Kultivasi Cahaya

Kultivasi Cahaya
Eps. 313 — Perampok Gurun


Rombongan pedagang yang di tumpangi Jian Chen dan Lily setidaknya terdapat lima kereta kuda di dalamnya. Jian Chen dan Lily duduk di salah satu kereta mereka.


Membutuhkan waktu setidaknya tiga hari untuk berjalan ke kota tujuan dengan menaiki kereta tersebut.


Di kala matahari mulai tenggelam, rombongan pedagang akan membuat api unggun di tengah padang pasir sementara kereta mereka di posisikan melingkar disisi api unggun itu agar tidak tertiup angin.


Jian Chen baru pertama kali ini bermalam di gurun, ia bisa merasakan dinginnya padang pasir tersebut ketika malam hari. Disisi yang sama Jian Chen mulai mengerti alasan kenapa para pedagang itu membawa selimut tebal.


Ketika rombongan Jian Chen berhenti, para pedagang yang semuanya hampir orang tua mulai menyantap perbekalan yang mereka bawa sebelumnya.


Mereka tampak bahagia dan tertawa-tawa ketika makan sambil mengobrol hal-hal lucu bersama, Jian Chen juga yang melihat mereka dari jauh juga tertawa kecil.


Pandangan Jian Chen jatuh pada Lily, gadis itu juga melihat ke arah yang serupa.


Jian Chen tidak yakin namun selintas gadis itu merasa iba dengan kondisi para pedagang tersebut.


Ketika malam kian larut, para pedagang itu biasanya akan bergantian berjaga namun karena sekarang ada Jian Chen, mereka bisa bisa leluasa tidur lebih lama.


"Sepertinya mereka bukan pedagang, tetapi berdagang yang di paksa oleh keadaan. Dari yang kulihat dagangannya, mereka hanya menjual peralatan rumah sendiri untuk dijadikan uang..." Jian Chen melihat para orang tua itu dengan perasaan prihatin.


"Biasanya kau akan membantu mereka, apa kau akan memberikan hartamu? Cibir Lily.


Jian Chen mengangguk pelan, tidak menutupi hal itu. Ketika keduanya sedang mengobrol, sesaat Jian Chen merasakan kehadiran seseorang dari jauh namun keberadaannya terasa samar-samar.


"Hm, apa kau bisa merasakannya?"


Jian Chen mengangguk, "Sekitar ada tiga orang yang mengawasi kita tetapi hanya beberapa detik sebelum mereka menghilang."


Lily berdecak kagum, padahal menurutnya jarak ia dan tiga orang yang memata-matainya berkisar ratusan meter tetapi pemuda itu bisa merasakannya dengan cepat dan menebak jumlah mereka dengan akurat.


"Hm, apa yang mereka rencanakan dengan memantau kami dari jarak jauh, ini tidak bagus..." Jian Chen mempunyai firasat buruk mengenai mata-mata tersebut.


Keesokan harinya, rombongan pedagang kembali melanjutkan perjalanan, Lily sedikit mengeluh karena kegerahan.


"Nona, seperti inilah hidup di gurun, tinggal lima hari mungkin kau akan terbiasa dengan panasnya..." Salah satu orang tua tertawa melihat Lily mengipasi tubuhnya dengan tangan.


Jian Chen tertawa kecil sementara Lily yang dinasehati hanya mendengus tanpa menjawab lebih jauh.


Lily sebenarnya ingin masuk ke Alam dantian Jian Chen namun pemuda itu melarangnya karena akan membuat para orang tua itu bertanya-tanya tentang keberadaannya jika menghilang begitu saja.


Karena kasihan melihat gadis itu kepanasan, Jian Chen akhirnya melepaskan hawa dingin di tubuhnya yang membuat orang-orang di sekitarnya merasakan sejuk.


Bukan hanya kereta yang ia tumpangi tetapi lima kereta disekitarnya juga merasakan dampak hawa dingin Jian Chen.


"Kenapa kau tidak melakukan ini sejak tadi..." Lily mendengus kesal.


Jian Chen tertawa kecil, disisi lain para orang tua yang merasakan kesejukan tersebut merasa heran dengan hawa dingin yang muncul tiba-tiba.


