Kultivasi Cahaya

Kultivasi Cahaya
Eps. 277 — Tujuan Jian Ya


"Hachi-!"


Jian Ya mendadak hidungnya terasa gatal tanpa sebab, ia bersin dengan nada kecil, membuat wajah manisnya terlihat imut sesaat.


"Kau tidak apa-apa, Yaya, apa kau sedang sakit?" Jian Fengxa mengangkat alisnya ketika gadis kecilnya tiba-tiba bersin.


"Tidak Ayah, tadi ada debu yang berterbangan di sekitarku..."


Jian Fengxa mengangguk pelan, ia berhenti melangkah ketika berada di depan halaman rumahnya. "Jadi apa kau yakin akan pergi sendiri ke sana, Ayah bisa carikan pengawal untuk menemani perjalananmu jika kau mau?"


Jian Ya menggeleng pelan, menolaknya halus. Lagi pula perjalanannya sebentar dan tidak terlalu berbahaya, cepat atau lambat ia juga akan kembali ke klannya.


Jian Ya kemudian melambaikan tangan, melangkah pergi dari rumahnya.


Di umurnya yang kini telah mencapai usia 23 tahun, kecantikan Jian Ya terlihat sangat sempurna, mempunyai paras yang manis dan selalu berpenampilan anggun.


Jian Ya bagai seorang keturunan bangsawan yang memancarkan aura kharisma, ia akan di hormati oleh orang sekitarnya, menarik perhatian yang lain ketika berada di jalanan ramai.


Banyak yang telah jatuh hati pada gadis itu tetapi hingga sampai saat ini tidak ada yang berani mengutarakan perasaan mereka terutama Jian Ya terlihat sempurna yang membuat mereka berpikir tidak pantas untuk disandingkan dengannya.


Seusai Jian Ya melakukan pelatihan tertutupnya selama dua tahun terakhir, Jian Ya telah mengalami kemajuan pesat yang bahkan kekuatannya berada di atas ayahnya.


Jian Ya telah mencapai ranah Alam Hampa di usia yang begitu muda. Di Kekaisaran Naga tidak ada yang pernah mencapai kultivasi tersebut di usia 20-an tahun.


Saat ini Jian Ya akan pergi ke pelabuhan serta ke kota pandai besi berada.


Gadis itu ke pelabuhan ingin menyambut Miou Lin sementara ia ke kota pandai besi untuk sekedar membantu keperluan klan Jian.


Biarpun sekarang ia tidak lagi menjabat menjadi pemimpin klan, Jian Ya tetap berusaha membantu ayahnya sebisa mungkin, termasuk ke kota pandai besi dimana peralatan atau senjata, hampir semuanya dibuat di sana.


Yang pertama gadis itu tuju adalah pergi ke pelabuhan, beberapa minggu sebelumnya ia sudah mendengar kabar bahwa Miou Lin sedang berada di ibukota, gadis itu berniat untuk memberi sambutan padanya.


Lagi pula, ada urusan penting ia harus bertemu dengan Miou Lin, Jian Ya ingin menanyakan seseorang pada Miou Lin mengenai kabar seorang pemuda yang sudah lama tidak ke klan Jian.


Beberapa tahun ini, Miou Lin dan Jian Ya memang sudah sangat dekat akibat saling bertemu bahkan hubungannya lebih dari sekedar rekan bisnis lagi.


Bagi Jian Ya, Miou Lin adalah teman dekatnya. Sudah lama sekali ia tidak mempunyai teman sebaya yang seusianya.


Setelah diperbolehkan oleh ayahnya untuk pergi keluar klan, Jian Ya terlebih dulu mendatangi sebuah kediaman di klan Jian.


Kediaman itu berada di tempat yang jauh dari pemukiman klan pada umumnya, keluarga kecil yang terlihat sangat harmonis dan penuh cinta.


"Suamiku, Rou'er sepertinya tertarik dengan dunia beladiri, ia pasti selalu melihatmu berlatih dihalaman rumah makanya dia jadi meniru gerakanmu?"


Jian Ran berada di dekapan suaminya, Jian Wu, gadis itu sedikit protes karena Jian Wu memperlihatkan hal yang tabu pada seorang anak usia tiga tahun yaitu pedang.


"Bukankah itu bagus, dia mungkin akan seperti kakaknya, Chen'er, mungkin dia akan jadi seorang jenius juga..."


Jian Wu tersenyum lembut, ia mengelus pucuk kepala istrinya sambil melihat Jian Rou yang sedang bermain pedang-pedangan di halaman rumah dengan ranting kayu.


