Kultivasi Cahaya

Kultivasi Cahaya
Eps. 192 — Sosok Misterius


Sebuah pilar cahaya melesat ke atas langit dengan terang, cahaya perak yang menyilaukan itu berasal dari tubuh Jian Chen.


Melihat ayahnya terluka parah hingga seperti itu membuat amarah yang di pendam Jian Chen memuncak tak terkendali. Seolah-olah tubuhnya mendidih dengan kemarahan.


Rasa kehilangan serta penyesalan dari kehidupan sebelumnya kini mulai terbayang lagi di pikiran Jian Chen. Pikirannya terasa kosong tetapi dadanya terasa sesak serta terbakar oleh lautan emosi.


"Akan kubunuh kalian semua!" Jian Chen berteriak lantang menimbulkan gelombang angin yang kuat yang menerpa ke segala penjuru klan Jian.


Di balut dengan petir perak, perlahan-lahan rambut hitam Jian Chen memanjang sebelum mulai berubah warna jadi perak, sebuah topeng putih terbentuk dari percikan petir yang memadat lalu menutupi sebagian wajahnya.


Mata emas Jian Chen juga sedikit berubah, kali ini warna mata emasnya seperti terselimuti kegelapan dengan sorot pandangannya jadi lebih dingin.


Di punggung Jian Chen ada 3 pasang sayap yang memiliki warna perak lengkap dengan bulu-bulunya yang berkilauan seperti berlian. Tubuh Jian perlahan-lahan melayang di udara.


"Ini apa yang terjadi sebenarnya?!" Lily sangat terkejut melihat transformasi Jian Chen yang mendadak berubah.


Lily mengetahui pemuda itu dilanda emosi namun tidak menyangka kemarahannya bakal sedahsyat ini. Enam sayap di punggung Jian Chen saat ini seperti sayap Lily hanya saja jumlahnya yang lebih banyak.


Lily merasa mengetahui fenomena ini dan terasa tidak asing di matanya, tubuh gadis itu secara tiba-tiba bergetar ketika ia berhasil mengingatnya.


"Tidak mungkin, jangan bilang dia memiliki garis darah...." Lily tidak bisa menyelesaikan ucapannya melainkan menelan ludah sembari menarik nafas dingin.


Lily tidak menyangka bahwa ia bersemayam di dalam tubuh pemuda yang memiliki garis darah istimewa. Padahal jelas-jelas ia terjebak di dunia yang kecil seperti ini.


Lily sudah menduga ibu Jian Chen yang dilawannya beberapa tahun lalu bukanlah orang biasa namun tidak pernah terpikirkan latar belakangnya bakal seluar biasa itu.


Kini tubuh Jian Chen mulai bergerak dengan nalurinya, kejadian itu terjadi ketika alam bawah sadar Jian Chen mengambil alih tubuhnya karena emosi yang tidak stabil.


Semua pandangan sekitar terarah ke atas dan melihat Jian Chen yang melayang, pertarungan klan Jian sejenak terhenti sesaat karena melihat adanya pilar cahaya itu.


***


Kini yang mengendalikan tubuh Jian Chen bukanlah Jian Chen itu sendiri, melainkan sebuah naluri dari dalam tubuhnya.


Kekuatan kultivasi Jian Chen meningkat pesat dengan tingkatan yang tidak dikenali, ia memegang pedang Asura lalu mengalirkan tenaga dalam padanya, pedang Asura kemudian berubah berwarna dari merah jadi ungu kehitaman.


Jian Chen menatap sekitarnya sesaat sebelum pandangannya jatuh ke kondisi keluarganya yang masih di kepung 8 kelompok pembunuh.


Kelompok pembunuh itu tidak bergerak karena terus menatap Jian Chen yang dikenal sebagai sosok bertopeng misterius yang melayang dengan sayapnya. Bukan hanya mereka bahkan Jian Ya juga teralihkan padanya.


Topeng yang menutupi Jian Chen terkesan mengintimidasi. Jian Chen kemudian bergerak dalam satu kedipan mata sebelum tiba-tiba muncul di dekat lima pembunuh yang ada di dekat Jian Wu dan Jian Ran.


