Kultivasi Cahaya

Kultivasi Cahaya
Eps. 177 — Gunung Langit


Jian Chen kembali ke atas kapal dengan darah yang memenuhi pakaiannya. Ia telah berhasil mengirim mantan para bajak laut itu ke alam baka.


Kedatangan Jian Chen membuat Pemilik kapal gugup bercampur rasa takut, ia mulai menyadari Jian Chen lebih berbahaya di banding para perompak itu sendiri.


Sementara tiga puluh orang yang sebelumnya ingin menyerang Jian Chen terdiam menunduk, mereka amat beruntung karena Jian Chen mengampuninya. Mereka yang melihatnya sepakat Jian Chen adalah sosok yang sebaiknya tidak mereka singgung.


Hanya lima Lan bersaudara yang masih terlihat biasa saja, bagi mereka tindakan Jian Chen yang sekarang terlihat biasa dibanding ketika membantai Organisasi Menara Iblis sebelumnya.


Lan Qiaoqiao berjalan pelan mendekati Jian Chen dan mulai membersihkan darah di wajahnya.


"Terimakasih..." Jian Chen tersenyum lembut, mengelus pucuk kepala gadis itu.


Lan Qiaoqiao tidak menjawab dan hanya mengangguk pelan, aksi diantara keduanya di kamar masih terbayang-bayang di ingatan Qiaoqiao, ia masih malu bertatapan dengan Jian Chen.


Jian Chen kemudian menoleh pada sungai yang masih membeku, ia mengayunkan tangannya seketika es itu perlahan berubah menjadi serbuk biru yang berterbangan ke udara.


Permukaan es pun menghilang diikuti kondisi air yang seperti semula. Suhu dingin di sekitarnya juga berangsur menghangat.


Semua orang di kapal yang melihat aksi Jian Chen seketika terpana dengan mulut terbuka, reaksi lima gadis kembar tak kalah jauh berbeda meski mereka sudah menduganya sejak awal.


'Saudara Jian ini, seberapa besar kekuatannya sebenarnya...' Lan Xiaxia terkagum-kagum, hingga sampai sekarang ia masih tidak dapat mengukur batas kekuatan Jian Chen.


"Kini perompak itu telah tiada, bilang pada yang lain agar kapal mereka beroperasi kembali. Satu lagi, tiga kapal perompak itu mungkin masih bisa dipakai, hanya saja kau harus membersihkannya terlebih dulu..."


Pemilik kapal mengangguk dan berterima kasih, meski begitu ia tidak terlihat senang meski Jian Chen menghadiahkan kapal besar itu padanya, tentu saja ia tak berani mengutarakan ketidak senangan tersebut di depan Jian Chen langsung.


Jian Chen kembali ke kamar untuk mengganti pakaiannya yang bersimpah darah, ia juga membersihkan tubuhnya dari aura kematian yang terbentuk lagi usai menggunakan pedang asura.


Aura kematian Jian Chen sedikit demi sedikit mulai bertambah kepekatannya, semakin Jian Chen membunuh dengan pedang asura maka semakin menumpuk aura itu.


***


Menjelang sore kapal Jian Chen akhirnya menepi di sisi sungai sekaligus tempat dimana Jian Chen harus turun di sana. Pemilik kapal serta para pengurusnya langsung mengeluarkan enam kuda Jian Chen.


Jian Chen dan kelima gadis kembarannya berpamitan pada Pemilik kapal sebelum memacu kudanya.


"Sepertinya mereka sangat takut kepadamu Saudara Jian?"


Lan Lingling tampak tidak senang karena Pemilik kapal maupun penumpang lainnya memandang Jian Chen seperti melihat hantu. Bagi gadis itu seharusnya mereka senang karena Jian Chen telah menyelamatkan nyawanya.


Jian Chen tersenyum tipis, ia mengatakan reaksi mereka seharusnya normal. Bukan seperti kelimanya yang terlihat biasa-biasa saja padahal mereka mengetahui pemuda yang bersamanya itu adalah orang yang berdarah dingin.


"Eh? Kenapa kita jadi yang salah?" Lan Lingling memasang wajah cemberut.


"Seperti ini, apa reaksi kalian saat aku membunuh para perompak itu satu persatu?"


Lan Lingling menyentuh bibirnya dengan jari, terlihat berpikir keras. "Hm, tidak ada... Kami sudah terbiasa melihat itu."


