
Jian Ya sejak kecil mempunyai keistimewaan di tubuhnya, selain orang terdekatnya, tidak ada yang tahu mengenai darah emas di tubuh gadis itu.
Darah emas Jian Ya bukan hanya bisa menyembuhkan luka seseorang tetapi ia juga dapat meningkatkan kekuatan fisik bagi yang meminumnya.
Tidak ada yang tahu sebab hal itu, Jian Ya juga tidak terlalu mengerti tentang kondisi tubuhnya yang berbeda.
Satu hal yang membuat Jian Ya merasa senang dengan darah emas di tubuhnya ia dapat menguasai berbagai elemen. Ya, berbagai elemen.
Sejauh ini ia telah mencoba elemen air, api, tanah, petir dan angin dan ia bisa menguasainya. Jian Ya seperti seseorang yang dapat menguasai semua elemen.
Belum sampai di sana, Jian Ya juga dianugerahkan jumlah tenaga dalam yang besar ketika masih kecil yaitu seribu lingkaran tenaga dalam.
Keluarganya sampai kebingungan dengan fenomena tersebut namun mereka tidak berbicara banyak melainkan merahasiakannya.
Ketika usianya terus bertambah, Jian Ya menyadari ada yang kurang dari keluarganya yaitu ia tidak memiliki sosok ibu.
Ketika ia bertanya pada ayahnya perihal demikian, Jian Fengxa selalu menghindar atau tidak mau menjawabnya. Di sisi yang sama Jian Ya melihat ayahnya begitu sedih ketika mengingat sosok istrinya.
Jian Ya hanya tahu ibunya masih hidup saat ia menguping secara tidak sengaja ketika ayahnya mengobrol dengan kakeknya, Jian Mo.
Pada akhirnya ia tidak bertanya lagi terutama di depan matanya ia melihat Jian Fengxa begitu menangis serta terpukul ketika membahas ibunya. Sampai saat itulah Jian Ya tak bertanya mengenai keberadaan ibunya.
Ketika usia Jian Ya menginjak remaja, gadis itu juga dianugerahi kecerdasan serta bakat yang tinggi.
Jian Ya dapat mempelajari banyak hal dengan cepat menggunakan pemahamannya yang tinggi, ia juga lebih cepat dewasa berkata didikan ayah serta kakeknya sebab itu di usia 17 tahun Jian Ya langsung di angkat jadi Ketua klan.
Jian Ya juga adalah jenius beladiri, misalnya di usia sekarang yaitu dua puluh satu tahun, gadis itu sudah berada di Alam Bumi.
Di kekaisaran Naga sekalipun akan sulit menemukan bakat setinggi Jian Ya bahkan boleh jadi tidak ada sama sekali.
Meski tidak mengatakan secara langsung Jian Ya juga beranggapan bahwa ia mempunyai bakat tinggi dan langka mengingat tubuhnya saja sudah istimewa namun semenjak ia bertemu seseorang, ia merasa bakatnya terasa kecil di depan orang itu.
Orang yang di maksud adalah Jian Chen, walaupun ia tidak melihat tingkat kultivasi pemuda itu namun dari segi kekuatannya, Jian Chen seperti berada di ranah Alam Bumi.
Meski begitu Jian Ya sedikit memahami beberapa hal, contohnya Jian Chen dari kecil memiliki pemikiran dewasa lebih dari usianya apalagi di saat perang klan Jian, ia melihat sesuatu tak biasa dengan tubuh pemuda itu.
Sampai saat ini ia masih tidak melupakan naga emas yang keluar dari tubuh Jian Chen, kekuatan serta tekanan naga yang mengerikan membuatnya gemetar dan ketakutan.
Di suatu hari, usai peperangan Klan Jian berakhir. Ayah Jian Ya datang dan memberikan sebuah kitab padanya.
"Ayah, kitab apa ini?"
"Itu adalah kitab dari ibumu..." Jian Fengxa tersenyum lembut lalu mengelus gadis kecilnya yang sudah mulai dewasa. "Dulu Ayah tidak langsung memberikannya karena kamu masih kecil, namun sekarang berbeda melihat kamu sudah tumbuh jadi gadis yang cantik."
Wajah Jian Ya memerah, ia mengalihkan perhatiannya dan membuka kitab itu. Mata Juan Ya menyipit karena ia tidak bisa membaca tulisannya.
