
Jian Chen tidak menyangka akan bertemu gurunya disini, tepatnya ia bahkan tidak tahu cara bagaimana gurunya bisa menemukannya.
Satu hal yang membuat Jian Chen tidak mengerti adalah guru Jian Chen ternyata mengetahui banyak hal tentangnya terutama ia yang telah hidup kedua kalinya.
Meski tidak terlalu mengerti kenapa gurunya bisa tahu hal tersebut tetapi Jian Chen tidak mempermasalahkannya terutama ia adalah sosok yang Jian Chen percayai.
Justru saat Jian Chen berencana menemui gurunya di Provinsi Naga Bumi, ia sempat kebingungan harus bagaimana ketika sudah bertemu langsung. Satu-satunya alternatif yang bisa Jian Chen jelaskan adalah mengenai dirinya yang kembali hidup setelah mati.
Meski bertemu lebih cepat dari takdir yang seharusnya, Guru Jian Chen tidak ada yang berubah, ia masih sosok guru yang periang dengan wajah yang bersahabat serta mata emasnya yang bersinar. Satu hal yang harus diingat, sikap guru Jian Chen sedikit kekanak-kanakan.
Di kediaman gurunya, membutuhkan waktu tiga hari Jian Chen perlahan-lahan bisa sembuh dan menggerakkan tubuhnya meski masih tertatih-tatih.
Barulah saat hari kelima Jian Chen akhirnya sembuh total dan bisa bergerak seperti biasa.
"Guru, murid berterimakasih pada Guru..." Jian Chen membungkukkan badannya, selama hari-hari tersebut gurunya lah yang telah merawatnya.
"Tidak masalah Chen'er, kau tidak perlu sungkan..." Guru Jian Chen tersenyum mengangguk-angguk, menepuk pundak Jian Chen berulang kali.
Jian Chen tersenyum canggung, sudah lama sekali ia tidak bertemu dengannya dan sikapnya tidak jauh berbeda di kehidupan sebelumnya.
"Chen'er, Guru ingin bertanya banyak hal padamu kalau kau sudah sembuh, kuharap kau tidak keberatan..."
"Tentu guru, murid siap menjawab pertanyaan guru..."
Keduanya saat ini duduk di dekat api unggun, Guru Jian Chen selalu membuat api unggun ketika berada di luar rumah seperti ini untuk merasakan indahnya langit malam dan menghindari dari dinginnya hutan.
"Sebelum itu apa kau tidak mau mendengar penjelasan Guru bisa mengetahui identitasmu menjalani kehidupan kedua?"
Jian Chen sebenarnya penasaran tetapi ia tak mempermasalahkan itu lebih jauh sehingga Jian Chen menjawabnya dengan gelengan pelan.
"Kau tidak penasaran?" Guru Jian Chen menggaruk kepala. "Baiklah kalau begitu biar guru yang bertanya padamu, bisakah kau ceritakan masa depan yang akan terjadi, termasuk apa yang kau alami di kehidupan lalu..."
Karena Jian Chen berasal dari kehidupan pertama maka secara kasar ia sudah mengetahui masa depan yang akan terjadi pada dunia ini.
Jian Chen tidak masalah dan dengan senang hati menjelaskan semuanya, di mulai dari klannya yang terbantai di usia lima belas tahun sebelum kemudian ia menjadi pelarian yang membuatnya pergi ke berbagai daerah hingga melewati beberapa provinsi.
Dalam pelariannya selama tiga tahun, Jian Chen bertemu kekasihnya sampai akhirnya orang dicintai Jian Chen meninggal, setelah itu ia berjalan tidak menentu arah hingga akhirnya ia bertemu dengan gurunya.
Selama tujuh tahun berlalu belajar di bimbing gurunya Jian Chen diajari banyak hal dan berbagai bidang, alkemis, beladiri, ilmu pedang, teknik formasi hingga yang paling berguna adalah Kultivasi Dewa Cahaya.
Di tahun ketujuh, guru Jian Chen menghilang secara tiba-tiba tanpa jejak, dan hanya menyisakan sebuah surat yang menuliskan ia pergi.
Di saat itu usianya sudah dua puluh lima tahun sehingga Jian Chen akhirnya memilih berkelana ke berbagai tempat.
