
"Kolam ini tidak beracun meski mempunyai warna yang aneh, sebaliknya justru airnya mempunyai khasiat untuk menaikan kultivasi seseorang jika berendam di dalamnya..."
Jian Chen mengucapkan apa yang Lily katakan ketika Lan Qiaoqiao bertanya padanya mengenai air danau tersebut.
"Itu berarti air kolam ini bukan air biasa?" Tanya Lan Qiaoqiao setengah terkejut.
Jian Chen mengangguk, "Air yang mengisinya di sebut sebagai air mata peri, siapapun yang berendam di sana dan menyerap air tersebut maka kultivasinya bisa meningkat sangat pesat."
Kelima saudara Lan itu sampai sulit berkata-kata mendengarnya, mereka merasa tidak percaya ada kolam yang mempunyai khasiat seberharga ini.
Jian Chen bisa merasakan kebahagiaan kelima gadis itu, kontras sekali dengan ekspresinya yang terlihat biasa saja setelah mendengar khasiat kolam di depannya.
Tentu saja bagi Jian Chen, seberapa tinggi khasiat air mata peri itu tidak akan berguna untuk peningkatan kultivasinya.
Kultivasi Dewa Cahaya tidak harus berendam di sebuah kolam suci hanya untuk menaikan kultivasi, ia cukup bersila di suatu tempat lalu menyerap cahaya di sekelilingnya maka hanya soal waktu tingkatan kultivasi dewa cahaya akan naik.
Jian Chen kemudian memeriksa ke tempat lain yang ada di sekitar puncak Gunung Langit itu, ia penasaran pasti ada sesuatu yang di sembunyikan oleh pembuat formasi kabut ini disini.
Jika kolam mata peri dan pohon apel emas adalah hidangan pertama di puncak gunung ini maka Jian Chen yakin ada barang berharga lainnya di dalam.
Tak lama kemudian Jian Chen menemukan sebuah bangunan yang terlihat seperti kuil kecil dengan satu ruangan di dalamnya.
Kelima Lan bersaudara tidak ikut bersama Jian Chen karena mereka ingin memetik apel emas terlebih dahulu. Jian Chen mengaktifkan mata langitnya untuk memeriksa kuil itu namun tidak menemukan formasi atau jebakan.
Di pintu kuil ada semacam tulisan yang tertera, Jian Chen menebak tulisan ini di buat oleh si pembuat kuil ini.
"Siapapun dirimu yang membaca prasasti ini, adalah seseorang yang terpilih untuk bisa naik ke puncak dari gunung langit. Tidak ada seseorang yang berhasil mendaki puncak ini kecuali dengan keteguhan hati, keberanian, serta kesabaran.
"Di balik pintu ini ada sebuah benda yang paling berharga dan diinginkan banyak orang meski tidak ada yang mengetahui cara menggunakannya. Siapapun dirimu, jika menginginkannya, maka bersiaplah menanggung semuanya..."
Jian Chen membaca tulisan di pintu batu itu, "Hm, apa ini maksudnya yang terpilih adalah diriku?"
"Tulisan ini bersifat umum." Lily mendengus kesal. "Jangan terlalu percaya diri. Jika bukan karena Tuan Puteri ini kau sudah terhisap jiwanya oleh kabut itu..."
Jian Chen menggaruk pipinya dengan senyuman canggung, memang benar kalau Lily tidak memberitahu Jian Chen agar tidak menoleh ke belakang mungkin ia tidak bisa sampai ke sini.
Menurut Lily kabut itu adalah sebuah formasi yang sangat kuat dan mengorbankan nyawa pembuatnya. Jian Chen ataupun Lily tidak bisa memecahkan formasi itu kecuali dengan melaluinya.
Andai tadi Jian Chen menoleh ke arah belakang, ia akan terhisap jiwanya seperti korban-korban sebelumnya. Itu sebabnya Pendekar Alam Langit pun tidak bisa menembus formasi pelindung kuat ini, karena pembuatnya hanya ingin menguji karakter lawannya bukan kekuatannya.
Jian Chen kemudian mengalirkan tenaga dalam pada pintu batu tersebut sesuai arahan dari prasastinya. Seketika pintu batu yang terlihat kokoh itu bergeser perlahan secara otomatis.
