Kultivasi Cahaya

Kultivasi Cahaya
Eps. 70 — Kudeta VI


“Apa-apaan anak muda ini, bagaimana bisa dia menggunakan teknik serumit ini secara bersamaan?!” pasukan bertopeng mulai kewalahan meski mereka mengepung satu orang lawannya.


Bukan hanya teknik pedang serta tendangannya yang lincah tapi disisi lain Jian Chen bisa menghindari serangan yang datang.


Kelenturan tubuh Jian Chen terlihat sempurna, gerakannya sangat halus membuat mereka yang melihat bisa berdecak kagum.


Pasukan bertopeng bahkan sudah menggunakan senjata andalannya tetapi lawannya masih bisa menghindar atau menangkisnya, hal ini membuat mereka geram sekaligus frustasi.


Mereka masih tidak percaya harus mengurusi anak muda dengan berkeroyok seperti ini namun kenyataanya anak muda didepannya memang tak bisa dikalahkan hanya satu lawan satu.


Jian Chen terus melakukan perlawanan yang sengit, disalah satu gerakannya dia tiba-tiba mengalirkan tenaga dalam yang besar pada pedangnya membuatnya bercahaya emas lagi.


Pasukan bertopeng yang mengerumuni segera tersadar dan buru-buru menjaga jarak namun Jian Chen tak membiarkan itu terjadi, ayunan pedang Jian Chen selanjutnya jadi lebih cepat yang seketika memotong tubuh lawannya menjadi dua.


Pasukan bertopeng bernafas dingin, mereka sudah menduga ketika mata pedang lawannya bercahaya maka ketajamannya meningkat beberapa kali lipat, hanya saja mereka tidak menyangka ketajamannya bisa membelah tubuh manusia seperti ini.


“Hati-hati, pedang ditangannya adalah pusaka tingkat tinggi?!” Seru salah satunya.


Cahaya keemasan di pedang Jian Chen perlahan meredup kembali sebelum menghilang. Nafas Jian Chen sedikit memburu sesaat sebelum normal kembali.


Jian Chen berusaha mungkin untuk tidak menggunakan elemen cahayanya, karena menggunakan elemen secara terus menerus bisa menguras banyak sekali tenaga dalamnya.


“Kenapa berhenti, heh? Ayo lanjutkan aku siap menghadapi kalian semua!” Jian Chen tersenyum lebar.


Pasukan bertopeng menjadi ketakutan melihat sebagian besar teman-temannya sudah terbunuh, kini mereka memandang Jian Chen tidak lebih dari seorang monster.


Tak lama kemudian banyak pasukan bertopeng lainnya yang bermunculan setelah diberi kabar kelompok lain untuk datang kesini.


Ketika sampai mereka mendapati sudah banyak jasad yang tergelatak ditanah dengan ditengah-tengah jasad itu ada seorang anak muda berdiri tegap bersimpah darah.


Pasukan bantuan bertopeng kemudian bertanya pada rekannya yang terlihat ketakutan, “Apa yang terjadi pada kalian, kenapa mereka terbunuh seperti ini!?” tanyanya menunjuk banyak jasad pasukan bertopeng.


“Dia, dia yang membunuhnya…” Kata orang yang ketakutan itu menunjuk Jian Chen dengan gemetaran.


Pasukan bantuan bertopeng mengerutkan dahi, jika bukan karena ketakutan rekannya, mungkin dia tidak percaya melihat anak muda didepannya yang membunuh teman-temannya semua.


Pasukan bantuan bertopeng jadi ragu bercampur bimbang, dia tidak langsung menyerang begitu saja melainkan menunggu yang lainnya lagi.


Disisi lain Jian Chen juga tidak langsung maju, tubuhnya memang tidak terluka tetapi mentalnya tidak dalam keadaan baik-baik saja.


Lagi-lagi setelah membunuh hampir seratus orang lebih mentalnya kembali terasa goyah, Jian Chen berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri dan berulang kali bahwa dirinya akan baik-baik saja.


Pasukan lainnya bermunculan lagi dan kali ini jumlahnya sudah puluhan orang, salah satu dari mereka berteriak sambil menjelaskan situasinya yang terjadi.


Tak lama semua pandangan pasukan bertopeng tertuju pada Jian Chen, suara aba-aba kembali diteriakan yang menyuruh agar mereka menyerang secara bersama-sama.


Puluhan orang bertopeng loncat bersamaan sambil mengayunkan pedangnya, Jian Chen tersenyum tipis sebelum tiba-tiba kedua tepi bibirnya memunculkan uap putih.


“Teknik Pedang Bulan Purnama ~ Kilatan Bintang Pegasus!”


