Kultivasi Cahaya

Kultivasi Cahaya
Eps. 152 — Kekuatan Jian Chen


Jian Chen tidak menyangka akan bertemu dengan lima gadis berambut perak itu lagi, ini ketemuan ketiga kalinya padahal sebelumnya mereka hanyalah orang asing yang tidak sengaja bertemu.


"Saudara Jian, apa yang anda lakukan disini?" Lan Qiaoqiao bertanya terlebih dahulu.


Jian Chen menggaruk pipinya dengan canggung sebelum menjelaskan pada kelimanya bahwa ia baru saja menyelusuri semua tempat makam ini. Jian Chen juga meminta kelimanya untuk tidak melanjutkan langkah karena didalamnya sudah tidak ada barang berharga lagi karena Jian Chen telah mengambil semuanya.


Mulut kelima gadis itu terbuka seolah tak percaya, jika Jian Chen betulan berhasil maka kemampuannya lumayan tinggi.


"Apa kau bisa memperlihatkan semua barang-barang makam ini pada kita?" Lan Xiaxia, gadis yang selalu dingin pada Jian Chen langsung memotong cepat sebelum Lan Qiaoqiao berbicara lagi.


Jian Chen menaikan alisnya, membuat Lan Qiaoqiao segera menengahi keduanya cepat.


"Maafkan sepupu ketigaku, dia selalu kasar pada orang asing sepertimu..." Lan Qiaoqiao tersenyum dengan canggung. "Tapi Saudara Jian, bisakah anda memperlihatkan barang-barang itu pada kami?"


Jian Chen menggeleng pelan, "maaf aku tidak bisa melakukannya, ada beberapa barang berharga di cincinku yang tidak boleh dilihat orang lain."


Dalam cincin ruang Jian Chen ada batu roh yang berharga, ratusan juta koin emas, pil-pil penyembuh serta yang paling penting Pedang Dewa Asura.


Awalnya Pedang Dewa Asura tidak bisa dimasukan ke dalam cincin ruang namun Lily melakukan sesuatu pada pedang tersebut sehingga Pedang Dewa Asura kini bisa masuk ke cincin ruangnya.


Penolakan halus itu membuat senyuman manis Lan Qiaoqiao memudar.


"Saudara Jian, kami hanya ingin melihatnya dan jika ada sesuatu yang menarik bagi kami mungkin kita bisa melakukan penukaran barang. Didalam cincin ruangku ada air embun tetesan langit yang berharga, bisa menaikkan kultivasi seseorang jika meminumnya."


Air embun tetesan langit memang menggiurkan bagi para pendekar biasa namun sayangnya bagi Jian Chen air tersebut tidaklah bernilai.


Jian Chen menggeleng kembali, ia hendak pergi keluar dari makam ini namun langkahnya terhenti ketika 4 saudara Lan menghalang langkahnya.


"Apa yang kalian lakukan?" Tanya Jian Chen tidak senang.


"Maaf Saudara Jian, kami tak bisa membiarkanmu pergi sebelum anda mengeluarkan cincin ruangmu." Lan Qiaoqiao masih berusaha tetap sopan pada Jian Chen.


"Bagaimana jika aku menolak?" Jian Chen menyipitkan matanya.


"Saudara Jian, kami tidak mau memaksamu apalagi menggunakan jalan kekerasan jadi kumohon turuti kemauan kami."


Jian Chen merapatkan giginya sebelum mengambil jarak dengan kelima gadis itu, "Jadi kalian ingin mencoba merampokku?!"


"Tenang Saudara Jian, kami tidak akan mengambil uang atau emasmu, kami hanya mengambil sesuatu yang menurut kami berharga."


Lan Qiaoqiao berusaha mengakhiri semua ini dengan jalur damai sebab Jian Chen telah berbuat baik pada keempat saudarinya. Andai itu orang lain mungkin ia akan menggunakan cara berbeda.


"Dan bagaimana jika aku masih mengatakan tidak, apa kalian akan membawa ini menggunakan jalur kekerasan." Jian Chen berkata dingin.


"Kami sudah berbicara baik denganmu karena kau telah menolong kami..." Lan Xiaxia mendengus, ia yang semenjak tadi terdiam tak bisa menahan kekesalannya lagi.


Lan Xiaxia menghilang dari pandangan sebelum muncul di dekat Jian Chen dan memberikan serangan tapak, Jian Chen tak kalah cepat lalu mengayunkan tapaknya hingga keduanya beradu dan menciptakan daya kejut.


Lan Xiaxia terlempar mundur beberapa meter sementara Jian Chen masih tetap dalam posisi berdirinya.


Keterkejutan terpampang bukan hanya Xiaxia, Lan Qiaoqiao dan 3 saudarinya juga terkejut.