Jian Chen menggaruk kepalanya dan memilih tidak membicarakan itu lebih jauh, tentu saja mereka terbiasa karena kelimanya terlatih sebagai pembunuh, mayat mungkin adalah hal umum yang mereka lihat setiap hari.


Jian Chen juga melihatnya, gunung itu cukup terlihat dalam radius beberapa kilometer.


"Aku hampir lupa keberadaan Gunung Langit ini ada di dekat sini..."


Gunung yang mereka semua lihat bernama Gunung Langit, merupakan gunung tertinggi yang berada di Provinsi Naga Angin.


Disebut Gunung Langit karena ketinggian gunung itu seperti menembus langit, tidak terlihat puncak dari dataran karena diujung gunung itu ada semacam awan yang menutupinya.


Jian Chen mengetahui gunung langit karena di kehidupan pertamanya ia pernah ke gunung itu.


Gunung Langit merupakan gunung keramat dan dianggap berbahaya oleh warga sekitar, sampai sekarang ini tidak ada yang berhasil kembali setelah mendekati gunung itu tak peduli pendekar sekalipun.


Kabut atau awan yang ada di sekeliling Gunung Langit seolah pelindung yang bisa menyesatkan siapa yang berani mendakinya. Pendekar Alam Langit yang bisa terbang sekalipun tetap tidak pernah kembali setelah berusaha mencoba mengorek misteri di gunung itu.


Dulu mungkin Jian Chen takut jika ingin ke sana namun di kehidupan kedua ini justru ia penasaran dengan apa yang di atasnya terutama karena ia mempunyai mata dewa langit yang bisa melihat semua misteri yang gaib.


"Bukankah kalian berpergian untuk mencari tempat yang di dalamnya ada harta atau benda tersembunyi?" Jian Chen tiba-tiba menghentikan langkah kudanya, bertanya pada kelima gadis kembar itu.


"Benar Saudara Jian, apakah anda menemukan sebuah tempat rahasia lagi?"


Jian Chen menggaruk pipinya. "Aku tidak bisa menyebut tempat itu kuno namun aku dapat merasakan bahwa di gunung yang kita lihat itu ada harta yang berharga di dalamnya."


Jian Chen kemudian mengaktifkan mata langitnya di depan kelima gadis kembar itu, membuat mereka terkejut karena salah satu mata Jian Chen kini telah berubah menjadi warna perak bercahaya.


"Teknik mataku ini bisa melihat semua bentuk segel formasi termasuk ketika aku ke dalam makam kuno, sebab mata inilah aku bisa selamat memasukinya..."


Jian Chen mengatakan bahwa awan-awan yang ada di atas Gunung Langit itu merupakan sebuah formasi pelindung.


Jika ada sebuah formasi pelindung, menandakan bahwa ada yang pernah pembuatnya, lebih jelasnya si pembuat itu membuat formasi untuk melindungi sesuatu yang ada di baliknya entah itu berupa barang atau harta yang berharga.


Lima Lan bersaudara kemudian melihat Gunung Langit itu namun tidak menemukan apapun padahal mata mereka juga bisa melihat sebuah formasi meski tidak sekuat mata Jian Chen.


"Aku tidak memaksa kalian percaya atau ikut tetapi aku akan mampir ke gunung itu lebih dulu..." Jian Chen cukup yakin ia bakal berhasil mendaki Gunung Langit seperti ia berhasil menelusuri makam kuno.


Jian Chen membiarkan kelimanya berdiskusi beberapa waktu sampai Lan Qiaoqiao mengatakan akan pergi bersamanya.


"Kalau begitu kita akan berbelok dan menuju gunung itu, di dekat kaki Gunung Langit nanti ada sebuah kota kecil, kita bisa bermalam di sana."


Lan Qiaoqiao menaikan alisnya. "Saudara Jian, apa anda pernah ke sana?"


"Bisa dibilang demikian, aku pernah tinggal di kota itu selama kurang lebih satu tahun, jadi bisa dibilang aku cukup mengenalnya..."


Lan Qiaoqiao tampak tidak memahami perkataan Jian Chen, ia pernah mendengar bahwa Jian Chen berasal dari provinsi tetangga dan baru kesini beberapa minggu yang lalu.


Tentu saja Lan Qiaoqiao tidak mengetahui bahwa maksud Jian Chen ia pernah tinggal di sana di kehidupan pertamanya.