Di perjalanan itu banyak hal terjadi apalagi mengenai ia yang menghancurkan semua organisasi jahat di provinsinya yang menuntunnya pada kematiannya.
Jian Chen bisa melihat gurunya tampak berpikir keras setelah ia menceritakan semuanya terutama ia memijat kepalanya terus menerus.
Guru Jian Chen terdiam cukup lama sebelum akhirnya menghela nafas. "Jadi begitu, sepertinya ia telah berhasil melakukannya..."
Jian Chen tidak mengerti maksud gurunya yang terkesan berbicara sendiri namun dari raut wajahnya sepertinya ada sesuatu yang terjadi dan itu bukanlah hal yang bagus.
"Jadi Chen'er, apa yang membuatmu harus berpergian jauh untuk menemu Guru, bukankah kau mencariku sebelumnya?"
"Benar guru, murid memang mencarimu. Murid ingin jadi lebih kuat..."
Guru Jian Chen mengelus janggutnya. "Hm, melihatmu sudah di ranah Dewa Cahaya Semi Kristal di usia yang sekarang, seharusnya kau adalah jenius beladiri tertinggi di Kekaisaran ini namun kekuatanmu yang sekarang masih tidak cukup untuk menghentikan organisasi jahat itu?"
Jian Chen mengangguk, sebab itulah ia datang kesini agar dirinya lebih cepat kuat dan mengatasi semua masalah yang akan terjadi di masa depan.
Karena meski kekuatan Jian Chen di kehidupan sebelumnya sudah menyamai mereka yang ada di Alam Langit namun itu masih belum cukup untuk mengatasi semuanya.
Guru Jian Chen mengelus janggut hitamnya lagi. "Hm, aku hanya mengetahui identitasmu Chen'er tetapi tidak untuk keahlianmu, bisakah kau tunjukkan beberapa gerakan yang telah kuajarkan."
Jian Chen tersenyum lebar, ia kemudian berdiri tak jauh dari api unggun itu sebelum mulai menggunakan beberapa teknik kosong yang menyerupai tarian serta teknik tendangan.
"Tarian Langit Malam, Tendangan Teratai Bumi... Dari keahlianmu menggunakannya kau sudah sangat sempurna menguasainya."
Jian Chen mengangguk lagi lalu ia menggunakan teknik yang mengeluarkan tenaga dalam besar di tubuhnya.
"Bahkan sampai Tubuh Raja Cahaya...", Guru Jian Chen berdecak kagum. "Aku benar-benar mengajarimu banyak hal Chen'er."
Jian Chen selanjutnya menggunakan teknik pedang, ia mengeluarkan beberapa jurus hingga teknik terkuat yang di ajari gurunya yaitu Teknik Pedang Rembulan.
"Ah, aku sudah melihat batas teknik-teknikmu dan memiliki sedikit gambaran, sekarang aku harus melihat batas dari potensimu..."
Guru Jian Chen mengatakan keduanya akan berlatih tanding esok hari setelah langit mulai terang. Kekuatan serta gaya bertarung Jian Chen bisa dibilang sudah tinggi hanya saja pemuda itu tidak mengeluarkan kekuatannya yang asli, sebab itu dibutuhkan latihan tanding.
Jian Chen mendengar itu menjadi antusias, sudah lama sekali ia tidak bertanding bersama gurunya. Ia yakin akan mendapatkan pelajaran atau pemahaman baru dari latih tanding tersebut.
Yang membuatnya tidak sabaran lagi adalah Jian Chen berharap gurunya mengajari teknik baru lainnya termasuk tangan kosong dan ilmu pedang.
Ketika malam sudah larut, pemuda itu sedikit sulit untuk memejamkan mata, anehnya waktu terasa melambat ketika ada sesuatu yang di tunggu.
Pada akhirnya karena tidak bisa tidur Jian Chen memilih untuk menyerap aura kematian yang didapatkan oleh peperangan sebelumnya di klan Jian.
Akibat tak sadarkan diri itu Jian Chen jadi memiliki aura kematian yang jauh lebih pekat, butuh semalaman hingga ia menyembunyikan seluruhnya.