Mereka tidak menyangka Jian Chen mempunyai kekuatan yang tinggi di usianya yang terlihat sama dengan mereka.


"Kakak Pertama, kita tak bisa mengalahkannya jika sendiri-sendiri, kita harus bekerjasama." Xiaxia memberitahu pada yang lain.


Lan Qiaoqiao menyadari tak bisa membujuk Jian Chen lebih jauh terutama pemuda itu sejak awal tidak tergoda dengan kecantikannya.


"Maaf Saudara Jian, kami harus menggunakan cara kasar seperti ini..."


Lan Qiaoqiao kemudian memberi instruksi ke 4 saudarinya yang seketika mengeluarkan pedang mereka masing-masing. Pedang kelimanya sangat unik dan berbeda-beda warna.


Lan Lingling memegang pedang berwarna merah, Lan Lulu pedang berwarna biru, pedang cokelat dipegang oleh Lan Yueyue dan begitu seterusnya, warna pedang mereka persis sama dengan warna anting yang mereka pakai.


Kelima saudara Lan itu juga ternyata adalah pendekar pedang, Jian Chen bisa memastikan hal tersebut ketika cara mereka memegang pedang.


Jian Chen kemudian mengeluarkan pedang pusaka kelas satunya melihat pertarungan yang pasti akan terjadi.


"Aku tidak menyangka kalian akan melakukan cara seperti ini, jika ini yang kalian minta maka aku tidak akan sungkan melawan kalian." Ucap Jian Chen dingin.


Tak peduli laki-laki atau wanita selama mereka berniat jahat padanya, Jian Chen tidak akan ragu untuk melawan mereka bahkan membunuhnya jika itu diperlukan.


Kelima gadis itu langsung berinisiatif maju terlebih dahulu sementara Jian Chen menyambut serangan mereka yang mengepungnya.


Pertarungan sengit terjadi dengan Jian Chen langsung berubah di posisi bertahan ketika diserang dari berbagai arah, kelima gadis itu menyerang Jian Chen bertubi-tubi tak membiarkan Jian Chen mengambil nafas walau hanya sejenak.


'Kekuatan mereka masing-masing berada di puncak Alam Kehidupan dan kekuatan satu dari mereka bisa mengalahkan pendekar Alam Bumi Tahap 2!' Batin Jian Chen terkejut.


Jian Chen harus akui kekuatan lima gadis kembar ini sangat kuat apalagi ketika mereka saling bekerja sama seperti ini membuat Jian Chen diposisi bertahan.


Jian Chen kemudian menggunakan teknik pedang pernafasan, kedua tepi bibirnya mengeluarkan uap putih.


"Teknik Pedang Bulan Purnama — Kilatan Bintang Pegasus!"


Jian Chen memainkan pedangnya dengan pola berputar berulang-ulang seperti pusaran angin turnado membuat kelima gadis itu kewalahan sebelum buru-buru mengambil jarak ke berbagai arah.


Jian Chen tersenyum sinis lalu menggunakan teknik pedang rembulan lainnya.


"Teknik Pedang Bulan Sirna — Debaran Cinta Lara!"


Mata kelima saudara Lan itu langsung melotot ketika menemukan Jian Chen terpecah menjadi 12 tubuh, sebelum mereka mencerna situasi, 12 tubuh Jian Chen langsung menghampiri mereka masing-masing dan mengayunkan pedangnya.


Kini posisi berubah dengan Jian Chen yang mendominasi pertarungan walau hanya beberapa waktu.


"Hmph! Kau pikir kami akan tertipu, mata kami bisa melihat semua ilusi." Lan Xiaxia mendengus kesal sebelum menghancurkan tubuh ilusi Jian Chen yang dilawannya.


Tubuh Jian Chen yang asli saat ini sedang melawan Lan Lingling, berbeda dengan empat saudarinya yang belum terluka Lan Lingling harus menerima beberapa sayatan karena melawan tubuh asli Jian Chen.


Keempat saudarinya ingin mengepung Jian Chen lagi namun Jian Chen sudah menggunakan teknik lainnya lagi.


"Ilusi? Kau boleh menebaknya sekarang... Teknik Pedang Bulan Separuh — Cerminan Tetesan Hujan."


Tubuh Jian Chen berpecah kembali namun kali ini menjadi lima, setiap cerminan dirinya menghadapi masing-masing dari mereka.


"Ini... Tidak mungkin..." Lan Xiaxia terkejut bukan main setelah menyadari semua bayangan Jian Chen adalah tubuh asli dan tidak ada ilusi dalam tekniknya.


Alhamdulillah saya bisa ke akun ini kembali, mari kita lanjutkan novel ini... Eh, jangan lupa like dan Votenya, ya? apa, masih belum? kalian sungguh tega pada author, minimal likenya ya...