Kultivasi Cahaya

Kultivasi Cahaya
Eps. 80 — Markas Perampok


Jian Chen bukanlah satu-satunya yang ingin membantu Jian Ya melainkan pemuda itu juga.


“Aku ingin membalaskan dendam desaku pada perampok itu, lagian kalian membutuhkanku untuk menunjukkan jalan markas perampok tersebut.”


Alis Jian Chen terangkat, sikap pemuda yang sebelumnya menangis sambil memohon itu kini terlihat lebih ceria bahkan agak senang.


Jian Ya berpikir beberapa saat sebelum menyetujuinya tetapi ia mengatakan bahwa dirinya tidak berniat untuk melawan perampok itu jika kondisinya memungkinkan. Tujuan Jian Ya hanya satu, menyelamatkan warga desa yang diculik.


Akhirnya ketiganya berangkat dengan jalan kaki sedangkan siluman elang emas dibiarkan di desa ini. Menurut Jian Ya, hewan peliharaannya akan aman mengingat desa tersebut sangat terpencil dari desa lainnya.


Dengan menyelusuri jalan setapak hutan, pemuda tadi memimpin rombongan Jian Chen.


“Sepertinya paman sangat akrab dengan jalan ini?” Jian Chen bertanya heran.


“Aku sering ke jalan ini saat sedang memburu, kebetulan jalan yang sama juga mengarah pada markas perampok tersebut.”


Menurut pemuda itu, ketika warga desanya di rampok dan diculik ia diam-diam membuntuti kemana mereka pergi, setelah mengetahui letak markasnya, pemuda itu mengingat-ngingat setiap jalan yang pernah dia injak.


Satu jam lebih berlalu akhirnya ketiganya sampai di markas perampok tersebut.


Markas perampok berada didalam gua yang menganga besar, mereka membangun markas yang menyatu dengan gua tersebut sehingga tidak tampak jika dilihat dari atas langit.


Jian Ya memerintahkan Jian Chen dan sang pemuda untuk bergerak mengendap-ngendap sambil mendekati markas itu.


Niat awalnya Jian Ya ingin memastikan dulu kekuatan para perompak itu dengan bergerak disemak-semak namun ketika jaraknya sudah sangat dekat, tiba-tiba pemuda yang bersama dirinya bersiul keras.


“Apa yang kau lakukan?!”


Jian Ya menatap tajam pada pemuda yang di tolongnya, namun ketika pandangannya jatuh pada tangan pemuda itu, mata Jian Ya melebar.


Pemuda tadi sudah menempelkan pisau ke leher Jian Chen, belum sempat Jian Ya bereaksi di sekelilingnya muncul para perampok yang sudah mengepung. Pemuda tadi tersenyum lebar pada Jian Ya.


“Jika kau tidak mau kenapa-napa dengan anak ini, Jangan melawan!” pemuda itu mengancam Jian Ya yang hendak mengalirkan tenaga dalamnya.


Jian Ya mengigit bibirnya, sebetulnya ia bingung harus berbuat apa karena takut Jian Chen kenapa-napa. Meski bisa melawan mereka namun menyelamatkan Jian Chen adalah perkara yang berbeda.


“Kalian sudah menang, jangan sakiti dia!” Jian Ya mengangkat kedua tangannya.


Jian Ya tak habis pikir bahwa pemuda yang ditolongnya ternyata bekerjasama dengan perampok itu.


“Waw, aku tidak menyangka kau bisa mendapatkan gadis secantik ini?” salah satu perampok mengamati paras Jian Ya sambil menjilat bibirnya.


“Jangan meremehkannya! Kekuatannya bahkan lebih tinggi dari kapten kita sekalipun, aku bisa melihat dia memadamkan desa yang kita serang sebelumnya dalam beberapa menit.”


Perampok itu mundur menjauhi Jian Ya setelah mengetahui gadis cantik itu ternyata lebih kuat darinya.


Tangan Jian Ya kemudian diikat menggunakan rantai besi oleh perampok itu agar tidak melawan.


“Aku sudah menyerah, lepaskan anak muda yang ada di dekapan mu sekarang!”


Jika si pemuda melanggar janjinya maka Jian Ya masih bisa lolos dari rantai ini lalu melakukan perlawanan namun para perampok itu tidak sepolos yang terlihat. Secara tiba-tiba salah satu dari mereka memukul tengkuk leher Jian Ya yang segera membuatnya tak sadarkan diri.


“Kau pikir kami bodoh?” Sang pemuda tertawa mengejek melihat Jian Ya pingsan. “Aku tahu dengan kekuatanmu sekarang, rantai itu tidak cukup untuk menahanmu.”


Perampok lainnya ikut tertawa. “Jadi, apa kita harus main-main sekarang dengan gadis ini, aku sudah tak sabar ingin menyicipinya.”


“Hei, kita tunggu dulu kapten datang. Kau mau dibunuh kapten apa?!” ucap seorang lainnya melotot.


“Yahh habisnya dia sangat cantik, lihat kulitnya begitu putih tanpa noda sedikitpun.” ucap perampok itu mengangkat bahu.


