Kultivasi Cahaya

Kultivasi Cahaya
Eps. 235 — Konflik Di Restoran


Setahu Jian Chen, Wu Yi adalah pendekar yang telah lama hilang di dunia persilatan semenjak belasan tahun yang lalu.


Dikabarkan dia sudah melakukan banyak pembunuhan bahkan sudah membentuk yang namanya aura pembunuh di tubuhnya.


Wu Yi dikenal sebagai Pendekar Kematian karena ia telah begitu banyak mengambil nyawa orang, konon siapapun yang ia incar tidak akan pernah hidup lagi, seolah kematian akan datang bagi yang di incarnya.


Para pemerintah Kekaisaran sudah bertindak sejak dulu, mengerahkan banyak pendekar kuat untuk menangkapnya, meski mereka berhasil membuat Wu Yi terluka parah namun untuk menangkapnya jelas berbeda.


Akibat lukanya yang parah serta umurnya yang semakin tua, Wu Yi memutuskan untuk pensiun dari dunia persilatan. Ada rumor yang mengatakan bahwa ia telah membuka perguruan sebagai penghabis waktu umurnya yang tersisa.


Jian Chen kini lebih memahami perkataan Manajer Asosiasi waktu lalu, berkat sumber daya pil yang ia buat, para pendekar yang terluka parah mulai sembuh kembali.


Kasus yang sama terjadi pada pendekar yang lebih tua, kriminal atau pahlawan yang harusnya telah pensiun sekarang muncul kembali ke permukaan setelah luka-luka dalam mereka telah sembuh.


Jian Chen menghela nafas, yang di khawatirkannya kini justru benar-benar terjadi, di kehidupan kedua ini ada banyak hal yang membuat takdir berbelok dari semestinya berkat campur tangan dirinya.


Di kehidupan pertama, Wu Yi telah meninggal saat Jian Chen berusia 28 tahun, kabar itu tersebar sampai sebagian Kekaisaran. Di kehidupannya sekarang, pria sepuh itu justru dalam kondisi sebaliknya, bukan hanya dia telah sembuh dari luka lamanya justru kondisinya lebih kuat dari sebelumnya.


Wu Yi telah datang bersama para muridnya, mereka memandangi area pengunjung restoran sementara semua pengunjung juga menatapnya balik.


Tidak ada yang bergerak ketika Wu Yi ada di sana kecuali Jian Chen yang santai dan terus melanjutkan makan.


Wu Yi tidak menutupi aura pembunuh yang dimilikinya sehingga mereka yang melihatnya dapat merasakan terancam serta intimidasi.


Ketika keheningan memenuhi restoran tersebut seorang pelayan memberanikan diri menghampiri Wu Yi serta menawarkan hidangan.


"Tuan, apakah anda membutuhkan sesuatu, restoran kami menyediakan berbagai menu dari berbagai daerah..." Pelayan itu sebenarnya ketakutan namun ia berusaha menahan intonasi bicaranya agar tidak kaku.


Wu Yi akhirnya menatap sang pelayan gadis itu yang membuatnya langsung berkeringat dingin.


Tanpa basa-basi, Wu Yi menarik pedang yang ada di pinggangnya yang merupakan pusaka kelas langit berwarna hitam. Wu Yi kemudian mengayunkannya pada pelayan itu.


Tindakan Wu Yi terlalu tiba-tiba bahkan para murid dibelakangnya juga tidak menyangka gurunya akan langsung main tangan.


Pelayan itu menjerit dan menutup mata melihat pedang bergerak ke arahnya, ketika ia berpikir akan mati tetapi sesaat pedang yang terayun padanya tidak pernah sampai.


Pelayan itu membuka mata perlahan, terlihat ada seseorang yang sudah berdiri di depannya dan menahan ayunan pedang Wu Yi dengan sebuah tongkat berwarna emas.


"Apa kau harus bertindak seperti ini hanya pada seorang pelayan?!" Orang yang memakai tongkat itu menggertakkan giginya kesal.


Wu Yi mendengus, tidak menjawabnya, ia mengayunkan kembali pusakanya kali ini di arahkan pada pria yang menahan pedangnya.


Pria itu tidak tinggal diam, ia menahan pedang Wu Yi dengan tongkat pusakanya. Ketika dua pusaka bertemu seketika menciptakan daya kejut.


Mata Wu Yi melebar, ia tidak menyangka pria didepannya dapat menahan ayunan pedangnya yang sudah dilapisi tenaga dalam.


