
Jian Chen tidak menunjukkan kepedulian atas kematian Shio Kelinci dengan cara yang tak biasa. Sederhana saja, jika ia membiarkan gadis itu hidup lebih lama maka akan banyak manusia yang terbunuh di tangannya.
Jian Chen hendak pergi saat suara Lily menghentikan langkahnya, menyuruhnya untuk menyerap kultivasi gadis itu.
"Maaf, aku lupa..." Jian Chen menggaruk kepala dengan canggung.
Penyerapan kultivasi itu tidak berangsur lama, Jian Chen sebenarnya ingin menyerap kultivasi Alam Langit yang lain tetapi Lily mengatakan itu tidak perlukan lagi.
"Apa kau yakin?" Tanya Jian Chen pada gadis itu.
"Tidak harus, kau serap saja laki-laki yang sedang di kejar naga itu." Lily menunjuk Shio Macan yang masih kesulitan di kejar teknik naganya.
***
Shio Macan berusaha secepat mungkin untuk kabur dari naga hitam tersebut namun semua usahanya selalu nihil karena kecepatan naga itu berada di atasnya.
Merasa jarak antara keduanya semakin mendekat, ia akhirnya terpaksa mengeluarkan teknik terlarangnya.
Dengan elemen gravitasi, Shio Macan melepaskan sebuah teknik tingkat tinggi yang mematikan. Sebuah bola hitam terlepas dari kedua tangannya.
Bola hitam itu adalah lubang hitam yang bisa menyerap apapun di sekitarnya, ketika naga cahaya berada di dekat lubang hitam itu, tubuhnya tiba-tiba tertarik dengan kuat.
Biarpun kecil, lubang hitam itu mempunyai cara kerja seperti cincin ruang, dia bisa menghisap sesuatu yang besar ke dalamnya.
Naga cahaya meronta dan ingin kabur dari hisapan itu namun Shio Macan memperkuat tekniknya yang membuat lubang hitam menyedotnya kuat ke dalam.
Perlahan tapi pasti naga cahaya terdorong mendekati lubang hitam, hingga ketika ekornya masuk ke dalam sana, otomatis tubuh naga itu langsung terhisap semuanya.
Naga itu meraung terakhir kali sampai akhirnya ia tertelan ke dalam lubang hitam.
Shio Macan bernafas lega ketika naga itu telah mati, ia melihat ke arah Jian Chen berada namun menemukan pemuda itu sudah bergerak cepat ke arahnya.
Shio Macan menjerit ngeri saat Jian Chen terbang dengan kecepatan tinggi, ia hendak berlari namun sesaat efek samping dari teknik terlarangnya terasa di sekujur tubuhnya, membuat pria tua itu hanya terdiam di tempatnya.
"Kau sepertinya sudah pada batasnya, kalau begitu kita akhiri saja disini. Apakah ada sesuatu yang kau sampaikan?" Jian Chen melayang di hadapan Shio Macan.
Jian Chen sebenarnya sedikit terkejut Shio Macan bisa mengalahkan naga cahayanya, padahal itu adalah satu teknik terkuat yang Jian Chen miliki.
Disisi lain Shio Macan sedang mencari keberadaan Shio Kelinci karena seharusnya dia yang berada di dekat lawannya.
"Tidak perlu mencarinya, gadis itu sudah mati di tanganku..."
"Apa kau bilang?!" Shio Macan terkejut bukan main, nafasnya memburu tersulut emosi. "Kau... Kau sungguhan ingin melawan kami?"
"Kenapa tidak, semua yang ada di organisasi kalian akan kulenyapkan satu persatu sebelum kalian mengacaukan kekaisaran lebih dalam..."
Shio Macan mengerutkan dahi, sesaat akhirnya tubuhnya bisa digerakkan kembali. Meski bisa bergerak tetapi ia tidak yakin bisa lari dari Jian Chen.
Shio Macan memutar otaknya, mencoba berpikir namun dalam situasi tersebut sulit baginya tetap tenang.
Nyatanya Jian Chen tidak membiarkan pria tua itu bersiasat, tanpa menunggu lagi ia mendekat dan memberikan serangan tangan kosong sementara Shio Macan berusaha menghindar atau menahannya.
Shio Macan sebenarnya menguasai ilmu tangan kosong juga meski tidak seahli Shio Kelinci, tetapi tetap saja di hadapan serangan Jian Chen, ilmu tangan kosongnya seperti tidak berguna.