Jian Rou sudah berusia hampir tiga tahun, gadis kecil itu memiliki wajah seperti ibunya, hanya matanya yang berwarna kecokelatan yang berasal dari gen ayahnya.


"Mau Ibu ambilkan air, Sayang?"


Gadis mungil itu terdiam sebentar sebelum mengangguk dan tersenyum lebar.


Jian Ran terkekeh pelan lalu beranjak dari dekapan suaminya dan pergi ke dapur, sementara Jian Wu menyuruh putrinya itu duduk di pahanya.


"Rou'er, sedang apa tadi, belajar bermain pedang?" Jian Wu mengelus lembut gadis kecilnya.


Jian Rou mengangguk pelan dengan penuh semangat, "aku ingin belajar pedang seperti Ayah."


Jian Wu tertawa, "Boleh, mungkin nanti kau akan seperti kakakmu, dia juga hebat dalam beladiri..."


Biarpun Jian Wu tidak mengetahui kekuatan Jian Chen sekarang tetapi ia bisa melihat kepintaran anaknya saat masih kecil dulu.


Ekspresi Jian Rou berubah cemberut, gadis mungil itu sudah sering mendengar tentang kakaknya di akademi yang kini sedang berlatih di sana selama beberapa tahun terakhir.


Jian Rou ingin bertemu kakaknya namun Jian Chen selalu tidak pulang setiap tahunnya.


Jian Wu tersenyum tipis melihat raut wajah putrinya tetapi ia tidak berbicara lebih jauh, ketika ia ingin mengubah topik pembicaraan, seseorang datang ke kediamannya.


"Kak Yaya, aku merindukanmu..." Jian Rou beranjak senang saat mengetahui orang tersebut adalah Jian Ya, gadis kecil itu kemudian berhambur memeluknya.


"Ah, Rou'er, kau semakin cantik saja..." Jian Ya tertawa kecil, menyambut tubuh gadis kecil itu lalu menggendongnya ke atas.


"Kak Yaya, apa kesini ingin bertemu dengan Rourou?"


Jian Ya mengangguk kecil. "Iya, aku sedang merindukanmu..."


Jian Rou bereaksi senang, bisa dibilang selama ini Jian Ya adalah teman bermainnya. Di samping itu Jian Ya juga memang sering ke kediaman Jian Wu setiap minggunya, bahkan pasangan suami istri itu sudah menganggap bahwa Jian Ya adalah bagian dari keluarga mereka.


"Ya'er, apa kau akan pergi ke kota pandai besi itu?" Jian Wu bertanya, menghentikan gerakan Jian Ya yang sedang bermain dengan putrinya.


Awalnya Jian Wu selalu memanggil Jian Ya dengan penuh hormat mengingat statusnya sebagai keturunan dari ketua klan Jian namun setelah Jian Ya meminta untuk dipanggil dengan panggilan seharusnya ia merubah panggilan tersebut.


"Iya Paman Wu, aku kesini ingin berpamitan pada Rourou sebelum pergi..." Jian Ya mencolek hidung Jian Rou yang membuat gadis itu memanyunkan bibirnya lucu.


"Ya'er, kenapa tidak bilang akan kesini, aku belum menyiapkan apapun untukmu." Jian Ran tak lama kemudian muncul di balik bingkai pintu, melihat Jian Ya ia merasa senang.


"Tidak apa Bibi, aku hanya ingin berpamitan kesini."


Jian Ya kemudian menurunkan Jian Rou dari gendongnya, gadis kecil itu segera berlari ke ibunya dan mengambil air putih yang dibawa.


Tidak banyak obrolan yang dilakukan Jian Ya di sana, sesekali Jian Ran kadang bertanya pada Jian Ya mengenai anaknya di Akademi.


Jian Ya tersenyum tipis, ia sudah mendengar berita dari Miou Lin bahwa Jian Chen sedang pergi ke luar provinsi untuk melakukan sesuatu, bukan berlatih di akademi. Selama ini Jian Ya selalu berbohong pada keluarga Jian Wu mengenai Jian Chen, hal ini membuat dirinya merasa bersalah pada mereka.


Jian Ya hanya mengatakan kalau Jian Chen sudah sangat kuat, melebihi murid manapun di sana. Jian Ya hanya mengatakan tentang potensi Jian Chen yang kemungkinan akan benar.


Selepas beberapa percakapan, Jian Ya kemudian berpamitan pada keluarga kecil tersebut. Ia kemudian memulai perjalanannya menuju pelabuhan.