Kultivasi Cahaya

Kultivasi Cahaya
Eps. 144 — Siasat Tersembunyi


"Apa itu menandakan mereka sudah berada di ranah Alam yang tinggi?" Tanya Jian Chen setelahnya.


Lily menggeleng. "Tidak, sepertinya kekuatan mereka tidak setinggi itu hanya karena mataku tak dapat melihat kultivasinya. Menurut dugaanku, kekuatan gadis-gadis itu tidak beda jauh dengan gadis yang pertama, setidaknya mereka masih berada di Alam Kehidupan."


Jian Chen mengangguk, meski Lily masih menduga-duga tetapi Jian Chen percaya dengan yang dikatakannya, Lagian kalau dipikir secara logika, tidak masuk akal seorang pendekar di Alam Langit bisa kekurangan uang.


Jian Chen kini memandang gadis kembar itu dengan pandangan yang berbeda. Jian Chen pernah mendengar dari gurunya dan juga Lily bahwa dunia itu luas dan tidak mengenal batas.


Kekaisaran Naga boleh jadi adalah Kekaisaran yang besar, terdiri dari 12 daratan yang masing-masing mempunyai wilayah yang cukup luas namun di pandangan mereka yang sudah mengenal banyak dunia, Kekaisaran Naga boleh jadi hanya debu kecil di alam semesta.


Belum lagi kekuatan setiap dunia beragam, ada yang lebih tinggi dan ada pula yang paling dasar. Semuanya memiliki batas-batas tertentu dalam berkultivasi.


Jika Lily pernah mengatakan bahwa ia bisa menghancurkan Kekaisarannya dengan sekali ayunan tangan maka tidak memungkinkan hal itu memang benar adanya.


Jian Chen menghela nafas, memikirkan banyak hal termasuk dunia lain membuat pikirannya terasa lelah. Lagian ia juga mempunyai tujuan sendiri di dunia ini yaitu melindungi keluarga dan klannya dari marabahaya yang datang.


Belum lagi 12 Shio Pemburu yang tidak diketahui tujuan organisasinya, setiap anggota dari mereka sangat kuat meski hanya berjumlah 12 orang saja. Cepat atau lambat mereka akan beraksi dan mengacaukan Kekaisaran Naga.


Setelah beberapa menit berlalu kelima gadis itu akhirnya menyudahi sarapannya, Jian Chen bisa merasakan mereka sudah kekenyangan.


Berbeda dengan Jian Chen, mata semua orang di restoran terbelalak melihat nafsu makan kelima gadis tersebut, sulit mempercayai tubuh seramping itu bisa menampung makanan sebanyak tadi.


"Ah, benar-benar lezat, tidak salah mereka menerapkan harga mahal pada setiap masakan..." Lan Qiaoqiao menyeka bibirnya dengan gaun lengan sambil menyandarkan punggungnya disandaran kursi.


Keempat kembarannya tidak jauh berbeda, mereka mengelus perutnya yang kini sudah terasa penuh.


Jian Chen tersenyum tipis sebelum bangkit dari kursinya, sebelum dia hendak meninggalkan restoran Jian Chen terlebih dulu memberikan kantong kulit pada Lan Qiaoqiao yang berisi koin emas.


"Ini..." Lan Qiaoqiao tampak terkejut dengan pemberian uang Jian Chen yang tiba-tiba.


"Kuharap dengan uang ini kalian tidak kelaparan lagi, aku tak bisa menemani kalian lebih lama, hari sudah gelap jadi aku pamit terlebih dahulu."


Selepas berkata demikian Jian Chen meninggalkan kelimanya, samar-samar sebelum menuruni tangga Jian Chen mendengar Lan Qiaoqiao mengucapkan terimakasih.


"Sepupu pertama, kenapa dia langsung pergi, apa dia tidak nyaman duduk semeja dengan kita?" Gadis beranting coklat atau bernama Lan Yueyue bertanya dengan kebingungan.


"Aku juga tidak mengerti, mungkin dia sedang ada keperluan penting makanya harus meninggalkan kita..." Lan Qiaoqiao menatap kantong kulit di tangannya. "Hanya saja baru kali ini ada seseorang yang memberikan uang sebanyak ini apalagi dia tidak terpesona oleh kecantikan kita. Pemuda itu sepertinya tulus ingin menolong..."


"Hmph! Tulus ataupun tidak, itu bukan kepentingan kita saat ini." Gadis beranting kuning, Lan Xiaxia mendengus kesal lalu melipat tangannya. "Prioritas saat ini adalah makam kuno itu, bagaimana cara agar kita bisa memasukinya."


"Aku mengerti, tapi sebaiknya kita tidak perlu buru-buru soal ini, kita masih punya banyak waktu untuk pergi kesana. Sekarang yang lebih penting adalah mencari informasi, kita harus melihat situasinya lebih jauh."


