
“Tuan Muda Jian apakah anda yakin?”
“Tidak ada pilihan lain, biarkan saja Ketua Ya mengetahui identitasku, lagian cepat atau lambat dia juga akan mengetahuinya.”
Jian Chen membutuhkan identitas yang kuat agar Jian Ya tidak memandangnya seperti anak remaja. Pada dasarnya Jian Chen menganggap ketua klannya itu sebagai gadis muda dibawahnya, bagaimanapun umur Jian Chen sekarang jika dijumlahkan dengan kehidupan lalu berusia 33 tahun.
“Besok aku dan Ketua Ya punya janjian untuk bertemu disini, membicarakan kerjasama asosiasi dengan klan Jian kedepannya. Bagaimana kalau Tuan Muda ikut juga.”
Jian Chen mengangguk, rencana terbaik adalah rencana yang dikerjakan secepatnya.
Keesokan harinya Jian Chen kembali ke asosiasi saat hari masih pagi, di depan pintu toko asosiasi sudah ada dua gadis pelayan yang sudah berdiri dan menyambutnya.
“Tuan muda, anda sungguh rapih memakai pakaian itu…”
Kedua gadis itu membungkuk hormat, keduanya sudah mengetahui Jian Chen adalah sosok amat penting di asosiasi. Melihatnya masih muda, gadis itu mencoba menarik perhatian Jian Chen.
“Terimakasih, kalian sangat bersemangat hari ini.” Jian Chen tersenyum, dia tentu menyadari niat gadis itu. “Dimana Kak Miou sekarang?”
“Beliau sudah menunggu Tuan muda, mari masuk biar kami yang antar.”
Jian Chen tersenyum canggung, seumur hidupnya ia belum pernah di kelilingi gadis seperti ini. Jian Chen menggaruk kepala yang tidak gatal sebelum ikut bersama kedua gadis itu.
Miou Lin seperti biasa sudah bersiap di meja bundarnya dengan memakai gaun yang indah dan terkesan mahal. Selama di klan Jian, Miou Lin menginap di kediaman toko asosiasi.
Jian Chen ikut duduk berhadapan dengan Miou Lin sedangkan kedua gadis tadi langsung berpamitan pergi.
“Tuan muda Jian, anda tidak berniat mencari gadis lain setelah menerima perasaan dari Mei’er bukan?” Miou Lin bisa merasakan kedua gadis pelayan tadi mencoba menarik perhatian Jian Chen.
Jian Chen batuk pelan, ia memilih pura-pura tidak mendengar perkataan Miou Lin. “Apa Ketua Ya masih belum tiba?”
Miou Lin tertawa kecil saat Jian Chen berusaha merubah topik pembicaraan. ‘Sepertinya Tuan muda Jian ini masih belum jatuh hati pada Mei’er, ya memang seharusnya demikian mengingat usia mereka yang…’
Miou Lin menggeleng pelan tidak meneruskan pikirannya, menurutnya Jian Chen seharusnya jatuh hati pada kecantikan Meily tak terkira. Diusianya yang remaja biasanya anak muda selalu memandang fisik ke lawan jenis, berbeda dengan orang dewasa yang memikirkan faktor lain saat memilih pasangan.
Kenyataanya Jian Chen selalu berpikir dewasa bahkan ketika Miou Lin berhadapan dengannya ia serasa dibawah umur Jian Chen.
“Chen’er anda juga disini?” Jian Ya tak lama kemudian memasuki ruangan, terkejut melihat Jian Chen bersama Miou Lin.
Jian Chen mengangguk sebelum memberikan hormatnya, begitu juga dengan Miou Lin setelahnya.
Jian Ya datang dengan memakai gaun yang serba putih, wajah dan kulitnya yang seputih salju membuat penampilannya terlihat indah dan suci. Kecantikan paras Jian Ya hampir menyamai tingkat kecantikan Meily, hanya saja Jian Ya terkesan berwibawa serta berkharisma.
Jian Ya kemudian ikut duduk, dia bertanya-tanya hubungan Jian Chen dan Miou Lin.
Miou Lin batuk pelan. “Aku akan menjelaskan ini disini dan kebetulan ada hal yang ingin aku ceritakan padamu soal klan Jian, Ketua Ya. Sepertinya kita undur dulu percakapan kerja sama asosiasi dengan klanmu.”
Alis Jian Ya terangkat, sedikit tidak mengerti. Bukankah alasan dirinya kesini untuk membicarakan kerjasama itu.
Miou Lin dan Jian Chen saling pandang sesaat sebelum akhirnya Miou Lin menyampaikan segalanya pada Jian Ya agar gadis itu mengerti.
