Kultivasi Cahaya

Kultivasi Cahaya
Eps. 120 — Duel Pedang


Di waktu yang masih malam, Jian Chen menjaga disekitar akademi sebelum akhirnya memutuskan bahwa tidak ada pembunuh yang bergerak kesini.


"Sepertinya Klan Liu hanya mengirimkan satu kelompok pembunuh saja, baguslah, kalau begitu aku bisa beristirahat sekarang."


Jian Chen pergi ke tempat kediamannya dimana ada Zhou Mei di sana, gadis tersebut begitu terkejut ketika majikannya datang dengan cara tak biasa yaitu lewat jendela. Zhou Mei yang sedang meminum teh dengan tenang hampir memuncratkan tehnya.


"Tuan Muda, kenapa anda tidak datang lewat pintu, mungkin aku akan menyambutmu... " Zhou Mei tersenyum kecut.


Selama Jian Chen tidak ada, Zhou Mei tetap mengurusi rumah ini sehingga terlihat sangat bersih. Jian Chen tersenyum tipis sebelum meminta dibuatkan masakan.


Tanpa diperintahkan dua kali Zhou Mei langsung pergi ke dapur, kedatangan majikannya membuat ia senang dan gadis itu berniat memasak yang disukai Jian Chen.


Menu makan malam segera dihidangkan, sebuah sop dan daging panggang telah disajikan Zhou Mei spesial untuk majikannya. Jian Chen memakan itu dengan lahap sampai habis.


Di kamarnya Jian Chen tidak bisa tenang karena pikirannya terus teringat banyak hal terutama masalah gejolak Ibukota.


"Terkadang kau harus menikmati masa kini daripada mengkhawatirkan yang belum terjadi... Dunia ini tidak seburuk pikiranmu, dia tidak akan runtuh hanya karena matamu terpejam..."


Lily melihat jelas pikiran Jian Chen yang kacau, laki-laki itu tak bisa berkultivasi dengan baik.


Jian Chen menghela nafas. "Aku hanya khawatir keadaan ibukota ini berpengaruh pada klanku. Kau mendengar sendiri bukan saat aku menginterogasi musuh, Klan Liu benar-benar akan memulai peperangan."


"Semua yang kau pikirkan itu bisa selesai dengan kekuatan, melihat bagaimana kecepatan kultivasimu mungkin seharusnya kau bisa jadi yang terkuat di Provinsi ini bahkan di Kekaisaranmu."


Jian Chen menggaruk kepala yang tidak gatal, masalahnya ia tidak mengetahui peperangan ini akan terjadi kapan, setahun, sebulan, atau bahkan seminggu dari sekarang.


Jian Chen membuka mata sebelum bangkit lalu membuka jendela, ia melihat langit begitu cerah malam ini dengan rembulan menggantung di atas sana.


Malam yang tenang dan damai, seolah pertanda akan ada badai yang datang.


***


Suara ketukan pintu terdengar membuat Jian Chen yang duduk bersila di tempat tidurnya membuka mata secara perlahan.


Jian Chen memilih berkultivasi hingga tak terasa pagi menjelang, ketukan pintu kamar dari Zhou Mei membangunkannya.


Zhou Mei mengetuk ingin memberitahukan makanan pagi telah dihidangkan, gadis itu bertanya apakah Jian Chen akan makan di kamar atau di di tengah rumah.


"Bawa makanannya kesini, aku akan makan di kamar."


Zhou Mei tak lama kemudian pergi sebelum kembali lagi membawa napan makanan, ketika masuk dia terkejut majikannya bertelanjang dada.


Gadis itu sudah dihadapkan situasi ini dua kali dan ia belum terbiasa dengan kebiasaan Jian Chen yang demikian, ia tahu majikannya sedang melakukan latihan misterius itu yang membuat tubuhnya selalu dibanjiri keringat.


Jian Chen tertawa kecil melihat tingkah Zhou Mei yang menahan malu dengan wajah memerah namun ia tidak membawa ini lebih jauh.


Jian Chen menghabiskan siang itu dikamar sambil berkultivasi, karena cahaya siang lebih terang membuat pertumbuhan peningkatannya jauh lebih cepat, tidak membutuhkan waktu lama hingga 1 dari 8 meridiannya telah terpenuhi.


"Hm... Mungkin aku akan lebih banyak mencoba menyerap cahaya di siang hari..." Jian Chen mengangguk puas, berlatih malam dan siang hari jelas jauh berbeda, setidaknya tiga kali lipat cepatnya.


Jian Chen tidak menonton turnamen di akademi karena setelah beberapa hari ini ia akan melakukan perjalanan panjang menuju tempat gurunya berada yaitu di provinsi lain. Jian Chen menunggu Miou Lin ke ibukota Qianshan untuk memberitahukan berita tentang rencana Klan Liu padanya.