Karena sebentar lagi malam akan tiba, kelimanya terlebih dahulu mencari tempat penginapan dengan uang yang diberikan Jian Chen sebelumnya.


Ketika Lan Qiaoqiao membuka kantong kulit tersebut, seketika matanya terbuka lebar. 'Saudara Jian ini, seberapa kaya sebenarnya dia..."


***


Sebuah rombongan tak lama datang dengan kereta kuda mewah, puluhan prajurit berdiri tegap di sampingnya, mengawal seseorang yang ada di dalam kereta tersebut.


Ketika pintu kereta dibuka, tampaklah seorang pemuda yang memiliki paras rupawan, wajahnya datar, tak berekspresi apapun walau didepannya ada penyambutan untuk menyambut kedatangannya.


Andai wajah pemuda itu memiliki sedikit saja senyuman yang terukir mungkin akan ada banyak wanita yang jatuh hati padanya. Masalahnya ia selalu bersikap dingin pada siapapun termasuk seorang wanita.


Walikota Liu, begitulah sebutan orang-orang padanya, sudah dari tadi ia berdiri untuk menyambut pemuda itu, melihat Sang Pemuda tak bereaksi dengan sambutan yang ia siapkan membuatnya berpikir bahwa acaranya kurang memuaskan.


Padahal ia sudah menyiapkan ada musik dan tarian yang mengiring, hiasan-hiasan di dinding pun terlihat berwarna-warni namun tidak ada yang membuat pemuda itu tertarik.


Walikota Liu tak berani menatap sang pemuda, kepalanya terus menunduk bahkan bernafas pun ia hati-hati. Hal ini sebenarnya cukup diwajari karena tamu yang menghadiri kediamannya bukan orang biasa, dia adalah Pangeran Longxia, putera dari pemimpin yang mengurus provinsi Naga Angin.


Meski jabatannya sangat tinggi di kota Daiji tetapi di hadapan Yun Longxia, Walikota Liu bukanlah apa-apa.


Yun Longxia tidak sendiri di keretanya, tak lama ia keluar ada satu orang lagi yang muncul. Orang itu memakai jubah hitam yang memiliki tudung dikepalanya, wajahnya tertutup oleh tudung tersebut.


Walikota Liu dan para pengawalnya meneguk ludah saat merasakan aura kuat dari pria berjubah hitam itu, mereka meyakini dia adalah pengawal pribadi Yun Longxia yang merupakan pendekar kelas tinggi.


Yun Longxia tidak mengatakan satu patah katapun, ia langsung masuk ke kediaman Walikota bersama pria berjubah hitam.


Walikota Liu mengikutinya kemudian, dia memberi instruksi pada pelayan dan yang lainnya agar hari ini mereka bekerja sebaik mungkin.


Yun Longxia duduk di meja kerja yang biasanya sering digunakan Walikota Liu ketika bekerja sementara pria berjubah hitam berada disisinya.


Walikota Liu berdiri di depan meja keduanya dengan perasaan gugup, sudah lama sekali pemimpin sepertinya merasakan hal demikian.


"Bagaimana kabar tentang makam kuno sekarang, apa masih belum ada yang mendapatkan hartanya?" Tanya Longxia.


"Pangeran, saat ini masih belum ada yang berhasil meski sudah beberapa ratus pendekar telah masuk ke dalamnya..." Jawab Walikota Liu.


Walikota Liu kemudian menjelaskan bahwa belakangan ini ada banyak sekali pendekar-pendekar yang datang ke kotanya, baik itu dalam bentuk kelompok atau perorang karena kabar berita makam kuno yang sudah tersebar.


Banyak sekali yang mencoba masuk dan tak sedikit yang kehilangan nyawa, meski banyak yang meninggal akibat makam kuno tersebut tidak menyurutkan semangat para pendekar untuk menulusuri makam keramat itu.


Yun Longxia tidak menanggapi penjelasan Walikota Liu lebih jauh melainkan menoleh pada pria berjubah hitam yang berdiri di sampingnya.


"Pendekar Zhao, menurutmu apa kita harus bergerak sekarang?"


"Pangeran, sebaiknya kita melakukannya sesuai yang sudah di atur sebelumnya, kita lihat dulu para pendekar yang masuk ke makam kuno, jika dalam tiga hari tidak ada yang berhasil maka kitalah yang akan masuk."


Yun Longxia mengangguk, cukup puas dengan penjelasan tersebut.


Tidak ada yang mengetahui rencana dan siasat Longxia yang sebenarnya, siapapun nanti yang akan mendapatkan harta atau pusaka dari makam kuno tersebut, terlepas ia akan menyerahkannya atau tidak, Longxia akan mencoba merebutnya baik itu secara halus berupa uang atau dengan cara kasar menggunakan seni beladiri.


Tentu saja semua tindakan ini demi politik pada akhirnya, karena adik kandungnya mengungguli dia dari segi pengaruh maka Longxia akan mengungguli adiknya dari sisi kekuatan.