Rombongan kereta terus berjalan hingga malam kedua kembali tiba, seperti sebelumnya mereka akan berhenti dan membuat api unggun.


"Kakek, aku seorang pendekar, sudah jadi hal biasa berjaga di malam hari seperti ini..." Jian Chen tersenyum hangat dan mengatakan tidak apa-apa ia berjaga kembali.


Pada akhirnya Jian Chen dan Lily kembali tidak tidur malam itu.


Jian Chen sesekali melirik Lily, ia sedikit heran pada gadis yang duduk di sampingnya itu yang selalu menatap ke atas langit ketika malam hari tiba, tepatnya Lily selalu melihat ke arah bintang-bintang yang bersinar di atas sana.


Jian Chen sendiri tidak bertanya lebih jauh mengenai tindakan gadis itu, disisi lain ia kembali merasakan keberadaan seseorang lagi tetapi kali ini jumlahnya jauh lebih banyak.


Lily juga mengalihkan pandangannya pada salah satu arah, gadis itu lebih dulu menyadari keberadaan orang-orang tersebut sebelum Jian Chen.


Sebelum Jian Chen mengetahui lebih jauh tentang orang-orang tersebut, puluhan anak panah melesat ke arah rombongannya.


Jian Chen berdecak kesal, ia melompat lalu menarik pedangnya sebelum menangkis semua panah yang mengarah pada rombongan pedagang.


Gerakan pedang Jian Chen sangat cepat sehingga semua anak panah itu tidak ada yang lolos dan berhasil ia hancurkan di udara.


Jian Chen mendarat di tanah lalu melihat ada puluhan orang berjubah hitam sedang berbaris tak jauh dari rombongannya.


Rombongan itu adalah para perampok gurun, melihat Jian Chen menangkis semua senjata anak panahnya membuat mereka terkejut namun tidak membuat mereka menghentikan serangannya.


Kini anak panah kembali ditembakkan namun semuanya diarahkan pada Jian Chen.


Jian Chen tersenyum tipis sebelum mulai menghancurkan anak panah itu dengan pedangnya sambil terus berjalan maju untuk memperpendek jarak antara ia dan perampok tersebut.


Anak panah yang mereka lepaskan diselimuti tenaga dalam, orang biasa akan berlubang jika tubuhnya terlewati anak panah tersebut.


Jian Chen terus menghancurkan anak panah yang mereka lepaskan, pedang asura yang begitu tajam membuat setiap serangan yang mengarah padanya tidak menimbulkan suara ketika anak panah itu terbelah.


"Berapa banyak anak panah yang mereka simpan?" Jian Chen mengerutkan dahi saat tak henti-hentinya menghancurkan panah itu.


Jian Chen mulai mengubah taktik, ia sesekali menangkap anak panah tersebut sebelum melemparkan balik.


Tembakan panah yang Jian Chen lepaskan jauh lebih cepat, para perampok itu belum siap dengan apa yang dilakukan Jian Chen alhasil panah itu sempurna menancap di tubuhnya.


Menyaksikan anak panah mereka gagal melukai Jian Chen dan malah berakibat sebaliknya, para perompak gurun mulai mengarahkan busurnya pada rombongan pedagang lagi.


Lily mendengus melihat aksi tersebut, ia mengangkat tangannya ke atas seketika anak panah itu jadi berhenti di udara.


Aksi Lily membuat para perampok gurun terkejut bukan main, mereka baru pertama kali melihat teknik Lily, bukan hanya mereka saja tetapi Jian Chen juga bereaksi serupa.


Lily kemudian menjentikkan jarinya, anak panah yang sebelumnya melayang tiba-tiba mengarah pada perampok gurun sebelum melesat cepat ke arah para mereka.


Para perampok gurun sama sekali belum siap, sehingga anak panah itu menancap pas di tubuh mereka yang tepat mengenai bagian vital.


Dalam waktu seketika hanya semua para perampok gurun habis tidak tersisa, Jian Chen tersenyum tipis melihat aksi Lily yang membunuh mereka dalam sekali ayunan tangan.