Pemuda yang menyandera Jian Chen tidak memperdulikan omongan rekannya, perhatiannya tertuju pada Jian Chen yang terlihat tenang meski pisau sudah terhunus di lehernya.


***


Nafas Jian Ya tertahan saat mengetahui dirinya tengah di penjara melihat ada jeruji besi didepannya, namun yang membuat dia terkejut adalah keberadaan orang-orang di penjara itu.


Bukan hanya dirinya saja di penjara melainkan ada puluhan orang didalamnya, berdesak-desakkan dengan tangan yang sama-sama diikat.


Jian Ya kemudian teringat bahwa ia pingsan saat hendak ke markas perampok, seseorang yang ingin diselamatkannya ternyata adalah penghianat sekaligus anggota perampok tersebut.


Jian Ya ingin melepaskan rantai besi di tangannya tetapi tidak bisa, dia kemudian menyadari ada kalung besi di lehernya.


Kalung besi itu bukanlah kalung besi biasa melainkan alat sihir dimana orang yang memakainya tidak dapat menggunakan tenaga dalam.


“Ketua, anda sudah bangun?”


Suara seseorang yang dikenalnya membuat Jian Ya menoleh pada sumber suara, Jian Chen tengah duduk di posisi tak jauh darinya.


“Chen’er, kau tidak apa-apa? Dimana kita sekarang?”


“Kita berada di tengah markas perampok tadi, setelah Ketua pingsan kita dibawa ketahanan para tawanan. Sepertinya meski berkhianat, pemuda itu tidak berbohong kalau perampok menculik warga desa.”


Jian Ya mulai mengerti keadaan situasinya, sekarang yang terpenting dia harus berusaha untuk lepas dari penjara ini dan menyelamatkan semuanya.


Jian Ya tengah berpikir untuk membuat rencana saat tiba-tiba Jian Chen bangkit dari duduknya dan memutuskan rantai erta kalung dilehernya.


“Chen’er bagaimana…”


“Ketua kita bebaskan dulu rantai di tanganmu, setelah ini kita selamatkan tahanan di penjara yang lain.”


Dengan menggunakan tenaga dalam Jian Chen bisa memutuskan rantai itu seperti benang. Melihat salah satu dari mereka bisa bebas, para tahanan yang lain berniat untuk meminta tolong pada Jian Chen.


“Aku akan menolong kalian asalkan kalian diam…” mata emas Jian Chen bersinar di dalam kegelapan, membuat yang menatapnya seketika menurut dan mengangguk.


Kemudian Jian Ya dan Jian Chen melepaskan satu persatu rantai dari tahanan satu selnya. Sesudah semua Jian Chen kemudian melelehkan kunci jeruji dengan elemen cahaya.


Jian Chen memerintahkan para tahanan yang sudah terbebas untuk menyelamatkan tahanan di sel yang lain dengan berpesan jangan ada yang bersuara.


Ketika pembebasan itu terjadi, Dua penjaga memasuki ruang tahanan dan betapa terkejutnya ia melihat tahanannya sudah banyak yang terbebas.


“Hei apa yang kalian laku~”


Jian Chen bergerak cepat sebelum dia berbicara keras, dengan elemen cahayanya ia bergerak bagai berteleportasi saat tiba-tiba ada didekat lawannya.


Jian Chen menggunakan ilmu pukulan serta tendangan yang bertubi-tubi membuat salah satu penjaga itu kewalahan menerima serangannya. Tidak membutuhkan waktu lama hingga salah satu serangan menuju tenggorokan penjaga itu hingga membuat ia kesesakan nafas dan akhirnya mati.


Satu penjaga lain mengeluarkan pedangnya buru-buru namun Jian Chen mengubah pola serangannya.


“Tarian Kepakan Burung Hantu!”


Serangan Jian Chen tiba-tiba berubah menjadi hening layaknya kepakan burung hantu ketika terbang, setiap kali ia mengayunkan tendangan atau pukulan tidak dapat menimbulkan bunyi sedikitpun, seolah tubuhnya tidak bergesekan dengan udara.


Gerakan Jian Chen juga rumit dan tak bisa ditebak musuhnya, salah satu tendangan mengenai tangan lawannya membuat pedang di pegangnya terlepas, tendangan lainnya diayunkan dan kali ini memukul mundur penjaga itu.


Jian Chen menangkap pedang yang terlepas, sebelum penjaga itu berteriak minta tolong Jian Chen sudah menebas lehernya. Penjaga itu tidak menyangka dia akan mati ditangan seorang anak remaja.


Semua yang melihat bernafas dingin termasuk Jian Ya, gadis itu begitu terpana melihat kemampuan tangan kosong Jian Chen terlepas dari aksi sadisnya.


Jian Chen tersenyum tipis, “Ketua, tolong pastikan mereka keluar dengan selamat. Aku akan keluar untuk memastikan tidak ada penjaga yang kesini.”


Sebelum Jian Ya membuka suara Jian Chen sudah keluar dibalik pintu, berlari untuk menghabisi para perampok lain yang ada.


Jian Chen tidak akan membiarkan satu perampok pun hidup di gua ini.