Sempat Jian Chen kebingungan mencari tempat berlatih karena jika di halaman rumahnya itu akan sangat mencolok oleh orang luar. Teknik elemen es yang diberikan Ye Ao merupakan teknik es tingkat tinggi, melakukannya di kota seperti ini bukanlah keputusan yang bagus.


Satu-satunya cara yang dipikirkan Jian Chen adalah berlatih di tengah hutan, ia segera pergi ke Hutan Kabut karena disanalah tempat yang cocok menurutnya berlatih.


Jian Chen sampai ketujuan ketika matahari akan terbenam, matanya menyipit ketika ada orang lain selain dirinya di sana, tepatnya dua orang.


Jian Chen awalnya berniat berlatih di tempat air terjun di tengah Hutan Kabut dimana dulu ia sempat kesini ketika pertama kali bertemu Niu Meily, tempat tersebut aman dari jangkauan orang-orang.


"Aku tidak menyangka mereka berdua akan ada disini... "


Bertepatan ia ke sana Jian Chen menemukan Ziyun dan Meily, keduanya kini tengah berduel pedang di dekat air terjun.


Jian Chen berpikir beberapa saat sebelum menghampirinya, kedua gadis itu pasti berlatih ketika sudah turnamen, Jian Chen menebak Ziyun ataupun Meily lolos ke babak semi final.


"Saudara Jian?!" Meily yang pertama kali menyadari Jian Chen diikuti Ziyun setelahnya. Keduanya seketika berhenti mengayunkan pedang.


"Ah, kebetulan..." Ziyun berdecak senang, "Saudara Jian, bisakah kau berduel melawan kami?"


"Berduel?"


"Ya, bukankah anda sangat kuat, mungkin kau bisa melatih kami atau sekedar menjadi tolak ukur kekuatan kita, aku juga ingin melihat kekuatanmu yang sesungguhnya... " Ziyun tersenyum lebar.


Dibanding Meily, Ziyun belum pernah melihat kekuatan Jian Chen sesungguhnya atau setidaknya melihat ia bertarung. Selagi kesempatan datang, ia mencoba berduel melawannya.


Ziyun ataupun Meily tentu saja memahami kalau Jian Chen adalah jenius tersembunyi di Akademi, mengikuti turnamen tersebut tentu saja pasti menjadikannya pemenangan.


Meily kemudian menyetujui usul sahabatnya itu, sejujurnya dirinya sempat berpikir demikian namun merasa tidak enak karena selalu meminta tolong pada Jian Chen terutama soal berlatih.


"Baiklah, aku juga punya cukup banyak waktu... " Jian Chen kemudian menjelaskan kalau ingin berlatih bersamanya mereka harus berniat untuk membunuhnya, ini karena agar mereka mengeluarkan seluruh kekuatannya.


"Saudara Jian, ini...” Meily tampak keberatan, ia tidak bisa melukai seseorang tanpa sebab.


"Tenang saja kekuatanku cukup untuk melawan kalian bedua, kalaupun aku tidak sanggup aku akan menyerah."


Ziyun dan Meily saling berpandangan sebelum keduanya mengangguk bersamaan, berbeda dengan latih tanding tadi yang menggunakan pedang biasa, kini keduanya mengeluarkan pedang pusaka masing-masing.


Jian Chen juga tak ketinggalan, ia mengeluarkan pedang yang dibelinya di toko Asosiasi, sebuah pedang berwarna hitam yang merupakan pusaka kelas satu.


Ziyun dan Meily bergerak secara bersamaan sambil mengayunkan pedangnya, kedua gadis itu saling bekerjasama dan memainkan pedangnya dengan gesit tetapi Jian Chen bisa menghindari serangan mereka dengan mudah.


"Kalian harus menghapuskan keragu-raguan tersebut, itu membuat kalian tidak bisa menggunakan seratus persen kekuatan kalian!"


Jian Chen bisa melihat Meily ataupun Ziyun masih ragu menyerangnya dengan kekuatan asli. Jian Chen tersenyum tipis sebelum menggunakan teknik pedang rembulan yang seketika merubah posisi menjadi menyerang, pedang yang diayunkannya sangat cepat membuat Meily dan Ziyun kewalahan menghadapi serangan tersebut.


Tentu saja Jian Chen menahan kekuatannya, ia langsung berhenti mengayunkan pedang ketika kedua gadis itu sudah tersudut.


"Saudara Jian anda sehebat ini?!" Ziyun tersenyum pahit, tangannya yang menahan pedang Jian Chen masih terasa sakit.


"Kuharap kalian menggunakan kekuatan sesungguhnya setelah ini..." Jian Chen memberi instruksi agar keduanya maju kembali.