
Jian Chen ingin bergerak maju lagi tetapi langkahnya terhenti ketika ada 2 pendekar bertopeng lainnya yang mendarat tak jauh dari pendekar bertopeng pertama.
Dua pendekar itu berada dikultivasi yang sama yaitu Alam Kehidupan Tahap 3, saat mereka sampai, keduanya terkejut melihat kondisi temannya yang sudah banyak luka.
“Apa yang terjadi padamu? Kau terluka oleh anak muda itu?” tanya salah satu temannya.
“Jangan tertipu oleh usia dan penampilannya, kemampuannya bertarung sangat tinggi dibanding kita sekalipun!” Pendekar bertopeng yang terluka menjawab sambil menyembuhkan lukanya.
Kedua pendekar bertopeng menoleh ke arah Jian Chen yang kini nafasnya terlihat memburu, meski tidak terlihat ada luka namun mereka bisa menyadari kalau Jian Chen sudah kelelahan.
Pemandangan melihat seorang remaja bersimpah darah membuat keduanya meneguk ludah, apalagi bau amis tercium menyengat. Bahkan ada sedikit keraguan untuk melawannya.
“Kita serang dia bersama-sama, aku yakin bocah itu sudah banyak kehabisan tenaga dalam!” ucap pendekar bertopeng yang terluka.
“Baik, kalau begitu cepatlah sembuhkan luka-lukamu, kita akan berjaga-jaga disini agar dia tidak berani maju.”
Mendengar itu Jian Chen justru bertindak cepat, dia tidak membiarkan pendekar bertopeng yang terluka menyembuhkan lukanya. Saat ini dia tidak bisa melawan 3 orang itu secara bersamaan karena tenaga dalamnya yang sudah menipis.
Pendekar bertopeng merasa lega saat dua rekannya menjaga didepannya, dia langsung memfokuskan untuk penyembuhan terlebih dahulu.
Satu hal yang ketiganya tak diduga adalah ketika mengira bahwa Jian Chen tak bisa berbuat banyak sebagai petarung jarang dekat, lawannya secara tiba-tiba melemparkan pedangnya.
Pedang yang dilemparkan Jian Chen mengenai dengan akurat, menembus dada pendekar bertopeng yang terluka itu. Dua rekannya bahkan tak bergeming sebelum akhirnya temannya itu ambruk ke tanah dengan mata melotot.
“Apa yang kau lakukan?!” Tanya salah satu dari keduanya dengan tatapan tidak percaya.
“Membunuhnya, apalagi…” Jian Chen menjawab santai, mengangkat bahu.
Bukan itu yang keduanya maksud, mereka mempertanyakan kenapa Jian Chen melemparkan pedang padahal dia seorang pendekar pedang, aksi tersebut adalah sesuatu yang jarang dilakukan pendekar berpedang sekalipun.
Pendekar pedang tanpa pedang seperti harimau tanpa taring, tidak akan ditakuti. Pendekar pedang dengan pedangnya seperti bagian tubuhnya, ketika kehilangannya tidak berbeda dengan kehilangan anggota badannya.
Hal itulah yang membuat kedua pendekar bertopeng bertanya-tanya dengan aksi Jian Chen tersebut.
“Aku tak akan biarkan kau hidup, kau harus mati ditanganku!” satu pendekar bertopeng histeris marah, dia langsung mencabut senjatanya dan bergerak menyerang Jian Chen tanpa berdiskusi dengan rekannya terlebih dahulu.
Jian Chen menghindari serangan itu seminimal mungkin sambil bergerak mundur, pikirannya berputar cepat, memikirkan cara untuk membunuh kedua lawannya sebelum tenaga dalamnya habis.
Pendekar topeng satunya lagi tidak langsung membantu melainkan mencabut pedang yang Jian Chen lempar di jasad temannya.
Matanya langsung terbuka lebar setelah mengetahui pedang Jian Chen tidak lebih hanyalah pedang biasa.
“Apa-apaan… Ini bukan pusaka kelas tinggi!?”
Pendekar bertopeng itu memastikan berkali-kali dengan membolak-balikan pedangnya namun tidak ada yang istimewa dari pedang tersebut selain sebuah pedang yang terbuat dari besi belaka.
Dia sudah melihat pertarungan Jian Chen dari awal saat bertarung dengan musuhnya, dia menyaksikan pedang Jian Chen dapat bercahaya dan bisa membelah tubuh lawannya tanpa tenaga yang berarti.
Sama dengan yang lainnya, dia mengira pedang yang ditangan Jian Chen merupakan sebuah pusaka kelas tinggi namun sepertinya dugaannya salah.
