Kultivasi Cahaya

Kultivasi Cahaya
Eps. 302 — Kitab Raja Racun


Pasukan klan Chu segera mengejar para pasukan organisasi yang kabur, mereka tidak berniat membiarkan pasukan musuh pergi dari kota dalam keadaan hidup-hidup.


Gara-gara serangan organisasi itu banyak warga yang tidak bersalah menjadi korban dalam penyerangan ini, ditambah lagi bangunan kota yang hancur membuat kota Qianshan mengalami kehancuran yang tidak sedikit.


Para pasukan organisasi yang mulai dihadang mencoba melakukan perlawan untuk menemukan celah kabur dari pasukan klan, beberapa dari mereka berlutut menyerah sementara sebagian lainnya berusaha untuk fokus lari.


Biarpun dibantu dengan Jian Chen yang memburu mereka dengan buas, pasukan organisasi tetap ada yang lolos karena jumlah mereka terlalu banyak dari pasukan yang ada di pihaknya.


Jian Chen tidak menduga jika semua organisasi di Provinsi Naga Petir dikumpulkan dalam satu kelompok jumlahnya akan menyaingi pasukan kota bahkan lebih.


Setidaknya jika dihitung semua pasukan organisasi yang menyerang kota, pasukan organisasi kehilangan sembilan dari sepersepuluh jumlahnya.


Dengan jumlah yang kecil tersebut, Jian Chen pastikan bahwa para anggota organisasi itu tidak akan bangkit lagi. Lebih-lebih mereka akan cenderung membubarkan kelompoknya karena takut diburu oleh pihak pemerintahan.


Chu Di juga mengumumkan usai penyerangan ini telah benar-benar selesai, ia akan membentuk pasukan khusus yang bertujuan mengatasi para organisasi.


Chu Di menjadikan pengalaman ini sebagai pelajarannya untuk tidak membiarkan para organisasi terlalu lama atau semua akan terlambat seperti sekarang.


Tak lama kemudian suara kemenangan segera menggema di seluruh titik kota Qianshan, biarpun bukan kemenangan yang harus dirayakan namun kemenangan atas pemberantasan separuh lebih anggota organisasi merupakan kemenangan yang manis.


Keesokkan harinya, pasukan klan Chu mulai memakamkan korban-korban yang telah gugur atas penyerangan ini. Semua bangunan kota atau rumah yang hancur akan ditanggung oleh pemerintah.


Setidaknya hampir dua ratus lebih korban yang meninggal sementara jumlah yang terluka lebih banyak dari itu.


Kedatangan Jian Chen berhasil membuat korban di pihak kota Qianshan berkurang cukup jauh, andai ia datang terlambat lebih lama lagi maka jumlah korban mungkin mencapai ribuan.


Jian Chen menyaksikan penguburan itu dari jauh, ia menghela nafas sesaat, sering kali ketika sebuah penyerangan terjadi, ia gagal menghalangi jatuhnya korban walaupun ia mengetahui hal itu mustahil terjadi.


Kekuatan yang besar pun tetap memiliki batas kemampuannya, Jian Chen hanya berharap suatu hari nanti ia akan menciptakan perdamaian untuk orang-orang terdekatnya, keluarga serta orang terkasihnya.


Jian Chen kemudian melayang dan mulai terbang menuju penginapan asosiasi yang sudah ia siapkan bersama Jian Ya, setelah penyerangan ini ia mendadak merasa kelelahan, mungkin bukan fisiknya tetapi mentalnya yang terasa lelah.


***


Jian Chen tidur di kamarnya hampir selama dua belas jam, langit sudah gelap ketika ia melihat ke jendela luar.


Usai membersihkan dirinya dan tubuhnya kembali menjadi segar semula, Jian Chen mulai mengeluarkan dua cincin ruang yang ia ambil dari Shio Ular dan Shio Babi.


Jian Chen memeriksa cincin tersebut, berharap mendapatkan informasi atau sesuatu yang berguna. Tidak berangsur lama dua bola kecil seukuran genggaman tangan muncul di depan Jian Chen dengan warna yang berbeda.


Jian Chen tersenyum tipis saat mengenalnya sebagai mutiara elemen, warna mutiara itu satu berwarna hitam dan satunya lagi berwarna hijau tua.


