
Jian Chen berhasil memusnahkan markas Menara Iblis yang kedua, tidak ada yang berhasil lolos dari pedangnya.
Ia menggunakan cara sembunyi-sembunyi di awal pertarungan, ketika kelompok para pembunuh itu menyadari ada penyusup semua sudah terlambat karena Jian Chen telah menghabisi separuh jumlah aslinya.
Para pembunuh berusaha melawan Jian Chen menggunakan jumlah tanpa tahu kekuatannya dan lawannya sangat berbeda jauh.
Ketika jumlah kelompok para pembunuh sudah puluhan orang saja, barulah mereka mulai menyadari kekuatan lawannya dan mencoba melarikan diri.
Sayangnya semua sudah terlambat, Jian Chen bisa mengejar mereka dengan jumlah yang sekian belum lagi lima gadis kembarnya tidak membiarkan mereka lolos begitu saja.
Jian Chen melepaskan para tahanan di suatu bangunan lalu memberikan uang yang cukup kepada mereka untuk memulai hidup kembali atau biaya pulang ke rumahnya.
Tentu saja uang itu tidak sebanding dengan apa yang telah mereka rasakan terutama para gadis.
Jian Chen menghela nafas, andai ia mempunyai kekuatan untuk menyembuhkan hati seseorang mungkin ia akan melakukannya sekarang. Jian Chen bisa melihat kondisi mental para gadis itu sudah hancur dan tak memiliki harapan untuk melanjutkan hidupnya.
Lima saudara Lan yang masih seorang gadis remaja berusaha menyemangati para gadis itu agar melupakan hal yang telah berlalu dan hidup di masa sekarang juga masa depan.
Jian Chen menggeleng kepala, jelas sekali kelimanya belum dewasa dan tidak mengerti apa yang gadis-gadis muda itu rasakan.
Rombongan tahanan akhirnya meninggalkan markas setelah Jian Chen memberi tahu jalan keluar dari hutan ini. Setelah semuanya telah selesai Jian Chen pergi ke markas selanjutnya.
Pedang Asura tidak pernah lepas dari telapak tangan Jian Chen, dengan mendatangi markas mereka satu persatu pedang itu begitu banyak mengambil nyawa.
Di malam itu ratusan nyawa telah Jian Chen ambil, pedang asura semakin bersinar sementara Jian Chen semakin kejam dalam membunuh.
Markas ketujuh akhirnya telah Jian Chen hancurkan, ia menginterogasi satu Tetua di markas itu untuk memberitahukan tempat markas terakhir sekaligus markas di mana Ketua Organisasi Menara Iblis ada di sana.
Sesudah Jian Chen mendapatkan informasinya ia memberikan hadiah sebuah kematian yang cepat dengan sekali ayunan pedangnya.
Sorot mata Jian Chen menjadi lebih dingin ketika jasad di depan matanya perlahan terbujur kaku.
"Saudara Jian, aku sudah..."
Lan Qiaoqiao ingin menghampiri Jian Chen dan memberikan laporan namun sebelum kalimatnya selesai ia melihat kondisi Jian Chen yang terlihat berbeda.
Lan Qiaoqiao tidak terlalu yakin namun ia merasakan kondisi mental Jian Chen tidak baik-baik saja, 'Apa karena Saudara Jian membunuh terlalu banyak hingga jadi seperti ini?'
Seseorang yang terlalu sering banyak membunuh akan mulai terganggu kondisi kesehatan jiwanya jika tidak bisa mengendalikan dirinya, di kasus yang buruk dia menjadi gelap mata dan membunuh siapa saja yang ia inginkan.
Hanya saja situasi Jian Chen terasa berbeda bagi Lan Qiaoqiao, gadis itu cukup yakin Jian Chen sedang merasakan kesedihan di hatinya.
Jian Chen kemudian melanjutkan misinya untuk pergi ke markas terkahir sebelum matahari terbit.
Berbeda dengan ke tujuh markasnya, markas kedelapan Organisasi Menara Iblis terlihat jauh lebih besar. Masalahnya saat ini mereka telah mengetahui bakal ada serangan yang datang, seseorang yang mungkin lolos dari markas sebelumnya telah melaporkan terkait pembantaian Jian Chen pada atasannya.
