Kultivasi Cahaya

Kultivasi Cahaya
Eps. 217 — Penjara Bawah Tanah


Tanpa berbasa-basi lebih jauh Jian Chen langsung membunuh mereka setelah ia berhasil mendapatkan informasi dari keduanya, mereka ternyata berasal dari organisasi kecil yang bekerja sama dengan Organisasi Pedang Darah.


Salah satu informasi adalah keberadaan sang walikota asli yang ternyata di sekap di salah satu penjara bawah tanah.


Walikota di sekap bersama keluarganya serta semua para prajurit kota. Di sana juga tempat dimana orang-orang yang diculik di tunda.


Informasi lainnya lagi mengenai markas Organisasi Pedang Darah berada, beruntung tenyata mereka mengetahuinya.


"Bagaimana, apa kau sudah berhasil?" Yue Lian bertanya ketika Jian Chen keluar dari kediaman walikota.


"Aku mendapatkan informasi yang kita butuhkan namun untuk sekarang kita harus menyelamatkan walikota serta orang-orang yang diculik..." Jian Chen juga menjelaskan bahwa para penjaga disini bukanlah orang-orang pemerintahan melainkan berasal dari organisasi jahat.


Yue Lian terkejut, ini berarti kasus kejatahan sudah sangat serius hingga organisasi dapat melakukan kudeta. Umumnya organisasi selalu bersembunyi di balik bayangan namun melakukan tindakan seperti ini jelas adalah tanda peperangan.


Jian Chen juga menjelaskan tentang Organisasi Pedang Darah padanya yang sekaligus tempat dimana temannya sedang di culik.


Yue Lian terkejut dan lututnya terasa lebih lemas, ia jelas mengetahui tentang kekuatan Organisasi Pedang Darah, melawannya adalah mustahil dan berurusan dengan mereka adalah bencana.


Jian Chen tersenyum, ia akhirnya bisa melihat Yue Lian sedikit menyerah dalam mencari sahabatnya lebih jauh. Jian Chen kemudian mengajak Yue Lian ke penjara.


Tempat penjara yang biasanya digunakan menahan orang-orang jahat kini di telah tempati untuk tempat penculikan. Saat Jian Chen sampai di sana, penjara itu dijaga oleh banyak sekali pendekar.


Kali ini Jian Chen mengeluarkan sebuah pedang cadangan yang merupakan pusaka kelas bumi miliknya. Jian Chen tidak berniat lagi untuk membuat mereka tak sadarkan diri melainkan langsung membunuhnya.


"Kita tidak akan menyusup lagi, lebih tepatnya aku tidak akan bergerak secara diam-diam. Aku menarik perhatian semua musuh sementara kau selamatkan orang-orang yang di penjara."


"Apa maksud-..." Yue Lian belum selesai bicara saat Jian Chen tiba-tiba bergerak ke arah penjaga itu.


Para penjaga langsung menjadi waspada ketika melihat kedatangan Jian Chen yang memakai topeng, tubuh mereka merinding hebat dan merasakan ketakutan melihat aura kematian Jian Chen yang sengaja tidak disembunyikannya.


"Siapa kau, sebutkan namamu?" Salah satu penjaga berusaha agar tetap berani, menghunuskan pedangnya pada Jian Chen.


"Tidak perlu bertanya atau mengorek identitasku. Intinya aku kesini ingin membunuh kalian semua!"


"Jangan becanda! Kau pikir ini waktunya main-main?"


"Tentu saja tidak, sebab itu aku jujur dari awal!" Jian Chen memilih langsung bergerak ke arah mereka dan berusaha untuk menimbulkan perhatian sebanyak mungkin.


Yue Lian menyaksikan itu terpana, ia bisa melihat Jian Chen yang melawan puluhan mereka tak gentar melawannya bahkan ia mengungguli pertarungan.


Yue Lian sebenarnya ingin melihat kekuatan Jian Chen lebih jauh namun ia mengerti prioritas yang harus ia lakukan. Yue Lian kemudian mulai memasuki penjara bawah tanah yang kini tidak ada penjaga di sana.


Belum seperempat ia melangkah ke dalam, Yue Lian langsung di teriaki oleh para warga yang diculik. Melihat gadis cantik yang sepertinya bukan berasal dari kelompok penjahat membuat mereka lebih cepat mengerti bahwa Yue Lian sedang ingin menyelamatan seseorang.


