Kultivasi Cahaya

Kultivasi Cahaya
Eps. 109 — Tuan Puteri


“Jika kau menatapku terus seperti itu akan kucongkel dua matamu?!” gadis bergaun merah itu berdecak kesal melihat Jian Chen yang menatap tubuhnya dari bawah ke atas.


Jian Chen tersadar dan batuk pelan, saking terbiusnya, ia hampir lupa yang ditatapnya itu adalah mahluk hidup. Jian Chen harus akui gadis di depannya memang terlalu cantik untuk seorang wanita.


Jian Chen kembali menjadi waspada, ia tidak mengetahui siapa identitas wanita didepannya.


“Aku bukan orang jahat, kau tidak harus mewaspadaiku seperti itu!” gadis itu berdecak kesal kembali.


“Sulit mengatakan kau orang baik jika sebelumnya kau mengancamku…”


“Terserah, aku tidak peduli kau percaya atau tidak. Aku hanya ingin mengatakan padamu agar kau membebaskanku dari kristal sialan ini!”


Alis kanan Jian Chen terangkat, dia tidak memahami situasinya tetapi menyadari gadis itu tidak dalam kondisi yang baik.


“Hei, kau dengar tidak?” Gadis itu berteriak dengan nada kesal lagi. “Aku sudah cukup menunggumu puluhan tahun disini jadi jangan membuatku menunggu kesekian kalinya!”


Jian Chen melipat tangannya, “Apa yang membuatmu berpikir aku akan membantumu? Apakah itu cara kau meminta pertolongan pada seseorang.”


Wanita itu semakin kesal dibuatnya, “Dasar pria bodoh, jika kau tidak menolongku sekarang maka kau akan menyesalinya seumur hidup.”


“Aku tidak akan menolongmu.”


“Kau…”


Gadis itu ingin mengumpat dan berkata kasar lagi pada Jian Chen tetapi secara tiba-tiba ada sebuah rantai hijau muncul dari kristal di belakangnya.


Rantai hijau itu segera melilit pinggang, kedua tangan serta kaki gadis itu secara paksa lalu menariknya untuk kembali masuk ke dalam kristal.


‘Apa-apaan ini, aku baru saja keluar setengah menit tetapi kristal ini sudah memaksaku untuk kembali ke dalam.’ gadis itu tidak menyembunyikan kekesalannya lalu menoleh ke arah Jian Chen.


“Jian Chen, cepat lepaskan rantai ini dariku!”


Jian Chen masih dalam keadaan tenang, ia tidak langsung menyetujuinya begitu saja. “Aku tidak mengetahui identitas asal usulmu, bisa saja kau berniat jahat padaku setelah rantai itu terlepas, aku tidak mau mengambil resiko.”


Tubuh Gadis itu secara perlahan mulai ditarik oleh rantai, menyaksikan akan tersedot kesana lagi ia kembali berteriak pada Jian Chen dengan sedikit cemas.


“Aku bukan orang jahat, aku tidak mempunyai niatan untuk mencelakai dirimu atau lainnya. Kalaupun aku demikian, aku tidak mempunyai kekuatan untuk melakukannya.”


Jian Chen menyipitkan matanya. “Bisa saja kau menyembunyikan kekuatanmu sekarang lalu ketika kau bebas, kau akan mencelakaiku dengan kekuatanmu.”


“Hei pria bodoh, jika aku mempunyai kekuatan sekarang maka aku sudah lepas dari rantai sialan ini!” Gadis gaun merah itu semakin panik ketika tubuhnya terus terdorong mendekati kristal. “Cepat lepaskan aku atau kau akan menyesalinya…”


Jian Chen berpikir beberapa saat, disisi lain ia tidak mengenali wanita di depannya apalagi wanita itu mempunyai bola mata yang merah dimana manusia tidak memiliki itu.


Di sisi yang berbeda Jian Chen masih waspada padanya, meski secara samar tetapi Jian Chen merasakan aura yang tak biasa pada perempuan tersebut.


“Kita tidak punya waktu lagi untuk menunggumu membuat keputusan…” Gadis itu mengigit bibirnya. “Kumohon, lepaskan aku dari rantai ini, aku salah, aku minta maap karena tadi berkata kasar padamu.”


Jian Chen mengerutkan dahi, wanita yang sebelumnya bersikap tinggi itu kini merendah secara tiba-tiba.


“Aku bersumpah, jika kau menolongku aku akan membantumu, hidupku akan kuserahkan padamu… kumohon.” gadis itu tidak mementingkan lagi harga dirinya. “Jian Chen, ini adalah tenaga dalamku yang terakhir untuk bisa menemuimu dan jika kau terlambat maka aku tak bisa keluar lagi dari kristal ini untuk waktu yang sangat lama dan kau tidak bisa membantuku lagi….”


“Aku tahu kau tidak bisa mempercayaiku tetapi aku tak punya apapun selain ucapan ini.” tambah gadis itu.


Jian Chen menghela nafas panjang, melihat gadis itu yang memohon bahkan hampir menangis membuat hatinya menjadi luluh juga.


