
Langit malam begitu cerah dengan bintang dan rembulan yang menghiasi angkasa, malam seindah itu membawa ketenangan bagi siapa yang memandangnya namun tidak bagi penduduk klan Jian.
Semenjak matahari terbenam, penduduk klan Jian merasakan ketidaknyamanan yang entah dari mana, pikiran dan hati mereka di penuhi rasa gelisah.
Jian Ran dan Jian Wu adalah salah satu yang merasakannya, bayi kecil mereka sejak tadi terus menangis keras.
"Apa Rou'er masih menangis, Ran'er?" Jian Wu keluar dari rumahnya, menghampiri istrinya yang ada di beranda rumah yang masih sibuk menenangkan putri kecil mereka.
"Suamiku kamu terbangun." Jian Ran merasa bersalah, "maaf aku masih tidak mampu jadi ibu yang baik."
"Hsst, itu bukan salahmu. Aku hanya tidak bisa tidur malam ini, hatiku sejak tadi dipenuhi kegelisahan..."
Jian Ran menoleh pada suaminya. "Sebenarnya aku juga merasakan demikian, suamiku, dan mungkin Rou'er merasakan hal yang sama. Sebelumnya dia tidak pernah menangis seperti ini."
Jian Wu menghela nafas, firasatnya tiba-tiba buruk seolah akan terjadi sesuatu yang menimpa keluarganya.
"Suamiku, apa Chen'er baik-baik saja sekarang..." Jian Ran menatap suaminya dengan dalam.
"Dia akan baik-baik saja..." Jian Wu menarik tubuh istrinya dalam pelukannya, mengelus punggung gadis itu dan mengecup kening Jian Rou yang masih meronta menangis.
Jian Wu menatap ke atas langit malam, mencoba melihat bulan purnama yang indah namun yang ia temukan justru ada seseorang yang melayang di langit.
Ekspresi Jian Wu menjadi tegang, nafasnya menjadi tidak beraturan tetapi sebelum ia ingin mengatakan sesuatu, sebuah suara ledakan keras terdengar dari pusat klan.
Suara itu berasal dari gerbang klan yang berhasil di jebol, di susul ledakan itu ribuan orang berseragam hitam tiba-tiba memasuki klan dengan senjata.
***
"Serangan! Serangan! Klan Jian di serang!"
Petugas yang menjaga perbatasan klan memukul lonceng dengan keras, suara lonceng yang berdentang berulang-ulang mengisyaratkan situasi yang memang berbahaya.
Penduduk sekitar membutuhkan waktu sebelum mencerna situasinya ketika melihat beberapa pendekar berseragam hitam tiba-tiba menyerang para petugas klan Jian.
Situasi dengan cepat berubah menjadi kekacauan yang besar, para pasukan berseragam hitam itu bukan hanya menyerang warga setempat bahkan menghancurkan rumah-rumah di sekitarnya.
Hal itu lebih jelas terlihat dari atas, dimana tempat kediaman Jian Fengxa berada yang rumahnya ada di tempat tinggi.
Tubuh Jian Fengxa gemetar ketika melihat pasukan klan Liu masuk ke klannya seperti air bah bendungan yang jebol.
Ia menyadari telah melakukan kesalahan besar karena tidak mengungsikan penduduk lebih cepat.
Belum lagi ketika pandangannya jatuh ke langit, ia bisa melihat ada tiga pendekar yang melayang. Mereka tidak ikut berperang, justru terkesan menonton penyerangan itu terjadi.
Jian Fengxa tentu langsung mengetahui bahwa orang itu adalah tiga pendekar Alam Langit yang di maksud. Mereka di atas seperti memperlihatkan kekuatannya bahwa kemenangan klan Jian memang benar-benar mustahil.
Meski begitu ia tidak punya waktu untuk menenangkan hatinya, Jian Fengxa kemudian memerintahkan para pendekar klan Jian yang sebelumnya berkumpul di dekat kediamannya untuk menahan beberapa pasukan musuh sekuat yang mereka bisa.
