
Jian Chen dan Miou Yue pergi keluar Akademi menuju tempat kediaman Miou Yue yang ada ditengah kota Qianshan.
Murid akademi seperti Miou Yue bukan satu-satunya yang memiliki tempat tinggal diluar, Meily dan Ziyun yang merupakan puteri dari ketua klan bahkan memiliki 2 tempat tinggal diluar Akademi.
Hal ini bermaksud supaya mereka mempunyai privasi sendiri, karena ada kalanya juga mereka dipanggil oleh klannya sedangkan di Akademi bukanlah tempat yang baik untuk berbincang tentang urusan klan.
Keduanya pergi dengan berjalan santai, mulanya Miou Yue menawarkan jasa kereta kuda namun Jian Chen menolak dan mengatakan bahwa ia ingin melihat-lihat suasana Kota Qianshan.
Selama diperjalanan Jian Chen banyak mengamati area sekelilingnya, bangunan-bangunan, lalu-lalang penduduk serta aktivitas yang mereka jalani.
Hal ini menimbulkan kenangan dikehidupan sebelumnya ketika Jian Chen berusia 27 tahun, dia pernah hidup dikota ini selama beberapa waktu.
“Walaupun jarak waktunya dengan sekarang 13 tahun lagi tetapi Kota Qianshan tidak banyak berubah selain jumlah penduduknya yang semakin naik.” Jian Chen menggelengkan kepala pelan.
Kota Qianshan memiliki jumlah penduduk yang besar, setiap tahunnya banyak sekali pendatang baru, entah dari mereka yang hanya berkelana atau sedang mengadu nasib di Ibu Kota.
Beberapa memang ada yang berhasil namun tidak sedikit dari mereka malah menjadi gelandangan atau pengemis.
Satu-satunya mayoritas pendatang baru adalah menjadi pedagang di Kota Qianshan, mereka membawa barang dagangan dari desa-desanya sebelum diperjualkan belikan disini.
Keuntungan yang didapat bukan main-main, para pedagang yang datang dari desa ketika kembali rata-rata hidupnya jadi lebih berkecukupan.
Hal ini membuat yang mendengarnya menjadi tertarik dan mereka ingin melakukan yang sama, tidak bisa dibayangkan pertumbuhan perekonomian di Kota Qianshan jauh melesat cepat dibanding kota lainnya.
Jian Chen membutuhkan waktu satu jam hingga sampai dikediaman Miou Yue, tempatnya lumayan luas, dikelilingi tembok disekitar halamannya.
“Bibi! Anda sedang disini?”
Miou Yue baru masuk halamannya saat didepan kediamannya ada seorang wanita yang duduk. Wanita itu berusia sekitar 22 tahunan, dia adalah guru sekaligus bibi Miou Yue dalam bidang alkemist.
Sebagai bagian dari klan Miou tentu Miou Yue belajar alkemist untuk masa depannya apalagi semua keluarganya merupakan ahli alkemist.
Miou Yue bergegas menghampiri bibinya lalu memberikan salam, Jian Chen disampingnya ikut melakukan yang sama.
“Yue’er, bukankah jadwal untuk mengajarimu besok, kenapa kau datang kesini lebih awal?”
“Bibi, aku cuma ingin menggunakan tungkuku sebentar untuk temanku.” Miou Yue menoleh pada Jian Chen.
Jian Chen memberikan salam padanya. “Namaku Jian Chen, salam kenal Nyonya.”
Gadis berusia 22 tahunan itu melirik Jian Chen dari bawah sampai atas sebelum mengangguk pelan. “Aku bibinya Yue’er, Miou Lin.”
Miou Yue kemudian menjelaskan bahwa Jian Chen butuh tungku alkimia untuk meracik ramuan pil. Miou Lin disisi lain mengerutkan alisnya, dia tidak pernah mendengar teman Miou Yue juga belajar ilmu alkemis.
“Jian Chen, anda bisa membuat pil?” tanya Miou Lin.
“Aku tidak terlalu yakin, Nyonya, aku hanya bisa membuat beberapa pil dasar saja.”
“Oh, itu menarik.” Miou Lin jadi penasaran melihat Jian Chen mengatakan itu dengan rendah hati jadi dia ikut mengawasi kedua remaja itu dibelakang ketika keduanya masuk ke rumah.
