Kultivasi Cahaya

Kultivasi Cahaya
Eps. 101 — Debaran Hati


Jian Chen harus akui tingkat kekuatan organisasi yang beraliansi hampir menyamai dengan kekuatan 10 klan terbesar di provinsi Naga Petir.


Andai bukan karena pertolongan klan Miou dan klan Niu mungkin klan Jian tidak akan sanggup menghadapinya, tidak mengherankan klan Jian binasa di kehidupan pertama Jian Chen.


Kemarahan serta kekejaman terlihat setiap kali Jian Chen membunuh setiap pasukan musuh dengan pedangnya, kebanyakan yang mati terbunuh dengan anggota tubuh yang tidak lengkap, baik itu kepala terpenggal atau tubuh yang terpotong.


Para penduduk klan Jian yang berada di dalam gua harus memalingkan wajah menyaksikan pembantaian tersebut, beberapa yang ingin menyaksikannya tak bisa bertahan lama karena tubuh mereka terasa mual menyaksikan darah dimana-mana.


Jika tidak menyaksikannya sendiri akan sulit bagi pihak klan Jian mengakui bahwa Jian Chen berada di pihaknya. Jian Chen lebih cocok berada di pihak musuh.


Jian Chen terus mengayunkan pedangnya sambil bergerak maju, setiap kali ia melangkah akan menimbulkan jejak darah.


Beberapa pendekar dari organisasi mencoba menghadang langkah Jian Chen terutama di Alam Kehidupan, meski bisa bertukar serangan beberapa jurus tetapi mereka tak bisa bertahan lama menghadapinya.


Satu perhatian para pasukan organisasi adalah pedang yang di genggam Jian Chen, pedang yang tajam dan bisa bercahaya, mereka menganggap bahwa pedang tersebut merupakan pedang pusaka langit.


“Kau pikir bisa membunuh sesukamu?!”


Lima pendekar organisasi yang berada di puncak Alam Kehidupan muncul menghadang langkah Jian Chen. Kelimanya tak membiarkan Jian Chen bergerak sesuka hatinya.


Langkah Jian Chen langsung terhenti, bukan karena keberadaan mereka tetapi cahaya pedangnya secara perlahan meredup. Jian Chen berdecak kesal, dia tak menyangka cahayanya akan menghilang bertepatan dengan munculnya mereka.


Melihat reaksi wajah dan pedang Jian Chen, lima pendekar itu segera mengerti tentang situasinya.


“Pedangnya sudah meredup, kita serang bersama-sama!”


“Dia tempak kelelahan aku yakin tenaga dalamnya pasti sudah habis.”


Kelima pendekar organisasi langsung menyerang Jian Chen bersamaan, Jian Chen berdecak sebelum menyambut serangan kelimanya.


Ayunan pedang Jian Chen terasa berbeda dengan teknik pedang sebelumnya, terlihat lebih lentur namun menguasai jalannya pertarungan.


Para penduduk klan Jian yang menonton di gua sangat terkejut melihat teknik pedang Jian Chen, karena mereka mengetahui teknik yang di pakainya merupakan teknik pedang yang berasal dari klannya.


“Suamiku, bukankah itu…” Jian Ran membuka mulutnya.


“Tidak mungkin-! bagaimana dia bisa menggunakan teknikku!” Jian Wu menahan nafas, sulit mempercayai apa yang dilihatnya.


Walau tidak sehebat teknik pedang klan Niu tetapi teknik pedang klan Jian juga sangat bagus, ciri khasnya adalah teknik pedangnya terlihat lebih lentur.


Jian Wu adalah yang paling terkejut dari semua penduduk klan Jian yang menonton, karena teknik yang digunakan pria bertopeng putih itu yang tak lain adalah tekniknya sendiri.


Jian Wu sudah sedikit memodifikasi teknik pedang klan Jian sehingga agak berbeda dengan teknik pedang klan Jian pada umumnya, seharusnya hanya dirinya saja yang bisa melakukannya karena Jian Wu tidak pernah mengajarkan pada orang lain kecuali satu orang yaitu puteranya.


Bukan hanya penduduk klan Jian saja yang terkejut, Jian Ya yang sedang bertarung dengan Tangan Besi juga tak kalah kaget saat menyadarinya.


“Dia? Bagaimana bisa…”


Jian Ya tak mungkin salah melihat bahwa itu adalah teknik yang di gunakannya sekarang, belum lagi teknik pedang yang digunakan pria bertopeng itu jauh lebih ahli darinya.


Jian Ya ingin sekali melihatnya lebih jauh andai tidak sedang bertarung, dirinya harus fokus menyerang Tangan Besi dan sesekali memandang penduduk klan Jian takut ada serangan dari arah lain.


Sementara Jian Ya dan Tangan Besi bertarung, Jian Chen melakukan pertarungan yang tak kalah sengit dari keduanya.


Dengan teknik yang sama Jian Chen membuat musuh-musuhnya kerepotan, meski tidak sampai membunuh dengan teknik tersebut tetapi teknik itu cukup membuat lawannya mengalami berbagai luka kecil.


Apalagi Jian Chen menggunakan mata langitnya, setiap gerakan musuh terasa lambat dimatanya dan Jian Chen dapat memprediksi setiap gerakan musuh tiga detik ke depan dengan pandangan Mata Dewa Langit.


Kelima pendekar semakin kesulitan menerima serangan Jian Chen yang bertubi-tubi hingga akhirnya kelimanya melompat menjaga jarak.


