Kultivasi Cahaya

Kultivasi Cahaya
Eps. 237 — Kitab Dewa Langit Surgawi


Kedatangan Jian Chen ternyata disambut baik oleh pemerintahan Walikota atau lebih tepatnya lagi, kedatangan Lun Zhi lah yang membuatnya di sambut demikian.


Walikota langsung menemui Lun Zhi tepat di gerbang kediamannya, menyalaminya dengan suka cita serta rasa hormat yang tinggi.


Memang identitas Lun Zhi bisa dibilang spesial bahkan di pandangan para bangsawan sekalipun, hal yang sama terjadi pada Walikota yang begitu menghormati Lun Zhi.


Pandangan Walikota kemudian beralih pada pemuda di samping Lun Zhi, menyadari hal tersebut Lun Zhi memperkenalkannya pada Walikota.


"Dia adalah pendekar yang kutemui beberapa jam lalu, kuharap Walikota tidak keberatan aku bersamanya."


"Ah, tentu saja tidak Pendekar Lun." Walikota mengangguk pelan, kemudian ia mengajak Lun Zhi dan Jian Chen masuk ke kediamannya.


Walikota merupakan seorang pria berusia 40-an, memiliki perut yang buncit serta sedikit pendek. Kediamannya juga terbilang besar bahkan tidak berlebihan disebut istana.


Saat masuk Jian Chen disambut oleh para pelayan yang sudah berjejer rapih di setiap ruangan Walikota. Jian Chen dan Lun Zhi kemudian dibawa ke suatu ruangan.


"Walikota, bisakah kita langsung pada intinya?"


Lun Zhi mengusap wajahnya, sedari tadi ada banyak pelayan wanita disekitarnya membuat ia menjadi terganggu dan tidak senang sementara Walikota malah membahas yang tidak perlu dengannya.


"Ah, maaf aku terlalu terbawa suasana..." Walikota tersenyum canggung, ia menyadari kesalahannya yang malah bergurau.


Ekspresi Walikota menjadi serius, ia sepertinya tidak keberatan dengan adanya Jian Chen di ruangan itu sehingga menjelaskan garis besar masalah kota.


Para pelayan diminta pergi karena ini bersifat penting serta rahasia, di ruangan pribadinya kini hanya ada Walikota, Lun Zhi serta Jian Chen.


"Pendekar Lun, mungkin anda sudah menyadari ada banyak pendekar di berbagai penjuru mulai berdatangan kesini bukan?"


Lun Zhi mengangguk sementara Jian Chen memilih diam, dia ingin lebih memahami situasi dengan fokus mendengar.


"Seperti yang aku tulis dari surat, mereka semua datang kesini menginginkan sebuah kitab langit yang ada pada kediamanku. Kitab ini memang untuk seorang pendekar dan tidak berguna untukku namun menyerahkan pada orang lain adalah hal berbeda."


Dahi Lun Zhi berkerut, ada satu pertanyaan dipikirannya yang membuat ia heran. "Jika itu kitab untuk seorang pendekar, bagaimana anda bisa memilikinya?"


"Ceritanya panjang dan sulit dipercaya. Singkatnya kitab tersebut diberi oleh pendekar misterius kepadaku, aku tidak mengenalnya namun dia mengatakan bahwa kitab itu harus dijaga sebaik mungkin dan jangan sampai orang jahat mengambilnya."


Walikota menjelaskan bahwa dia diberi kitabnya sekitar sepuluh tahun yang lalu.


"Kitab itu sudah ada sejak lama dan baru diketahui sekarang?" Lun Zhi mengelus dagunya.


Walikota mengangguk kemudian ia menyimpulkan alasan kitab itu diberikan padanya karena untuk melabuhi mata banyak orang.


Politik dan dunia persilatan adalah dua hal berbeda yang tak bisa disatukan.


Mungkin saja pendekar misterius yang memberikan kitab itu berharap tidak ada yang menemukannya. Siapa yang berpikir bahwa sebuah kitab tingkat tinggi berada di area pemerintahan.


"Jadi Walikota, apa yang anda inginkan dengan mengundangku kesini?" Lun Zhi sudah mengerti garis besarnya namun ia masih belum mendapatkan jawaban alasan dirinya harus diundang kesini.


