Kultivasi Cahaya

Kultivasi Cahaya
Eps. 247 — Kekacauan Kota III


"Aku? Kau boleh menyimpulkan bahwa aku termasuk bagian dari mereka ..." Jian Chen menunjuk para pendekar kelompok asosiasi.


"Tidak mungkin-! Bagaimana bisa mereka dapat mendapatkanmu?!"


"Hm, apakah itu penting? Kau tidak tau apa-apa jadi tidak harus bertanya lebih jauh, bukan?"


Shio Macan berusaha mendapatkan ketenangannya kembali meski itu terasa sulit, sebenarnya ia lebih mementingkan bagaimana Jian Chen dapat menggunakan tekniknya.


"Elemental Gravitasi, aku tidak menyangka di Kekaisaran Naga ada elemen asing seperti itu, sejujurnya aku lebih terkejut bagaimana elemen semacam ini bisa ada..." seolah bisa membaca pikiran Shio Macan, Jian Chen mengutarakan penjelasannya secara langsung.


Alasan Jian Chen bisa menggunakan teknik tekanan seperti Shio Macan karena ia menggunakan elemen yang sama dengannya yaitu element gravitasi.


Jian Chen kemudian melihat sekitarnya dan menemukan beberapa pendekar yang cukup jauh darinya melakukan pertarungan serta pembakaran pada bangunan-bangunan kota.


Aksi Jian Chen yang berpaling dan seolah tidak terganggu dengan kedatangan Shio Macan membuat sebagian pendekar di pasukan organisasi menganggapnya sebuah kesempatan untuk menyerang.


Tiga pendekar Alam Hampa tiba-tiba bergerak dan hendak menusuk Jian Chen dengan pedangnya, ketika pedang itu hampir menyentuh Jian Chen seketika senjata mereka berhenti sesenti dari jarak tubuhnya.


Jian Chen menoleh ke arah ketiganya lalu menjentikan jaringnya, tiga pendekar Alam Hampa itu seketika terhempas beberapa meter hingga mengenai bangunan warga.


"Aku sebenarnya ingin bermain-main dengan kekuatan ini tetapi sepertinya waktunya tidak tepat jadi mari kita bertarung serius sejak awal..." Jian Chen memberi tanda agar mereka maju.


Melihat pertarungan tak bisa dihindari, Shio Macan memberi instruksi pada Pendekar Alam Langit lainnya untuk maju.


Sekitar ada sepuluh pendekar Alam Langit di depannya dan belasan dua belas Alam Hampa, meraka kemudian langsung menyerang Jian Chen bersama-sama.


"Oh, langsung mengeroyok, kupikir kalian akan mengantri untuk melawanku..." Jian Chen tersenyum sinis.


Sebelum Jian Chen bergerak ke arah mereka, ia memberi tanda pada Pendekar Asosiasi untuk pergi dari sini.


"Kalian fokuskan untuk selamatkan warga desa yang mengungsi, serahkan mereka semua padaku."


"Tapi Tuan muda, anda bisa dalam bahaya jika melawan semuanya sendiri..." Pengurus Yuan menyadari kekuatan Jian Chen yang sangat tinggi namun melawan mereka semua jelas terlalu berlebihan.


Jian Chen menggeleng pelan, "Tenang saja, aku tidak akan mati disini, kalian fokuskan seperti yang aku perintahkan sebelumnya."


Pengurus Yuan mengigit bibirnya sementara pendekar asosiasi yang lain menunggu keputusannya. Setelah berpikir beberapa detik ia akhirnya mengangguk dan membawa pendekar asosiasi meninggalkan Jian Chen sendiri.


Jian Chen memang tidak membutuhkan bantuan sekarang, justru jika adanya mereka ia akan kehilangan fokusnya.


Dengan pasukan Asosiasi meninggalkan pertarungan Jian Chen dapat lebih mudah leluasa bertindak.


Shio Macan terlihat geram karena Jian Chen seperti menganggapnya remeh, " Akan kupastikan kau mati disini!"


"Bagus, kalau begitu aku menantikan itu terjadi..." Sesudah Jian Chen berucap demikian tiba-tiba ia hilang di pandangan semua musuhnya yang membuat lawannya celingukan kebingungan.


"Dimana dia?"


"Apa dia kabur?"


Langkah para pendekar organisasi langsung terhenti saat Jian Chen tiba-tiba menghilang seperti menyatu dengan ruang hampa.


Shio Macan bahkan langsung melayang di udara untuk mengamati situasi sekelilingnya.