Aksi tersebut justru adalah hal yang Jian Chen inginkan, dengan begitu ia mempunyai waktu untuk mengeluarkan botol racikan lalu meminumnya. Seketika tenaga dalam yang tinggal sedikit terisi kembali.


“Teknik Pedang Bulan Separuh ~ Kesunyian Malam Terlarang!”


Jian Chen bergerak cepat sampai tidak terlihat, menebas leher-leher kelima pendekar organisasi itu dalam setiap ayunan pedangnya.


Teknik ini merupakan teknik yang sama dengan jurus dentingan kegelapan malam, bedanya dentingan kegelapan malam hanya menargetkan satu lawan saja sedangkan kesunyian malam terlarang bersifat area.


Aksi tersebut cukup membuat pasukan organisasi meneguk ludah dan menahan nafas dingin, menyaksikan pendekar alam puncak kehidupan mati dengan mudahnya membuat jiwa mereka berguncang.


Mereka tidak berani lagi menyerang Jian Chen setelah menyaksikan itu sementara si pelaku justru langsung terengah-engah sesudah menggunakan teknik pedang rembulan.


Tenaga dalam Jian Chen menipis lagi, ia kembali meminum botol racikan di cincin ruangnya, tepatnya 3 botol.


Walau hanya puluhan lingkaran tenaga dalam yang terisi tapi itu cukup untuk membantunya mengikuti pertempuran ini sampai beberapa menit ke depan.


Pandangan Jian Chen kemudian jatuh pada pertarungan Jian Ya dan Tangan Besi yang berada puluhan meter darinya, pertarungan tersebut cukup sengit membuat pendekar-pendekar di sekitarnya tak mau ikut campur.


Jian Chen menatap pertarungan itu sesaat sebelum memilih untuk kesana, apalagi dia melihat Jian Ya dalam bahaya.


***


Pertarungan Tangan Besi dan Jian Ya hampir berimbang, keduanya memiliki kekuatan hebat yang sama-sama kuat hanya saja Tangan Besi sedikit lebih unggul darinya.


Jika bukan karena perhatian Jian Ya yang selalu terbagi dengan penduduk klan Jian di dalam gua maka tidak terlalu sulit bagi Jian Ya menang melawan Tangan Besi.


Disisi lain Tangan Besi justru tak bisa menahan amarahnya, ia tidak menyangka akan berimbang dengan seorang wanita yang masih berusia 20-an, hal itu membuatnya tersinggung sebagai seorang pria yang sudah berumur.


Tangan Besi melancarkan ilmu tangan kosong yang kuat lagi tetapi Jian Ya bisa mengatasinya. Saat Tangan Besi menyadari perhatian lawannya terasa janggal hal itu justru membuat Tangan Besi mendapat siasat.


Tangan Besi mengalirkan tenaga dalam pada dua tangan besinya yang sekejap tangan pusaka itu berbalut api sangat panas.


Ia menembakan tinju-tinju api dari jarak jauh tetapi serangannya bukan pada Jian Ya melainkan pada gua di belakangnya.


Jian Ya buru-buru bergerak cepat dan menebas tinju api itu tetapi sayangnya hal tersebut adalah skenario Tangan Besi, usai Jian Ya menahan serangan itu Tangan Besi ternyata sudah ada di dekatnya dan mengayunkan tapak pada perut Jian Ya.


Seketika Jian Ya terlempar cukup jauh hingga tubuhnya menghantam bebatuan, Jian Ya meringis menahan rasa sakit, darah segar tercipta dari sudut bibir gadis itu.


Tangan Besi tak membiarkan Jian Ya bangkit lagi, dia mengayunkan tangannya yang seketika menimbulkan tinju api yang sangat kuat dari serangan sebelumnya.


Jian Ya berpikir dia tidak akan bisa menghindari tinju api tersebut sampai tiba-tiba ada seseorang yang muncul di depannya lalu menebas tinju api dengan pisau udara.


“Ketua Ya, anda tidak apa-apa?” orang yang menyelamatkan Jian Ya yang tak lain adalah pria bertopeng putih.


Pendekar bertopeng putih mengulurkan tangannya, membantu Jian Ya bangkit sedangkan gadis itu justru tampak terdiam.


Pendekar bertopeng putih tidak tau bahwa saat kedua tangannya bersentuhan, jantung Jian Ya berdebar lebih cepat bahkan wajah gadis itu terlihat tersipu memerah.


Jian Ya tidak mengerti tentang dirinya, walau tidak bisa melihat paras pria bertopeng itu tetapi perasaannya terasa campur aduk. Jian Ya pernah mengalami debaran jantung ini pada seseorang.


Meski sulit mengakuinya Jian Ya selalu berdebar ketika bertemu dengan Jian Chen, kini perasaan yang sama muncul terhadap pria bertopeng itu ketika berada dekat dengannya.


Tentu saja Jian Ya tidak mengetahui bawa pria bertopeng itu adalah Jian Chen.


“Te-terimakasih…” Jian Ya tersipu malu, melepaskan tangannya dari telapak tangan Jian Chen.


Jian Chen terlihat heran menyaksikan wajah Jian Ya yang memerah, sedikit tidak mengerti dengan ketua klannya itu. Ia kemudian berbalik dan menoleh ke Tangan Besi.


Tatapan Tangan Besi menjadi waspada, kedatangan Jian Chen terlalu mendadak dan tak bisa dilihat oleh matanya. Ia mengalirkan tenaga dalam pada pusaka tangannya yang seketika tercipta api yang panas.