Tangisan gadis itu terhenti digantikan senyuman yang lebar, “kau tinggal putuskan rantai ini dengan kekuatanmu, tal perlu banyak, tenaga dalam sedikit saja sudah cukup membuat rantainya terputus.”


“Hm? Kalau begitu bukankah kau bisa melepaskan rantai ini?”


“Hei, Jika aku bisa maka sudah dari tadi aku melakukannya! Rantai itu tak bisa dihancurkan dari dalam olehku sendiri, sebaliknya ia memerlukan tenaga dalam orang lain agar bisa terputus.”


Jian Chen kemudian melayang mendekati rantai hijau tersebut, dengan membuka telapak tangannya dan mengalirkan tenaga dalam, satu ayunan langsung terputus rantai tersebut.


Jian Chen memutuskan lima rantai terakhir, gadis bergaun merah itu seketika terbebas dan rantai tadi masuk kembali ke dalam kristal.


“Aku bebas! Aku bebas..." gadis itu begitu riang melayang kemana-mana, seolah seperti burung yang terlepas dari sangkar.


Jian Chen melihat hal tersebut sedikit terkejut, aura keanggunan gadis itu telah hilang seketika ketika melihat begitu kanak-kanaknya ia.


Menyadari sikapnya, gadis itu kemudian batuk pelan lalu melayang ke arah Jian Chen. “Ehm, lupakan soal barusan, kau tak usah mengingatnya…”


Gadis itu mengibaskan rambut panjangnya dengan begitu bangga, dia melipat tangan di dada lalu memandang Jian Chen dengan perasaan jijik.


“Kau jangan anggap serius perkataanku tadi, itu hanya sebuah ucapan, tidak mungkin aku, Tuan Puteri, menyerahkan hidupku ini padamu.”


Jian Chen tersenyum tipis. “Aku tidak mengharapkannya… Walaupun aku tidak menduga kau begitu tidak punya rasa malu untuk mengucapkan itu.”


“Hei dasar tidak sopan, aku ini Tuan Puteri, tentu saja aku memegang kata-kataku!” gadis itu mendengus kesal lalu menunjuk Jian Chen. “Asalkan kau tahu, aku berbicara seperti itu karena ingin menyelematkan hidupku, tidak lebih.”


“Jadi, apa yang akan kau lakukan setelah terbebas dari rantai tersebut, membunuhku?” Jian Chen tersenyum, masih tetap tenang menyikapi.


“Sudah kubilang aku bukan orang jahat, maksudku, tidak sepenuhnya jahat. Sebagai hadiah karena kau telah membebaskanku bagaimana kalau kau mau menjadi budakku, bagaimana? Kau senang bukan?”


Satu alis Jian Chen bergetar, ia tidak mengenal identitas gadis tersebut tetapi Jian Chen merasa gadis itu terlalu memandang tinggi dirinya serta memandang lawan bicaranya dengan rendah, alhasil sikap sombong begitu kental pada gadis itu.


“Aku tidak tertarik…”


“Hei, jangan menjawab begitu cepat, kau harus memikirkannya matang-matang. Di kehidupanku dulu, banyak orang yang ingin menjadi budakku, mereka berbondong-bondong mendaftarkan namanya hanya karena ingin bersama Tuan Puteri ini!”


Lagi dan lagi, gadis itu mengibaskan rambut hitamnya dengan perasaan sombong setelah mengucapkan hal tersebut.


Jian Chen menggaruk kepalanya, lama-lama dirinya kesal juga di pandang rendah oleh wanita ini. “Begini Nona, aku tidak mengenalmu apakah kau Tuan Puteri ataupun bukan, lebih tepatnya aku tidak peduli dengan statusmu. Jadi sebagai tamu tak diundang dalam tubuhku ini setidaknya kau memperkenalkan namamu terlebih dulu.”


“Kau ingin mengetahui nama Tuan Puteri ini, benar-benar lancang! Kuperingatkan padamu untuk terakhir kali, jika kau berkata demikian akan kupotong lidahmu itu.”


Jian Chen menghela nafas panjang, sepertinya ia telah salah berkomunikasi dengan wanita itu, seumur hidupnya baru pertama kali ada seseorang yang sangat sombong diantara orang sombong seperti gadis didepannya.


Tanpa berbicara lagi Jian Chen mengayunkan tangannya yang seketika rantai hijau bermunculan dari kristal di belakangnya.


Dengan sekali instruksi, rantai-rantai itu bergerak cepat menuju gadis tersebut dan meringkusnya.


“Kau! Kau bisa mengendalikan rantai itu?!” gadis itu sangat terkejut.


Jian Chen tidak menjawab, sebenarnya ia menyadari hal tersebut ketika berusaha memotong rantai dari gadis itu sebelumnya, entah kenapa rantai itu seperti bagian anggota tubuhnya. Mungkin hal tersebut terjadi karena tempat ini merupakan alam dantian Jian Chrn.


Jian Chen kemudian mendekati gadis itu dengan senyuman yang mengejek. “Baik Tuan Puteri, aku tantang kau berbicara seperti itu lagi maka kau akan terkejut dengan apa yang kulakukan setelahnya.”


“Kau-!” gadis itu tak bisa menahan diri selain mengumpat.