Tanpa basa-basi ia langsung menelannya satu persatu, Jian Chen merasakan ada kekuatan tak kasat mata yang masuk ke dalam tubuhnya.


"Hm, baik, kita akan lihat elemen apa ini?", Jian Chen mengeluarkan sebuah daun untuk memeriksa elemen tersebut lalu meletakkan di atas telapak tangannya.


"Ini adalah elemen bayangan..." Jian Chen berdecak kagum saat menyadarinya, ia pernah mendengar elemen tersebut dari orang yang pernah ia lawan.


Jian Chen mengganti daun sebelumnya dengan daun lainnya, mencoba memeriksa elemen baru yang berikutnya. Berbeda dengan yang pertama, daun itu berubah jadi lebih kehijauan bahkan warna daunnya menjadi terlihat lebih muda.


Jian Chen tidak mengenali elemen tersebut, daun yang sama kini mulai tumbuh sebuah akar kecil didekatnya yang perlahan memanjang seperti tumbuhan pada umumnya.


"Ini, kenapa?" Jian Chen mengerutkan dahi.


Daun itu perlahan berubah menjadi sebuah pohon kecil yang tumbuh di telapak tangan Jian Chen. Mata pemuda itu melebar sekaligus terpana melihatnya.


"Elemen kayu, elemen yang langka di dunia persilatan, aku tidak menduga kau bisa melakukannya..." Ucap Lily dari dalam.


"Hm, aku baru mengetahui ada elemen semacam ini, bukankah ini terlihat tidak masuk akal, bisa menumbuhkan sebuah tanaman dengan cepat?"


Lily mengangguk pelan, tanda setuju dengan pendapat Jian Chen. Ia mengatakan Elemen Kayu disebut juga sebagai Elemen Kehidupan karena elemen tersebut bisa menciptakan sebuah kehidupan bagi orang-orang terdekatnya.


Menurut Lily, saat di dunianya, ada seseorang yang menciptakan hutan dengan elemen kayu, tanah yang tandus dan tidak subur pun bisa dirubah oleh mereka yang memiliki elemen kehidupan ini menjadi hutan yang rimbun.


"Bukankah itu berarti Elemen kayu itu sangat penting dan dibutuhkan oleh seluruh manusia dan mahluk lainnya?"


"Tentu saja, tapi seperti yang aku bilang mereka sangat langka, dibeberapa dunia saja belum tentu ada yang memiliki elemen kayu." Jelas Lily mengakhiri penjelasannya.


Jian Chen mengepalkan tangan antusias, ia berharap bisa mempelajari elemen tersebut lebih jauh meski tidak mengerti ia harus belajar dari mana.


Jian Chen kembali memfokuskan mengeluarkan barang-barang yang ada di cincin ruang, sebuah kitab tiba-tiba muncul di dekatnya.


Dari sampul kitab tersebut ada sebuah nama yang tertulis 'Kitab Raja Racun', Jian Chen kemudian teringat bahwa salah satu dari lawannya menggunakan serangan racun.


Jian Chen bisa dibilang sudah mempelajari tentang racun berkat ia belajar dari gurunya namun tidak sampai ia menguasai atau ahli di bidangnya.


Jian Chen membuka beberapa lembaran dan mulai membacanya, hasilnya pemuda itu tak henti-hentinya berdecak kagum setiap halaman per halaman yang dibukanya.


"Ini benar-benar kitab tingkat tinggi..."


Saat Jian Chen bertarung dengan Shio Ular, sebenarnya Shio Ular bukanlah ahli racun melainkan seorang pendekar pedang. Jian Chen menebak Shio Ular sempat mempelajari racun dari kitab ini meski ia bukanlah seorang ahli racun.


Dari kitab tersebut Jian Chen juga menemukan alasan Shio Ular sebelumnya bisa menyemburkan racun dari mulutnya, sederhana saja karena Shio Ular telah menyimpan racun itu ditubuhnya, tepatnya di bagian perut.


Dengan dialiri dengan tenaga dalam, racun itu tidak meracuni pemiliknya meski di dalam tubuh, sebaliknya ia juga dapat digunakan sebagai senjata yang mematikan.


Bukan hanya ilmu mengenai teknik racun, Jian Chen juga menemukan di Kitab Raja Racun ada cara membuat racikan racun dengan berbagai jenis, baik itu berefek ringan seperti gatal-gatal sampai racun yang mematikan yang bisa membunuh lawannya.