Kultivasi Cahaya

Kultivasi Cahaya
Eps. 138 — Kecantikan Lily


Usai pertarungan tersebut rombongan Mu Yuan dan Jian Chen langsung melanjutkan perjalanannya.


Susana rombongan kereta tidak lagi sama seperti sebelumnya apalagi para pengawal khususnya sudah melihat bagaimana Jian Chen membunuh musuh-musuhnya dengan ekspresi dingin dan bahkan sedikit menikmati pembunuhan tersebut.


Mu Yuan tidak jauh berbeda tetapi gadis itu masih bisa berbicara dengan Jian Chen, setidaknya bagi Mu Yuan Jian Chen adalah pendekar yang baik karena telah menyelamatkan nyawanya dua kali.


Mu Yuan sudah dijelaskan oleh Jian Chen garis besar pertarungan tersebut, ia tidak menduga bahwa akan ada yang mengincarnya dan mereka adalah kelompok pembunuh terkenal di provinsi Naga Angin.


Andai saja ia tidak bertemu dengan Jian Chen di perjalanan mungkin gadis itu akan bernasib berbeda hari ini.


Sang Pemuda yang dimaksud sendiri kini tengah menunggangi kudanya paling depan, tidak sepatah kata pun yang ia lontarkan setelah aksi pembantaian yang ia lakukan selain memacu kudanya.


Beberapa jam berlalu mereka bergerak, matahari yang seharusnya terlihat di atas sana tidak terlihat sama sekali padahal kini sudah hampir tengah hari.


Awan di atas langit begitu tebal dan pekat, menandakan hujan akan tiba, tidak berangsur lama hingga tetesan demi tetesan mulai berjatuhan.


Beruntungnya rombongan Mu Yuan ketemu penginapan bertepatan hujan semakin deras, penginapan itu merupakan penginapan terpencil yang jauh dari penduduk namun memiliki ukuran besar dan berlantai empat.


Biasanya penginapan terpencil seperti ini ditujukan untuk para rombongan pedagang atau pejalan kaki sebagai peristirahatan sementara. Mu Yuan memilih berteduh di sana bersama Jian Chen dan yang lainnya.


Nama tempat penginapan itu dinamai Penginapan Bangau Salju. Dua pelayan menyambut kedatangan mereka dengan ramah setelah mengetahui Mu Yuan berasal dari keluarga besar yang terlihat dari keretanya mewah.


Pelayan itu segera mengurus kuda Mu Yuan sementara si pemilik masuk ke penginapan, terlihat di dalam hanya ada beberapa pelanggan yang juga ikut berteduh.


Mu Yuan kemudian memesan beberapa kamar untuknya dan para pengawal serta dayang, hampir separuh kamar di penginapan itu disewa oleh Mu Yuan.


Pengurus penginapan begitu antusias, jarang sekali mereka melihat ada orang bangsawan seperti Mu Yuan berbaik hati menyewa kamar pada para pengawalnya juga.


Mu Yuan hendak menawarkan kamar untuk Jian Chen tetapi pemuda itu menolak. "Uangku cukup, aku bisa membayarnya..."


Mu Yuan tidak membantah, melihat sepertinya hujan akan berangsur lama dan boleh jadi bakal seharian ia pergi ke kamarnya untuk istirahat beberapa waktu.


Gadis itu meski tidur di dalam kereta saat perjalanan tetap saja sensasinya tidak terasa nyaman jika dibandingkan tidur di kasur. Dengan pikiran yang masih berkecamuk tentang banyak hal, gadis itu mencoba tidur beberapa saat.


***


Didalam kamar Jian Chen memesan makanan yang ada restoran tersebut, tidak lupa dengan teh hangat ketika hujan diluar sana terasa berhembus dingin menyentuh kulit.


Tak lama kemudian pelayan datang dengan membawa napan makanan yang masih hangat, asap putih mengepul menggiurkan, tanpa basa-basi lagi Jian Chen mengangkat sumpitnya lalu segera menyantap makanannya dengan lahap.


Usai makan dan perutnya terisi, Jian Chen memilih berkultivasi selagi hujan di luar masih turun dengan deras. Dengan menyerap cahaya Jian Chen bisa menjernihkan pikirannya kembali serta tubuhnya menjadi rileks.


Setidaknya itu yang mau Jian Chen rasakan saat tiba-tiba Lily membuka suaranya.


"Aku baru menyadarinya sekarang saat kultivasiku di Alam Bumi kalau sebenarnya tingkatkan kultivasimu berbeda?"


Jian Chen mengerti maksud Lily, memang Kultivasi Dewa Cahaya yang di pakainya memiliki tahap kultivasinya sendiri.


"Nama tingkatan dan sumber kultivasinya yang berbeda," Jian Chen membuka mata. "Cara penerobosan dan lainnya hampir sama dengan kultivasi pada umumnya..."