Di depan gerbang kayu itu kini sudah ada ratusan pembunuh yang berjejer rapih untuk melawan Jian Chen.
Pendekar itu berada di ranah Alam Bumi tahap 8 yang memimpin sekaligus orang yang membentuk organisasi Menara Iblis.
"Jadi kau yang telah berani menghancurkan organisasiku?" Tanya Ketua Menara Iblis dengan nada dingin.
"Ya, dan aku akan hapuskan organisasi kalian beserta dirimu sekaligus, kalian tidak bisa dibiarkan hidup setelah perlakukan kalian pada orang lemah..."
Jian Chen tidak mau berbincang lebih banyak, ia menyerap seluruh cahaya di sekelilingnya sebelum bergerak maju terlebih dulu, ketika sudah dekat Jian Chen juga melepaskan hawa dingin agar tubuh lawannya tidak bisa bergerak, pedang asura segera terayun dan bermain indah di tangan Jian Chen.
Kelima gadis kembar tidak terkejut dengan teknik Jian Chen karena sudah melihatnya saat menyerang markas sebelumnya.
Mata biru mereka bisa melihat dalam gelap, kelimanya mengeluarkan pisau rahasia lalu menembakkannya dalam jarak jauh, dengan cepat mereka bisa menghabisi musuhnya yang masih terdiam di tempat kegelapan.
"Sial! Apa yang terjadi sebenarnya?!" Ketua Menara Iblis merapatkan giginya saat suara jeritan bawahannya saling berteriak seperti merasakan rasa sakit yang hebat.
Dalam kegelapan serta rasa dingin itu Ketua Menara Iblis tidak bisa bergerak kemana-mana, bahkan ia tidak mengenal mana depan dan belakang.
Ketua Menara Iblis menganggap bahwa ini fenomena alam sampai tidak mengetahui ketika sekelilingnya terlihat kembali pasukan yang di kumpulkannya dengan susah payah hanya tersisa beberapa puluh saja dalam waktu hanya beberapa menit.
Ketakutan terpancar dari Ketua Menara Iblis, tubuhnya tak bisa berhenti bergetar melihat tatapan nafsu membunuh Jian Chen. Jantungnya berdetak lebih cepat saat tiba-tiba pandangan Jian Chen mengarah padanya.
Ketua Menara Iblis menyadari ia telah salah mengahadapi lawan, ia mungkin pembunuh darah dingin yang suka akan pembunuhan namun di banding sosok Jian Chen, pembunuhan yang dilakukannya terlihat kecil.
Jian Chen membiarkan sisanya di hadapi oleh lima gadis kembarnya sementara ia melangkah pelan menuju Ketua Menara Iblis.
Ketua Menara Iblis mundur perlahan dengan ketakutan, "Tunggu! Jika kau membunuhku, para tahanan yang di dalam akan terbunuh oleh bawahanku..."
Jian Chen tersenyum sinis. "Aku tidak peduli, saat ini yang terpenting adalah mencabut nyawamu terlebih dahulu."
"Aku tidak becanda!"
"Ya dan aku juga tidak peduli!"
Langkah Jian Chen semakin dekat, membuat Ketua Menara Iblis berkeringat dingin. Menyaksikan Jian Chen bertekad bulat ingin membunuhnya Ketua itu mulai meletakan senjata dan bersujud di depan Jian Chen.
Jian Chen sudah ada di hadapannya.
"Tuan, tolong maafkanlah aku yang tidak terampuni ini, aku pantas mati, aku punya keluarga yang harus kunafkahi biarkan aku hidup sebentar lagi..."
"Kau memohon demikian tapi apakah kau berpikir orang yang kau culik dan bunuh tidak mempunyai keluarga juga." Jian Chen merapatkan giginya, kemarahannya yang di tahan tak bisa terbendung lagi. "Percayalah, kematianmu adalah hal terbaik untuk dunia ini, membiarkanmu hidup sama saja membiarkan ribuan orang lain sengsara!"
"Tuan aku..."
Jian Chen tidak menunggu lagi, ia mengayunkan pedangnya dengan kuat dan menghabisi pria sepuh tersebut seketika.