Wu Yi mengambil jarak dengan pria itu sambil tersenyum lebar, sekarang ia bisa lebih melihat pria di depannya dengan lebih baik.


"Ah, aku tidak menyangka ada seseorang yang terhormat disini, bukankah kau disebut-sebut sebagai jagoan nomor 8 di Kekaisaran, Lun Zhi?!"


"Setelah sekian lama kau tidak ada dan dinyatakan pensiun, dilihat dari pusakamu sepertinya kau adalah kriminal itu, bukankah begitu Wu Yi?"


Wu Yi tidak tertawa lantang, "Kedatanganku kesini sepertinya memang benar-benar tepat, sebuah kehormatan bisa bertemu denganmu, apa kau juga mencari kitab itu?"


"Bukankah kau kesini juga dengan alasan yang sama." Lun Zhi tersenyum sinis.


Wu Yi terkekeh sebelum tiba-tiba mempersempit jaraknya lalu menyerang Lun Zhi dengan pedangnya. Kali ini Lun Zhi menggunakan teknik pedang dalam menyerang.


Lun Zhi menahan serangan itu, permainan pedang Wu Yi sangat tinggi dan cepat namun di depan Lun Zhi ia dapat menahan semua serangannya yang menghampirinya.


"Haruskah kau bertarung di tengah restoran seperti ini?" Lun Zhi berkata geram.


"Apakah kau takut, aku bisa melakukan pertarungan ini sampai mati kalau kau mau."


Wu Yi terus menyerang dengan hebat, setiap serangan menimbulkan gelombang angin ke area sekitar, merusak dinding restoran atau barang-barang yang ada.


Melihat keduanya merupakan pendekar tingkat tinggi para pendekar serta pelayan restoran segera mengambil jarak dari pertarungan tersebut kecuali satu orang yang masih diam di mejanya, melanjutkan tetap makan.


Orang itu seakan tidak terganggu dengan pertarungan di dekatnya, ia memilih menyantap hidangan yang kebetulan masih hangat.


Lun Zhi mengumpat pada orang itu, ia bisa saja mengimbangi Wu Yi bahkan memberikan serangan balik namun situasinya tidak menguntungkan, Lun Zhi beberapa kali memastikan tidak ada serangan yang mengenai pengunjung restoran.


Kekuatan Lun Zhi sebenarnya lebih kuat dari Wu Yi, Lun Zhi berada di Alam Langit tahap 6 sementara Wu Yi berada di tahap 5.


Melihat konsentrasi Lun Zhi terpecah Wu Yi mengayunkan pedangnya lebih cepat, kali ini ayunan pedangnya mengenai Lun Zhi yang membuatnya mengalami goresan pedang.


Meski hanya sekedar luka ringan saja tetapi Lun Zhi menyadari akan berdampak pada pertarungan berikutnya.


Wu Yi nyatanya tidak berhenti di sana, melihat kelemahan Lun Zhi, Wu Yi terus melakukan pertarungan sambil sesekali ia mengayunkan gelombang pedangnya ke arah lain.


Gelombang yang Wu Yi keluarkan di arahkan pada pada orang itu yang sedang makan, seorang pendekar akan terluka jika mengenai gelombang pedang Wu Yi atau bahkan terbunuh.


"Apa kau harus menyerangku ketika bertarung dengan seseorang?" Orang yang sedang makan kini menghentikan gerakan sumpitnya sambil menangkis gelombang pedang Wu Yi.


Wu Yi mengambil jarak dari Lun Zhi dan melihat serangannya tidak mempan pada orang itu.


"Bukankah kau terlalu pengecut untuk seorang yang sudah tua, bertarung licik demi kemenangan..." Orang itu tersenyum mengejek.


Wu Yi menyipitkan mata, seseorang yang dengan mudah menahan gelombang pedangnya menunjukkan bahwa orang itu berada di ranah Alam Hampa namun yang dilakukan orang di depannya ia dapat menahan gelombang pedangnya hanya dengan tangan kosong.


"Seseorang yang dapat menangkis seranganku dengan begitu mudah, sepertinya kekuatanmu tidak terlalu buruk?"


Wu Yi terlihat tenang, ia tidak terlalu terkejut ada pendekar kuat di Kota Anshan sekarang mengingat mereka semua datang dengan tujuan yang sama yaitu mengambil kitab.


Hanya saja ia sedikit terkejut ada pendekar yang terlihat muda di kota ini, seumur hidupnya yang melebihi usia seratus tahun lebih, ia belum pernah mendengar pendekar seperti pemuda di depannya apalagi mempunyai mata emas yang begitu memukau.