Kultivasi Cahaya

Kultivasi Cahaya
Eps. 100 — Dalam Kepungan


Tangan Besi menatap tajam orang-orang yang di gua sebelum pandangannya jatuh pada seorang gadis bergaun putih, berwajah cantik yang memiliki kultivasi yang sama dengannya.


Tangan Besi yakin wanita tersebut adalah wanita yang di beritakan organisasi sebagai pemimpin klan termuda sekaligus berbakat jenius yang bernama Jian Ya.


Berbeda dengan pandangan Tangan Besi yang penuh perhitungan, delapan ratus pasukannya yang tak bisa melihat kultivasi Jian Ya justru tertarik dengan kecantikan gadis tersebut.


Bagi mereka Jian Ya terlihat seperti gadis suci dengan gaun putihnya, manis serta menawan, beberapa dari mereka bahkan ada yang berkhayal menjadi kekasihnya.


Delapan ratus pasukan organisasi mungkin disuruh untuk menghancurkan klan Jian beserta penduduknya tetapi ada niat terselebung dari mereka yaitu ingin mendapatkan seorang gadis dari peperangan ini.


Tangan Besi hendak memberikan aba-aba pada pasukannya untuk menyerang saat suasana di sekelilingnya tiba-tiba berubah menjadi gelap gulita.


Semua pasukan organisasi menatap sekelilingnya karena mata mereka seolah-olah menjadi buta, mereka yakin kegelapan malam tak akan segelap ini.


“Apa-apaan ini, mataku buta!”


“Aku tak bisa melihat! Aku tak bisa melihat!”


Beberapa pasukan organisasi menjerit ketakutan, mereka tidak siap penglihatan mereka hilang begitu saja sementara para pendekar klan Jian sedikit heran melihat situasi ini.


Mereka seperti melihat pasukan organisasi itu terselimuti kabut hitam yang pekat, kabut tebal itu cukup membuat cahaya di sekelilingnya tak bisa masuk kedalam.


Disaat keheranan tersebut, ada seseorang yang menerobos masuk ke tengah-tengah kegelapan itu, orang tersebut adalah orang yang membuat kegelapan ini terjadi yaitu Jian Chen.


Jian Chen menyerap cahaya di sekelilingnya ke mata langitnya sejarak dua ratus meter. Di kegelapan itu Jian Chen masih bisa melihat tidak seperti musuh-musuhnya.


Jian Chen mendarat di tengah pasukan organisasi, ia kemudian mengalirkan tenaga dalam pada pedangnya lalu menggunakan Teknik Pedang Rembulan.


“Teknik Pedang Bulan Sabit ~ Kegelapan Musim Semi!”


Pedang Jian Chen menebas ke ruang kosong dan menciptakan pisau udara yang tajam, gerakan Jian Chen berputar berulang-ulang memungkin pisau-pisau udara itu menembak ke segala arah.


Dalam satu kedipan mata, sudah belasan dari pasukan musuh tewas dengan rata-rata mereka mati dengan anggota tubuh yang terpotong. Teknik ini pernah di gunakan Meily di air terjun sebelumnya saat melawan serigala petir.


Jian Chen tak berhenti di sana, dia langsung bergerak menebas musuh-musuhnya yang masih bingung di kegelapan itu.


Tiga puluh detik berlalu kegelapan akhirnya mulai menghilang dan cahaya di sekelilingnya telah terlihat kembali. Namun waktu tersebut sudah cukup membuat Jian Chen membunuh puluhan dari mereka.


Hal pertama yang pasukan organisasi lihat setelah kegelapan menghilang adalah rekan-rekannya yang sudah tergeletak bersimpah darah, di tengah mayat tersebut mereka melihat sesosok bertopeng putih berdiri dengan pedang yang masih menetes.


Pasukan organisasi langsung tersulut emosi, tidak membutuhkan penjelasan lagi bahwa pria bertopeng itu adalah dalangnya.


“Habisi dia-!”


“Jangan biarkan dia hidup!”


“Akan kucabik tubuhmu hingga seribu bagian…”


Teriakan kemarahan di tunjukan pada Jian Chen, mereka langsung menyerbu dari berbagai arah menggunakan senjatanya. Melihat rekan-rekannya mati begitu saja tentu membuat mereka marah, satu yang dipikiran pasukan organisasi adalah membunuh Jian Chen untuk membalaskan dendam.


Jian Chen tidak tinggal diam, ia memainkan pedangnya dengan gesit. Dengan permainan pedang dipadukan dengan ilmu tendangan Jian Chen bisa mengimbangi kepungan musuh.


Lawan Jian Chen berbeda dengan kepungan di saat kudeta klan Niu dulu, selain jumlah yang mengepungnya jauh lebih banyak hingga ratusan, kekuatan mereka juga sangat kuat.