"Aku tidak bisa membacanya?"
Jian Ya kemudian menuruti perintah ayahnya, seketika buku dengan tulisan aneh itu segera terbaca oleh mata Jian Ya.
Jian Fengxa melihat mata putrinya terbuka lebar dengan pandang tidak percaya. Ia hanya tersenyum tipis meski sudah menebak bakal terjadi.
"Ayah, kitab ini..." Jian Ya sampai sulit berkata-kata walau hanya membaca beberapa halaman saja.
"Kitab itu adalah pemberian ibumu padamu sebelum ia meninggalkan Ayah." Jian Fengxa menatap ke atas langit tepat rembulan melayang di sana. "Maaf selama ini Ayah tidak membahas tentang ibumu namun melihat kau sudah dewasa, tidak seharusnya ayah merahasiakan ini lagi."
"Ayah..." Jian Ya mengigit bibirnya.
Jian Fengxa tersenyum lalu mulai menceritakan tentang ibu Jian Ya yang bernama Yingyue Xian'er.
Secara garis besar, Jian Fengxa dan Yingyue Xian'er adalah sepasang kekasih yang saling mencintai.
Jian Fengxa terlambat menyadari identitas istrinya tidak sesederhana yang di dengar, suatu waktu ketika Jian Ya baru dilahirkan, ia menemukan ada seorang tamu yang menemui istrinya.
Jian Fengxa tidak terlalu mendengar percakapan istrinya dengan tamu itu namun setelah kejadian tersebut, Yingyue Xian'er mengatakan bahwa dirinya harus pergi.
Tentu saja Jian Fengxa menolaknya dan ingin mempertahankan istrinya agar selalu di sampingnya, hanya saja ketika ia mendengar penjelasan Yingyue Xian'er lebih jauh apalagi mengenai kepergiannya demi kebaikan klan Jian serta putrinya, Jian Fengxa menyadari situasi tidak sesederhana itu.
Sambil menangis di pelukan terakhir suaminya, Yingyue Xian'er berulang kali mengatakan bahwa dirinya sangat mencintai ia dan putrinya.
Yingyue Xian'er kemudian memberikan sebuah kitab pada Jian Fengxa agar di berikan pada Jian Ya setelah dewasa. Yingyue Xian'er juga menjelaskan bahwa putri mereka istimewa dan mempunyai garis keturunan darah murni.
"Garis darah murni, apa darah aku yang di maksud ibu?"
Jian Fengxa mengangguk dan mengelus pucuk kepala putrinya, "Kitab yang kamu pegang Yaya, itu adalah kitab beladiri tinggi yang mencakup berbagai aspek beladiri, tangan kosong, bermain pedang, elemen, serta pelatihan kultivasi..."
Dengan kitab itu Jian Fengxa berharap putrinya melakukan pelatihan tertutup dan membiarkan urusan klannya di serahkan padanya.
Jian Fengxa memahami andai putrinya benar-benar menguasai semua yang di ajarkan buku itu maka tidak menutup kemungkinan putrinya jadi pendekar yang tak tertandingi.
"Terima kasih Ayah, aku menyayangimu..." Jian Ya langsung memeluk ayahnya.
Jian Fengxa membalas pelukan putrinya sambil mengelus punggungnya. "Ayah harap kamu bisa bertemu ibumu jika sudah kuat nanti..."
Jian Ya melepaskan pelukannya, matanya sedikit berbeda di penuhi tekad dan keberanian. "Aku akan membawa Ibu ke sisi ayah lagi, itu adalah tujuan hidup Yaya."
Jian Fengxa tertawa, ia hampir lupa anaknya kini sudah menjadi gadis muda yang dewasa dan anggun. Di depan ayahnya sifat Jian Ya memang terkesan kekanak-kanakan karena dari kecil putrinya itu selalu di manja.
Kini Jian Fengxa justru berpikir ke yang lain terutama memikirkan pasangan yang akan menikah dengan putrinya nanti. Dia berharap siapapun laki-lakinya, dia adalah pemuda kuat yang dapat melindungi putrinya.
Setelah percakapan itu, Jian Ya kemudian melakukan pelatihan tertutup dengan bimbingan kitab dari ibunya.