
“Kuda-kudamu belum sempurna, hentakkan tapak kakimu ketika kau menendang dan utamakan kekuatanmu pada paha dan betis!”
Jian Chen memberikan masukan saat Jian Luan meminta dilatih dihalaman penginapan. Keduanya berlatih tanding.
“Untuk menggunakan tendangan melingkar pastikan kau harus berada diposisi seimbang, didalam teknik tendangan kau memerlukan keseimbangan yang tinggi!”
Setiap Jian Luan menyerang, Jian Chen memberikan masukan tentang kesalahan gerakannya, bukan hanya Jian Luan sendiri yang belajar tetapi murid klan Jian lain juga, mereka menonton disana, mendengarkan arahan-arahan Jian Chen.
Jian Luan terus memberikan pukulan serta tendangannya namun Jian Chen begitu mudah menghindari, Jian Chen kemudian balik menyerang, dengan sekali gerakan Jian Luan langsung terjatuh kalah.
“Hari ini sudah cukup! Saudara Luan berlatihlah menyempurnakan kuda-kudamu serta keseimbanganmu, itu adalah kesalahan yang sering kau lakukan…” Jian Chen mengulurkan tangan.
“Terimakasih, aku banyak belajar darimu.” Jian Luan tersenyum tipis sebelum menerima uluran itu.
Jian Chen mengakhiri latihan tersebut dan ia mengatakan akan pergi keluar akademi setelah ini, Jian Chen ingin membeli alat perlengkapannya sebagai seorang pendekar.
“Kalau aku boleh memberi saran, Saudara Chen, belilah perlengkapan pendekar di Toko Angsa Putih. Kemarin aku menemukan banyak perlengkapan yang bagus disana. Meski mahal tapi kualitasnya tak bisa diremehkan.”
“Hm, aku baru mendengarnya, apa itu toko baru?”
“Saudara Jian anda sungguh tak mengetahuinya?” Tanya Jian Luan dengan tatapan tak percaya. Ia kemudian menjelaskan jikalau klan Miou terkenal dengan khasiat pilnya maka Toko Angsa Putih terkenal dengan persenjatannya yang berkualitas.
“Toko itu sudah ada 2 tahun yang lalu, kemunculannya yang beberapa bulan awal langsung menjadi topik pembicaraan hangat dan hanya soal waktu Toko Angsa Putih jadi terkenal di Kota Qianshan.”
Jian Chen mengerutkan alis tapi tak bertanya lebih jauh, ia kemudian berpamitan pergi menuju tengah kota karena toko yang disebutkan Jian Luan berada disana.
Toko Angsa Putih ternyata jauh lebih terkenal ketika Jian Chen menanyakan alamat toko tersebut, tidak membutuhkan waktu lama hingga akhirnya ia menemukan toko yang dimaksud.
Jian Chen berdiri didepan toko itu dengan perasaan sedikit heran karena baru mendengar namanya. Dikehidupan sebelumnya ia tak pernah mendengar toko Angsa Putih sedangkan toko ini begitu terkenal dimasyarakat.
‘Hm, apa mungkin toko ini mengalami kebangkrutan 13 tahun kedepan?” Jian Chen sudah hidup 5 bulan Kota Qianshan diumur 27 tahun, tak ada toko yang sebesar dan sebagus ini.
Lamunan Jian Chen terpecah ketika pintu toko terbuka dan pemiliknya menyapanya dengan ramah.
“Tuan Muda, bisakah kami membantu apa yang Tuan Muda perlu?”
Pemilik toko itu adalah seorang pria sepuh berumur 60-an, badannya pendek serta mempunyai perut yang buncit. Dari leher hingga badannya tertempel banyak perhiasan emas yang mahal.
Jian Chen tersenyum canggung. “Kudengar toko ini memperjual belikan perlengkapan pendekar terbaik didaerah ini. Kualitasnya sangat tinggi, aku mau melihat isi-isi didalamnya…”
“Ah, Tuan Muda terlalu memuji, toko kami hanya menjual barang terbaik saja.” Pengurus toko itu tersenyum lebar, “mari masuk Tuan Muda, mungkin anda bakal tertarik dengan barang-barang yang kami miliki.”
Jian Chen mengangguk sebelum masuk kedalam toko itu sedangkan pengurus toko berjalan dibelakangnya, tidak ada seorangpun pelanggan didalam karena Jian Chen datang masih diawal hari.
“Kami banyak menjual persenjataan serta perlengkapan dengan bahan yang terbaik, pedang, panah, tombak, serta baju pelindung adalah hasil ciptaan toko kami sendiri…” Pengurus toko menjelaskan panjang lebar tentang tokonya di samping Jian Chen.
Jian Chen mendengar itu sambil melihat-lihat barang yang dijual, memang seperti yang dikatakan pengurus toko tersebut, kualitas perlengkapan disini sangat tinggi sampai-sampai Jian Chen yang melihatnya berdecak kagum.
‘Dengan kualitas setinggi ini harusnya toko ini jadi lebih maju dimasa depan, tapi kenapa aku baru mengetahuinya…’
Meski keheranan dengan pikirannya Jian Chen tetap memilih apa yang harus dibeli, salah satunya adalah baju pelindung yang bertatanan giok dan berlian. Jian Chen bisa merasakan begitu kuatnya baju pelindung tersebut.