"Klan Jian benar-benar dalam bahaya..." Seseorang muncul di belakang Jian Fengxa.
"Ayah." Jian Fengxa membungkuk hormat saat kakek dari Jian Ya, Jian Mo, muncul.
Jian Mo sebenarnya sedang melakukan latihan tertutup namun semenjak mengetahui akan ada penyerangan lagi pada klannya, ia pergi keluar dan berniat membantu bahkan siap mengorbankan nyawanya.
"Kita tak bisa memenangkan peperangan ini ataupun mempertahankan klan, yang kita bisa lakukan adalah mengungsikan para penduduk keluar dari wilayah klan secepatnya!"
Jian Mo menatap ke atas langit dan tersenyum tipis. "Aku akan menahan banyak musuh dan menjadi pusat perhatian mereka. Sisanya aku serahkan padamu Fengxa."
"Tapi ayah, itu..." Jian Fengxa mencoba menahan langkah Jian Mo.
"Kita tidak punya banyak waktu, berdiam diri tidak akan mengubah apapun. Nyawaku sejak awal sudah di pertaruhkan untuk menyelematkan klan Jian, aku tidak akan menyesal gugur di tempat aku lahir..."
Jian Mo tidak menunggu lagi, ia langsung bergerak ke arah pasukan klan Liu dan membunuhnya dalam sekali tebasan.
Jian Fengxa mengigit bibirnya, ia tidak bisa tinggal diam begitu saja, Jian Fengxa memerintahkan Tetua-tetua klannya untuk bergerak bersamanya dalam membantu para warga yang melarikan diri.
***
Jian Ya menutup matanya, berharap semua yang terjadi di depannya hanyalah sebuah mimpi. Ia saat ini sedang berada di atap bangunan untuk melihat jelas situasinya.
Kenyataannya realita tidak bisa di hindari walau kita berpaling, kejadian serangan klan Jian memang benar-benar terjadi sekarang dengan skala lebih mengerikan dari penyerangan sebelumnya.
Penyerangan ini di luar dugaan klannya karena sebelumnya mereka berpikir klan Liu akan membutuhkan waktu lebih lama mengingat mereka mengerahkan pasukan sebesar ini.
Karena waktu tidak bisa di ulang serta penyesalan selalu di bagian akhir, Jian Ya langsung bergerak ke salah satu pendekar klan Jian yang sedang bertarung dengan kepungan pasukan musuh.
Kedatangan Jian Ya membantu pendekar klan itu dalam mendominasi pertarungan, Jian Ya kemudian menggunakan teknik pedangnya yang lincah membuat pasukan klan Liu yang mengepungnya terpukul mundur.
Jian Ya terus membuat lawannya tersudut hingga tebasan demi tebasan memenuhi tubuh lawannya, ia mengalirkan tenaga dalam yang besar membuat lawannya kalah sekaligus jadi tak sadarkan diri.
"Nona Ya, terimakasih atas bantuanmu..."
Jian Ya mengangguk, "Kita tidak punya banyak waktu, cepat selamatkan para penduduk terlebih dulu!"
Sehabis berbicara demikian Jian Ya langsung bergerak membantu pendekar yang lain sementara orang yang di selamatkan itu berusaha membantu warga di sekitarnya.
Satu-satunya tempat yang penduduk klan Jian pikirkan ketika mendengar kata mengungsi adalah tempat di belakang gunung sebelumnya. Mereka mulai berlarian ke arah sana.
Jian Ya tidak menyalahkan hal itu karena untuk saat ini para warga tersebut harus berlari terlebih dulu dari area pertempuran.
Satu hal yang Jian Ya syukuri adalah para pasukan klan Liu tidak mengincar penduduk terlebih dulu melainkan para pendekar yang telah menguasai beladiri.
Tiga pendekar Alam Langit juga masih belum bergerak, sehingga Jian Ya bisa memfokuskan untuk bertarung dan menyelamatkan para penduduk yang ada di jangkauannya.