
“Aku akan menjaga keluargaku sekarang, tak peduli apa yang harus di korbankan mereka akan tetap kuselamatkan…”
Jian Chen membuka matanya perlahan memperlihatkan mata emasnya yang kian bersinar. Ketika ia melihat ke cermin, hal itu bisa terlihat jelas bahwa matanya tengah menyala.
Mata Jian Chen akan bersinar ketika hatinya dilanda emosi, baik itu sedih, marah, atau bahagia. Ketika melihat matanya juga Jian Chen tiba-tiba teringat sesuatu yang berhubungan dengan indera penglihat itu.
“Mata Dewa Langit! kenapa aku bisa lupa teknik itu?!”
Jian Chen baru teringat tentang tekniknya yang sering digunakan di kehidupan sebelumnya yaitu teknik Mata Dewa Langit.
Seperti namanya, Mata Dewa Langit adalah teknik untuk matanya. Membuat mata Jian Chen mempunyai kegunaan serta keunggulan dari mempelajari teknik tersebut.
Pada umumnya, mata adalah salah satu organ yang tak bisa dialiri tenaga dalam oleh seorang pendekar namun dengan teknik khusus untuk mata mereka bisa membuka aliran tersebut.
Jian Chen teringat ketika di kehidupan pertama dia pernah melawan seorang pendekar ahli ilusi. Dia bisa mengalahkannya tetapi bertarung dengannya bukan masalah yang mudah.
Jian Chen dibuat harus melawannya tanpa menatap matanya, andai dia sedetik saja melihat mata musuhnya maka ia akan terjebak dalam sebuah ilusi. Jian Chen juga pernah terilusi, dan setahunya ketika ia sudah masuk ilusi tersebut untuk keluarnya cukup sulit, membutuhkan latihan jiwa yang kuat agar seseorang tidak tertipu oleh sebuah ilusi.
Mata yang bisa menggunakan ilusi adalah salah satu teknik mata sedangkan Mata Dewa Langit juga merupakan salah satu teknik lainya.
Jian Chen kemudian duduk di tempat tidurnya, bersila dan bersiap untuk mencoba teknik tersebut.
‘Mata manusia dihalangi oleh 8 gerbang pembatas, mereka yang mencoba membuka gerbang tersebut harus memiliki pemahaman yang cukup agar bisa membuka setiap gerbangnya…’
Jian Chen menghirup napas yang dalam sebelum menutup matanya. Dia mulai mengikuti langkah-langkah dari teknik Mata Dewa Langit yang diajarkan gurunya, ya, teknik tersebut memang berasal dari guru Jian Chen.
Mata Dewa Langit merupakan teknik mata tertinggi karena seseorang harus membuka 8 gerbang dari penglihatannya.
Mata yang bisa membuat ilusi biasanya hanya membuka 4 gerbang saja, dan setahu Jian Chen tidak ada teknik mata yang melebihi 4 gerbang di Kekaisaran Naga ini.
Beberapa waktu berlalu, perlahan tapi pasti, Jian Chen membuka setiap gerbang dari penglihatannya hingga matahari muncul di ufuk timur barulah proses membuka teknik Mata Dewa Langit selesai.
Jian Chen menghembuskan nafas lega ketika 8 gerbang penglihatannya telah sempurna terbuka, meski begitu hanya mata kirinya yang bisa menggunakan Mata Dewa Langit, sedangkan mata kanannya masih biasa seperti sebelumnya.
‘Saat Mata Dewa Langit terbuka, seseorang akan kehilangan penglihatannya selama seribu jam sebelum akhirnya bisa digunakan.” gumam Jian Chen.
Ketika Jian Chen membuka kedua matanya, ia bisa merasakan mata kirinya benar-benar gelap seperti orang buta sungguhan. Hanya mata kanannya yang bisa melihat.
Sebulan lebih kemudian Jian Chen hanya menggunakan sebelah matanya untuk beraktivitas sehari-hari, selama kebutaan tersebut juga Jian Chen hanya berdiam diri dikediamannya.
“Tuan Muda, maap kalau menganggu, aku hanya mau bertanya kenapa mata Tuan muda di tutup seperti itu?”
Zhou Mei menggaruk kepalanya penasaran, dari beberapa minggu kemarin gadis itu heran dengan majikannya yang memakai penutup mata.