***
Ruangan itu lengang beberapa saat, kesunyian menyelimuti ketiganya terutama Jian Ya, gadis itu dipenuhi banyak pikiran dan keterkejutan. Dia memandang Jian Chen dengan tatapan berbeda, sedikit tidak menyangka dari sorot matanya.
“Jadi, Chen’er pemilik saham asosiasi di klan Miou dan pil-pil yang berkhasiat tinggi selama ini adalah buatannya?”
Jian Chen tersenyum canggung, “Aku tidak berniat menutupi ini Ketua…”
Jian Ya sudah cukup terkejut dengan kemampuan Jian Chen saat di gua perampok itu belum lagi pemuda di depannya telah membunuh banyak perampok didalamnya.
Jika itu dilakukan orang jahat maka mungkin ia masih bisa memaklumi namun dengan anak remaja melakukannya itu cukup sulit diterima oleh akal, Jian Chen terlalu haus darah menurut Jian Ya.
Keterkejutan nyatanya tidak berhenti di sana apalagi setelah mendengar cerita dari Miou Lin. Rasa-rasanya Jian Chen bukanlah anak remaja biasa apalagi membuat klan besar seperti klan Miou dan klan Niu ingin membantunya.
Tentang tambang emas, Jian Ya sudah mengira menemukannya bukan kabar yang baik hanya saja dia tidak menduga gara-gara itu klannya dalam bahaya.
Jian Ya harus mendiskusikan ini pada Tetua lainnya, peperangan tak bisa dihindari, mereka harus melawan.
Sedikit kelegaan, klan Jian tidak menghadapi organisasi itu sendiri melainkan dengan bantuan 2 klan besar. Jian Ya memandang Jian Chen dengan perasaan yang berbeda.
“Chen’er, terimakasih, atas jasamu klan kita masih bisa diselamatkan, jika saja aku tidak mengetahui penyerangan ini maka klan Jian mungkin akan dalam bahaya.”
“Ketua tidak perlu sungkan, aku hanya melakukan kewajibanku untuk melindungi tanah air serta keluargaku…”
Jian Ya tersenyum, tiga tahun sebelumnya dia memandang Jian Chen tidak lebih dari anak kecil biasa tetapi sekarang ia sungguh memandang hormat pada Jian Chen.
Dengan begini dirinya akan melakukan persiapan secepatnya termasuk terhadap perang tersebut.
***
Usai pembicaraan tadi Jian Chen kembali ke rumahnya, ia sedikit merasa lega setelah Jian Ya mengetahui yang akan terjadi.
Jian Chen juga meminta pada Jian Ya untuk merahasiakan identitasnya dari orang lain apalagi kedua orang tuanya. ia tidak mau informasi tentang dirinya diketahui oleh orang banyak.
Sebagai gantinya kerja sama asosiasi dengan klan Jian bisa terpenuhi, Jian Ya terlihat senang mendengar itu.
Jian Chen memasuki kamarnya setalah makan malam, ia duduk bersila di atas tempat tidur untuk melanjutkan berlatih, ada sesuatu yang ingin Jian Chen coba perihal Mata Dewa Langitnya.
Saat melawan para perampok, itu pertama kalinya di kehidupan kedua Jian Chen menggunakan Mata Dewa Langitnya untuk bertarung dan hal itu langsung membuka pemahaman Jian Chen tentang Mata Dewa Langit tersebut.
Jian Chen memejamkan mata kirinya dan mencoba sesuatu yang membuatnya penasaran, Jian Chen menyerap esensi alam semesta lalu mengubahnya menjadi tenaga dalam.
Tenaga dalam itu tidak terkumpul di dantiannya melainkan di mata kiri Jian Chen.
“Sudah kuduga mata ini bisa menyimpan tenaga dalam…” Jian Chen berujar antusias, dia terus menyerap tenaga dalam sampai puncak penuhnya lalu menemukan hanya 100 lingkaran tenaga dalam yang terbentuk di mata kirinya.
Jian Chen menduga Mata Dewa Langit hanya bisa menyimpan tenaga dalam 20% dari lingkaran tenaga dalam di dantiannya.
Ini berarti jika di dantian Jian Chen sekarang 500 lingkaran ditambah 100 lingkaran dari mata langitnya maka jumlahnya 600 lingkaran yang bisa ditampung dirinya.
Jian Chen juga bisa mengalirkan tenaga dalam di mata langitnya ke seluruh tubuhnya seperti biasa.
“Mata Dewa Langit ini benar-benar punya banyak kemampuan rahasia.…” Jian Chen semakin penasaran dengan kemampuan lain dari Mata Dewa Langit, benar kata gurunya teknik mata ini bukanlah teknik mata sembarangan.