Di dalam kuil kecil itu Jian Chen tidak menemukan harta apapun baik itu berupa emas atau pusaka seperti Pedang Dewa Asura.
Ia hanya mendapati ada sebuah kotak kecil terbuka dengan di dalamnya ada sebuah bola seperti mutiara yang bersinar.
"Apa kau sungguh lupa, dari usia mentalmu seharusnya kau belum tua, itu adalah mutiara yang sama saat kau bersama hantu tua itu."
Jiak Chen membutuhkan waktu untuk menyadari hantu tua yang di maksud Lily adalah Ye Ao, sosok roh yang pernah di temuinya di hutan Sunyi.
Mengingat itu kembali Jian Chen jadi ingat bahwa bola mutiara di depannya merupakan mutiara elemen persis seperti yang diberikan Ye Ao padanya hanya saja memiliki warna berbeda.
Jika warna mutiara elemen sebelumnya berwarna biru maka mutiara di depan Jian Chen sekarang bersinar warna putih.
"Lily, apa kau tau mutiara elemen ini, dulu ketika aku di paksa menelannya aku jadi bisa menggunakan elemen lain di tubuhku. Sepertinya benda ini sangat berharga sampai Ye Ao atau pembuat kuil ini harus bersembunyi disini?" Jian Chen berharap ia mendapatkan penjelasan karena selama ini Lily serba mengetahui apapun.
"Sebenarnya aku tidak mengetahui persis benda mutiara apa itu tetapi aku pernah membaca di salah satu buku yang kusam bahwa ada pusaka legendaris yang bisa menambah elemen pada tubuh seseorang jika menelannya..."
Lily mengatakan bahwa boleh jadi maksud dari pusaka itu adalah benda yang di sebut Mutiara Elemen yang ada di tangan Jian Chen.
Kalaupun itu benar maka siapapun yang memilikinya ia pasti menjadi pendekar yang kuat.
Jian Chen tampak ragu. "Aku tidak terlalu yakin dengan hal itu, aku pernah melihat mereka yang menelan mutiara ini langsung akan mati."
Jian Chen tentu masih ingat sebelum ia menelan Mutiara es milik Ye Ao, ada banyak orang sebelumnya yang mati membeku karena menelan mutiaranya.
Lily melipat tangannya di dada. "Tentu saja bakal mati, karena mutiara yang kau telan sebelumnya masih memiliki formasi pelindung, kau tidak menyadari karena terlalu takut saat itu."
Lily justru merasa heran karena Jian Chen masih hidup setelah menelan benda yang ada formasi mematikan itu di dalamnya.
Gadis itu cukup yakin bahwa mutiara putih yang di genggam Jian Chen tidak memiliki formasi seperti mutiara es, ia bahkan memaksa Jian Chen untuk menelannya.
"Tenang saja, tidak ada formasi mematikan di mutiara itu. Jika kau menelannya kau akan mendapatkan elemen baru, itu yang bisa kusimpulkan sekarang."
Jian Chen menghela nafas, sebenarnya tanpa usulan Lily pun Jian Chen pasti akan mencoba hal demikian, ia juga merasa perkataan Lily sama dengan yang di pikirkannya.
Jika Mutiara biru itu adalah elemen es, maka mutiara putih ada kemungkinan elemen lain.
Menarik nafas yang dalam dan membulatkan tekadnya, Jian Chen menelan mutiara putih ke tubuhnya sebelum duduk bersila.
Awalnya Jian Chen merasakan sensasi hangat di perutnya sebelum rasa hangat itu menyebar ke seluruh tubuh.
Jian Chen mengerutkan dahinya di kala mata masih terpejam, ia bisa merasakan mutiara itu mengecil perlahan-lahan dan seperti terserap ke dalam dantiannya.
Mutiara itu tidak memiliki banyak cahaya untuk di olah oleh Jian Chen tetapi disisi yang sama ia tidak memiliki efek samping seperti mutiara es sebelumnya.
Jian Chen merasakan ada energi kuat yang mengalir di aliran darahnya, energi itu terkesan asing saat bersatu dengan tubuhnya.
Jian Chen membuka mata perlahan setelah proses penyerapan mutiara itu telah selesai, ia tidak mengerti namun tubuhnya kini terasa jauh berbeda.