“Jika pedang ini memang hanya pedang biasa lalu cahaya emas itu datang dari mana? Sebentar, jangan-jangan bocah itu mempunyai elemen…”
Pendekar bertopeng tidak menyelesaikan ucapannya melainkan langsung bergerak ke arah rekannya yang sekarang sudah menjauh puluhan meter darinya.
Jian Chen tak dapat menghindari semua ayunan pedang musuhnya karena pandangan serta pikirannya mulai tidak fokus akibat terlalu banyak menggunakan tenaga dalam.
Disisi lain pendekar bertopeng yang menyerang Jian Chen justru dipenuhi dengan keterkejutan apalagi saat dirinya mengayunkan pedang ke arah dada Jian Chen akan timbul bunyi besi yang berbenturan.
Pendekar bertopeng tentu tahu itu adalah baju pelindung hanya saja setelah dialiri tenaga dalam yang besar sekalipun, baju pelindung Jian Chen tidak bisa ditembusnya.
Jian Chen terus bergerak mundur sambil menghindar sampai-sampai dia tidak menyadari dibelakangnya ada dinding tinggi. Pendekar bertopeng tersenyum penuh kemenangan ketika ruang gerak Jian Chen hampir nihil.
“Kali ini kau tak bisa menghindarinya!” Pendekar bertopeng tertawa lebar sambil mengayunkan pedangnya.
Pedang yang seharusnya bisa memotong leher lawannya itu tidak pernah sampai pada tujuannya karena secara tiba-tiba pedang itulah yang patah.
Jian Chen membuka telapak tangannya lalu mengalirkan tenaga dalam menjadi sebuah energi, kemudian telapak tangan Jian Chen bercahaya keemasan.
Jian Chen menggunakan elemen cahayanya seperti pada pedang Taring Putih, dengan sekali ayunan Jian Chen memotong pedang lawannya seperti tahu. Jian Chen kembali mengayunkan tangannya sekali lagi dan kali ini memotong tangan pendekar itu.
“Akh!”
Pendekar bertopeng buru-buru mundur saat tangannya jatuh dari tempat asalnya, dia segera mengalirkan tenaga dalam untuk memberhentikan pendarahannya yang keluar.
Nyatanya Jian Chen tidak berhenti walau ada jarak dengan musuhnya, dia mengayunkan tangannya pada udara kosong yang kemudian menciptakan gelombang energi emas dari ayunan tersebut.
Pendekar bertopeng sama sekali belum siap ketika Jian Chen bisa menembakkan cahaya emas itu. Gelombang energi emas melewati lehernya yang kemudian membuat kepalanya jatuh dari asalnya.
Setelahnya Jian Chen langsung jatuh berlutut dengan nafas yang terengah-engah sesudah menghabiskan seluruh tenaga dalam terakhirnya. Jika bukan karena tidak dalam keadaan terdesak, Jian Chen tidak akan menggunakan elemen cahayanya yang merenggut seluruh tenaga dalam yang tersisa.
Tidak lama kemudian pendekar bertopeng satunya sampai, ketika melihat temannya sudah terpenggal membuat wajahnya pucat.
Awalnya dia ingin kabur takut Jian Chen akan membunuhnya selanjutnya, rasa takut itu hilang berganti dengan keberanian serta kemarahan ketika Jian Chen ternyata sudah kehilangan tenaganya.
Jian Chen menyadari keberadaan orang itu, dia sudah menduga meski dirinya mengalahkan lawannya barusan tetap saja dia dalam keadaan bahaya.
Kini Jian Chen tidak mempunyai kekuatan lagi menghadapinya, jangankan untuk melakukan perlawanan, berdiri saja tidak bisa.
Pendekar bertopeng berjalan pelan mendekati Jian Chen sambil menarik pedangnya.
“Kau sudah membunuh puluhan orangk-orangku, membunuhmu tidak akan membuatmu termaapkan…” Pendekar bertopeng yang terakhir tidak mau mengambil resiko sehingga ia langsung menayunkan pedangnya.
“Apakah hanya sampai segini kehidupan keduaku…”
Jian Chen tersenyum pahit melihat pedang itu bergerak ke arahnya seolah waktu jadi melambat. Ia memejamkan mata dan berharap semua ini bukanlah akhir dari hayatnya.
Dari kejauhan, tiba-tiba ada sebuah pisau terbang melesat mengenai pergelangan tangan pendekar bertopeng itu, membuatnya melepaskan gagang pedangnya.
Pisau terbang kembali dilepaskan dan kali ini mengenai leher pendekar bertopeng itu membuatnya kesulitan bernafas sebelum akhirnya jatuh ke tanah.
“Tuan Muda Jian! Maap aku terlambat!”
“Nona Miou?”
Miou Lin tidak datang sendiri melainkan bersama rombongan pendekarnya, rombongan pendekar itu langsung bergerak mengelilingi Jian Chen untuk melindunginya.