tidak menunggu waktu lama hingga pendekar yang lain mengikuti.
Masalahnya Jian Chen terus membunuh pasukan organisasi meski telah kehilangan semangat bertarung sementara pendekar Kekaisaran sudah tidak lagi menyentuh mereka.
"Apa kalian akan diam saja setelah mereka berniat menghancurkan kota? Membunuh para warga serta menghancurkan rumah-rumah kalian?!" Jian Chen berkata seperti itu dengan nada dingin serta masih memancarkan aura kematian sehingga mereka yang mendengarnya seperti sebuah ancaman.
Walau takut kenyataannya apa yang dikatakan Jian Chen kebenaran, andai sekarang tidak ada Jian Chen maka kondisi kota akan berbeda.
Menyerah pada para kriminal tidak akan bisa menyelamatkan nyawa, meskipun bisa maka boleh jadi itu lebih buruk dari kematian sekalipun.
Jian Chen memahami tindakannya kali ini terkesan kejam tetapi cara seperti itu yang terbaik digunakan dalam menangani mereka.
Para kriminal umumnya akan memohon ampunan ketika nyawa mereka terancam, memberikan kesempatan kedua memang tidak salah namun sebagian besar cenderung akan melakukan kesalahan yang sama dan hal itu berlaku pada para kriminal ini.
Kota Anshan adalah sebagai salah satu contohnya, bagaimana para kriminal yang diberikan kesempatan kedua malah berdampak buruk dan mengancam keselamatan kota.
Memberikan keselamatan pada mereka sama saja dengan membiarkan kejahatan terus dilakukan, lagi pula para kriminal ini cenderung sudah membunuh orang yang tidak bersalah.
Padahal menurut hukum kekaisaran mereka di perbolehkan dibunuh sebagai hukuman setimpal bagi kejahatannya.
...----------------...
*Hari ini pembaca novel ini sudah mencapai satu juta viewer, saya tidak menyangka novel yang banyak kekurangan ini bisa dilirik oleh sebagian yang lain.
Saya ucapkan terimakasih pada kalian, terutama bagi mereka yang mendukung cerita saya.
Terlepas dari semuanya sebenarnya saya juga sebagai penulis ingin kalian mengambil hikmah baik dari cerita ini.
Hm, apalagi ya? Mm... Segitu saja deh dulu, untuk kedua kalinya saya ucapkan terimakasih pada kalian. Sekian...*