Kultivasi Cahaya

Kultivasi Cahaya
Eps. 149 — Menulusuri Makam Kuno III


"Kau menyadarinya bukan, jika kau tidak mempunyai mata anehmu itu, mungkin saat ini kau telah menjadi mayat." Lily berujar setelah Jian Chen berhasil melewati beberapa jebakan yang tak terlihat.


Jika bukan karena mata langitnya apa yang diucapkan Lily memang benar adanya. Jian Chen yakin bahkan Alam Langit sekalipun tidak akan bisa menerobos makan kuno ini.


"Aku tidak menyangka jebakan disini sangat mematikan, andai aku mengenai salah satunya mungkin tubuhku sudah mencair seperti tadi..."


Sebelumnya Jian Chen sudah mencoba untuk mengaktifkan salah satu jebakan di makam itu dengan menggunakan sebuah batu yang di lemparkan ke jebakan.


Hasilnya jauh yang Jian Chen duga, usai batu menekan tombolnya ada sebuah asap hijau yang muncul di dinding lorong.


Asap tersebut adalah racun yang sangat mematikan dan mengandung asam korosif yang tinggi, batu yang dilempar sebelumnya langsung meleleh seketika.


Jian Chen tak bisa membayangkan bagaimana jika seseorang menginjak jebakan tersebut, tubuhnya mungkin akan meleleh dan berubah menjadi cair.


Jian Chen menghela nafas, saat ini ia sudah terlanjur didalam jadi tidak bisa kembali lagi begitu saja. Selama dirinya menggunakan mata langit terus menerus Jian Chen yakin ia bisa selamat.


Jian Chen akhirnya tiba di ruangan ketiga, ruangan tersebut tidak kalah sama dengan ruangan sebelumnya namun isi didalamnya jelas berbeda.


Jika sebelumnya adalah gunungan emas maka di ruangan ketiga Jian Chen menemukan sebuah peti terbuka yang didalamnya berisi sebuah batu.


Batu tersebut berbeda dengan batu biasa, ia mempunyai warna kehijauan serta teksturnya seperti kaca. Ukuran batu itu hanya segenggam telapak tangan.


Jian Chen baru pertama kali melihat batu berkilauan seperti itu namun mempunyai gambaran untuk menebaknya.


"Apa ini Batu Roh yang dikatakan guru?" Gumam Jian Chen pelan. "Lily, apakah benar?"


"Lily? Siapa yang kau panggil, Hah?!" Lily berdecak kesal, ia tak menduga Jian Chen masih memanggilnya demikian.


Jian Chen tersenyum canggung, "Apa kau melihat itu, sepertinya batu itu bukan batu biasa, apa itu batu roh?"


Lily mendengus. "Iya dan berhenti panggil aku dengan sebutan itu lagi!"


Jian Chen menaikan satu alisnya "Kenapa, bukankah itu terdengar membuatmu jadi imut?"


"Imut kepalamu! Panggil aku sebagai Tuan Puteri..." Lily mendengus kesal.


Jian Chen menyeringai lebar, ia memilih pura-pura tidak mendengar gadis itu menggerutu.


Jian Chen kembali beralih menatap peti yang ada di atas meja kecil di tengah ruangan itu. Jian Chen menemukan hal yang sama yaitu ada selaput formasi yang melindungi peti tersebut.


"Jelas sekali peti ini adalah jebakan, tidak ada peti yang terbuka seperti ini kecuali memang disengaja..."


Jika itu orang lain yang kesini maka mereka akan langsung mengambil batu roh tersebut tanpa pikir panjang. Formasi yang ada di sekeliling peti itu akan bereaksi setelah di ambil, dan boleh jadi bisa membuat yang mengambilnya langsung terbunuh.


Formasi tersebut merupakan formasi yang kuat dan cukup rumit, memecahkannya bahkan sulit bagi ahli sekalipun.


Jian Chen bisa memecahkannya saja bisa dibilang kejeniusan, sebab itulah Lily keheranan dan sedikit takjub ketika Jian Chen bisa menonaktifkan formasi di ruangan sebelumnya.


Jian Chen kembali melakukan hal yang sama yaitu menuliskan sebuah aksara formasi yang sama dengan formasi di peti tersebut. Tak lama kemudian selaput formasi memudar dan Jian Chen bisa mengambil batunya.


"Aku tidak menyangka akan bertemu benda seperti ini disini, andai batu roh ini muncul ke permukaan dunia persilatan Kekaisaran Naga, mungkin setiap penjuru wilayah akan merebutkannya sampai mati..."