Lily melipat tangannya di dada, "Sejujurnya aku cukup penasaran dengan identitas gurumu itu. Di duniaku sendiri aku belum pernah mendengar kultivasi yang sehebat ini. Apa perjalananmu bertemu dengannya hanya kebetulan belaka atau memang sudah direncanakan?"


"Itu..." Jian Chen menggaruk kepalanya sebelum mengangkat bahu. "Aku juga tidak tahu, tapi yang pasti beliau sudah mengajarkan banyak hal padaku."


Jian Chen kemudian masuk ke Alam dantiannya, pandangan pertama yang dilihatnya adalah seorang mahluk indah berupa gadis cantik yang memakai gaun berwarna merah.


Kulitnya yang putih begitu kontras dengan gaunnya yang anggun, Lily mempunyai mata merah yang indah dengan rambut panjang terurai. Tubuh Lily juga ramping dan ideal untuk gadis pada umumnya.


Lily berdecak kesal melihat tatapan Jian Chen membuat sang pemuda tersadar lalu batuk pelan. "Maaf..."


Mendengar suara Lily dan melihat fisiknya secara langsung jelas berbeda. Jian Chen tidak henti-hentinya terpesona dengan gadis di didepannya walau ini bukan pertama kalinya ia bertemu.


Menurut Jian Chen, Kecantikan Lily memang diatas Meily sementara keanggunannya tidak berbeda jauh dengan Ziyun. Jika saja Lily tidak bersikap jutek atau lisannya tidak kasar, Jian Chen yakin dia mempunyai aura kharismatik seperti Jian Ya.


"Ngomong-ngomong kultivasi, Dari pada berbicara kultivasiku, bukankah kultivasimu juga tak kalah sama?" Jian Chen bertanya balik.


Lily mendengus, "Tidak ada yang berbeda, seperti yang kukatakan sebelumnya aku hanya menyerap kultivasi orang lain agar bisa bertambah kuat. Singkatnya semakin tinggi kultivasi pendekar yang kuserap maka semakin cepat kultivasiku naik.


"Tapi sebaliknya, sekarang kultivasi yang ada dibawah kultivasiku tidak lagi berguna, mereka bisa kuserap tapi kultivasiku hanya akan naik sedikit."


Itu sebabnya Lily sebelumnya menyuruh Jian Chen hanya menyerap kultivasi di Alam kehidupan ke atas saat membunuh kelompok tadi, karena Alam Jiwa apalagi Alam Roh tak dapat banyak mempengaruhi kultivasi Lily.


"Hm, bagaimana dengan kekuatanmu, kau tidak lemah bukan?"


"Apa masalahmu, kekuatan ya kekuatanku, itu bukan urusanmu!" Lily menyipitkan matanya, "Jangan bilang saat ini kau sedang berusaha mendekatiku, kau terbius dengan kecantikanku?"


Jian Chen tersedak nafasnya sendiri, ia ingin sekali melakukan sesuatu pada gadis itu tetapi mencoba menahannya.


"Kenapa kau berkata seperti itu, tidak semua laki-laki memilih wanita karena kecantikannya. Kecerdasan, garis keturunan dan sikap adalah tolak ukur lain dalam penilaian laki-laki."


Lily tertawa mengejek "Aku tidak menyalahkan itu tetapi kenyatannya kecantikan adalah hal pertama yang laki-laki ukur. Lagian aku bukan percaya diri, soal kecantikan, tidak ada yang lebih cantik dari Tuan Puteri ini!"


Jian Chen mendengus. "Kau terlalu percaya diri!"


"Ohoho, dasar perjaka. Begini saja, aku tantang jika kau tidak terbius dengan kecantikanku dalam waktu satu menit, aku akan mengaku kalah!"


Jian Chen menyipitkan matanya, "Baik, akan kulihat bahwa kau terlalu memandang tinggi dirimu."


Lily terkekeh lalu kemudian menatap Jian Chen dengan cara berbeda, tidak ada lagi pandangan kasarnya, wajahnya terasa lebih lembut dan senyuman terukir di bibirnya dengan manis.


Lily mengelus dagunya, ia merubah sikapnya terlihat menjadi gadis yang baik. Lily memainkan anak rambutnya dengan wajah yang dibuat-buat seperti tersipu malu.


Jian Chen meneguk ludah, harus ia akui pesona Lily sangat mengerikan bagi kaum laki-laki. Sebelum Jian Chen terbawa suasana lebih jauh ia memetikan jarinya, seketika dari kristal hijau tak jauh dari mereka berada, rantai-rantai bermunculan dan langsung meringkus Lily.


"Kau-! Apa yang kau-..." Lily tidak bisa menahan diri selain mengumpat saat tubuhnya tiba-tiba diringkus dengan paksa.