
Dengan tekniknya, Pria itu berhasil membuat Jian Chen di posisi bertahan, setiap serangannya sangat cepat dan mengarah pada bagian vital.
Harus Jian Chen akui teknik pembunuh pria itu sangat tinggi, melebihi teknik pembunuh yang dilakukan 5 gadis kembarnya.
Bukan hanya cepat tetapi memiliki gerakan yang rumit, setiap ayunan pisau pria itu akan meningkat setiap detiknya.
Luka goresan akhirnya terukir di pipi Jian Chen tetapi di waktu yang sama dia juga melukai bahu pria itu dengan pedang esnya.
"Teknik pembunuhmu sangat tinggi, pendekar yang ada di tingkatanmu akan sulit jika harus menghadapimu..." Jian Chen mengusap pipinya yang sedikit berdarah, tak lama kemudian goresan itu mengecil sebelum akhirnya menghilang dari pipinya.
Teknik pembunuh yang dilakukan pria itu memiliki keragaman gerakan, walau pun menggunakan pisau yang pendek namun jangkauan serangannya terasa sangat luas.
Jian Chen secara jelas memang sangat takjub, dalam seni bela diri ia paling belum menguasai tentang namanya teknik pembunuh.
Pada dasarnya teknik bertarung dan teknik pembunuh berbeda, teknik bertarung cenderung lebih ingin memenangkan sebuah pertarungan baik itu berduel atau berkelompok sementara teknik pembunuh bertujuan untuk membunuh lawannya.
Teknik pembunuh lebih ke sisi menyerang lawannya pada bagian vital, gerakan mereka singkat tetapi setiap jurusnya sangat mematikan.
Jika mempunyai waktu, Jian Chen harus belajar tentang teknik pembunuh lebih dalam lagi dan kebetulan pria di depannya bisa jadi pembelajaran tambahan baginya.
Berbeda dengan Jian Chen yang masih terlihat tenang, pria itu memandang Jian Chen dengan penuh ketidak percayaan.
Gerakan sebelumnya seharusnya sulit di diikuti oleh mata lawannya tetapi pemuda di depannya justru dapat melakukan hal tersebut dengan mudah.
Pria itu menggenggam pisaunya lebih erat, ia harus berhati-hati sekarang atau Jian Chen akan berhasil melukainya lagi.
"Elemental Bayangan — Cerminan Kegelapan Bayangan!"
Dengan menggunakan elemennya, pria itu menciptakan empat dirinya yang dibentuk oleh bayangan.
Empat bayangan itu membentuk persis pria tersebut termasuk pisau dibawanya, yang membedakan adalah fisik mereka berwarna hitam semua kecuali matanya yang bersinar merah.
"Aku ingin lihat apakah kau akan setenang ini jika melawan bayangan-bayanganku!" Pria itu mendengus, ia kemudian memerintahkan 4 bayangan dirinya bergerak menyerang Jian Chen.
Jian Chen masih tenang, tanpa kesulitan ia menghadapi keempat fisik bayangan itu dengan mudah namun setiap kali ia mengayunkan pedang esnya pada fisik bayangan tersebut, pedang es Jian Chen tidak dapat melukainya alias pedangnya menembus bayangan fisik itu.
Melihat hal tersebut pria itu tertawa mengejek. "Kau tak bisa melukai sebuah bayangan, apa kau mengerti itu!?"
Jian Chen kembali mencobanya mengayunkan pedangnya lagi tetapi kali ini menggunakan tenaga dalam, hasilnya bayangan itu dengan mudah dapat menembusnya.
"Benar-benar teknik yang unik..." Jian Chen berdecak kagum namun ia tidak terprovokasi oleh omongan pria tersebut. Sederhana saja karena ia punya trik untuk menghadapi empat fisik bayangan itu.
Pedang es Jian Chen kemudian bersinar keemasan, ia melakukan perubahan jenis dari pedang es menjadi pedang cahaya.
Pria itu terkejut sampai sulit berkata-kata, sebelum ia berbicara mengani elemennya, Jian Chen sudah melakukan sesuatu yang lain.
Dengan pedang cahaya yang telah memadat Jian Chen langsung memotong fisik bayangan itu dengan mudah, kali ini bayangan itu tidak dapat menembus elemen cahaya Jian Chen sehingga ketika pedangnya terayun, fisik bayangan itu langsung terbelah sebelum akhirnya menghilang menjadi debu.
