
Dua pria sepuh itu merupakan dua Tetua dari klan Wuming yang ditugaskan oleh Ketua klannya untuk menangkap Ziyun jika kembali ke Ibukota.
Setelah mendengar laporan dari petugas gerbang kota mereka langsung menuju ke penginapan yang disinggahi Ziyun.
Walau mereka sedikit terlambat seharusnya tidak ada yang menyadari pergerakan keduanya, tidak mereka sangka saat sudah berada di penginapan itu dua Tetua di hadapkan dengan seorang anak muda yang telah mengalahkan mata-mata bawahannya.
Masalahnya anak muda itu mengetahui jelas rencana keduanya padahal mengambil pusaka Ziyun adalah misi rahasia dari Ketua klan.
Hal ini membuat dua pria sepuh itu berpikir ada yang membocorkan rahasia misi ini, sebab itu mereka terkejut ketika Jian Chen menyinggung soal pusaka.
"Tidak perlu terkejut seperti itu, aku telah mengetahui apa yang kalian incar dari dua gadis di penginapan tersebut dan keberadaanku disini adalah menghalangi rencana kalian..." Jian Chen menggeleng pelan.
Salah satu Tetua menyipitkan matanya, "Bukankah kau terlalu percaya diri anak muda?"
"Kau boleh mencobanya apakah aku percaya diri atau hanya bualan belaka?" Jian Chen menggerakkan jarinya agar keduanya maju.
Dua Tetua itu saling pandang, mereka sepakat harus membunuh Jian Chen karena telah mengetahui rencana klannya.
"Kita kubur dia disini, membiarkannya hidup akan berdampak buruk bagi klan kita..."
Jian Chen tersenyum sinis mendengarnya, ia yakin jika dirinya saja bakal di bunuh apalagi Ziyun dan Meily yang mereka incar.
Kedua Tertua itu langsung mengeluarkan pusaka masing-masing, yang satu adalah senjata pisau tusuk dan satu lainnya memakai senjata golok pusaka, keduanya berniat menghabisi Jian Chen secepatnya.
Tanpa menunggu lebih lama keduanya bergerak menuju Jian Chen.
Jian Chen menghadapi keduanya dengan tangan kosong, biarpun keduanya menyerang secara bersamaan Jian Chen dapat mengungguli pertarungan itu dalam beberapa kali pertukaran jurus.
Keterkejutan terpampang dari dua Tetua itu, mereka tidak menduga anak muda yang terlihat belasan tahun tersebut mempunyai kekuatan yang amat tinggi.
Jian Chen tidak memberikan mereka jeda melainkan terus menghujani keduanya dengan serangan yang cepat.
"Apa-apaan anak muda ini, dia mempunyai kekuatan setinggi ini..." Salah satu Tetua bereaksi tegang ketika tendangan Jian Chen di tahan oleh kedua tangannya.
Kedua Tetua sepuh itu mulai menyerang Jian Chen lebih serius lagi, salah satu senjata mereka mengenai tubuh Jian Chen namun ketika bersentuhan dengan kulit lawannya, ia merasakan benda yang ditusuknya sekuat tenaga tidak bisa menembus kulitnya.
"Hm, lebih kuat dari yang kuduga..." Jian Chen sengaja meloloskan serangan itu untuk mencoba tekniknya sendiri.
Ia menggunakan Sisik Naga Langit untuk membuat tubuhnya jadi keras, pusaka seperti keduanya tidak dapat menembus kulitnya.
Jian Chen kemudian merubah teknik tangan kosongnya menjadi seperti sebuah tarian yang terlihat indah tetapi memiliki gerakan yang mematikan, berikutnya mereka semakin kewalahan dan beberapa serangan mengenai tubuhnya.
Setiap serangan Jian Chen seperti hantaman batu karang yang keras, jika bukan karena mereka Alam Langit mungkin sudah dari tadi tulang mereka patah tetapi tetap saja organ mereka merasa berpindah tempat.
"Gawat-! Dia bukan tandinganku..." Salah satu Tetua menyeka darah di sudut bibirnya sebelum membalikan badan dan kabur.
Tetua satunya lagi yang sedang di dekat Jian Chen tidak menyangka rekannya selama puluhan tahun bakal meninggalkan begitu saja. Ia ingin lari juga tetapi Jian Chen tidak membiarkan itu terjadi.
Jian Chen tersenyum lebar pada Tetua malang itu, "Maaf sepertinya kau harus mati disini..."
Jian Chen menendang keras lengan Tetua tersebut yang memegang senjata golok, ia meringis kesakitan karena tulang lengannya patah tetapi sebelum ia menjerit Jian Chen sudah menangkap goloknya yang di lepaskan sebelum menebaskannya ke arah lehernya.