Jian Chen dibuat diposisi bertahan oleh kepungan tersebut, mereka tidak membiarkan Jian Chen bernafas sedetikpun apalagi sampai menggunakan Teknik Pedang Rembulan.


“Mereka benar-benar bernafsu untuk membunuhku…”


Tindakan pasukan organisasi mengepung Jian Chen bagai seekor ikan piranha yang berebut sepotong daging. Jian Chen hampir kewalahan menyambut serangan musuh yang begitu buas.


Luka kecil perlahan-lahan tertoreh di tubuh Jian Chen, karena semakin tersudut akhirnya Jian Chen menggunakan elemennya.


“Elemental Es ~ Aura Dewa Es!”


Tubuh Jian Chen tiba-tiba melepaskan hawa yang sangat dingin membuat pasukan musuhnya terkejut hingga gerakan mereka terganggu.


Rasa dingin terasa menusuk tulang hingga mereka mengigil kedinginan, tidak sedikit dari mereka yang berada di kultivasi rendah membentuk serpihan es dari rambutnya.


Jian Chen menggunakan teknik elemen es yang di ajarkan oleh Ye Ao sebelumnya, meski belum menggunakannya secara sempurna tetapi setidaknya cukup untuk bisa digunakan.


Jian Chen kemudian mengambil kesempatan ini untuk menyerang balik, dia kembali menggunakan teknik pedang klan Niu, “Cerminan Tetesan Hujan!”


Tubuh Jian Chen secara cepat terbagi menjadi tiga dan menyerang ke berbagai arah, keterkejutan terlihat di wajah musuh-musuhnya bahkan klan Jian yang menonton begitu terkejut.


“Siapa dia? Apa itu Ketua Zen?” Jian Ya membuka mulutnya, sedikit takjub dengan teknik yang dilakukan oleh pria bertopeng putih itu.


Jian Ya maupun lainnya tahu bahwa itu adalah teknik pernafasan pedang dari klan Niu, teknik yang memiliki ciri khas tersendiri yaitu Teknik Pedang Rembulan.


Jian Ya kemudian teringat bahwa Niu Zen sekarang sedang berada di luar tembok klannya dalam strategi Miou Lin, hal ini menimbulkan pertanyaan di benaknya. Lagi pula mereka bisa melihat bahwa pria bertopeng itu terlihat masih muda.


“Jika Ketua Zen ada di sana lalu siapa pria bertopeng ini?”


Tiga tubuh Jian Chen terus melakukan penghabisan pada pasukan organisasi musuh hingga 5 detik kedepan, setelahnya setiap cerminan diri Jian Chen kembali menyatu semula.


Tangan Besi mengumpat berulang kali karena pasukannya itu tak becus menghabisi satu orang saja, dia hendak ikut kesana tetapi Jian Ya tiba-tiba menghadangnya.


“Jangan halangi jalanku, bahkan jika kau seorang wanita aku akan tetap membunuhmu!” Tangan Besi merapatkan giginya dengan penuh amarah.


Jian Ya tersenyum tipis, ia memilih tak menjawab dan langsung menarik pedang pusakanya. Jian Ya tidak mau membiarkan Tangan Besi membantu pasukannya.


Tangan Besi maupun Jian Ya kemudian saling bertukar serangan, Jian Ya bertarung menggunakan teknik pedangnya sedangkan Tangan Besi memakai ilmu tangan kosongnya.


Disisi lain Jian Chen kambali di posisi tersudut, meski ia melakukan perlawanan sengit barusan nyatanya tidak membuat musuhnya jera. Sebaliknya mereka justru semakin bernafsu untuk membunuh Jian Chen.


Luka-luka kecil terukir di tubuh Jian Chen, membuatnya tidak di posisi yang menguntungkan. Darah segar perlahan muncul dan menetes di setiap inci luka.


Jian Chen sedang berusaha lolos dari keterpojokan tersebut ketika dari belakangnya ada suara derap langkah kaki yang saling sahut menyahut. Jian Chen menoleh dan melihat rombongan pendekar klan Jian telah tiba.


Sekitar lima ratus orang tiba dan langsung menyerang pasukan organisasi musuh yang ada, walau masih kalah jumlah tetapi kedatangan mereka sangat membantu Jian Chen.


Jian Chen mengayunkan kakinya untuk menjauh dari musuhnya, ia melompat tinggi ke belakang dan mendarat di rombongan pendekar klan Jian.


Jian Chen kemudian menggunakan waktunya untuk menghentikan pendarahan di tubuhnya dengan tenaga dalam.


Usai merasa baikan dia bersiap maju kembali namun kali ini pedangnya sudah bercahaya. Dengan paduan seni pedang dan elemennya, Jian Chen menghadapi musuh-musuhnya tanpa gentar, menghabisi setiap pasukan organisasi di dalam jangkauannya.