
Jian Chen menggaruk kepalanya yang kesekian kalinya membuat wajahnya semakin kusut, sudah tiga hari berlalu semenjak ia pergi dari kediaman gurunya, Jian Chen masih tidak menemukan kota atau desa.
"Ini benar-benar buruk, seharusnya aku bertanya terlebih dulu pada Guru sebelum dia pergi, bukan jadi tersesat seperti ini." Jian Chen menghela nafas yang kesekian kalinya juga.
Selama tiga hari itu Jian Chen hanya menemukan hamparan hutan yang luas, dia akan berhenti ketika makan dan tidur beberapa saat selepasnya dia terus terbang. Walau terbang selama itu Jian Chen tidak menemukan sebuah kota.
Kali ini Jian Chen juga harus mendarat karena malam semakin larut, meski ia bisa saja terbang tanpa henti namun Jian Chen memilih untuk istirahat yang cukup dan juga makan. Ia membuat api unggun dan duduk di dekatnya sambil membakar ayam hutan yang di dapat barusan.
"Apa kau ingin aku bunuh?" Jian Chen menatap tajam harimau yang mengendap hendak menerkamnya.
Harimau itu semakin pelan mendekati Jian Chen namun saat di dekat mangsanya Jian Chen tiba-tiba melepaskan aura kematian yang pekat.
Aura kematian Jian Chen langsung membuat harimau itu kesulitan bernafas beberapa detik, Jian Chen menarik auranya membuat harimau itu kembali bisa bernafas lagi.
"Miau?!"
Harimau itu meringkuk ketakutan melihat Jian Chen, saking takutnya ia tak bisa bergerak dari tempatnya.
"Pergilah..." Jian Chen berkata pelan namun di telinga harimau itu seperti sebuah ancaman dan perintah, menyadari Jian Chen tidak tertarik kepadanya harimau itu lari terbirit-birit.
"Apa sebegitunya kau kesal hingga harus memarahi harimau..." Lily dari dalam tertawa mengejek.
"Diamlah..." Jian Chen berdecak kesal yang membuat lily justru semakin tertawa lepas.
Jian Chen memang sedikit frustasi karena ketersesatannya, di tambah Lily yang terus bicara membuat emosinya jadi mudah tersinggung.
Setelah makan Jian Chen tidur beberapa saat sebelum kembali melanjutkan perjalanannya dengan terbang ke atas langit. Jian Chen pikir hari keempat ini akan sama dengan tiga hari sebelumnya namun ternyata berbeda.
"Sudah kuduga, akhirnya ketemu..." Jian Chen berseru antusias melihat ada sebuah tempat yang pasti di buat oleh manusia. Ketika terbang berada di dekat tempat itu dahi Jian Chen berkerut sambil menggaruk kepalanya. "Hm, ada yang aneh..."
Tempat itu memang buatan manusia namun Jian Chen sedikit familiar dengan bentuk tempatnya. Sisi-sisinya memiliki benteng yang terbuat dari kayu, di setiap sudut benteng itu ada menara untuk memantau sekeliling.
"Markas perampok, jadi ada yang membangun di hutan seperti ini?"
Jian Chen sedikit memahami tentang markas para perampok terutama karena ia telah meratakan beberapa dari mereka. Umumnya para perampok selalu membangun markas di tempat yang tidak dijangkau manusia, tengah hutan adalah salah satunya.
Jian Chen ingin mendarat di markas perampok itu saat pandangannya jatuh tidak jauh dari markas.
Ia menemukan ada beberapa orang yang di kejar oleh satu orang perempuan.
Perempuan itu jelas lebih kuat dari orang yang dikejarnya, arah mereka berlari adalah menuju ke markas perampok.
Sang perempuan terus berlari dengan cepat sampai akhirnya ia bisa mengejar lawannya dan membunuh salah satunya dalam sekali tebasan.
Melihat rekannya terbunuh demikian mudah, mereka semakin menambahkan kecepatan larinya sementara perempuan itu tak kalah cepat berlari dengan dua pedang di tangannya.
"Berhenti kalian-! Aku akan membunuh atas apa yang kalian telah lakukan!" Sang perempuan berteriak geram pada orang yang di kejarnya.
Kecepatan mereka berlari akhirnya tiba di markas para perompak, orang-orang yang di kejar perempuan itu langsung berseru meminta bantuan pada yang lain mengatakan ada penyusup.
Saat itulah sang perempuan menyadari bahwa ia telah dijebak oleh orang yang di kejarnya.
Tidak lama mendengar seruan itu, para perompak yang ada di dalam markas langsung berhamburan keluar. Jumlah mereka lumayan banyak, sekitar 20 sampai tiga puluh orang.