Di tengah kewaspadaan itu, ada seseorang yang menepuk pundaknya. Jantung Shio Macan hampir berhenti saking terkejutnya dan saat ia menoleh ke belakang, dia menemukan Jian Chen sedang tersenyum ke arahnya.


"Kuharap kau tidak mati dengan satu pukulan ini..."


Sebelum Shio Macan mengambil jarak, Jian Chen mengayunkan tinjunya dengan sangat kuat ke arah perut lawannya.


Shio Macan merasakan isi perutnya hampir keluar, meski sudah menggunakan tameng tenaga dalam, pukulan Jian Chen tetap bisa menembusnya dengan mudah.


Tubuh Shio Macan terpental puluhan meter hingga terbanting-banting ke tanah dengan tulang rusuk yang hampir semuanya patah.


Jian Chen tidak langsung mengejar pria tua itu melainkan bergerak ke arah pendekar sepuluh Alam Langit dan Alam Hampa di sekitarnya.


Meski sempat merasa ragu, para pendekar tersebut tetap berani melawan Jian Chen terutama pendekar generasi lama.


Mereka pikir Jian Chen sudah menghabiskan banyak tenaga dalamnya saat memukul Shio Macan hingga sedahsyat itu. Lagi pula tidak mungkin Jian Chen mengalahkan dua puluh dua pendekar tingkat tinggi sekaligus, puncak pendekar Alam Langit pun akan kesulitan bahkan hanya untuk menang


Jian Chen baru pertama kali melawan belasan pendekar kuat sebanyak ini sekaligus, ia akui akan membutuhkan waktu lama untuk menang dari meraka meski berada di Alam Raja sekalipun tetapi masalahnya kekuatan Jian Chen sekarang telah berbeda dan jauh lebih kuat.


Dengan ilmu tangan kosongnya, Jian Chen dapat menahan serangan yang ada sambil sesekali memberikan serangan balik.


Jian Chen menggunakan serangan tapak pada musuhnya, biarpun terlihat sederhana namun ketika mengenai lawannya ia tetap mematikan.


Satu tapak Jian Chen akhirnya mengenai dada salah satu pendekar musuh, pendekar itu awalnya hanya terdorong beberapa langkah dengan dada yang terasa sesak, tetapi satu detik kemudian pandangannya tiba-tiba menjadi kabur sebelum akhirnya menjadi gelap untuk selamanya.


Walau tidak terlihat luka luar di kulitnya tetapi serangan tapak Jian Chen dapat menghancurkan bagian jantung dalam tubuh lawannya.


Jadi meski ia membunuh salah satu dari mereka, pendekar di dekatnya tidak menyadarinya. Kalaupun melihatnya mereka beranggapan bahwa rekannya itu tak sadarkan diri.


"Serangan tapaknya sangat kuat! Berhati-hatilah atau kau akan pingsan dibuatnya..." Seru salah satu pendekar.


Jian Chen bisa melihat masih tidak ada yang menyadari rekan mereka telah tumbang, Jian Chen terus menggunakan serangan tapaknya lebih kuat lagi sambil menghindari serangan yang ada.


Saat mereka masih asik menyerang, cahaya disekitarnya tiba-tiba menjadi gelap gulita seolah di serap oleh sesuatu.


Umumnya pendekar Alam Langit dan Alam Hampa mempunyai Indra yang tajam terlepas dari penglihatannya saja.


Jadi meski gelap teknik itu tidak terlalu cukup untuk melumpuhkan mereka namun Jian Chen menggunakannya untuk memberikan dirinya jeda sehingga dapat menyerang balik.


Para pendekar tidak menyadari hal tersebut karena serangan Jian Chen tidak menimbulkan suara, walau mereka bisa merasakan hawa keberadaan Jian Chen masih didekatnya tetapi tidak untuk serangannya.


Saat kegelapan menghilang, Jian Chen berhasil membunuh setengah dari mereka dengan serangan tapaknya yang mematikan.


Para pendekar yang tersisa mematung sebelum berubah menjadi murka, pendekar Alam Langit langsung mengeluarkan pusaka rahasianya masing-masing.


Jian Chen melihat tersebut hanya tersenyum canggung, jelas sekali para pendekar organisasi itu belum menyadari rekan-rekannya yang terkapar di tanah sudah kehilangan nyawa.


Jian Chen kali ini terlebih dulu bergerak maju, ketika dirinya disibukan oleh para pendekar itu, Shio Macan melakukan sesuatu.