Pengurus Toko terbatuk-batuk atas pilihan Jian Chen. “Tuan Muda bukannya aku tidak mau menjualnya tetapi baju pelindung ini sangat mahal, dibanding dengan barang lainnya baju pelindung ini memiliki harga paling tinggi di toko ini.”
Baju pelindung yang Jian Chen pilih bernama Baju Naga Giok, kualitasnya tak bisa disandingkan dengan baju pelindung besi biasa.
“Kami menjualnya seharga seratus ribu koin emas, semahal dengan harganya baju pelindung ini terbuat dari susunan berlian yang keras…”
Jian Chen mengeluarkan kantong kulit berisi uang yang disebutkan, “Apakah harganya cuma segitu?”
Pengurus Toko menelan ludahnya saat cahaya koin emas menyinari matanya, jauh sebelum Jian Chen memberikan uangnya pria sepuh itu sudah merampasnya di tangan Jian Chen.
“Tuan Muda sugguh hebat dalam memilih! Sekarang baju ini adalah Tuan Muda yang punya!”
Jian Chen menggelengkan kepala, dari karakternya, pria buncit itu adalah orang yang haus akan materi uang.
Jian Chen tidak berhenti disana, ia membeli peralatan yang lain seperti pisau lempar kualitas tinggi dengan jumlah puluhan. Alhasil si Pengurus Toko begitu kegirangan karena mendapatkan banyak uang.
Bersamaan saat si pengurus toko tengah membungkus peralataan yang Jian Chen pilih, ada dua pelanggan lain yang datang. Terlihat dua orang itu sedang melihat barang-barang yang ada sebelum ingin membelinya.
“Hm, Kenapa pedang hijau ini ada disini, bukankah kemarin dia sudah terjual oleh seseorang?” Gumam salah satu dari pelanggan itu.
“Iya, aku juga melihat dia memamerkannya setelah membeli. Apa menurutmu pedang hijau ini ada dua?”
“Entahlah, bukankah kata pengurus tokonya pedang hijau ini hanya ada satu saja dibuat. Mungkin orang itu tidak jadi membelinya.”
Kedua orang pelanggan itu sedikit berbincang soal pedang hijau didepannya namun Jian Chen tetap mendengar sekilas sebelum perhatiannya tertuju pada Pria paruh baya itu, dia sudah mengemasi barang-barang pesanan Jian Chen.
“Baju pelindung itu tak usah dikemas, aku akan memakainya sekarang…” Pengurus Toko mengangguk lalu membawa Jian Chen pada ruang ganti.
Saat memakainya tubuh Jian Chen tak merasa berat sedikitpun meskipun bahannya keras, hal tersebut menunjukkan kualitasnya baju pelindung ini memang tinggi. Jian Chen yakin tidak ada senjata yang bisa menembusnya, andai itu pusaka pun maka akan sulit untuk merusaknya.
Setelah itu Jian Chen berpamitan dari toko namun sebelum dia melangkah, Pengurus Toko memberikan sesuatu padanya.
“Tuan Muda yang baik, ini adalah kartu khusus dari toko kami. Andai nanti Tuan Muda hendak membeli lagi maka aku akan memberikan diskon 20% persen dalam setiap pembelian Tuan Muda.”
Jian Chen menerima kartu itu dan mengucapkan terima kasih padanya. Saat langkah Jian Chen sudah jauh senyuman lebar memenuhi pria Pengurus Toko tersebut, senyuman yang memancarkan niat terselubung didalam hatinya.
***
Ada satu lagi yang harus Jian Chen beli dengan uangnya salah satunya adalah membeli tempat tinggal diluar Akademi. Jian Chen membutuhkan tempat pribadinya sendiri karena ketika dipenginapan walau punya kamar pribadi ia tak bisa terlalu leluasa.
Jian Chen sedang mencari tempat tinggal itu sambil berjalan di tengah keramaian kota saat tiba-tiba ada seseorang yang memanggil namanya.
Jika itu Akademi maka ia tidak akan terkejut ada yang mengenal namanya namun kali ini dia berada di keramaian kota, mustahil ada yang mengetahui namanya.
Saat Jian Chen menoleh, ia menemukan dua wanita bertopeng berjalan menghampirinya. Meski tak dapat melihat wajahnya namun Jian Chen mengenal dari lekuk tubuh serta gaya rambut kedua wanita itu.
“Nona Meily, Nona Ziyun, apa itu kalian?” tebak Jian Chen saat keduanya didekatnya.
“Saudara Jian sungguh luar biasa, bisa mengenali kami dalam sekali lihat,” Ziyun tertawa kecil lalu sedikit membuka topengnya dan memperlihatkan wajah cantiknya sebelum ditutup kembali.
Berbeda dengan Ziyun, Meily yang disampingnya terdiam menunduk. Ziyun terkekeh melihat telinga sahabatnya memerah, satu hal dalam pikirannya, sahabatnya itu pasti sedang gugup.