"Dua hari lalu, ada seseorang datang kekediamanku, mengalahkan banyak penjaga tanpa mengangkat tangan. Untungnya dia kesini tidak mengambil kitab itu melainkan hanya memberitahu suatu kabar."


Kabar yang di bawa oleh orang itu adalah ia telah menyiapkan pasukan yang sedang menuju kesini, orang itu mengabari bahwa dirinya dan pasukannya akan menyerang kota.


Sebenarnya Walikota sedikit heran padahal orang itu bisa dengan mudah langsung mengambilnya jika ia mau namun orang itu mengatakan bahwa ia juga ingin menghancurkan Kota Anshan dan warganya.


Wajah Lun Zhi menjadi serius, ia tidak menduga situasinya bakal seberbahaya ini.


Dua hari setelah pemberitahuan dari orang tersebut, masih tidak ada kabar bahwa orang itu benar-benar akan menyerang kota Anshan namun Walikota yakin, ucapan orang itu bukan hanya gertakan saja.


Bukti lainnya dengan banyaknya pendekar kriminal yang berdatangan memasuki kota. Meski mereka tidak melakukan kejahatan selama disini namun hanya soal waktu mereka akan bertindak demikian.


Walikota juga sudah membuat surat meminta bantuan pada sekte atau klan yang lain perihal penyerangan ini agar mereka membantu mempertahankan Kota Anshan.


Para bantuan tersebut kini sudah berkumpul di perbatasan Kota, Walikota memang menyuruh mereka bersiap akan penyerangan yang bisa kapan saja terjadi.


"Pendekar Lun, alasanku mengundang kesini adalah untuk memberikan kitab ini padamu, kuharap kau bisa membawanya pergi."


Walikota mengatakan jika kitab tersebut sudah tidak pada dirinya atau kota ini maka penyerangan musuh mungkin akan di batalkan. Walikota akan mengumumkan hal tersebut agar para pendekar yang berkumpul dapat mengerti.


Jian Chen menghela nafas, ia menyadari situasi kota tidak sederhana yang diucapkan Walikota, andai kitab itu adalah targetnya maka sudah sejak dua hari lalu saat orang itu datang ia sudah mengambilnya.


Walikota kemudian mengeluarkan kitab itu dari cincin ruangnya, kitab bersampul putih yang memiliki ukiran matahari dan bulan di depan dan belakangnya.


Di tengah sampul buku tertulis nama kitab itu yaitu bernama "Kitab Dewa Langit Surgawi."


Lun Zhi kemudian membuka kitab itu, ketika ia hendak melihat isi didalamnya untuk dibaca namun yang didapat justru sebaliknya, isi setiap lembaran kitab itu kosong, tidak memperlihatkan satu huruf apapun.


Dahi Lun Zhi semakin berkerut sementara tangannya terus membalikan halaman per halaman, sampai habis pun tidak ada huruf yang tertera.


Lun Zhi ingin mengatakan sesuatu pada Walikota bahwa kitab ini hanyalah buku kosong biasa namun disisi lain ia juga merasakan kitab yang ada di tangannya memiliki aura sihir.


Orang awam atau bukan pendekar pun akan menyadari Kitab Dewa Langit Surgawi bukanlah buku normal.


"Aku mengerti perasaanmu Pendekar Lun tetapi seperti itulah adanya, aku sudah beberapa kali mencoba menguak rahasia buku itu tetapi semuanya berjalan nihil, kitab itu seperti buku kosong belaka." Jawab Walikota sambil tersenyum canggung.


Satu hal yang membuat Walikota itu yakin bahwa Kitab Dewa Langit Surgawi mempunyai sesuatu didalamnya karena kitab itu selalu bersinar di sesekali waktu.


Kitab Dewa Langit Surgawi akan bersinar keperakan saat cahaya bulan menyinarinya di kala malam.


"Pendekar Jian, apakah anda menemukan sesuatu pada buku ini?" Tanya Lun Zhi pada Jian Chen yang terlihat aneh setelah menatap kitabnya.


"Tidak Senior, aku hanya merasa kitab itu memiliki sampul yang sangat indah..."


Jian Chen segera mengalihkan pandangannya, tidak ada yang menyadari beberapa detik sebelumnya, sebelah mata Jian Chen telah berubah warna dari emas ke warna perak.