Tetua yang kabur menarik nafasnya dingin saat melihat temannya mati dengan begitu cepat. Belum sempat ia menjernihkan pikirannya Jian Chen sudah mengejarnya dengan dengan kecepatan penuh.
Kecepatan yang ditunjukkan Jian Chen berada di atas Tetua itu sehingga dalam waktu cepat ia sudah menyusulnya.
Merasa bukan tandingan Jian Chen, Tetua itu buru-buru berlutut dan meminta pengampunannya.
Ia tidak bisa mati disini pikirnya apalagi setelah berhasil menerobos ke Alam Langit yang ia impikan sejak lama.
Jian Chen yang ingin menebas lehernya langsung menjadi urung setelah melihat dia memohon seperti itu.
Melihat Jian Chen berhasil dihasut dalam kata-katanya ia mulai memohon lebih keras bahkan sampai memuji-muji Jian Chen.
Jian Chen menghela nafas. "Baiklah aku akan mengampunimu..."
Tetua itu tersenyum lebar setelah mendengarnya tetapi dalam hatinya ia tersenyum sinis pada Jian Chen, pada akhirnya orang-orang selalu luluh dengan sebuah pujian yang sebenarnya tidak benar-benar ada pada dalam diri mereka.
Mengetahui dirinya diberi kesempatan hidup Tetua itu sampai lupa Jian Chen masih menatapnya dengan dingin.
"Aku memang membiarkanmu hidup tetapi bukan berarti tidak melakukan sesuatu padamu..." Jian Chen kemudian menendang perut Tetua itu dengan keras sampai ia terlempar dan memuntahkan darah.
Mata Tetua itu melebar saat menyadari sesuatu, bukan karena tendangan Jian Chen yang menyakitkan tetapi perlahan tapi pasti kultivasinya jadi menurun.
Tendangan Jian Chen barusan telah melenyapkan ilmu silatnya, tidak membutuhkan waktu lama sampai tenaga dalam di tubuh Tetua itu menghilang bagai asap.
"Kau..."
Tetua itu melotot ke arah Jian Chen dengan penuh amarah sebelum akhirnya ia pingsan akibat rasa sakit yang hebat.
Jian Chen mendengus, tampak tidak peduli dengan Tetua itu, ia menyadari kalau saja dirinya tidak ada atau kekuatannya lemah mungkin dirinya, Ziyun dan Meily sudah terbunuh oleh mereka.
Pertarungan Jian Chen dan dua Tetua itu berlangsung di atas atap bangunan, karena pertarungannya berlangsung singkat serta tidak terlalu menimbulkan suara sehingga tidak ada yang menyadari pertarungan mereka.
Jian Chen tidak menduga bahwa baru saja ia datang ke Ibukota sudah ada yang mengincarnya.
"Hm, apa sebaiknya aku melakukannya sekarang..."
Jian Chen sebenarnya sudah punya rencana untuk menghadapi klan Wuming tersebut tetapi setelah melihat perbuatan mereka ia berniat melakukannya malam ini.
Setelah menunggu beberapa saat untuk memastikan tidak ada lagi yang datang Jian Chen kemudian pergi menuju kediaman klan Wuming berada, menurutnya ia harus memberikan peringatan keras agar tidak menggangu Ziyun dan Meily apalagi sampai berniat membunuhnya.
***
"Siapa kau, tunjukkan identitasmu?!"
Dua penjaga dari perbatasan klan Wuming menghunuskan senjatanya saat Jian Chen melangkah pelan ke pintu masuk klan.
Dua penjaga itu tampak waspada karena Jian Chen datang saat malam hari.
"Aku? Hm, kau boleh menyebutku sebagai penghancur klan kalian atau apalah itu, yang pasti kedatanganku kesini adalah untuk memperingatkan klan Wuming!"
"Kau pikir aku sedang becanda?!" Penjaga itu merapatkan giginya kesal.
"Oh, kau boleh mengatakan aku demikian..."
Jian Chen kemudian muncul di hadapan penjaga itu lalu memberikan tendangan ke arah kepalanya, yang seketika membuat ia langsung tak sadarkan diri.
Penjaga satunya tampak ketakutan, ia bahkan tak bisa bergerak setelah menyaksikan kekuatan Jian Chen.
"Cepat panggil yang lain, aku akan membuat perhitungan pada kalian karena telah berbuat sesuatu pada seseorang..."
Melihat Jian Chen tidak berniat menyakitinya, penjaga itu buru-buru berlari ke dalam klan untuk melaporkan apa yang terjadi.
Jian Chen menggerakkan tubuhnya dan sedikit melakukan permanasan, ia kemudian mulai melangkahkan kakinya memasuki wilayah klan tersebut.