
Seminggu kemudian semenjak Jian Chen bertemu dengan Lyli, klan Jian telah kembali ke situasi normal.
Beberapa penduduk kembali menempati kediamannya, mereka mulai bekerja, bertani, berdagang, dan beraktivitas seperti hari-hari biasa. Jian Chen mendengar semua informasi itu dari Miou Lin.
Orang tua Jian Chen juga telah kembali ke rumahnya, dia bernafas lega saat mengetahui kalau mereka baik-baik saja.
Tak lama kemudian murid-murid di Kota Qianshan pulang dan di waktu bersamaan Jian Chen menyusup diam-diam diantara mereka seolah dirinya juga baru datang dari sana.
Para orang tua menyambut anaknya seperti biasa ketika para murid akademi telah pulang.
“Ayah tidak apa-apa?” Tanya Jian Chen cemas.
“Ibu dan ayahmu baik-baik saja, Chen’er. Bagaimana di sana, apakah tidak ada yang membahayakanmu?”
Jian Chen menggeleng pelan, dia mengerti alasan ayahnya khawatir karena beranggapan penyerangan klan Jian berniat menghapus seluruh penduduknya tanpa ada yang tersisa tanpa tahu penyebabnya yang tak lain karena sebuah tambang emas.
Jian Wu kemudian membawa Jian Chen ke rumahnya, terlihat istrinya kini tengah berada di sana sedang menggendong puteri kecilnya, Jian Rou.
“Chen’er kau lihat siapa di sana, dia adalah adikmu…” Jian Wu tersenyum memperkenalkan Jian Rou.
Jian Chen tersenyum lebar lalu menghampiri Jian Rou yang ada di rangkulan Ibunya. “Ibu, boleh aku menggendong Rou’er?”
Jian Ran tersenyum lembut, “Tentu saja Chen’er, dia adalah adikmu…”
Senyuman mengembang ketika secara perlahan Jian Rou yang masih bayi berada di gendongan Jian Chen, pemuda itu terlihat senang menikmati wajah adiknya yang tertidur lelap.
Jian Chen membawa Jian Rou pergi keluar sementara kedua orang tuanya melihat itu tersenyum penuh makna.
“Biarkan saja dia bersama adiknya, Ran’er, dia terlihat bahagia bersamanya.”
“Aku mengerti suamiku, Chen’er mungkin sudah menahan kerinduannya untuk bertemu adiknya sejak lama.”
Jian Chen membawa Jian Rou ke teras rumah lalu duduk di sana, sesekali ia mengayunkan tubuhnya agar bayi di gendongannya itu merasa tenang.
“Di kehidupan pertamamu, mungkin adikmu sudah lahir tetapi karena ada penyerangan besar itu mungkin dia sudah~…”
“Aku mengerti keadaannya.” Jian Chen dengan cepat memotong ucapan Lily.
Lily tidak berbicara lagi, gadis itu sepertinya masih mempunyai perasaan untuk tidak mengganggu kebahagiaan Jian Chen yang sekarang. Tentu saja karena Lily mengetahui bagaimana kesedihan Jian Chen saat kehilangan segalanya.
Jian Chen tidak bertahan lama menggendong Jian Rou karena bayi itu secara mendadak menangis minta disusui jadi dia langsung menyerahkan pada ibunya kembali.
“Chen’er, jangan berkecil hati, kau masih punya banyak waktu untuk bersama adikmu.”
Jian Ran terkekeh melihat wajah masam Jian Chen saat menyerahkan adiknya begitu cepat.
“Aku mengerti ibu, saat ini Rou’er sedang ingin menyusui.” Jian Chen kembali menanggapinya dengan senyuman lebar.
Selama hari-hari ke depan Jian Chen menghabiskan waktunya bersama keluarganya, kelahiran Jian Rou ternyata berdampak besar bagi suasana keluarganya terutama Jian Rou yang seperti magnet kebahagiaan.
Kedua orang tua Jian Chen juga tidak pernah menyinggung tentang penyerangan klan Jian karena tidak mau menggangu suasana.
“Benar-benar teknik kultivasi yang mengerikan, di duniaku saja aku belum pernah melihat teknik kultivasi yang cepat dan semurni ini…” Jian Chen bisa merasakan Lily berdecak kagum saat kultivasinya sedang berlangsung.
“Bukankah kah kultivasimu tersegel, mengingat kau bersamaku sejak lama kenapa kau tidak menggunakan teknik Kultivasi Dewa Cahaya?” tanya Jian Chen.