Pertama-tama Jian Chen mengeluarkan bahan-bahan serta tanaman herbal yang berada didalam Cincin Ruangnya. Ada tujuh tanaman yang ia gunakan untuk pembuatan pil. Tanaman-tanaman ini ia peroleh saat di Hutan Sunyi sebelumnya.
‘Apa yang sedang ia buat, aku belum pernah melihat resep dari bahan-bahan seperti ini?” Miou Lin dari belakang mengamatinya dengan heran.
Saat bahan-bahannya sudah dimasukan kedalam tungku Jian Chen mengulurkan tangannya lalu mengalirkan tenaga dalam untuk mengendalikan perapian pada api ditungku itu.
Jian Chen melakukannya dengan penuh konsentrasi, Miou Yue disampingnya ikut memperhatikan apa yang dilakukan Jian Chen dengan perasaan campur aduk.
Disisi yang sama Miou Lin juga memandangnya dengan tatapan tak percaya, matanya melebar ketika Jian Chen bisa mengendalikan perapian di tungku dengan keadaan stabil.
“Anak ini-! Dia bisa mengendalikan api itu dengan sempurna tanpa sedikitpun suhu apinya menurun atau naik.”
Miou Lin bahkan harus mengusap matanya kedua kali untuk memastikan kebenaran ini. Miou Lin sendiri pernah menyaksikan hal serupa dan setahunya yang bisa mengendalikan api sesempurna ini adalah seorang alkemist ditingkat Master.
Alkemis dibagi menjadi beberapa tingkatan sesuai dengan kemampuan mereka dalam membuat pil, tingkatan itu dimulai dari alkemis tingkat Pemula, tingkat Menengah, tingkat Tinggi hingga yang teratas adalah alkemis Tingkat Master.
Salah satu ciri dari Alkemist berkemampuan tinggi terletak pada cara mereka mengontrol api ditungku dan yang dilakukan Jian Chen sekarang bisa dibilang sudah sempurna.
Bagi Miou Lin yang memang seorang alkemist juga tentu menyadari ini, dirinya saja yang sudah terjun di dunia Alkemist beberapa tahun lalu tidak bisa mengendalikan api sebaik yang diperlihatkan Jian Chen.
Keterkejutan Miou Lin nyatanya belum apa-apa ketika Jian Chen sudah menyelesaikan pembuatan pilnya. Ternyata dengan bahan-bahan yang aneh itu Jian Chen bisa membentuk pil didalamnya.
Jian Chen mengambil pil itu lalu menelitinya setiap inci, dia memastikan bahwa pilnya dibuat dengan sempurna.
“Saudara Jian, pil apa yang kau buat?” Miou Yue semenjak tadi diam akhirnya bertanya, dia penasaran dengan pil berwarna biru itu.
“Ini adalah pil Bulan Biru, membantu seorang pendekar untuk berlatih penguatan tulang sebesar 30 persen.”
“Tiga puluh persen!?” Miou Yue dan Miou Lin terkejut bersamaan saat mendengarnya.
Miou Lin ikut duduk di samping Jian Chen, “Jian Chen bolehkan aku melihat pil itu?”
Jian Chen mengangguk lalu menyerahkan pilnya pada Miou Lin. Gadis muda itu tak lama gemetar saat memeriksa pilnya lebih jauh, pil yang ada ditangannya benar-benar pil berkualitas tinggi.
Miou Yue mungkin tidak bisa membedakan hal ini jika melihat saja tetapi Miou Lin berbeda, dia sebagai seorang alkemis tentu mengetahui kulitas sebuah pil hanya dengan cara memandangnya.
“Jian Chen, apakah kau membuat racikan pil baru ini?” tanya Miou Lin memastikan.
“Aku tidak terlalu yakin tetapi sepertinya memang demikian.”
Kedua marga Miou itu menghirup napas dingin mendengar pernyataan langsung Jian Chen. Meracik pil baru dengan hanya membuat pil saja adalah dua hal yang berbeda, kesulitan meracik pil jenis baru jauh lebih sulit karena harus memalui banyak ekperimen dan sempel.
“Saudara Jian kalau boleh aku bertanya, berapa umurmu sekarang?”
“Itu… usiaku 14 tahun.”
Miou Lin terbatuk-batuk mendengarnya, ia menoleh ke arah wajah Jian Chen namun menemukan pemuda itu tidak sedang becanda. Miou Yue yang ada disampingnya juga tak kalah terkejut, dia justru baru mengetahui kalau Jian Chen masih berusia 14 tahun.