"Apa, bagaimana bisa?!"


Kemunculan Jian Chen seperti datang dari ruang hampa dalam pandangan lima pembunuh itu.


Tiga orang yang ada di dekat Jian Ya tidak sampai berkedip melihat kematian rekannya, mereka hendak berlari tapi Jian Chen sudah menghilang lagi dan muncul di depannya.


Ketiganya bahkan belum sempat berkedip saat Jian Chen membunuhnya dalam sekali serangan.


Pedang Asura di tangan Jian Chen kini seperti memiliki ketajaman yang tanpa batas. Pedang pusaka ataupun baju pelindung tidak ada yang tidak bisa di tembus olehnya.


Pandangan Jian Chen menoleh pada Jian Ya sebelum pindah pada Jian Ran yang menangis, Jian Ran tidak memperhatikan Jian Chen di dekatnya karena perhatiannya tertuju pada suaminya yang terbaring lemah dengan sekarat.


Telapak tangan Jian Chen menyentuh dada Jian Wu, barulah saat itu Jian Ran melihat ke wajah Jian Chen. Biarpun demikian ia tidak mengenali orang di depannya adalah anaknya karena Jian Chen saat ini memakai topeng serta perubahan fisiknya tidak lagi seperti anaknya.


Jian Ran tidak takut pada Jian Chen, meski begitu ia tetap waspada karena Jian Chen menyentuh tubuh suaminya.


Jian Chen mengalirkan tenaga dalam pada tubuh Jian Wu yang membuatnya jadi terselimuti cahaya kehijauan, ketika tangan Jian Chen di angkat kembali luka dalam serta tusukan pedang Jian Wu tiba-tiba menghilang tanpa jejak.


Jian Wu kembali ke kondisi primanya meski belum sadarkan diri. Jian Ran menatap Jian Chen yang dikenalnya seseorang misterius lalu berterimakasih dalam isakan tangisnya.


Ia menyadari orang bertopeng itu telah menyelamatkan suaminya dari kondisi kritis.


Jian Chen tidak menjawab atau bereaksi apapun di balik topengnya bahkan ekspresinya terkesan datar dan dingin.


Jian Chen kemudian menatap ke atas langit tepatnya dimana tiga pendekar Alam Langit dari klan Liu ada di sana.


Tanpa berpamitan terlebih dahulu Jian Chen terbang ke udara dan bergerak ke arah tiga pendekar Alam Langit itu dengan sangat cepat


Jian Ya dari tadi terdiam bahkan berhati-hati dalam bernafas sebelum Jian Chen akhirnya pergi, ia benar-benar tak bisa menggerakkan tubuhnya beberapa saat karena instingnya sebagai pendekar mengatakan Jian Chen adalah sosok yang amat berbahaya.


Pemuda yang memakai topeng itu sungguh tidak biasa, kemunculannya terlalu tiba-tiba dari klan Jian sehingga Jian Ya tidak bisa mengetahui apakah ia di pihak lawan atau kawan.


Jian Ya yang sudah tenang menghampiri Jian Ran, dari tadi ibu muda itu tidak terlalu mendengar bayinya sedang menangis karena terlalu syok dengan kondisi suaminya yang kritis hampir kehilangan nyawa.


Jian Ya memahami begitu besarnya cinta Jian Ran pada suaminya, Jian Ran sepertinya belum siap kehilangan Jian Wu.


"Bibi Ran, biar aku gendong Rou'er?" Jian Ya mengulurkan tangannya sambil tersenyum lembut.


Jian Ran tersadar sebelum mengangguk pelan, ia ingin terlebih dulu menenangkan dirinya di dekat suaminya.


Jian Ya mengambil alih Jian Rou ke gendongannya, meski pertarungan belum berakhir tetapi Jian Ya anehnya merasa lega terutama ada sosok misterius itu.


Apalagi saat ini ketika ia melihat ke atas langit, sosok bertopeng misterius itu sedang melawan tiga pendekar Alam Langit bersama pedangnya.


Pertarungan mereka langsung dapat lirikan dari pasukan klan Liu atau klan Jian di bawahnya, peperangan sejenak terhenti karena melihat pertarungan yang hebat menggema di atas langit.