“Ah, ini hanya aksesoris, besok pagi juga akan kulepas…” Jian Chen tertawa kecil, tak menjelaskan lebih jauh.
Ketika tutup mata itu terbuka, sesaat mata kiri Jian Chen bersinar dengan warna keperakan yang indah. Mata Dewa Langit mengubah mata Jian Chen yang emas menjadi keperakan yang bersinar.
“Hm… Bukannya aku sombong pada diriku sendiri tetapi aku akui ini memang sangat memukau…” Jian Chen mengelus-ngelus dagunya sambil memuji didepan cermin.
Jian Chen pergi ke halaman luar untuk mencoba mata tersebut, ia mengalirkan tenaga dalam pada mata kirinya dan dalam sekejap iris matanya berubah dari emas menjadi warna keperakan lagi.
Kemudian penglihatan Jian Chen meningkat tajam beberapa kali lipat, matanya bisa melihat semut yang ada di rerumputan yang cukup jauh darinya. Bukan itu saja, dedaunan yang jatuh dari pohon juga melambat di penglihatannya.
Namun dari semua kemampuan itu, Jian Chen bisa menyerap cahaya disekelilingnya menggunakan Mata Dewa Langit dan itu tidak memerlukan tenaga dalam yang besar seperti biasanya.
“Menurut guru, Mata Dewa Langit memiliki banyak kegunaan yang lain hanya saja aku tidak mengetahui rahasia teknik mata ini…” Jian Chen menggaruk kepalanya.
Di kehidupan pertamanya, Jian Chen hanya menggunakan Mata Dewa Langit untuk menyerap cahaya saja tetapi kata gurunya Mata Dewa Langit bisa digunakan berbagai hal termasuk membuat ilusi.
Kekuatan itu masih belum terbuka sampai Jian Chen mati sekalipun, namun dia masih teringat kata gurunya.
“Chen’er, Mata Dewa Langit bukanlah teknik mata sembarangan, sepanjang kau sering menggunakannya maka kau dapat melihat kegunaan lain dari Mata Dewa Langit, banyak tabir rahasia dari teknik mata ini...”
Di kehidupan kedua ini Jian Chen akan memaksimalkan Mata Dewa Langit hingga mencapai tahap tertentu yang sebelumnya Jian Chen hanya memakai disesekali saja.
Ketika Jian Chen memikirkan itu, tiba-tiba tubuhnya terasa sempoyongan dan hampir kehilangan keseimbangan.
“Aku hampir lupa kalau mata ini memiliki efek samping, karena kultivasiku masih rendah aku hanya bisa menggunakannya selama 7 menitan…” Jian Chen buru-buru menonaktifkan Mata Dewa Langitnya, membuat iris matanya kembali ke warna emas semula.
***
Tiga minggu berlalu, Jian Chen terus melatih teknik matanya sambil berlatih bela diri yang lain. Latihan tersebut berdampak baik baginya, meski lambat, Mata Langitnya kini bisa digunakan sampai 10 menit.
Tenaga dalam Jian Chen juga meningkat hingga mencapai 500 lingkaran tenaga dalam. Jian Chen mengurung dirinya di kediaman selama 2 bulan ini.
“Tuan Muda, apakah benar anda akan kembali ke desa hari ini?” tanya Zhou Mei.
“Ya, sudah setahun aku belajar di akademi dan sekarang sudah saatnya aku pulang bertemu orang tuaku.” Jian Chen mengangguk. “Kuharap kau juga pulang pada mereka, mungkin mereka sudah rindu padamu.”
“Tuan Muda becanda, aku selalu bertemu orang tuaku seminggu sekali dan jika berniat, mungkin bisa setiap hari.”
Jika bukan karena kemurahan Jian Chen yang membiarkan dirinya bebas menemui orang tuanya, Zhou Mei mungkin hanya bertemu ibu dan ayahnya selama sebulan sekali.
“Baguslah, kalau begitu aku pamit dan sampaikan salam pada orang tuamu juga.”
Selama Jian Chen pergi ke klannya, Zhou Mei akan tetap berada di kediaman ini. Zhou Mei menatap punggung majikannya untuk terakhir kalinya sebelum hilang dari belokan.
“Kuharap Tuan Muda selamat sampai tujuan…” Zhou Mei tersenyum dan berdoa untuk keselamatan Jian Chen.