Jian Chen melepaskan pukulan yang sangat kuat, dimana setiap ayunan tangannya seperti batu karang yang kokoh, membuat tulang Shio Macan menjerit kesakitan.
Shio Macan berusaha menjaga jarak dari Jian Chen dan sadar ia bukan tandingannya dalam jarak dekat namun Jian Chen tidak membiarkan itu terjadi.
Pukulan dan tendangan terus menghujani Shio Macan, mulutnya mulai mengeluarkan darah dan tubuhnya sudah hampir tidak bisa bergerak.
Jian Chen mengayunkan kakinya dengan tendangan memutar, Shio Macan terlambat menyadari saat tiba-tiba tendangan itu mengenai perutnya.
Shio Macan yang masih melayang terbang segera terhempas ke tanah dengan kuat, pria tua itu tidak bisa bergerak lagi ketika separuh tulangnya telah hancur.
Tenaga dalam pun tidak bisa menyembuhkannya bahkan pil berharga sekalipun. Pria tua itu hanya ingin mengakhiri nyawanya karena tidak kuat menahan rasa sakit di tubuhnya, sayangnya tubuhnya tak bisa bergerak.
Tak lama kemudian Jian Chen mendarat di sampingnya. "Kau ingin mati, tidak semudah itu. Rasakan bagaimana rasa sakit itu dapat membunuhmu secara perlahan..."
Shio Macan ingin mengatakan sesuatu namun tidak bisa karena mulutnya telah dipenuhi oleh darah.
Ketika tatapannya beralih pada Jian Chen, rasa takut mulai menyelimuti hatinya saat melihat senyuman pemuda itu yang tampak menikmati penderitaannya.
"Tidak ada yang bisa menolongmu, kau akan menderita selama dua jam sebelum kau menghembuskan nafas terakhir..." Jian Chen tertawa pelan sebelum mengarahkan telapak tangannya pada Shio Macan, dengan sedikit fokus ia perlahan menyerap kultivasi pria tua itu.
Mata Shio Macan terbuka lebar ketika menemukan perlahan kultivasinya menurun dengan kecepatan yang tak wajar. Satu menit kemudian bahkan tenaga dalamnya perlahan menghilang di tubuhnya.
Selepas menghisap seluruh kultivasinya, Jian chen tidak membunuh Shio Macan. Ia akan merasakan penderitaan di ujung hayatnya dengan kehabisan darah.
Jian Chen langsung pergi dan membiarkan pria tua malang itu menghembuskan nafasnya dalam penderitaan.
***
Jian Chen melayang cukup tinggi di Kota Anshan untuk memastikan tidak ada pasukan organisasi yang masih berkeliaran. Setelah memastikan semuanya aman Jian Chen memadamkan kebakaran yang terjadi akibat ulah pasukan organisasi itu.
Jian Chen membuat sebuah bola air yang sangat besar di atas langit hingga menutupi seperempat wilayah kota, bola air itu terlihat besar dan menarik perhatian para penduduk.
"Kurasa ukuran ini lebih dari cukup..."
Jian Chen menjentikan jarinya dan bola air itu meletus bagai gelembung yang pecah di udara, membuat kota dibawahnya seketika seperti diguyur air hujan dan kebakaran pun perlahan jadi padam.
Jian Chen memastikan kembali tidak ada api yang menyala, merasa sudah cukup ia kemudian memutuskan untuk membantu pasukan Kekaisaran yang ada di luar benteng.
"Setelah menyerap dua kultivasi sebelumnya, aku akan menerobos ke ranah Alam Raja, mungkin aku akan tertidur beberapa saat..." Lily berkata di kepala Jian Chen.
Jian Chen mengangguk lalu berterimakasih pada Lily karena telah membantunya.
"Tidak perlu dipikirkan, masih ada tenaga dalamku yang tersisa di tubuhmu, kau bisa menggunakannya sampai habis atau setelah waktu yang ditentukan, setidaknya itu cukup untuk mengakhiri peperangan ini..."
"Aku mengerti Lily, terimakasih. Aku akan menunggumu saat-saat kau bangun kembali."
Sesudahnya Jian Chen tidak mendengar suara gadis itu, ia berasumsi bahwa Lily sudah tidur. Jian Chen kemudian melesat cepat ke arah perbatasan kota.