"Gadis cantik, jadi kau yang mengejar kelompok kami?"
"Kau menjebakku, dasar pengecut!"
Gadis itu semakin geram namun tidak diburu emosi lagi, ia menjadi waspada dan melihat situasi lebih jauh.
"Pengecut? Kau saja yang terlalu naif mengejar anggota kami yang secara tidak langsung menyerahkan nyawamu... Tidak, maksudku jadi mainan kami." Pemimpin dari perampok itu menjilat bibirnya melihat kecantikan gadis di depannya.
"Hmph! Kau pikir aku diam saja, kebetulan aku menemukan markasmu, aku akan meratakan kalian semua!"
Pemimpin perampok itu tertawa diikuti bawahannya. "Meratakan kami? Dengan kemampuanmu? Yang benar saja..."
Gadis itu memang memiliki kekuatan yang cukup tinggi dibandingkan para perampok hanya saja ia kurang jumlah, posisinya tidak diuntungkan dan boleh jadi membahayakan nyawanya.
Tidak menunggu lebih lama lagi, para perampok langsung menyerbu sang gadis, mereka menyerang namun tidak berniat untuk membunuh, jelas niat mereka adalah menginginkan tubuh gadis itu.
Berbeda dengan lawannya, gadis itu bertarung dengan sungguh-sungguh. Posisinya yang di posisi bertahan membuatnya tidak punya waktu untuk menyerang.
Perlahan-lahan luka di tubuh gadis itu terukir, kekuatannya yang berada di Alam Kehidupan tahap pertama tidak bisa menahan puluhan mereka yang ada di Alam Jiwa.
Kelompok perampok itu sebetulnya adalah kelompok perampok kecil, tidak bisa di sandingkan dengan kelompok Menara Iblis yang besar serta bercabang.
Sang gadis kemudian menyemburkan api di mulutnya sekaligus membuatnya memisahkan diri dari kepungan para perampok.
"Lumayan juga, gadis manis, kemampuanmu tidak terlalu buruk ternyata..." Pemimpin perampok menepuk-nepuk pakaiannya yang sedikit terbakar api.
Nafas sang gadis sudah terputus-putus, tenaga dalamnya tinggal seberapa lagi namun ia masih tidak menemukan peluang untuk menang atau bahkan melarikan diri.
"Menyerahlah, aku akan menutup mata atas apa yang terjadi pada anggota yang kau bunuh, selama kau menyerah dengan baik-baik aku tidak akan melukaimu..."
Gadis itu membuang ludah. "Lebih baik aku mati dari pada jadi mainan kalian!"
Pemimpin perampok berdecak kesal. "Jangan paksa aku, jika kami serius sudah sejak tadi kau terbunuh!"
"Kalau begitu biar aku yang menghabisi kalian!" Sang gadis kembali menyerang terlebih dahulu, kali ini dia menggunakan teknik pedangnya.
Gerakan gadis itu menjadi lincah dan sulit di tebak alhasil dengan pedangnya ia membunuh beberapa dari mereka.
Melihat anggotanya terbunuh begitu saja membuat pemimpin perampok menjadi murka. "Bunuh dia sekarang!"
Dalam belasan jurus, sang gadis jadi tersudut karena lawannya kini bersungguh-sungguh mengeluarkan kekuatannya. Tidak membutuhkan waktu lama ia jatuh berlutut dengan kesadaran hampir menghilang akibat banyak darah yang keluar.
Pemimpin perampok yang terlanjur murka langsung mengangkat pedangnya, ingin mengayunkan pada gadis itu namun tiba-tiba tubuhnya terhenti seketika.
Sebuah aura tiba-tiba menekan tubuhnya yang membuat ia tak bisa bergerak, bukan dia saja bahkan anggotanya yang lain merasakan hal yang sama.
Sebelum pemimpin perampok itu mencerna situasinya tiba-tiba ada hembusan angin yang melewati tubuhnya yang sekaligus membuat pandangannya menjadi gelap selamanya.
Anggotanya juga tidak jauh berbeda dengan pemimpinnya, rata-rata dari mereka langsung tumbang ke tanah dengan kepala yang sudah terlepas.
Sang gadis tidak terlalu melihat kejadian itu karena kesadarannya sudah kabur dan memudar, ia hanya melihat selintas ada seseorang yang menangkap tubuhnya sebelum ia tak sadarkan diri.
"Aku tidak menyangka kita akan bertemu lagi..." Jian Chen tersenyum tipis, melihat gadis yang sudah terpejam di pangkuan dirinya.