Jian Chen mengetahui bahwa batu roh adalah sumber daya berharga bagi kenaikan kultivasi seorang pendekar.


Jian Chen bisa mendapatkan batu roh dalam satu peti besar sekarang bisa dibilang sebagai keberuntungan langit.


Hanya saja batu roh hanya untuk kultivasi biasa, bagi Jian Chen yang menggunakan Kultivasi Dewa Cahaya, batu itu tidak terlalu berguna baginya.


Pada akhirnya Jian Chen tetap menyimpan peti batu roh tersebut karena mungkin Ia bisa memberikannya pada orang tuanya atau pada Meily dan Ziyun.


Jian Chen kembali melanjutkan menelusuri makam kuno setelah melihat ada lorong kelanjutannya. Hal ini membuat Ia penasaran kira-kira seperti apa harta karun di ujung makam tersebut.


Jian Chen tidak menemukan jebakan di lorong terakhir, ketika sampai di ruangan berikutnya ia mendapati sebuah batu melingkar dengan di tengahnya ada pedang yang melayang.


Pedang itu berwarna merah darah, Jian Chen langsung terkejut namun keterkejutannya bukan pada pedang yang melayang itu melainkan ke arah sekitar ruangan tersebut.


Ruangan yang sekarang jauh berbeda, ada lautan tengkorak dimana-mana yang memenuhi hampir ruangan ini.


Tengkorak-tengkorak itu memancarkan aura yang mencekam, jika bukan karena Jian Chen yang terbiasa membunuh mungkin ia tidak akan betah ada disini.


Jian Chen melangkah ke tempat batu melingkar berada, ia menggunakan elemen cahaya dan muncul di dekatnya.


"Pedang Asura atau Pedang Dewa Kematian, siapapun yang terpilih olehnya dipastikan memiliki takdir yang dipenuhi dengan darah dan kematian..." Gumam Jian Chen saat membaca huruf yang ada di batu pedang itu.


"Hm, apa berarti pedang ini tidak boleh disentuh?" Jian Chen mengamati pedang berwarna merah itu lebih teliti.


"Itu hanya kiasan kata, perandai-andaian, orang yang menulis di batu tersebut menjelaskan bahwa begitu berbahayanya pedang ini." Jelas Lily.


Jian Chen menyipitkan matanya. "Pedang ini sepertinya hampir sama dengan Pedang Dewa Es milik Ziyun..."


"Memang kenyataannya demikian!" Lily berdecak kesal.


"Itu berarti pedang Asura ini adalah pedang pusaka kuno?!" Jian Chen terkejut lalu mengulurkan tangannya berniat mengambil pedang itu namun Lily mencegahnya.


"Pedang ini tidak bisa kau sentuh sekarang, jika kau memegangnya maka nasibmu akan sama dengan tengkorak-tengkorak itu." Lily memberitahu. "Ada sebuah kutukan bagi yang memegangnya, siapapun yang menyentuhnya jiwanya akan terhisap ke pedang tersebut."


"Apa? Jadi aku tak bisa memilikinya?"


"Sebenarnya bisa saja tetapi aku yakin kau tidak mau melakukannya."


Ucapan Lily membuat Jian Chen mengerutkan dahinya, "Melakukan apa?"


"Melakukan sesuatu yang aku perintahkan dan kuyakin kau pasti tidak menginginkannya."


Jian Chen tersenyum tipis, "bisakah kau langsung keintinya, mungkin aku akan mempertimbangkan jika mendengarnya terlebih dahulu."


Lily menghela nafas sebelum menjelaskan kalau Jian Chen mau pedang itu ia harus menyerahkan tubuhnya beberapa saat padanya, Lily akan mencoba mengambil pedang itu ketika mengendalikan tubuh Jian Chen.


Tentu saja Jian Chen langsung menolak keras, "Ternyata benar, kau menginginkan tubuhku!?" Tuduh Jian Chen.


Lily berdecak kesal. "Sudah kubilang kau tidak akan mau jadi lupakan saja. Dan berhentilah menuduhku yang tidak-tidak, Tuan Puteri ini tidak sudi mengendalikan tubuh sepertimu!"


Jian Chen menggaruk kepalanya, disisi lain ia tertarik dengan pedang yang menyamai Pedang Dewa Es seperti milik Ziyun ini namun disisi lain ia tidak mau dengan rencana Lily.


Bisa saja gadis itu langsung mengambil alih tubuhnya saat ada kesempatan, Jian Chen tidak mau mengambil resiko.