Walikota dan para prajurit juga di tahan tak jauh dari sel korban penculikan berada.


"Nona, tolong selamatkan nyawaku, anakku masih menungguku sekarang di rumah!"


"Nona, aku berasal orang kaya, jika kau membebaskanku aku akan memberikan uang yang banyak padamu!"


Teriakan demi teriakan saling menyahut membuat ruangan penjara menjadi riuh.


Yue Lian kemudian memberi instruksi bahwa mereka harus tetap tenang serta jangan berisik, Yue Lian berjanji pada mereka akan melepaskan semuanya asal diam.


Mendengar itu seketika para warga yang diculik menjadi diam dan sedikit patuh, karena Yue Lian tidak mempunyai kunci untuk membukakan jeruji besinya akhirnya ia menggunakan dua pedangnya untuk memotong besi tersebut.


Aksi Yue Lian sekaligus sangat menakjubkan, para warga desa yang umumnya awam tentang beladiri dan dunia persilatan terkagum-kagum melihatnya padahal tindakan tersebut bersifat biasa saja bagi sebagian pendekar.


Lima menit Kemudian, Yue Lian akhirnya telah membebaskan semua korban penculikan tersebut namun dia memberi perintah pada mereka agar tidak langsung keluar.


Tanpa gadis itu jelaskan, para warga sudah mendengar kegaduhan dari atas mereka yang terkesan terdengar seseorang yang bertarung.


Kegaduhan itu semakin terdengar lebih keras hingga beberapa menit selanjutnya sebelum akhirnya perlahan mereda dan menjadi hening.


Yue Lian berada di posisi paling depan untuk memeriksa di luar penjara dan memastikan situasi Jian Chen.


Mata Yue Lian terbuka lebar ketika melihat apa yang terjadi di depannya, tanpa ada Jian Chen yang terlihat ia menemukan puluhan jasad tergelatak di tanah.


Isi perut Yue Lian terasa ingin keluar melihat pemandangan tersebut, para korban yang di culik juga bereaksi sama bahkan beberapa dari mereka langsung jatuh pingsan setelah melihatnya.


Yue Lian kini berpikir-pikir siapa pemuda yang bersamanya selama beberapa hari ini.


Yue Lian kemudian bergegas mencari keberadaan Jian Chen di sekitar kawasan kota sementara para warga yang diculik memilih diam di sana karena selain lebih aman juga mereka tidak mau melihat pemandangan di depan matanya.


Semakin Yue Lian bergerak maju maka semakin banyak jasad yang tergeletak, membuat gadis itu menelan ludah sambil menarik nafas dingin.


'Kurasa dia bukan menarik perhatian lawan tetapi ingin membantai mereka...'


Yue Lian hanya bersyukur dirinya masih hidup setelah berjalan bersama sosok yang berdarah dingin seperti Jian Chen.


Yue Lian terus mencari keberadaan Jian Chen lewat jejak-jejak jasad di tanah, jasad-jasad itu kebanyakan mati mengenaskan, beberapa dari mereka bahkan tidak dalam kondisi tubuh yang utuh.


Tidak membutuhkan waktu lama Yue Lian menemukan Jian Chen yang kini tengah duduk di atas genteng menara paling tinggi sambil menatap rembulan.


Di bawah menara itu masih ada belasan jasad yang sepertinya baru dihabisi oleh Jian Chen.


Tubuh Yue Lian bergetar hebat melihat Jian Chen yang sudah membuka topengnya, apalagi ketika mata emas yang menurutnya dulu sangat indah kini seperti terselimuti kegelapan yang dalam.


Meski ketakutan, Yue Lian masih tetap memandang Jian Chen, entah kenapa ia merasa Jian Chen sedang merasakan dua emosi yaitu kesedihan dan kesepian.


Jian Chen terus menatap rembulan sampai akhirnya matanya beralih ke yang lain lalu menemukan kekasih yang ia cintai di kehidupan pertama sedang menatapnya.


Jian Chen tersenyum canggung sebelum melompat dari menara dan mendekati Yue Lian. Ia tidak mengatakan apapun tentang apa yang di perbuatnya karena menurutnya hal inilah hukuman yang cocok bagi kelompok penculikan seperti mereka.


Dari pengalamannya, Jian Chen cukup yakin orang yang diculik tidak akan pernah kembali lagi. Ada kemungkinan mereka tewas sementara kemungkinan yang lain mereka akan menderita sepanjang hidupnya.