Teknik pedang ini ditunjukkan untuk bertahan sekaligus menyerang secara bersamaan, ayunan pedang Jian Chen bergerak cepat menahan serangan disekelilingnya sekaligus melukai yang berada dijangkauan pedangnya.


Jian Chen akhirnya lolos dari kepungan musuhnya namun itu tidak membuat dirinya berhenti menyerang, Jian Chen kembali menggunakan Teknik Rembulan lainnya dan kali ini bertujuan untuk membunuh mereka semua.


Serangan pedang Jian Chen menjadi ganas dan mematikan, ayunan pedangnya terarah pada bagian vital lawannya membuat yang mengenainya langsung terbunuh seketika.


Korban-korban terus berjatuhan seiring berjalannya pertarungan, disisi lain pasukan bertopeng masih belum menyadari rekan-rekannya sudah terbunuh karena mereka terlalu memfokuskan untuk mengeroyok Jian Chen.


“Siapa anak muda itu? Mengapa ada seseorang yang berdarah dingin disini?”


Tanpa Jian Chen sadari, Liu Yanxi yang sedang bertarung dengan Niu Zen sudah melihat aksinya yang membunuh puluhan orang pasukannya.


Gumaman itu segera menarik perhatian Niu Zuan, Liu Kai, bahkan Niu Zen sekalipun. Niu Zen melompat mundur setelah bertukar serangan sebelum melihat ke arah yang dimaksud.


Nafas Niu Zen tertahan saat Jian Chen berada ditengah jasad yang tergeletak, yang membuatnya terkejut adalah pakaian Jian Chen sudah tertutup oleh kentalnya darah.


Keterkejutan Niu Zen belum berhenti disana, saat dia menyadari irama pedang Jian Chen dia langsung menyadarinya.


“Tidak mungkin-! Bagaimana Saudara Jian ini bisa mengunakan teknik pedang klanku?!”


Disisi yang bersebalahan, Niu Zuan juga tak kalah terkejutnya apalagi ketika mengenal wajah Jian Chen. “Anak itu, kenapa dia ada disini?”


Niu Zuan pernah melihat Jian Chen di ruang tamu bersama Miou Lin sebelumnya, saat itu dia tidak memperhatikan Jian Chen karena menganggap sebagai anak remaja biasa.


“Aku tidak menduga akan bertemu seseorang yang terlahir untuk membunuh disini. Ohoho, lihat, wajahnya bahkan tidak bergeming setelah membunuh secara sadis seperti itu, dia seolah menganggapnya angin lalu.”


Liu Kai bereaksi berbeda, dia justru tertawa sekaligus tertarik dengan karakter unik Jian Chen, biasanya orang seperti Jian Chen hanya ditemukan seorang penjahat yang sadis dan tidak untuk anak remaja sepertinya.


Beberapa detik berlalu pasukan bertopeng yang mengepung Jian Chen mulai berkurang secara drastis, mereka ingin kabur saat menyadarinya tetapi Jian Chen tak berniat membiarkannya, kini Jian Chen berubah menjadi predator dan melahap siapa yang didepannya.


Jian Chen awalnya berniat membunuh semua lawan yang mengepung sebelumnya namun rencana itu gagal saat tiba-tiba Jian Chen diserang sosok bertopeng yang berada di Alam Kehidupan.


Jian Chen buru-buru menangkis serangan dadakan itu tetapi dirinya tetap terpukul mundur belasan langkah.


“Anak muda aku tak biarkan kau membunuh anggota kami sesukamu?!”


Pendekar bertopeng itu berbeda dengan pasukan bertopeng lainnya, bahkan tingkat kultivasinya berada diatas Jian Chen yaitu alam Kehidupan Tahap Tiga.


Pendekar bertopeng itu memandang Jian Chen penuh kebencian, melihat rekan-rekannya terbunuh begitu saja didepannya membuatnya ingin mencabik-cabik anak muda tersebut.


Jian Chen tersenyum tipis sebelum bergerak menyerang pendekar topeng itu.


Pendekar bertopeng awalnya mengira Jian Chen akan ketakutan saat ada keberadaan dirinya namun ternyata Jian Chen masih berani menyerang musuhnya. Pendekar bertopeng segera mengangkat pedangnya dan beradu jurus dengan Jian Chen.


Mulanya kecepatan pedang keduanya sama namun disatu titik gerakan pedang Jian Chen berubah digabungkan dengan tendangan.


Pedang yang menahan tendangan Jian Chen membuat tangannya terasa sakit sementara gerakan pedang Jian Chen membuat tubuhnya tergores banyak luka.


Pendekar bertopeng buru-buru melompat mundur sebelum pedang Jian Chen melukainya lebih dalam, dia yang awalnya ingin membunuh Jian Chen kini berubah haluan menjadi dirinya yang akan terbunuh.