Jian Chen tersenyum lebar, seolah mengerti apa yang dipikirkan lawannya dia berkata, "Kau benar, ini adalah elemen cahaya..."
Seperti yang jelaskan Lily, elemen cahaya sangat langka di alam semesta, akan sulit menemukan pendekar yang memilikinya. Melihat reaksi pria itu Jian Chen yakin bahkan di Kekaisaran Qilin pun hampir tidak ada elemen yang sepertinya.
Jian Chen tidak menunggu keterkejutan dari pria itu melainkan langsung memperpendek jarak keduanya.
Dengan permainan pedangnya yang lincah, Jian Chen berhasil memojokkan lawannya hingga di posisi bertahan. Gerakan demi gerakan terus berlanjut hingga akhirnya pria itu mulai kesulitan melihat kecepatan pedang Jian Chen, akibatnya beberapa goresan sudah terukir di tubuh pria itu.
Pria itu berusaha mengambil jarak dengan Jian Chen namun pemuda itu tidak membiarkan hal tersebut terjadi.
Jian Chen mengetahui pria di depannya tidak ahli dalam bertarung secara langsung seperti ini, para pembunuh umumnya cenderung membunuh lawannya dalam sekali serangan.
Luka-luka yang Jian Chen torehkan mulai meneteskan darah segar, pria itu mengumpat berulang kali, ia tidak menyangka kekuatan Jian Chen berada di atasnya.
"Siapa sebenarnya dirimu? Bagaimana aku tidak mengetahui pendekar setinggi kau bisa ada di Kekaisaran ini..." Pria itu berteriak putus asa.
Pria itu sudah beberapa bulan menyelinap di ibukota, tentu saja banyak informasi yang ia kumpulkan termasuk 10 jagoan terkuat di Kekaisaran Naga.
Selain mengetahui, ia juga memeriksa kekuatan mereka dan pria itu yakin Jian Chen bukan salah satu dari 10 jagoan tersebut.
Jian Chen nyatanya tidak peduli dengan pertanyaan pria itu, ia mengayunkan pedangnya lebih cepat dari sebelumnya hingga pria itu kesulitan mengikuti gerakannya, akhirnya luka goresan besar terukir di dadanya dengan luka yang besar.
Pandangan pria itu mulai kabur, nafasnya sudah terputus-putus dan ia memahami dengan luka dalam sebesar ini, nyawanya tidak akan selamat meski menggunakan tenaga dalam sekalipun.
Jian Chen membutuhkan satu serangan lagi untuk membunuhnya namun ia tidak melakukannya melainkan mencekik pria itu.
"Apa sebenarnya tujuan kalian menyerang Kekaisaran Naga?!" Jian Chen berkata dengan nada dingin.
"Apa yang kau pikirkan sehingga aku harus memberitahukanmu?" Pria itu tersenyum mengejek, darahnya mulai mengalir di mulutnya. "Kau mungkin senang bisa membunuhku disini namun kekuatanku masih terbilang lemah jika dibandingkan dengan 10 jagoan Kekaisaran Qilin."
Pria itu terbatuk-batuk namun masih mempertahankan senyumannya. "Kelak, Kekaisaran Naga akan diserang tanpa ampun oleh kami dan di saat itu orang-orang terdekatmu akan mati..."
"Aku tidak perduli, jika kalian ingin menghancurkan Kekaisaran Naga maka aku akan membunuh mereka yang datang kesini."
Pria itu tertawa meski sesekali tersedak darahnya sendiri. "Kuakui kekuatanmu sangat tinggi bahkan di Kekaisaran Qilin sekalipun namun di bandingkan 10 jagoan besar di sana, kau bukan apa-apa..."
"Jadi apa yang membuatmu berpikir aku bukan lawan mereka, apa kau berpikir melawanmu harus menggunakan seluruh kekuatanku." Jian Chen tersenyum mengejek.
Ekspresi pria itu seketika memburuk. "Kau jangan bilang ada di Alam Ra..."
Jian Chen mendengus, sebelum pria itu menyelesaikan kalimatnya ia sudah mengeraskan cengkraman di lehernya.
Tak lama kemudian suara tulang patah terdengar keras, pria itu seketika meninggal dengan tulang leher yang terlepas dari asalnya.
Sebelum tubuhnya di jatuhkan Jian Chen mengambil cincin ruang pria itu, ia berniat mencari informasi lainnya lebih jauh.