Lily berdecak kesal mendengarnya, “Aku tak bisa melakukannya, tepatnya tubuhku tak dapat melakukan itu! Lagian disini tidak ada cahaya, kultivasi itu jelas menyerap semua cahaya di sekelilingnya sebagai sumber kultivasi.”
Jian Chen tersenyum canggung, harus dia akui gadis ini memang mengetahui banyak hal tentang dirinya.
“Kultivasi Dewa Cahaya-mu itu memang cepat dan bisa melompat beberapa tahap ketika terjadi terobosan tetapi disisi yang lain 8 meridianmu semakin luas ukurannya setiap kau menerobos… sekarang saja satu meridianmu harus diisi cahaya sebesar dua bulannya kau menyerap dan itu berarti butuh 2 tahun hingga kau menerobos ke alam selanjutnya.”
Lily mengelus dagunya, ia sepertinya tertarik dengan kultivasi Jian Chen yang unik dan menarik.
“Sebenarnya kultivasi ini tidak selama itu, jika dikondisi yang memungkinkan ketika cahaya di sekelilingnya sangat banyak maka penyerapan cahaya juga sangat cepat, dua sampai tiga kali lipatnya…”
Jian Chen juga menemukan hal yang unik dari kultivasinya yaitu selain cara manual, dia bisa meningkatkan 8 meridiannya melalui cara yeng lebih signifikan yaitu di saat menelan mutiara elemen di gua es dan ketika dirinya secara tak disengaja meminum darah emas Jian Ya.
Meski terkesan 8 meridiannya saja yang meningkat pada kenyataannya ketika menerobos seluruh tubuh Jian Chen juga meningkat.
Otot, tulang, organ, kulit serta lima indranya langsung meningkat ketika Jian Chen menerobos ke alam selanjutnya.
Sebab itu Jian Chen mempunyai kekuatan fisik yang kuat meski tidak harus mengalirkan tenaga dalam. Cahaya-cahaya yang diserapnya juga membuat pikirannya jernih dan tubuhnya berelaksasi merasakan kehangatan.
“Kini klanmu sudah aman bukan dari marabahaya, jadi apa tujuanmu selanjutnya?” Lily bertanya sambil melayang disana, tubuhnya yang ramping serta gaunnya yang merah menyala terlihat begitu cantik.
Jian Chen tidak langsung menjawab, tepatnya dia tidak mau menjawab pertanyaan itu mengingat Lily masih diwaspadai olehnya.
Lily berdecak kesal, tentu saja ia menyadari pikiran Jian Chen. “Terserah kau mau menjawab atau tidak… Akan kuberitahu satu hal, disini aku tak bisa mencelakaimu atau lebih buruk membunuhmu. Ketika kau mati aku juga langsung mati, aku bertanya karena ingin kau bisa membantuku memulihkan kultivasiku.”
Jian Chen menyipitkan matanya, “Kenapa aku harus menurutmu?”
“Hei pria bodoh, sehebat apapun kekuatanmu sekarang kau bukan apa-apa dengan kekuatan yang dulu, dalam sekali ayunan tangan saja aku bisa menghancurkan Kekaisaranmu yang besar ini.”
Lily melipat tangannya, “Aku ingin kau memulihkan kekuatanku supaya aku bisa kembali ke tempatku semula dan mengambil pusaka di sana. Aku ingin lolos dari dantianmu. Tentu saja selama proses tersebut aku akan membantumu, anggap saja ini sebuah kesepakatan.”
Jian Chen menghela nafas panjang, entah harus percaya atau tidak perkataan gadis itu. “Aku mendengar tahun ini akademi akan di adakan turnamen untuk generasi muda, aku akan menghadiri turnamen itu beberapa saat tetapi tujuan utamaku bukan kesana...”
Jian Chen memandang langit yang gelap, terlihat bintang berkelap-kelip di atas sana. “Setelah turnamen itu selesai aku berencana untuk berpergian menemui guruku yang ada di Provinsi Naga Bumi.”
“Jadi tujuanmu setelahnya adalah bertemu gurumu yang misterius itu?”
Jian Chen mengangguk. “Meski kekuatanku bertambah jauh lebih cepat dibanding kehidupan pertamaku, tetap saja kekuatan ini masih belum cukup untuk melindungi orang-orang terdekatku. Aku berencana berlatih di sana beberapa waktu.”
Lily tidak mempertanyakan lebih jauh rencana Jian Chen, setidaknya roh pria itu sudah dewasa dari usianya yang sebenarnya.
Jian Chen memejamkan mata lalu membuang nafas perlahan, ia menyadari perjalannya kali ini akan membutuhkan waktu yang sangat panjang.
Arc. 1 ~ Kultivasi Dewa Cahaya ~ Kembalinya Sang Pendekar.